
Sejak minggu malam, Lintang sudah berkordinasi dengan Edo, Adjie dan Vanka untuk memberi kejutan ulang tahun Galaksi. Lintang melirik ke kado yang sudah ia siapkan sejak minggu lalu dan ia tahu jika Galaksi pasti akan suka. Lintang mau tak mau memang harus mengajak Edo, Adjie dan Vanka guna melancarkan rencana ini,.
"Pokoknya, Do, elo harus infoin ke gue gerak gerik Galaksi." Lintang mewanti-wanti Edo saat menelepon sepupunya itu malam-malam.
"Iya bos... siap Bu Bos... udah ah, ngantuk gue.. bye!"
"Makasih sepupuku sayang yang masih belum laku-laku."
"Wah... sombong sekali anda, awas ya, Tang, gue ganggu malam pertama lo sama Galaksi."
"Emang malam pertama? Perasaan bukan deh, Do." Lintang terbahak-bahak.
"Dasar janda pengkolan." Celetuk Edo.
Telepon diputus lebih dulu oleh Edo. Lintang besok izin kerja kepada Tante dan Omnya setengah hari, ia akan dijemput Edo di resto, sekalian dengan Adjie, bahkan Vanka juga ikut izin kerja setengah hari. Demi siapa ini dilakukan, demi Lintang yang niat banget bikin kejutan ulang tahun Galaksi untuk pertama kalinya.
***
Sejak senin pagi, Lintang sudah tidak membalas pesan Galaksi. Ia sengaja mengabaikannya, sekalinya di telepon Galaksi, Lintang jawab cepat-cepat seakan ia sedang sibuk.
"Mas Galaksi awas ngambek, Tang," ucap Adjie.
"Nggak bakal. Gue udah hafal Galaksi kayak gimana." Lintang terkekeh sambil bersiap menunggu Edo datang, ia dan Adjie duduk di depan resto.
"Vanka udah di ojol nih, masih jam empat padahal, Galaksi juga pasti belum sampe rumahnya. Eh, Bre di mana?"
"Di rumah orang tua Galaksi," jawab Lintang. Lintang tidak mendapat teror chat atau telepon dari Galaksi. Ia senyum-senyum, karena Galaksi pasti Bete.
***
Di ruang kerja Galaksi.
Ia gerutu dan uring-uringan sendiri. Sejak tengah malam tidak ada ucapan dari Lintang, baik chat atau telepon. Ia benar-benar sebal. Lengan kemejanya sudah ia tekuk hingga ke lengan, dasi ia lepas dan ia letakan di dalam tas kerjanya, bahkan ia sampai membuka kancing paling atas kemejanya.
"Kampret, nahan emosi jadi gerah sendiri gue!" ia lalu meneguk teh manis hangat di cangkirnya hingga habis.
"Balik aja, deh. Awas aja kalo Lintang bener-bener cuekin gue sampe tengah malem nanti, gue... mmmgghhh.. gue cip—, hadohhhhh Galaksi..!!" ia mengeram karena gemas sendiri. Seketika ia berdiri sambil membawa tas kerjanya dan berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
"Jadi balik cepet lo?" tanya Edo sambil mengutak ngatik ponselnya.
"Iya," jawab Galaksi. Edo manggut-manggut sambil mengirim pesan ke Lintang.
'Target OTW. Gue pun juga, siap-siap jemput lo berdua di resto." Pesan terkirim. Edo mindik-mindik dan masuk lift yang berbeda dengan Galaksi.
Di mobil Edo.
Ia membunyikan klakson mobil begitu kencang dan berkali-kali. Jalanan di depan macet karena ada keributan antar pengendara. Adjie yang duduk di depan ikutan emosi.
"Maaf, Mas, puter balik aja ya, truk air galon terguling. Tapi supir sama keneknya yang malah gebuk-gebukan," ucap tukang parkir.
"Iya... iya. Thank you, bro," ucap Edo.
"Tang, puter balik mah jauh lagi, nggak apa-apa?" lirik Edo ke Lintang dari spion tengah.
"Iya, makin senewen makin seneng gue lihat reaksi Galaksi nanti." Lintang cengengesan.
Dan benar, sudah satu jam dua puluh tiga menit mereka masih di jalan. Jam pulang kantor. Macet. Sudah pasti. Di mana, Jakarta, sudah tentu.
Finnaly, mereka sampai. Jam setengah enam menjelang magrib. Lintang membawa kue yang sudah ia nyalakan lilinnya. Edo merekam dengan ponsel, Adjie siap-siap membukakan pintu yang Lintang sudah tau kode kunci pintu otomatisnya. Vanka memegang kado dan semprotan berupa foam. Lengkap sudah buat ngacak-ngacak rumah Galaksi.
"Iya. Tanggal nikahan gue sama Galaksi nanti, baru diganti seminggu ini katanya." Lintang degdegan sendiri. Terlihat mobil Galaksi sudah terparkir. Tapi lampu teras masih belum nyala. Pintu terbuka. Mereka ber empat mindik-mindik masuk. Lintang di posisi paling sepan. Edo sudah mulai merekam. Lampu ruang makan masih mati. Lintang meminta ketiga orang dibelakangnya ngumpet. Lalu,
Lintang diam. Terdengar suara yang membuat jantungnya semakin berdebar hebat. Ia menelan ludahnya pelan.
"Woy!" bisik Adjie. Edo menoleh.
"Ngapaih tuh, laki. Lagi nyolo dia?" Adjie bergidik sendiri. Edo diam. Lintang membuka pintu kamar yang sudah ia hafal.
"Happy birth--"
BRAK!
Kue ulang tahun yang di pegang Lintang jatuh seketika. Napasnya tercekat. Tangan Lintang bergetar.
"ANJ***!!!" teriak Adjie sambil menarik Lintang dan memeluknya. Vanka teriak dan ikut memeluk Lintang.
__ADS_1
Edo meletakan ponsel di atas meja dan ikut masuk ke kamar. Seketika ia geram dengan wajah merah karena marah. Lintang membeku, napasnya sesak dan memburu cepat. Bahkan tubuhnya gemetaran. Apa yang ia lihat, sungguh membuatnya terkejut.
Galaksi, terlihat sedang bersetubuh dengan, Mira. Ya, Mira. Wanita itu, tepat berada di atas tubuh calon suami Lintang. Mereka berdua terengah-engah dengan napsu yang membara saat pintu terbuka dengan Lintang yang melihat hingga akhirnya menjatuhkan kue. Mira dan Galaksi terkejut. Mira bangun dan berlari ke dalam kamar mandi. Sedangkan Galaksi terlihat tak kalah terkejut dan langsung panik, ia menarik selimut untuk menutupi senjatanya.
Terdengar suara cekcok Edo dan Galaksi dalam kamar.
"Bangs**! Biad**! An**** lo Galaksi!!!" teriak Edo di depan wajah Galaksi sambil terus memukuli wajah di atas lantai.
"Gue nggak, niat, Edo!" teriak Galaksi berusaha bangun.
"Bawa Lintang ke mobil, Jie. Bawa buruan!!!" teriak Edo dengan raut wajah penuh amarah dan sorot mata gelap.
Adjie meminta Vanka membawa Lintang ke mobil, sementara is menghampiri Galaksi dan mencengkram rahangnya begitu kuat hingga Galaksi meringis.
"Elo. Jangan lihatin muka lo ke Lintang dan keluarga kita. Pernikahan lo berdua. Batal. PAHAM!!"
Lalu Edo menghampiri Mira yang terlihat tersenyum licik di dekat pintu kamar mandi.
PLAK!
Edo dengan entengnya menampar wajah Mira. "Gue akan cari tau kenapa ini bisa terjadi. Gue yakin ini semua rencana lo ular! Dan tamparan gue pantas lo terima buat wanita murahan kayak lo. Besok. Gue laporin ke kantor dan presdir!" bentak Edo.
"Untuk elo, laki-laki yang ternyata, cuihhhh!" Edo meludah di dekat Galaksi.
"Surat resign gue malam ini akan gue kirim ke HRD kantor. Gue nggak sudi kerja untuk boss ****** KAYAK LO!" tunjuk Edo dengan jemarinya.
"EDO! ADJIEEEE!" teriak Vanka. Edo dan Adjie menoleh.
"Lintang. Lintang pingsan. Buruannn!" teriak Vanka. Edo dan Adjie berlari menuju mobil. segera membawa Lintang ke rumah sakit.
Vanka terus menangis di dalam mobil, memeluk Lintang yang tak sadarkan diri. Edo mengebut sejadi-jadinya sedangkan Adjie berkali-kali mengumpat, memukul dashboard dan menoleh ke Lintang yang masih pingsan.
"Bajingan Galaksi!" teriak Adjie. Edo diam, ia berfikir keras, karena ia tahu Galaksi tidak akan bertingkah atau setega ini dengan Lintang. Ia harus mencari tahu jawabannya, dan mau tak mau, ia juga harus mengajak para sepupunya turun tangan untuk mencari kebenaran dan membesarkan hati Lintang yang pasti hancur berkeping-keping.
::TBC::
__ADS_1