Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Nasehat


__ADS_3

Lintang berjalan menuju tokonya jam enam pagi, sudah seperti biasa. Dari kejauhan tampak sosok pria yang ia rindukan. Ia menghentikan langkah kakinya dan justru mulai menitikan air mata.


"Bang Igo...," Lintang kumat manjanya. Igo hanya terkekeh dan berjalan menghampiri Lintang yang mulai menangis.


Igo tertawa sambil memeluk Lintang yang justru menangis di pelukannya.


"B---bang i--gooo," ucap Lintang terbata-bata.


"Udah. Jelek tau. Semua baik-baik aja Lintang," icap Iho sembari mengusap surai Lintang yang di respon dengan menganggukan kepala. Ia melihat Dastan sedang sibuk menelfon seseorang, jadi ia hanya menyapa dengan melambaikan tangan ke Liintang. Lintang membalasnya.


"Bang Igo berdua aja sama Bang Dastan?" Lintang menghapus sisa-sisa air matanya dengan tisu.


"Sama anak-anak juga kok, mereka masih berenang di hotel sama Mamanya, hebat lho, bisa buka usaha sendiri, keren!" Igo merangkul bahu Lintang, mereka berjalan ke toko bersama.


***


Di toko.


"Bang, kalo pagi gini, gue prepare sama karyawan, jadi kalo Bang Igo agak ditinggal-tinggal nggak apa-apa ya, Bang," Lintang merapihkan food display dan ia sterilkan dengan alat khusus.


Igo mengangguk sembari duduk di kursi dekat sudut ruangan. Menatap adik kecilnya yang cekatan. Lalu, pintu masuk terbuka. Sosok pria yang ada di foto terlihat. Javier.


"Pagi Lintang," ucap Javier. Lintang mengangguk sambil tersenyum.


"Aku bawain kamu sarapan roti bakar, di makan, ya,"  ucap Javier berdiri di hadapan Lintang yang dipisahkan meja pemesanan. Lintang menerima.


Lalu datang ojek online mengantar sesuatu ke Lintang.


"Dengan Ibu Lintang?" ucap ojol itu. Lintang mengangguk.


"Ini, Bu, ada kiriman, sarapan untuk Ibu Lintang tersayang, ehhh maksudnya, saya disuruh bilang gitu, Bu. Ini ada pesannya juga, saya disuruh bacain. 'Untuk Lintangku sayang. Sabar, tunggu kakandamu  yang sedang membangun rumah dalam semalam, kakanda akan segera menjemput adinda dan jangan lupa sarapannya dimakan ya. Dari yang sayang kamu, Galaksi, yang ada di Jakarta' itu ya, Bu. Saya cuma di suruh," ucap mas-mas ojol sambil mengeluarkan food container berisi nasi gudeg dan krecek lalu memberikan ke tangan Lintang.


Igo melirik. Ia tersenyum saat mendengar nama Galaksi disebut Mas ojol.


"Wong gendeng" celetuk Lintang. "Sebentar aku ke sana ya," tunjuk Lintang ke Igo yang duduk menatap Lintang berjalan ke arahnya. Sebelah alisnya terangkat.


"Bang, sarapan dulu, ini--" Lintang ragu.


"Lo mau makan yang mana? Gue nggak mau, ah, dua-duanya ada peletnya" tolak Igo sambil meledek.


"Bang, Javier juga bawain aku sarapan itu," bisik Lintang. Igo mengangkat kedua bahunya lalu menatap Lintang lekat.


"Bang Igo, ih!" ucap Lintang pelan. Jujur, nasi gudeg komplit itu lebih jauh... jauh... jauh menggugah selera Lintang dari pada roti bakar yang di bawa Javier.


Igo beranjak. Lalu berjalan ke meja kasier di mana Javier masih berdiri di sana.


"Wahhh... roti bakar apa, nih," tanya Igo sambil membuka bungkusan putih itu. Javier diam sambil menatap gerak gerik Igo.


"Bang Igo..." ucap lintang pelan.


"Ck. Lintang alergi kacang, ini selai kacang, ya?" lirik Igo sinis ke Javier sambil memasukan roti bakar selai kacang ke mulutnya. Javier mengangguk.


"Buat gue aja. Siapa nama lo!" tanya Igo sambil terus mengunyah tapi tatapan menatap tajam ke Javier yang tampak bingung.


"Javier," ucap pria itu pelan.


"Gue Igo. Kakak sepupu tertuanya Lintang, dari Jakarta" ucap Igo sambil kembali mengambil potongan roti bakar.

__ADS_1


"Lintang, makan sana, nasi gudegnya keburu dingin. Bang Igo yang habisin nih roti bakar. Makasih Javier, lumayan perut gue nggak kosong jadinya." Igo menenteng plastik putih itu dan kembali duduk di tempatnya lalu mengeluarkan ponsel.


Lintang menghampiri Javier dengan wajah tak enak hati. "Sorry, Abang aku gitu emang," ucap Lintang. Javier tersenyum.


"Nggak apa-apa, aku kan jadi tau kamu alergi kacang." Javier ingin menepuk-nepuk kepala Lintang. Lintang menghindar. Javier segera menurunkan tangan dari atas kepala Lintang.


'Padahal gue nggak alergi apa-apaan, Bang Igo bener-bener, deh.' ucap Lintang dalam hati.


Javier pamit dan Lintang juga mengantarkan sampai depan pintu toko. Ia lalu kembali ke dalam sambil manyun-manyun.


"Abang, gue kan nggak alergi kacang."


"Terus?" jawab Igo sambil asik bermain game online di ponselnya.


"Yaaa, kan, rotinya bisa, buat nanti," ucap Lintang sambil duduk di hadapan Igo dan membuka kotak berisi nasi gudeg. Sambil terus protes ke Igo, ia juga mulai memakan sarapan gudeg dengan tambahan rasa kasih sayang dari Galaksi nun jauh di Jakarta. Igo diam-diam melirik.


"Enakan nasi gudeg, 'kan? Apalagi pake tambahan bumbu cinta dan sayang, sama rindu yang terpendam."


GLEK


Lintang tersadar. Ia menatap igo. "Bang Igo...!" omel Lintang sambil meletakan sendok. Igo tertawa puas. Beberapa karyawa  lintang juga ikut tertawa. Igo melirik ke foto Breyana yang terlihat imut.


"Bre! Lihat Mama kamu nih, ucul emes aneeettt...!" ucap Igo yang bertubuh tinggi tegap itu.


Lintang misu-misu. Ia kembali memakan sarapannya hingga habis. Lalu beranjak dan kembali menyiapkan tokonya untuk buka jam delapan pagi. Beberapa karyawan sudah mulai baking dan menyiapkan perintilan lainnya.


"Lintang," panggil Igo saat ia berjalan mendekat ke arah dapur di mana Lintang sedang mengecek kesiapan lainnya.


"Ya, Bang," jawab Lintang yang memerhatikan oven besar berisi cupcake yang sedang di panggang.


"Bagian dari hidup lo mana yang bikin beban lo sekarang?" tanya Igo bersandar di dekat pintu sambil bersedekap.


Lintang diam. Ia menatap Igo tak kalah lekat.


"Bang igo udah tau jawabannya, 'kan?" Lintang beralih ke sisi lain dapur untuk melihat karyawannya membuat adonan pastry.


"Gue mau bahan ini serius. Gue tunggu jam makan siang nanti, gue mau ke hotel lagi, ya." Igo berdiri tegak dan Lintang berjalan menghampirinya.


"Iya, Bang, Bye," ucap Lintang sambil memeluk kakak sepupunya itu. Igo mencium pipi Lintang dan menepuk kedua bahu wanit itu.


"Sukses buat bisnisnya ya, buka cabang di Jakarta, gue investornya nggak masalah, bye." Igo lalu berjalan keluar toko. Lintang tersenyum.


Para karyawan tersenyum menatap Lintang. "Ada apa?" tanya Lintang bingung. Para karyawannya menunduk sambil mengulum senyum tak enak dengan Lintang untuk berkomentar.


***


Sore hari.


Lintang duduk di cafe hotel tempat Igo menginap. Cafe itu tepat di tepi kolam renang. Janjian siang hari dibatalkan karena Igo mau ajak jalan-jalan anak-anaknya dulu. Alhasil malam hari baru bisa ngobrol dengan Lintang.


"Makasih," ucap Lintang saat pelayan mengantarkan teh manis hangat dan sepotong orange cheese cake kehadapannya. Igo memesan yang sama juga dengannya. "Bang Dastan mana?" tanya Lintang sambil memasukan suapan kecil kue itu kemulutnya.


"Mendadak terbang ke Jakarta. Ada urusan penting, nggak bisa ditunda," jawab Igo sambil bertopang dagu menatap Lintang.


"Tang,"


"Apa," jawab cuek lintang sambil kembali memakan kuenya.

__ADS_1


"Apa yang masih bikin ngeganjel di hati lo, bukannya semua udah jelas. Siapa yang salah di sini?" Igo mulai bertanya. Tandanya, Lintang harus juga berhenti makan.


Lintang menghela napas. "Gue masih kepikiran terus, Bang, gue ngerasa jijik, geli, dan takut."


"Takut? Takut apaan?" Igo terus memperhatikan raut wajah Lintang.


"Sebenernya, gue takut, misalnya, nanti bener nih gue nikah sama Galaksi, bayang-bayang dia lagi gituan sama Mira malah jadi ganggu hubungan gue sama Galaksi bang, kan nggak boleh kalo lagi 'gituan' tapi malah bayangin orang lain, gue nggak mau."


Igo terkekeh."Polos banget si lo, nih gue tanya lagi, waktu itu Galaksi emang suka sama suka lakuin gituan? Enggak kan, karena obat perangsang itu kan?"


Lintang mengangguk menjawab pertanyaan Igo.


"Nah, itu semua karena terpaksa. Lo nggak bisa tahu Lintang, yang ada di kepala Galaksi waktu itu apa, apakah cuma sekedar buat keluarin hasrat dia karena kerangsang itu  atau malah justru bayangin main sama lo." lirik Igo.


"ABANG!" pekik Lintang. Igo tertawa terbahak-bahak.


"Gue sempet emosi banget waktu tau kejadian itu tang, cuma gue mikir. Nggak mungkin lah galaksi rusakin hubungan yang udah kalian berdua bangun, apalagi galaksi yang mepet lo banget, pasti ada sesuatu, nih." Igo menyalakan sebatang rokok yang ia selipkan di bibirnya.


"Makanya Bang Igo minta tolong Bang Dastan?" tanya Lintang. Igo mengangguk.


"Cuma Dastan yang bisa cari tahu hal kaya gini tang, orang gila itu udah taubat main cewek, tapi sisa-sisa pesonanya masih ada, bisa lah buat mancing-mancing Mira yang kaya gitu, dan, bener kan,itu bukan anak Galaksi."


Lintang mengangguk. Ia menyesap teh hangatnya.


"Terus, si Javier itu gimana? Deketin lo kan dia?" Igo melirik tak suka.


"Kata siapa?" tanya Lintang. Igo menjitak kepala Lintang.


"Kelewat polos lo. Kelihatan banget gitu. Tapi feeling gue dia bakal berenti di tengah jalan buat deketin lo."


"Kenapa?"


"Nggak bisa dipastiin, cuma feeling gue sama Dastan aja, dan based on data."


"Data? Bang Igo mulai kaya Bang Dastan, deh, hacker data-data orang, nggak boleh tau, Bang."


"Boleh kalo gue. Apalagi kalo urusannya buat keluarga dan cari tahu kebenaran."


"Follow your heart, Lintang, udah mau setahun lho, cukup lah buat recovery hati. Galaksi tuh setia, kelihatan dari karakternya walau lebay banget." Igo terkikik. Lintang diam menatap pemandangan area kolam renang hotel. Ia melirik Bang Igo yang mengeluarkan selembar kertas dan menyerahkan ke Lintang. Sebelah matanya menyipit karena asap rokoknya yang masih ia jepit di sudut bibirnya.


"Nih, gue investasi buat lo buka Brey's cup cake di jakarta. Bagi hasilnya atur aja di elo, lumayan buat nambah isi tabungan anak-anak gue."


Lintang mengambil selembar cek dan membaca nominalnya. "Bang igo, habis ngerampok di mana, ini banyak banget, Abanggg." Lintang berkedip tak henti.


"Enak aja ngerampok. Gue kan ada investasi lain, Dastan yang kelola, kalo kelebihan, pegang aja, atau buat tabungan elo atau apa lah."


"Tapi, Bang, lebihnya lumayan lho, gue balikin buat tabungan anak-anak ya?"


"Atur. Bebas...." Igo terkekeh. Ia menerimanya. Ia akan simpan baik-baik lembar cek itu. Toko di Yogya harus ia alihan pengelolaannya sebelum ia membuka cabang di Jakarta nanti.


"Buat keluarga, gue nggak akan pelit, Lintang, gue akan kasih kalau gue ada, inget prinsip keluarga kita kan?" tanya Igo. Lintang mengangguk.


"Keluarga selalu tempat teratas buat gue," lanjut Igo sambil menghisap rokoknya. "Gue kerja buat apa sih, buat keluarga ujung-ujungnya, baik keluarga gue sendiri atau sodara-sodara gue yang butuh bantuan. Nggak akan miskin buat nolong orang, apalagi keluarga sendiri. Gue mati nggak bawa duit. Ngapain di simpen-simpen buat memperkaya diri sendiri. Nggak penting buat gue." Igo tersenyum.


Igo seperti itu dari dulu. Sebagai cucu tertua, tanggung jawabnya juga mendidik adik-adik sepupunya yang akan menjadi penyambung obor silaturahmi pohon keluarga, prinsip itu benar-benar Igo pegang dan dipakemkan ke keluarganya.


Lintang mengangguk, ia paham. "Jadi, Kakanda Galaksi, dikasih kesempatan, nih?" lirik Igo seraya tersenyum jahil.

__ADS_1


:To be continue:


__ADS_2