
Suasana kamar sederhana dengan nuansa putih itu terasa hampa. Lintang tidur dalam gelisah. Kakinya terus bergerak dan sesekali bergumam. Semakin lama semakin terlihat menangis dalam tidurnya. Tiba-tiba kedua matanya terbuka secara mendadak. Napasnya terengah-engah, bukan kali pertama ia seperti ini, cukup sering. Ia belum pernah lagi merasakan tidur terlelap semenjak hari itu.
"Breyana," lirih Lintang. Ia lalu menunduk dan menutup wajahnya.
"Mama kangen kamu, Nak," tubuhnya bergetar pelan, ia memeluk guling dan menangis lagi, ia rindu Breyana.
***
"Bre! Ayo cepetan sini, pake dulu baju ini! Oma sama Opa udah tunggu kamu, nih!" teriak Galaksi gregetan saat Breyana terus lari muter-muter menghindar diganti pakaiannya setelah bermain air di halaman. Breyana keluar dari kamar dengan dress warna krem. Terlihat cantik. Perlahan Galaksi menutup pintu kemudian meraih tangan Breyana, mereka berjalan ke ruang tamu rumah.
"Cantiknya...," ucap kedua orang tua Galaksi. Bre lalu duduk di tengah, diantara Oma dan Opanya. Sedangkan Galaksi menyiapkan ponsel yang ia letakan di atas standing tripod.
"Yok, Bre," ucap oma. Mereka berempat lalu menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk anak kecil itu. Bre terlihat senang. Setelah menyanyi dan tiup lilin, mereka memotong kue.
"Pa,"
"Apa Bre?"
"Mama?" kedua mata Breyana berkaca-kaca. Galaksi diam mendengar Bre menanyakan keberadaan lintang. Ia lalu mengusap kepala Bre pelan.
"Mama lagi pergi sebentar, nanti Papa jemput Mama pulang ya, Bre," mendengar janji Ayahnya, Bre tersenyum dan memeluk leher Galaksi.
"Bre kangen Mama Lintang?" tanya Galaksi sambil mengusap punggung Bre, putrinya mengangguk.
"Iya, Papa juga kangen Mama Lintang, Bre, banget." Galaksi memeluk Bre dengan erat. Beberapa hari lalu Breyana sempat demam tinggi, ia menangis dalam tidur hingga mengigau memanggil Lintang. Galaksi sempat panik. Lalu ibundanya yang menenangkan Bre, Galaksi hanya bisa diam, ia bertekad akan bertemu dengan keluarga Lintang untuk mencari tau di mana keberadaan Lintang. Walau ia harus dimaki-maki atau mendapat perlakuan buruk, ia akan terima.
***
"Happy birthday Breyana cantik," lirih Lintang sambil menatap layar ponsel foto ia dan Bre. Alarm ponselnya berbunyi mengingatkan tanggal ulang tahun kedua Breyana. Lintang sendu. "Maafin Mama Lintang, Mama nggak tau apa bisa pulang ke Jakarta lagi atau enggak, mudah-mudahan suatu saat kita bisa ketemu ya, Bre, i still love you cantiknya Mama Lintang." Pintu kamar Lintang di ketuk. Ia berjalan dan mendapati kedua orang tuanya sudah bersiap pergi.
"Jadi, Bu? Kirain enggak. Lintang sendirian, dongm" ucap Lintang sambil membuka lebar pintu kamarnya.
"Bapak harus ketemu Eyang, manggil semua anak-anak dan menantunya, tiga hari doang kok, sayang."
"Iya, Bu. Yaudah, taksinya Lintang pesenin ya, Edo atau Adjie yang jemput Ibu sama Bapak di bandara?"
"Bram sama Delon. Edo sama Adjie—" Ibunya menghentikan kata-kata. "Tuh, di ruang tamu, tidur."
"HAH!! ke sini?" Lintang terkejut lalu berjalan menuju ruang tamu sederhana rumahnya. Wajahnya sumringah melihat dua manusia itu tertidur di sofa dan karpet rumahnya, di Yogya.
"Kangennn...!" Lintang langsung mencubit-cubit pipi Adjie dan Edo bergantian. "Bangun!" teriak Lintang. Adjie terkejut dan duduk sambil mengucek matanya. Ia melempar bantal sofa ke arah Lintang.
"Ngantuk tahu, baru nyampe jam tiga tadi. Sekarang jam berapa sih!" Adjie menatap jam tangannya. "Ck! Jam tujuh, gue tidur di kamar lo ya, tang!" Adjie lalu beranjak dan berjalan masuk ke dalam kamar Lintang. Lintang terkekeh sambil menggelengkan kepala karena heran melihat Adjie yang masih begitu sikapnya. Edo bergeliat di karpet yang dipasang Ibunya. Setelah mengumpulkan sedikit nyawanya, ia tersenyum saat menatap Lintang.
"Hai sepupu, udah pagi ya?" Edo lalu beranjak dan duduk di sofa bersama Lintang.
"Kopi, Tang, hoammm..!" Edo mengambil ponselnya.
"Iya bos, bentar ya!" Lintang lalu beranjak menuju dapur. Kedua orang tua Lintang sudah berangkat menuju airport, ia di rumah bersama dua pria yang siap siaga membantunya.
"Tang, gimana? Udah bisa lupa, kan?" tanya Edo sambil menghisap rokoknya. Mereka duduk di teras kecil rumah Lintang.
__ADS_1
"Belum bisa do. Gue terlalu kecewa sama Galaksi."
"Kalau gue bilang Galaksi dijebak, gimana? Lo bisa maafin dia?"
"Kalo maaafin, ya iya... gue juga manusia nggak sempurna, punya dosa dan khilaf, siapa gue buat nggak maafin kesalahan orang. Tapi untuk lupain, nggak gampang, Do." Ponsel Edo berbunyi. Nama Galaksi jelas muncul di layar ponselnya.
"Galaksi. Seminggu ini dia berkali-kali telfon gue tapi nggak gue angkat" Edo melirik ke Lintang.
"Jangan. Nggak perlu kalo nggak penting buat lo, Do!"
"Tapi lo harus tau, Tang, kondisi Galaksi sekarang nggak baik-baik aja. Dia dikeluarin dari kantor, setelah gue resign juga dan Mira beberin semuanya. Dia hancur juga, sehancur-hancurnya. Dan Mira, dia hamil."
"Pasti lah, Galaksi harus tanggung jawab. Do, nggak usah bahas ini ya, siap-siap ke toko yok, lo katanya mau tau usaha gue, finnaly gue bisa buka toko cup cake and pastry."
"Ayok. Eh, Tang, Adjie bentar lagi sidang skripsi, kalo udah lulus suruh kerja sama lo aja. Sambil nunggu lanjut S2 hukumnya."
"Emang tuh bocah mau S2?" Lintang terkejut. Edo mengangguk.
"Niat banget mau jadi pengacara." Edo terkekeh. Lintang mengangguk.
"Nah elo, kapan kerja lagi, keenakan nganggur."
"Sapa bilang. Gue sekarang tinggal memantau dan duduk manis, uang datang sendiri, waralaba gue udah tersebar, Tang, walau kecil-kecil tapi menjamur."
"Yaudah, cari calon istri, gih, nggak tega gue lihat lo luntang lantung nggak ada tujuan."
"Ngaca woy!" wajah Lintang di usap kasar dengan tangan edo. Mereka tertawa bersama. Edo merangkul Lintang.
"Hm." Hanya itu tanggapan Lintang.
"Sabar ya, mudah-mudahan semua yang keruh bisa menjadi bening. Walau akan butuh waktu dalam prosesnya biar air itu jernih dan tidak membahayakan untuk dikonsumsi tubuh kita."
"Apa, Sih! Lo kerja di perusahaan air negara? Sok pake ungkapan-ungkapan, Jijay dengernya tau!" Lintang menoyor kepala Edo. Edo ngakak. Ia juga geli sendiri mengingat ungkapan aneh yang tadi ia ucapkan.
***
"Elo Galaksi." Suara berat dan tatapan mata tajam sangat mengintimidasi Galaksi yang duduk bersandar di body mobilnya. Ia mengangguk.
"Ikut gue. Mobil lo, biar anak buah gue yang urus." Galaksi mengikuti Dastan menuju mobil SUV hitam miliknya.
Mereka sudah di dalam mobil menuju ke suatu tempat. Tapi mereka tidak turun.
"Lo pasti udah tahu siapa gue, 'kan?" Dastan bertanya. Ia lalu mengambil amplop cokelat dan memberikan ke tangan Galaksi. "Buka," pinta Dastan.
"Bang Igo yang minta Bang Dastan lakuin ini?" tanya Galaksi pelan.
"Yup." Dastan mengangguk. "Gue mau tanya satu pertanyaan buat lo."
"Apa, Bang?" Galaksi menoleh. Masih belum membuka isi amplop coklat itu.
"Masih cinta sama Lintang?" Dastan menatap lekat. Galaksi mengangguk.
__ADS_1
"Sangat, Bang," jawab Galaksi dengan tegas tanpa ragu.
"Nggak gampang buat perbaikin semua ini. Lintang itu sensitif. Tapi ia tutup semua lewat kecuekan dan sikap dinginnya."
"Bang Dastan tau Lintang banget?"
"Lintang waktu kecil, gue sama Igo yang jagain, jadi urusan ini, secara nggak langsung urusan gue. Gue emang bukan keluarga Igo dan Lintang. Tapi kalau mereka butuh bantuan untuk hal receh kaya gini, gue bisa selesain sambil merem."
"Receh, Bang? Gue udah kaya males hidup sama urusan ini," kekehan miris terdengar dari mulut Galaksi.
"Lo udah pernah bunuh orang belom? Ah, nggak usah bunuh, deh. Minimal tembak lengan, kaki, kuping, atau, gebukin orang sampe koma, pernah?" Dastan melirik sinis ke Galaksi. Galaksi menggeleng.
"Itu dunia gue, The black wings. Itu julukan gue di dunia itu. Di luar sana, dunia dan kehidupan manusia nggak selalu indah dan cerah, yang tersentuh banyak, tapi yang tak tersentuh, jauh lebih banyak."
Galaksi diam. Ia tertegun mendengar penjelasan singkat Dastan tentang siapa dirinya. "Well, buka. Lo lihat isinya." Dastan menunjuk ke amplop cokelat. Galaksi membukanya, ia diam. Beberapa foto yang diambil secara diam-diam menunjukan sosok Lintang yang ceria dan sedang berada di sebuah jalanan. Lintang sedang berjalan kaki entah menuju ke mana. Galaksi tersenyum dengan bibir bergetar. Lintang masih tetap sama. Terlihat cantik dan menawan.
"Dia di mana, Bang?" tanya Galaksi.
"Belum sekarang. Sekarang gue mau tanya, lo tau siapa laki-laki itu?" tunjuk Dastan ke arah Mira dan seorang lelaki. Galaksi menggeleng. Terlihat Mira sedang berjalan bergandengan bersama lelaki itu setelah keluar dari toko perlengkapan bayi.
"Dia laki-laki yang bertanggung jawab atas kehamilan Mira." Lanjut Dastan.
"Serius, Bang!" Kedua mata Galaksi terbelalak.
"Gue bilang receh, easy-lah cari info. Tapi, bukan dari mulut Mira. Kita masih butuh pengakuan dari mulut perempuan itu."
"Caranya? Susah, Bang, Mira akan keras kepala dan tetep bilang itu anak gue."
"Ck. Itu urusan gue. Lo santai aja dulu. Sebenarnya kasian Mira sih, dia emang, yaaa, suka sama lo, tapi bukan cinta. Cuma mau menguasai lo aja, karena dia merasa capek jadi perempuan yang tidak dianggap. Dia capek berjuang sendiri untuk hidup dan menghidupi keluarganya. Dia juga haus kasih sayang, dan kekayaan."
"Klise," ucap Galaksi.
"Memang, karena ada wanita yang nggak tahan hidup susah atau pas-pasan, rela gadein harga diri sendiri atau orang sekitar untuk kepentingan dunia, yang sebenarnya, pada akhirnya akan menghancurkan diri sendiri juga. Zaman sekarang, nggak sedikit kita bisa lihat banyak perempuan muda belia mudah dan mau jalanin cara instan buat penuhin gaya hidup. Jadi simpenan sugar daddy, atau lebih di atas itu. Mereka hidup dibagian dunia yang tak tersentuh, bahkan aparat sekalipun nggak bisa senggol. Why? Ya, karena, when money talk, dan keimanan lemah, disitu mereka takluk."
"Dunia Bang Dastan gitu berarti?" Galaksi memberanikan diri bertanya.
"It was. Dulu, sekarang pelan-pelan semua gue perbaiki, gue masih di dunia itu tapi menolong. Menyelesaikan masalah orang lain yang butuh bantuan gue karena mereka merasa ditipu, dicurangi, atau mencari orang yang kabur karena kejahatan, dan menyerahkan ke pihak berwenang, dengan cara gue, walau nggak sampe gue habisin kaya dulu-dulu." Dastan tersenyum singkat.
Galaksi menatap Dastan bingung.
"Perempuan. Seorang perempuan yang rubah dunia gue yang gelap perlahan cerah, dengan kebaikan, ketulusan, sabar dan cinta."
Senyum Dastan kini mengembang. Galaksi mengangguk.
"Gue mau Lintang balik ke gue, Bang. Gue akan berusaha yakinin dan dapetin Lintang lagi. Setelah semua kesalah pahaman ini terungkap."
"I'll help you. Sampe Lintang yakin semua ini emang rencana Mira. Walau tetep lo salah karena lo nggak bisa handle junior lo itu." Dastan terkekeh sinis, sedangkan Galaksi membuang muka dan terkekeh menertawakan kebodohannya.
::TBC::
__ADS_1