Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Gencar


__ADS_3

Javier duduk di atas motor vespa piaggio berwarna dop army dengan satu helm sudah ia pegang di tangannya. Ia membersihkan kaca helm yang ia pegang supaya tetap bersih dan saat yang memakai menatap sekitar.


"Emang kita mau kemana, Jav?" Suara Lintang terdengar, ia sudah di samping kiri Javier sambil menguncir rambutnya. Tangannya terhenti, ia ingat seseorang yang melarangnya menguncir rambut karena leher jenjang Lintang akan terlihat kemana-mana. Ia melepaskan kembali ikatan rambutnya dan mengambil helm dari tangan Javi.


"Mau ajak makan seafood, temen baru buka usaha seafood ambyar. Nggak jauh kok, deket stasiun Tugu. Cuma banyak polisi, jadi aku bawa helm buat kamu." Javier menyalakan mesin motornya. Lintang hanya mengangguk dan memakai helm ke atas kepalanya.


"Bu! Bu Lintang!" teriak security toko. Lintang menoleh.


"Apa, Pak?" Lintang berdiri menghadap security.


"Ini, saya cuma disuruh Pak Galaksi, bacain ini sebentar, saya atur napas dulu." Security itu menarik napas, membuang perlahan, dan bersiap dengan berdehem.


"Untuk lintang ku sayang--" security menatap Lintang. Takut-takut justru ia setelah selesai membacakan ini auto di pecat oleh sang pemilik usaha.


"Lanjut Pak," sahut Lintang.


"Semalaman aku tak bisa tidur memikirkan permasuri yang namanya masih selalu di hati. Kakanda--" security menatap Lintang lagi, setelah menelan ludah susah payah, ia lanjutkan lagi. "Kakanda hanya ingin menyampaikan satu hal, sudahkan permasuri hati mendapatkan jawaban yang pasti?"


Security memasukan ponselnya ke dalam saku celana lagi. Menatap Lintang lekat-lekat.


"Jangan pecat saya ya Bu, Pak Galaksi maksa saya bacain ini ke Ibu, katanya kirim pesan ke Ibu tapi ndak di baca-baca, terus ini Bu, sebentar...."


Security itu mengambil sesuatu dari dalam kantung plastik aprilmart dan menyerahkan ke Lintang.


"Kata Pak Galaksi, biar tulang-tulangnya Ibu selalu kuat untuk tetap berdiri menanti Pak Galaksi di sini." Sekotak susu coklat merk ultramen kesukaan Lintang, kini ada di genggamannya. Lintang diam menatap susu di tangannya.


"Lintang," suara berat Javier memanggilnya. Lintang tersadar.


"Makasih ya, Pak." Lintang lalu naik ke atas motor dan tetap memegang susu itu.

__ADS_1


Motor Javier menjauh, Pak security yang mudah dibujuk rayu Galaksi kembali mengeluarkan ponselnya. Menekan nomor Galaksi dan menghubunginya.


"Gimana, pak?" suara Galaksi terdengar sangat penasaran.


"Target meluncur dengan reporter itu bos. Tapi raut wajah Bu Lintang waktu saya kasih susu coklat itu, kok kayak sedih, ya?" security tampak bingung memang.


"Karena saya tau Lintang seperti apa. Apa cowok itu Javier?" tanya Galaksi memastikan.


"Iya bos. Waduh bss, bisa kalah cepat ini."


"Saya yakin enggak. Mungkin Javier bisa deketin Lintang karena sering keep in touch secara langsung, tapi saya yang paham hati dan cara Lintang berfikir seperti apa. Makasih Mas Bro, minggu depan saya ada dinas ke sana, jangan bilang Lintang, ya."


"Siap boss. Jangan lupa titipan saya."


"Beresss, miniatur monas sama kaos monas, kan, encerrr..." jawab galaksi seraya tertawa.


***


"Aku udah pesen yang small bucket black paper, mudah-mudahan nggak pedes-pedes banget, ya." ucap Javier sambil menatap Lintang yang baru menghabiskan susu kotak rasa coklat itu.


"Suka banget susu coklat itu?" Javier bertopang dagu menatap Lintang yang tampak cantik natural dengan bibir yang juga pink natural begitu menggoda iman.


"Iya," jawab Lintang singkat.


"Aku mau tanya sesuatu boleh, Lin?" Javier duduk tegap. Sudah tidak bertopang dagu lagi.


"Apa," tatap Lintang.


"Galaksi itu siapa? Udah beberapa kali aku denger nama itu disebut-sebut." Javier menyiapkan telinga dan terlebih hatinya untuk mendapat jawaban dari lintang.

__ADS_1


"Galaksi, dia, mantan calon suami aku." Jawab lintang disertai senyuman sambil menunduk.


"Su---ami?" Javier cukup terkejut. Lintang mengangguk.


"Kita nggak lama lagi nikah, cuma ada masalah besar yang mengharuskan semua itu hancur dan batal. Tapi sorry, aku nggak bisa cerita ke kamu, nggak apa-apa ya," lintang menatap javier. Javier tersenyum.


"Tapi kayaknya Galaksi pingin kamu balik ke dia, usahanya gencar juga " ekpresi Javier datar. Lebih menunjukan ketidak sukaannya.


"Siapa pun bisa usaha buat deket sama aku, toh, aku nggak ada ikatan apapun sama siapa pun" lintang menggunakan sarung tangan plastik karena menu yang mereka pesan sudah datang. Javier seakan mendapatkan angin segar mendengar jawaban lintang.


Pelayan menuangkan seafood itu diatas meja yang sudah dilapisi daun pisang sebagai alasnya.


"Makasih, Mas," ucap Javier kepada pelayan. Lintang diam menatap menu yang tersaji di hadapannya. Kepiting lada hitam, salah satu makanan kesukaan galaksi. Mereka dulu pernah memakannya saat dijakarta, bersama vanka dan adjie. Bahkan adegan rebutan kepiting antara adjie dan galaksi terjadi cukup sengit.


Lintang tersenyum dan terkekeh. Ingatannya sedang kembali ke masa-masa seru dan bahagia bersama galaksi.


Mereka mulai mencicipi, rasanya enak dan tidak terlalu pedas seperti di Jakarta.


"Kamu nggak alergi kan sama seafood, kalau kacang baru alergi ya," tatap Javier ke Lintang yang asik makan. Lintang memangguk sambil memicingkan matanya. Membuat Javier gemas.


"Jangan kaya gitu ekspresinya, aku gemes lihatnya lintang," komen javier menatap lekat ke lintang. Lintang diam.


Selama makan, beberapa kali justru lintang teringat moment lucu saat ia dan Galaksi bersama, karena ke-lebay-an Galaksi yang suka tak tahu malu sehingga membuat lintang harus berkali-kali menahan senyumannya. Lintang tau, jika Galaksi sengaja memberikan susu itu. Ia juga tau, jika Galaksi akan menggunakan orang terdekat Lintang untuk kembali mencari perhatian dirinya. Nasehan Igo juga ia pikirkan terus, perdebatan dalam dirinya juga kembali muncul. Lintang paham, jika ia akan salah apabila terus menyalahkan masa lalu, dirinya atau bahkan Galaksi. Buktinya, takdir seperti mempertemukan mereka kembali untuk meluruskan kesalah pahaman.


Diam-diam, Lintang juga mencari informasi tentang Mira. Di mana dia tinggal dan apakah sudah melahirkan. Ia masih tak habis pikir, ada wanita yang rela menghancurkan harga dirinya untuk uang semata. Apa lagi saat itu jelas-jelasnia sudah mengandung. Semakin tega karena memberikan Galaksi obat perangsang itu membuatnya tak bisa menahan hasrat memuncak itu.


Javier terjs memperhatinan raut wajah Lintang yang sesekali tersenyum sendiri. Pria itu merasa curiga dengan status Lintang, ia ingin segera bertanya, dan berharap jika jawaban Lintang akan sama dengan apa yang sudah ia pikirkan. Kecantikan Lintang juga mampu membuat Javier begitu terpesona, dan ia begitu kagum dengan wanita itu juga.


 ::TBC::

__ADS_1


 


__ADS_2