Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Hari H Meta


__ADS_3

Sejak hari kamis sore, Lintang sudah berada di rumah kedua orang tua Meta. Sabtu besok acara pernikahan sepupunya itu. Kamis acara pengajian dan jumat siraman. Lintang mengenakan kain jawa dan kaftan berwarna ungu tua, seragam untuk para sepupu kata Meta. Melihat megahnya tenda dan segala macam perintilannya membuat Lintang mules dan bergidik sendiri.


Tiga sepupu keturunan Koreanya sudah stand by dari pagi karena diminta Meta kontrol bagian dokumentasi dan perlengkapan.


Adjie merangkul bahu Lintang saat duduk di tempat yang sudut khusus panitia, semua panitia terdiri dari keluarga, tidak pakai jasa wedding organizer, semua diurus keluarga Meta yang erdiri dari Pakde, Bude, Om, Tante dan Sepupu. Cincay ... karena mereka bahu membahu dan komunikasi justru lebih enak.


"Ada apa lo mepet-mepet gue?" tanya Lintang yang sibuk memegang kertas catatan susunan acara pengajian.


"Gue mau nembak, Vanka, ya Tang."


"Nembak ya nembak aja, nape bilang-bilang gue?!" Lintang melirik.


"Lo sebagai Kakak gue harus restuin dong, kalo Abang-abang gue resek semua, masa bodoh ama gue."


"Kaciaaan...." Lintang menoel-noel wajah Adjie.


"Gih, sana. Kalo perasaan lo berdua udah mantep, yaudah," lanjut Lintang.


"Okey siap! Nanti gue tembak sorean, sekalian jemput dia kerja."


"Hemmm...." respon Lintang super flat sambil kembali membaca tulisan di kertas.


"Om Galak mana? Nggak ikut acara pengajian?" tanya Adjie yang kegerahan karena harus pakai batik lengan panjang berbahan super halus itu.


"Masih kerja. Pulang kerja langsung ke sini," jawab Lintang diakhiri senyuman.


"Udah cinta dan sayang sama Galaksi?" Adjie menatap lekat kedua mata Lintang. Lintang mengangguk.


"Mau sejauh apa pun gue pergi, Galaksi selalu ada di sekitar gue," lanjut Lintang.


"Gue ikut bahagia, kemarin pas lo lamaran juga gue lihat Galaksi serius banget ke elo, nggak main-main."


"Iya lah, gila kali main-main." Lalu suara beberapa sepupu terdengar dan ikut menghampiri mereka.


"Tang, udah mau dimulai, stand by di tempat masing-masing." Lintang, Adjie dan para sepupu yang ditunjuk sebagai panitia, berdoa bersama demi kelancaran rangkaian acara pernikahan Meta dan Aldo. Lintang masuk ke dalam rumah yang sudah banyak ibu-ibu pengajian dan anak-anak yatim piatu serta calon pengantin yang sudah duduk di tengah, diapit kedua orang tua dan kedua adik kembarnya. Lintang sebagai pembawa acara mulai berbicara.


***


Galaksi tidak bisa datang, ada meeting bulanan yang tidak bisa ia tinggalkan. Lintang juga mengerti dan tidak masalah. Toh, besoknya Galaksi setengah hari kerja saat acara midodareni. Lintang pulang dengan Adjie jam sebelas malam, kedua orang tua Lintang menginap di rumah keluarga Meta.


Niat hati Lintang mau nyantai, terdengar rombongan sepupunya yang datang minta menginap. Karena rumah keluarga Lintang tidak begitu jauh dengan rumah keluarga Meta. Biar lebih cepat katanya.


"Gue ngantukkk ... lo semua bebas deh, mau tidur di mana, tapi nggak ada makanan. Kalo laper, tuh ... panggil tukang nasi goreng dekat pohon beringin depan. Okeh, bye." Lintang masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Baru ingin memejamkan mata, video call dari Galaksi muncul di layar ponselnya.


"Haiii..." sapa Lintang dengan suara parau.


"Udah mau tidur?" tanya Galaksi yang melihat kedua mata Lintang sayu.


"Enggak. Mau nyapu halaman." celetuk Lintang.


"Ck! Ya tidur dong, Galak, aku ngantuk," jawab Lintang sambil menempelkan kepala di bantal dan memeluk guling menghadap ke arah kanan.

__ADS_1


"Hpnya ganjel pake bantal biar kamu nggak pegel pegangnya," perintah Galaksi. Lintang menurut.


"Capek banget ya kamu, besok aku bisa cuti nih, pagi-pagi aku ke rumah kamu, ya."


"Jangan, banyak sepupu-sepupu pada nginep, nanti kamu kena palak mereka lagi."


"Wah, rame dong, nggak pa-pa lah, di palak keluarga sendiri," kekeh Galaksi. "Yaudah, aku beliin sarapan deh, berapa orang?"


"Bener?"


"Iya, Sayang, berapa orang?"


"Dua puluh dua sama aku."


"Eehhh ...!" Galaksi kaget.


"Kan aku udah bilang. Mau lihat? Nih, aku kasih lihat, ya." Lintang beranjak dan memegang ponselnya. Ia membuka pintu, matanya auto melotot saat melihat manusia-manusia tidur mengampar, walau ada yang masih sibuk ngobrol sambil makan chiki.


"Beresin pokoknya besok pagi yaaa! Gue nggak mau tau!" omel Lintang. Galaksi terkekeh. "Nih, Lak, mau lihat nggak nih ...! Nih." Lintang mengarahkan ponsel ke ruang keluarga rumahnya yang sudah tak berbentuk.


"Lak! Sarapan besok beliin yaaa! Ke sini kan lo jemput bidadari!" teriak Adjie sambil menatap ke layar ponsep Lintant, Galaksi mengangguk. Lintang lalu kembali ke kamar dan mengunci pintu.


"Lihat kan, kamu," ucap Lintang dengan mata yang mulai mengantuk lagi.


"Iya. Yaudah bobo, gih, jangan lupa berdoa, minta dikasih mimpi ketemu kakanda Galaksi yang ganteng ini."


"He-emmm, kamu tidur juga, see you tomorrow, Sayang," ucap Lintang.


Lintang tersenyum. Ia hanya menunjukan jempol dan telunjuk yang menempel ke arah Galaksi. Calon suaminya itu tersenyum.


"Bulan depan kita nikah, Lin, can't wait." Galaksi menatap penuh sayang dan cinta. Lintang mengangguk.


"Yaudah bobo sana, Bre juga udah pules nih di sebelah aku, nite sayang." Galaksi menyudahi sambungan video call. Lintang kemudian memejamkan mata sambil tersenyum.


***


Sesuai janji, Galaksi pagi-pagi datang dengan membawa sarapan nasi uduk sebanyak dua puluh lima bungkus. Sengaja ia lebihkan takut ada yang mau nambah. Galaksi membantu Lintang mencuci gelas kotor yang ngampar di mana-mana. Lintang terus gerutu karena rumahnya jadi kayak kapal pecah.


"Udah dong, jangan ngedumel aja, jelek tau." Galaksi mencolek busa sabun ke wajah Lintang, calon istrinya itu hanya berdecak sebal.


"Emang dasar sodara sompred, udah mandi pada ngabisin sabun, pokoknya habis ini aku mau minta ganti ke Meta."


"Ikhlasin aja, apa kita belanja bulanan. Yok, besok."


"Hih! Tau ah, buru cuciin, udah harus ke rumah Meta kita."


"Iya Lin, ini juga udah ngebut."


"Ngebut apaan! Dari tadi mainin sabun doang, udah deh aku aja yang beresin, kamu temenin tuh pria-pria dodol di depan!"


"Enak tau, main sabun, Lin, mau coba nggak?" bisik Galaksi menggoda Lintang.

__ADS_1


"Galaaakkkkk!" Omel Lintang. Galaksi tertawa. Ia lalu membilas tangan dan menuju ke sepupu-sepupu Lintang yang sudah siap berangkat.


***


Acara midodareni berlangsung hikmat, Galaksi juga ikutan menggunakan seragam yang sudah disiapkan Meta. Lintang sekaligus memperkenalkan Galaksi ke keluarga yang hadir.


Acara selesai jam sembilan malam. Saatnya rombongan menuju hotel tempat acara karena semua menginap di sana. Lintang bersama Galaksi menggunakan satu mobil. Mereka tidur terpisah, Galaksi bersama para sepupu laki-laki Lintang, sedangkan Lintang bersama kedua orang tuanya.


Hari H pun tiba. Lintang menemani Meta di ruangan rias, tangan Meta dingin, ia gugup.


"Tang, gue mau nikah, Tang," ucap Meta sedikit haru.


"Jangan nangis, luntur nanti, kasian kan Ibunya udah make up-in capek-capek, elonya mewek."


Meta mengangguk. Lintang sudah siap dengan seragam kebaya modern dan kain jawa seragam para among tamu.


"Lo cantik banget, Lin, Galaksi pasti mesam mesem liatin elo nanti, deh."


"Masa sih?" Lintang melihat tampilan dirinya di cermin. Ia tersenyum.


"Bulan depan elo berdua nikah, gue ikut bahagia buat lo, lo sangat pantas bahagia." Mendengar ucapan Meta, Lintang memeluk Meta dari samping.


"Makasih Met," mereka lalu melempar senyum.


Acaranya dimulai, akad nikah berjalan lancar tangis bahagia menyambut kedua pengantin baru itu. Acara berlanjut ke resepsi, Lintang duduk di depan ruang ganti Pria, menunggu Galaksi bersiap.


"Hai Adinda, Kakandamu tampan, kan?" Suara Galaksi membuat Lintang langsung menatap sosok di depannya. Jantung Lintang berdegup cepat. Ia tersenyum dan mengangguk.


"Ganteng," ucap Lintang. Galaksi berdehem dan merapihkan beskap jawa berwarna emas itu dengan wajah sombong karena baru di puji Lintang.


"Kamu juga cantik, Lin." Mereka saling memuji sambil berpandangan.


Terdengar suara Bre memanggil Galaksi dan Lintang. Anak perempuan kecil itu berlari menghampiri. Lintang membungkuk dan merentangkan kedua tangan.


"Mama!" panggil Bre. Lintang langsung memeluk Bre.


"Apa sayang, eh Bre, Maka cantik nggak?" tanya Lintang. Bre mengangguk. "Aaah, makasih, Bre juga cantik, bajunya lucu...." ucap Lintang.


Lalu terlihat kedua calon mertua Lintang menghampiri. "Ma, Pa." Lintang mencium kedua punggung tangan mereka bergantian.


"Cantik," puji calon mama mertua. Lintang tersenyum malu. "Mama foto kalian bertiga ya."


Bre di gendong Galaksi, Lintang berdiri di sebelahnya. Tangan Galaksi melingkar ke samping pinggang Lintang dengan tangan kiri menggendong Breyana.


"Kalian serasi. Maafin Mama dulu pisahin kalian, Mama berharappp... banget nanti rumah tangga kalian adem, ayem, tentrem. Kalau pun ada ribut-ribut, bisa diselesaikan baik-baik, dan nggak ada cerai. Hadapin bareng-bareng, ya."


Lintang dan Galaksi saling menatap, melempar senyum lalu mengangguk.


::TBC::


Restu dan doa orang tua memang sangat dibutuhkan betul?

__ADS_1


__ADS_2