Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Dua kali lipat


__ADS_3

Raga galaksi boleh saja ada di jakarta, tapi hatinya berada di yogya. Kembali lagi dengan kebiasaan yang galaksi lalukan. Kini kurir pengantar bunga yang datang pagi hari saat lintang sedang asik merapihkan meja kasier dan mensetting sesuatu.


"Dengan bu lingtang kan?" Tanya kurir itu yang terlihat ngos-ngosan.


"Iya mas, ada apa ya?" Tanya lintang bingung.


"Sebentar saya ambil ya bu" kurir itu keluar toko dan tak lama kembali dengan bouke bunga mawar warna merah, lalu lanjut warna hijau muda, dan terakhir warna putih.


"Tolong tanda tangannya bu," ucap kurir. "Hantaran ekslusif dari pak galaksi untuk bu lintang, sama ini bu," kurir itu mengeluarkan kertas lalu mulai membacakannya.


"Selamat pagi bunga abadi galaksi,ini aku kirim bunga mawar sebagai wakil hati ini yang juga selalu berbunga-bunga karena kamu lintang ku,bunga bisa layu,tapi hatiku tidak akan layu padamu" kurir itu memberikan kertas ke lintang yang terlihat menahan senyum.


"Mas, dari toko mana? Kok kayaknya capek banget, naik motor padahal kan?"


"Iya bu. Tapi masalahnya, pak galaksi minta service kilat,dia udah kasih biaya lebih ke saya bu, jadi saya ya harus secepat kilat"


"Bahaya. Hati-hati lain kali mas, dan kalau ada request antar bunga dari galaksi, bilang ke dia, bu lintang nggak mau bunga mawar, maunya tulip yang dia ambil sendiri dibelanda" ucap lintang iseng.


"Yah bu, kalau gitu toko saya rugi dong," ucap lesu kurir itu.


"Bercanda mas, makasih ya,nanti saya rapihin sendiri bunganya" lintang tersenyum. Kurir itu pergi lalu ponsel lintang berbunyi. Manusia paling lebay menelfonnya.


"Makasih bunganya" ucap lintang sebelum galaksi berbicara.


"Suka?" Tanya galaksi.


"Nggak. Menuh-menuhin toko doang. Nih mau aku buang semua" ucap lintang sambil berjalan menghampir bunga mawar dengan total hampir seratus tangkai dan ia mencium harumnya bunga itu.


"Tega kamu. Aku sengaja kirim itu ke toko biar tambah meriah tokonya"


"Lebay"


"Udah bawaan orok. Lagian sama kamu aku pasti nggak bisa nggak lebay"


Suara pintu toko terbuka terdengar. Lintang menoleng.


"Lintang, aku mau ajak kamu sarapan nasi gudeg," javier,ia sudah berjalan mendekati lintang yang diam membeku. Javier melihat ke bunga-bunga yang ada di dalam toko.


"Bunga sebanyak ini dari siapa lintang?" Tanya javier. Lintang diam.

__ADS_1


Ia lalu berbicara


"Galaksi" jawab lintang pelan.


"Iya! Galaksi. Calon suami dan pria masa depan dunia akhirat lintang. The one and only ga.lak.si!" Galaksi mencak-mencak saat ponselnya lintang masih menempel di telinga kanannya.


"Aku udah sarapan jav, sorry," jawab lintang. Javier mengangguk.


"Yaudah, aku ke kantor ya,nanti sore aku jemput kamu lagi,bye lin," javier mengusap kepala lintang. Lintang mengangguk ragu dan tersenyum kaku.


"Kamu mau balas perasaan dia lin? Panggil kamu lin juga?" Tanya galaksi dengan nada suara dan intonasi bicara yang serius.


Lintang diam. Ia menatap semua bunga mawar dihadapannya.


"Kenapa repot-repot kirim bunga si lak, boros tau nggak"


"Nggak usah ngeles. Jawab aku, kamu suka sama javier? Jawab jujur lintang."


Lintang memejamkan kedua matanya.


"Aku nggak tau" jawab lintang.


Lintang menggigit bibir dalamnya.


"Kapan ke yogya? Aku perlu ngomong langsung sama kamu" lintang menatap ke lantai. Ia salah tingkah sebenarnya menunggu jawaban galaksi.


"Minggu depan. Aku ada dinas kesana. Sekalipun kamu berpaling dari aku lintang,aku akan semakin tarik kami untuk selalu lihat ke aku. Sampai kapanpun. Laki-laki yang dipegang omongannya. Dan itu janji aku. Nggak ada kata nyerah untuk aku lintang"


"Aku tunggu kamu disini,makasih bunganya lak"


"I love you lintang, as always"


"Take care galak" balas lintang. Membuat galaksi memejamkan mata saat mendengar kata-kata itu. Tidak ada balasan "i love you too"


***


Lintang menutup toko lebih cepat karena kedua orang tuanya hendak terbang ke jakarta. Ayahanda lintang ada keperluan dengan rekan bisnisnya. Lintang membantu merapihkan toko. Suara javier terdengar didekat pintu masuk.


"Kasian pelanggan kamu udah antri tapi nggak bisa beli" javier berdiri didekat lintang.

__ADS_1


"Aku udah kasih pengumuman didepan. Mungkin mereka nggak baca" ucap lintang sambil mengunci meja kasier.


"Aku mau ajak kamu ketemu orang tua aku lin, bisa kan?" Ucapan javier terdengar menakutkan ditelinga lintang.


"Untuk apa kamu ajak aku ketemu orang tua kamu?"


"Untuk kenalin kamu ke mereka. Mereka harus tau aku lagi deket sama siapa, aku udah cerita, dan, mereka minta ketemu kamu"


"Mmmmm, apa nggak bisa dibatalin, aku nggak tau keluarga kamu kaya apa,kamu juga belum banyak cerita kan. Lagian aku tuh siapa kamu jav?"


"Calon istri aku. Aku mau kita nikah lintang"


DEG.


Lintang terkejut. Ia diam mematung berdiri ditempatnya. Tak pikir panjang. Lintang pun harus bisa memberitahu javier apa adanya.


"Kamu tau aku udah punya anak? Bre"


"Tau. Anak galaksi itu kan, aku tau kamu single lintang. Sama galaksi juga nggak ada hubungan apapun kan, sah dong aku deketin kamu, dan pingin serius jalanin sama kamu. Aku single,perjakan dan jug--"


"Aku janda jav. Suami ku meninggal hampir dua tahun lalu"


Ucapan lintang kini justru membuat javier diam. Terkejut dengan pernyataan lintang. Ia terkekeh, tidak percaya.


"Kamu nggak bisa kan terima kondisi status ku yang janda,"


"Aku nggak percaya lintang, kamu kok iseng banget" javier terkekeh sambil mengusap wajah lintang. Lintang menghindar dengan sopan.


Lintang mengambil ponsel dan  membuka galery foto. Ia memperlihatkan foto pernikahan dengan alrmahum haga dan saat ia kehilangan haga. Foto ia memeluk jenazah haga. Ia masih simpan itu, galaksi juga tahu, tapi ia tak masalah,haga bagian dari hidup lintang dimasa lalu, untuk apa di lupakan, toh haga bukan pria brengsek. Javier, ia diam sambil menatap lintang tak percaya.


Semaput kan, gue janda jav. ucap lintang dalam hati. Lintang bahkan dengan jelas bisa melihat keterkejutan itu. Ia tak mau tak membeberkan siapa dirinya, ia juga merasa seperti memberikan harapan palsu kepada Javier. Tatapan Lintang begitu lekat menatap Javier yang masih membisu. Tak bersuara sama sekali, lalu senyuman Lintanh tunjukan kepada pria itu.


"Jadi... masih mau coba jalanin sama aku yang berstatus janda. Udah bolong gue." Entah mengapa Lintang ingin menjeplakan kalimat itu. Ia sudah jengah melihat sikap santai dan sok cool Javier. Ia tak suka dengan hal itu, lalu ia merasa muncul rasa rindu dengan ketengilan dan lebaynya Galaksi. Jantungnya berdegup kencang, ia merindukannya.


To be continue,


Demi kaliannn... ku gak sempat edit dulu.. hahaha..


 

__ADS_1


__ADS_2