
Selamat siang semua! Apa kabar, maaf terlambat Up ya... cekidot!
______
Galaksi membuka kedua matanya, ia terdiam sejenak saat kesadarannya mulai terkumpul. Ia terkejut melihat lengan putih seseorang memeluk pinggangnya dari belakang. Galaksi tersenyum, ia menolehkan kepala ke belakang, melirik Lintang yang masih terpejam begitu pulas. Galaksi memutar tubuhnya menghadap sang istri, dengan jemari tangannya, ia merapikan surai Lintang yang menutupi wajah cantiknya. Galaksi bersyukur saat melihat wajah yang pertama kali saat ia bangun tidur adalah wanita yang memporak-porandakan hidup juga hatinya sejak bertahun-tahun lalu. Galaksi merangkulkan lengannya ke bahu Lintang yang tak tertutup pakaian, keduanya semalam bergulat begitu heboh, akhirnya Galaksi bisa membobol janda cantik itu. Ia mengulum senyum jika mengingat kegiatan keduanya untuk menghasilkan bibit unggul keturunan mereka. Ia terkikik geli saat semalam ia terpaksa kalah lebih dulu dari Lintang yang luar biasa ternyata. Tapi kemudian ia juga yang memegang kendali permainan hothot pop jeletot itu lagi.
"Kenapa senyum-senyum? Udah kumat pagi-pagi?" suara Lintang terdengar. Galaksi merenggangkan pelukan lalu menatap Lintang yang sedang menatapnya. Wanita itu terduduk, menyugar rambutnya lalu beranjak dari ranjang.
"Wow... pemandangan indah..." celetuk Galaksi sembari menggigit bibir bawahnya. Bagaimana tidak, Lintang dengan santai berjalan tanpa busana menuju ke kamar mandi. Jelas Galaksi terkode, tapi Lintang melarang, tubuhnya terasa remuk karena perbuatan mereka semalam. Galaksi juga tak mau memaksa, sejak menikah dua hari lalu, sudah berapa kali ia menggagahi Lintang, dan pagi itu mereka sedang berbulan madu di daerah Puncak, hanya menginap di hotel yang menyajikan pemandangan gunung saat pagi datang dan lampu-lampu yang menyala indah saat malam.
"Lak..." panggil Lintang sesaat ia selesai dari kamar mandi, ia sudah memakai bathrobe warna putih, rambutnya juga sudah ia gelung ke atas sehingga menampakkan leher putih mulusnya, bagus Galaksi tak meninggalkan jejaknya di leher Lintang.
"Sarapan kita di antar ke sini, kan, aku mau telpon room servicenya, males ke bawah." Lintang duduk di tepi ranjang, menggankat gagang telepon sementara Galaksi beranjak menuju ke kamar mandi, kali ini Lintang yang meledek suaminya karena melakukan hal yang sama juga, sama-sama tak tertutup sehelai benang.
Keduanya asik sarapan, tak butuh waktu lama sampai sarapan mereka tiba. Keduanya saling tersenyum penuh rasa bahagia, seperti mimpi akhirnya mereka menikah. Gelar suami istri pun tersematkan pada keduanya.
"Kalau langsung hamil, gimana, Lin?" Galaksi menatap istrinya yang juga menatapnya.
"Bagus dong, berarti kualitas cebong kamu superrr..." kekeh Lintang.
"Itu mulut, kok bisa bener, sih..." ucap Galaksi, lalu keduanya tertawa sembari meneruskan makan. Galaksi mengusap kepala Lintang, ditatapnya wajah polos tanpa mekap yang memang sudah cantik paripurna natural itu sejak awal kuliah dulu dengan penuh cinta. Ia meraih jemari Lintang, di kecupnya lama.
"Kenapa?" tanya Lintang sembari mengunyah makanannya. Lalu Galaksi berdehem, ia mengambil ancang-ancang untuk bersenandung, Lintang menatapnya bingung. Lalu ...
__ADS_1
"I Maybe not yours and you are not mine, but i'll be there for you when you need me, its only, believe me girl its only me, yes its only me. I will always be the one who pull you up, when everybody push you down, yeah its only me, believe me girl its only me, yeah its only me..." Galaksi menyanyikan sepenggal lagu yang sedang hits. Lintang tersenyum.
"Tapi kita kan saling memiliki, Lak, salah tuh, liriknya..." protes Lintang. Galaksi manyun-manyun.
"Yaudah sih, protes aja kayak Ibu-ibu nawar belanjaan, aku males ganti liriknya," ucap Galaksi, Lintang terkekeh lalu mencium kening suaminya itu.
"Cie... cium-cium, nagih ya, hum... hum.." ledek Galaksi seraya mengulum senyum. Lintang malas jika suaminya udah kumat meledek-ledek begitu. Raut wajah Lintang sendu, ia merindukan Bre. Lalu ide untuk meminta Bre dan kedua mertuanya menyusul pun terlintas, namun Galaksi menolak mentah-mentah, ia masih ingin menikmati momen berdua dengan wanita yang akhirnya bisa ia cap seumur hidup mendampingi hidupnya.
Penolakan terjadi, rajukan pun terjadi. Lintang terus membujuk, Galaksi terus menolak. Sebagai istri yang baik, Lintang menurut, walau akhirnya ia melakukan panggilan video kepada anaknya itu, mengabaikan Galaksi yang hanya bisa manyun-manyun karena Breyana menangis minta menyusul. Lintang akhrinya memenangkan peperangan. Galaksi memesan satu kamar lagi, lain lantai, ia tak mau nanti tiba-tiba di saat pergulatan terjadi, Breyana minta tidur dengan Lintang, bisa gagal sudah peperangan membuat adik untuk Breyana.
***
Siang menjelang, keduanya duduk di lobi hotel, menunggu Breyana dan kedua mertuanya datang. Galaksi terus merangkul Lintang yang duduk sembari melihat-lihat toko online yang sedang perang diskon. Kedua mata Galaksi melirik ke arah ponsel Lintang lalu berdecak. "Belanja apaan, sih, Mama Lintang?" tanya suami tercinta.
"Untuk ruang tamu, rak ini lucu kalau ditaruh di sudut, nanti kita isi foto-foto, syakep pasti, Lak," jawab Lintang santai.
"Ya nggak gitu juga ah. Eh tapi, boleh deh, coba-coba tes.." Lintang duduk menghadap Galaksi. Suaminya itu menatap Lintang serius. Lintang berdeham, mengambil ancang-ancang.
"Papa..." sapanya. Lalu hening seketika.
Krik..krik...krik...
"Huaaa! Jijay Galaksi... hahaha..." Lintang justru tertawa terpingkal-pingkal. Galaksi cemberut, ia menanggup wajah Lintang supaya menatapnya.
__ADS_1
"Harus biasa, Mama..." keduanya saling menatap. Lalu saling menahan tawa hingga wajah keduanya memerah. Tawa pun pecah di antara keduanya. Susah memang pasangan komedi itu. Kegiatan tak jelas mereka itu mendapat perhatian tamu lainnya yang menatap bingung. Lintang dan Galaksi jelas mengabaikannya, masa bodoh dengan penonton gratisan itu.
Lintang bersandar di dalam pelukan suaminya, kembali melihat dikonan di toko online. Ia pun belanja beberapa kebutuhan rumah. Galaksi hanya bisa mengiyakan setiap Lintang meminta persertujuan, percuma juga kalau bilang tidak, Lintang akan beragumen dan tawar menawar, betapa lelah Galaksi jika harus menghadapi hal itu. Sebagai pengantin baru - baru menikah lagi - maksudnya, keduanya tak mau egois menikmati kebahagiaan mereka, jelas Lintang menginginkan berbagi rasa itu, terlebih kepada putri dari suaminya. Walau bulan madu mereka berakhir menjadi acara liburan keluarga karena lokasi mereka lainnya adalah kebun binatang, Lintang dan Galaksi tak mempermasalahkan itu. Galaksi bahagia dengan Lintang yang mencintai putrinya begitu luar biasa.
Breyana berteriak memanggil Lintang, iya, Lintang yang dipanggil, Galaksi diabaikan. Lintang menyambut bocah itu yang sudah berusia 3 tahunan itu. "Mama..." panggil Bre setelah Lintang menggendong Breyana juga memeluknya melepas rindu. Kedua orang tua Galaksi juga tampak senang menyambut.
"Hormat paduka raja," ucap Galaksi menyapa ayahnya.
"Kumat...!" sewot ibunda Galaksi, sang anak hanya terkekeh hingga menyipit kedua matanya. Mereka berlima lalu menuju ke area taman bermain yang memang difasilitasi pihak hotel, wajah ceria Breyana menjadi kado pernikahan terbaik bagi Lintang, mereka bermain bersama. Galaksi juga tak henti tersenyum melihat anak dan istrinya begitu tampak bahagia, ia menoleh menatap kedua orang tuanya yang menikmati hawa sejuk pegunungan sembari tersenyum melihat cucunya bermain. Galaksi tak bisa menunda, menambah momongan menjadi tujuan jangka pendeknya, ia senyum-senyum sendiri, memikirkan berbagai jurus jitu supaya bulan depan Lintang sudah tak datang bulan.
"Ma, anakmu mulai nggak waras kayaknya," bisik ayahanda Galaksi.
"Udah biasa kan, otaknya pasti ngeres tuh, senyum-senyum kayak gitu. Nggak nyangka Lintang jadi menantu kita, lihat Galaksi bisa dapatin cintanya, Mama bersyukur, walau gitu tuh, ck... lebay banget kadang." Lalu kedua orang tua itu tertawa. Begitulah Galaksi, terlahir dengan otak iseng lebih banyak, jadi hanya bisa membuat orang tuanya terheran-heran.
bersambung,
__ADS_1