
Sebulan berlalu. Lintang sedang berada di rumah kedua orang tuanya. Ia menyiapkan sarapan dan obat untuk ayahnya. Rutinitas yang ia jalankan sejak ayahnya pulang dari rumah sakit.
Ia duduk di depan meja komputer yang ada di rumah kedua orang tuanya. Berselancar untuk mencari lowongan pekerjaan baru untuknya.
'Asisten pribadi? Boleh juga.'
Pikir Lintang sambil mencatat email perusahaan tempat ia akan melamar pekerjaan. Beberapa perusahaan sudah ia catat. Tidak ada lowongan aspri, tetapi lowongan customer service,marketing, hingga posisi secretaris.
"Mudah-mudahan cepet dapet kerjaan baru ya, Tang," ujar ibunya seraya meletakan pisang goreng di dekat Lintang.
"Makasih bu"
Jawab Lintang sambil tersenyum. Dengan santai ia mulai memakan pisang goreng dengan kaki diangkat satu.
Ponselnya berbunyi, nama Adjie muncul.
"What's up broooo"
Jawab Lintang seraya menempelkan ponsel ke telinganya.
"Dipanggil mami tang, suruh ke resto"
"Resto yang mana?"
"Pusat"
"Suruh ngapain?"
"Ngelapin kaca! Ya kerja lah! Bantuin papi pembukuan. Lo bisa kan. Mami nanti siang kesana, mau anter makanan buat pakde sama bude, tapi lo disuruh kesini. Sejam lagi"
"Ehhhh, gue kerja disana?"
Lintang masih bingung.
"Iya tang, sambil nunggu kerjaan yang emang lo cocok, lo kerja disini dulu. Walau gajinya nggak segede di bank, mayan tang"
"Iya. Yaudah gue siap-siap deh"
"Oke. Gue bilang mami"
"Sip. Makasih jie"
Ucap Lintang seraya telfon berakhir juga.
Lintang berjalan menuju kamarnya yang dekat dapur. Ia mengambil handuk dan bersiap mandi.
"Nggak apa-apa tang, lumayan bantu tante kamu di resto"
Sambung bapaknya.
"Iya pak"
Jawab Lintang santai.
***
__ADS_1
Galaksi menghentikan mobil didepan rumah Lintang. Tampak kosong, dan ada tulisan RUMAH DIJUAL di depan pagar.
"Jual? Lo pindah kemana si Lin? Apa ketempat bapak sama ibu?"
Gumam galaksi.
Ia lalu mengarahkan mobil ke rumah orang tua Lintang yang ia masih ingat.
Jam masih menunjukan pukul tujuh pagi, masih ada waktu untuk Galaksi menemui Lintang.
***
"Lintang berangkat ya pak, bu"
Pamitnya kekedua orang tua yang berdiri didekat pintu.
"Hati-hati ya"
Ibu mengusap lengan putrinya. Lintang mengangguk.
Saat ia akan melangkahkan kaki kepagar. Sosok Galaksi turun dari mobil dan berjalan menghampiri.
"Lin"
"Eh, Galak. Ngapain disini?"
Lintang membuka pagar.
"Gue nyariin kerumah lo, tapi malah ada tulisan rumah dijual"
"Mau kerja? Kenapa nggak pake seragam?"
Galak menunjuk ke pakaian Litang yang hanya mengenakan kemeja biasa dan celana jeans.
"Gue udah nggak disana. Resign. Eh lak, sory nih, asli gue keburu-buru harus ke tempat kerjaan baru"
"Gue anter" ucap Galaksi. Lintang tersenyum sambil menggeleng.
"Arahnya beda. Lo nanti bisa kesiangan sampe kantor. Bye lak" Lintang terus berjalan meninggalkan Galaksi yang masih berdiri didekat mobilnya.
"Lintang! Bre nanyain lo!" Ucap Galaksi tegas. Lintang menoleh. Menatap Galaksi.
"Yaudah, kalo sempet gue ke tempat lo deh lak, ok, bye lak, gue buru-buru"
"Gue anter Lintang,"
Galaksi sudah memegang bahu Lintang dan mendorongnya kearah mobil.
"Galaaakkkk ihhh" Lintang risih.
"Diem. Ayok gue anter"
Galaksi sudah membuka pintu dan Lintang masuk kedalam mobil.
Dari dalam rumah, bapak tersenyum melihat putrinya dan Galaksi.
__ADS_1
Mobil mengarah ke lokasi resto, Galaksi melirik ke Lintang yang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Udah si Lin, main hp aja, ngobrol sama gue dong"
"Ogah" jawab Lintang singkat.
"Dih kok gitu. Sombong ih, nggak boleh gitu sama cowok yang setia ngejar-ngejar lo dari jaman kuliah Lin"
Galaksi senyum-senyum sendiri.
"Nggak ada yang nyuruh ya lo ngejar-ngejar gue, lagian gue baru tau ada cowok yang blakblakan ngutarain kaya gini"
"Bagus dong, tandanya gue jujur sama perasaan gue, gue nggak pernah kan dari dulu nutup-nutupin, selalu kelihatan"
"Iya. Tapi norak." Celetuk Lintang lagi.
"Sekarang nggak bakal norak, udah punya anak satu gue"
"Maksudnya?"
"Gue mau ngejar lo lagi. Sampe keujung manapun gue kejar pokoknya. Sampe lo bales perasaan gue"
Galaksi menoleh ke Lintang sambil senyum-senyum.
"Ngarep. Halu banget sampean mas"
"Ya adinda, mas emang ngarep adinda banget. Adinda balas perasaan mas mu ini ya"
"Yaikssss, masih aja nowwrraaakkk"
Protes Lintang sambil manyun-manyun.
"Jangan manyun ah. Gemes sama bibir lo tang, nanti gue khilaf. Kalo gue khilaf, bisa-bisa langsung dinikahin. Eh, apa gue khilaf aja ya, jadi kita bisa nikah Lin"
"Galak! Jangan mimpiiii dipagi hari. Ini kepala isinya belum berubah aja si!"
"Aahhh, Lintang, kok tau, masih inget toh isi kepala gue, jadi, seneng. Colek dikit ah janda pengkolan nomor wahid"
Galaksi mencolek lengan Lintang.
"Galak! Jangan iseng deh. Duda halu!"
"Halunya cuma sama lo kok Lin, nggak pernah bergeser sejengkal pun"
"Nggak geser tapi punya anak sama-"
"Aahhh cie, Lintang cemburu yaaa, linnnn, nikah yukkkk"
"Galakkkk!!! Hihhhhh!" Omel Lintang yang senewen sendiri meladeni kekonyolan Galaksi.
Terjadilah keributan-keributan gila di mobil hingga sampai di depan restaurant. Galaksi yang memang hobby memperlihatkan rasa suka dan sayangnya ke Lintang, tidak akan menyerah untuk mendapatkan Lintang kembali.
Sedangkan Lintang yang sebal dengan kelebayan Galaksi, dibuat kembali senewen dan kesal dengan kelakuan duda anak satu itu. Walau kadang Lintang senyum-senyum sendiri menghadapi kelakuan galaksi.
bersambung,
__ADS_1
...Hasek, Janda pengkolan vs Duda halu berseteru menggemaskan 💋💋...