
Galaksi terdengar sedang tertawa bersama kedua orang tua Lintang di ruang tamu rumah kedua orang tuanya. Hari sabtu diminggu pertama mereka resmi menjalin hubungan super serius, menjadi hari untuk Lintang memperkenalkan Galaksi ke beberapa saudaranya.
Kebetulan, jadwal acara arisan keluarga sudah tiba, jadi sekalian saja dikenalin ke semua dan jadi ajang pamer Lintang kalau janda pengkolan siap kembali menikah dengan pria yang bisa terima dirinya apa adanya sejak dulu.
"Yuk!" Lintang sudah siap dengan dress berwarna krem selutut yang tampak cantik dengan kulit tubuhnya yang putih.
"Ayok, keburu macet." Lintang mencabut kunci rumah dan berdiri di dekat pintu sambil menatap ke tiga orang di hadapannya. Kedua orang tua Lintang beranjak dan berjalan keluar rumah, Galaksi senyum-senyum menatap calon wanita pendamping seumur hidupnya.
"Cantik banget si calon nyonya Galaksi," lalu Galaksi mencium kening Lintang sekilas sambil berjalan keluar.
Lintang tersipu malu dan mengulum senyumnya sambil mengunci pintu rumah dan terakhir pintu pagar berwarna hitam itu.
***
Galaksi duduk di dekat eyang dan keluarga lainnya dengan wajah tenang. Galaksi tidak ada rasa grogi sama sekali.
"Galaksi?" tatap eyang putri dengan sedikit menunduk untuk menegaskan penglihatannya.
"Iya Eyang," jawab Galaksi sopan dengan nada bicara pelan.
"Bener mau nikahin cucu saya ini? Udah tau masa lalu Lintang, mantan suaminya baru meninggal setahun lalu."
Galaksi mengangguk sambil tersenyum.
"Saya juga duda Eyang, dengan anak satu. Istri saya pergi ninggalin saya, surat cerai juga sudah selesai saya urus, kami resmi pisah beberapa bulan lalu."
Eyang manggut-manggut.
"Cinta sama Lintang?" tanya salah satu Pakde Lintang. Galaksi mengangguk.
"Dari dulu Pakde, dari awal saya gebet dan kejar-kejar Lintang waktu di kampus." Galaksi terkekeh. Lintang mencubit paha Galaksi sambil komat kamit.
__ADS_1
"Wes, ora usah panjang-panjang, mau kapan kamu resmi ngelamar Lintang? Biar kami siap-siap juga," ucap eyang. Lintang menoleh.
"Kok kami Eyang?" Lintang bingung. Eyangnya tersenyum.
"Kamu itu sudah bisa lewatin masa sedih kehilangan suami kamu, kamu dulu nikah cuma di KUA karena kondisi Haga waktu itu, Eyang mau kamu bisa punya pesta pernikahan yang seperti sodara-sodara kamu lainnya."
Lintang menggaruk tengkuknya. Ia lalu menggeleng. "Maaf Eyang, Lintang nggak mau mewah-mewah, maaf ya Eyang," tolak Lintang halus dan sopan.
"Enggak Lintang, Eyang maunya kamu bahagia, makanya Eyang sama keluarga lain yang nanti siapin."
"Lintang udah bahagia Eyang, boros kalau kayak gitu, nggak usah ya Eyang, please." Lintang terus menolak.
Eyang menghela nafas, menatap sayu ke cucunya itu. "Kamu maunya apa emangnya?"
"Acara sederhana aja di rumah Bang Igo, kan gede rumahnya, tamunya juga keluarga sama temen deket aja Eyang."
"Enggak. Jangan di rumah Igo, sewa gedung aja. titik." Eyang tak terbantahkan. Lintang menunduk lesu, lalu melirik ke Galaksi.
"Hah?" Lintang menganga. Galaksi justru malah setuju sama ide eyang putrinya itu.
Sudah tradisi memang di keluarga Lintang untuk acara pernikahan akan di ambil alih pihak wanita dan semua bahu membahu mengurus serta nyumbang, mereka tidak perhitungan untuk kebahagian anggota keluarga. Begitupun saat ada yang susah. Prinsip eyang, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Itulah prinsip kekuatan sebuah keluarga.
Lintang lanjut dengan memperkenalkan Galaksi ke sepupunya yang heboh luar biasa. Dengan mudah Galaksi langsung berbaur dan akrab dengan keluarga besarnya.
Minggu depan acara pernikahan Meta dan Aldo, acara kumpul sekaligus membahas susunan acara dan posisi panitia saat hari H. Lintang sudah siap dengan seragam keluarga, tinggal Galaksi yang baru bergabung dan langsung di seret untuk fitting baju oleh Meta dibutik.
"Met, Galaksi nggak usah deh ikutan jadi among tamu, sepupu kandung aja," bisik Lintang saat Meta meminta Lintang mampir ke butik saat pulang dari rumah eyang nanti.
"Nggak bisa. Galaksi harus ikutan, titik."
Lintang tidak enak hati sebenarnya. Bukan berarti Galaksi langsung terlibat diacara keluarga karena ia sudah akan menikahi Lintang juga, Lintang memang sedikit kurang nyaman. Maksudnya, Galaksi kan baru calon anggota keluarga, nggak usah dibawa-bawa atau ikut-ikut repot. Takut nantinya terjadi hal kurang enak, akan jadi omongan kedepannya.
__ADS_1
***
Kedua orang tua Lintang pulang bersama Meta, Lintang mau menuju ke tujuan lain bersama Galaksi. Ia mengarahkan Galaksi menuju tempat yang akan mereka kunjungi.
Empat puluh menit kemudian mereka sampai. Rumah bercat abu-abu putih itu tampak kokoh dan megah.
"Yuk, turun, aku kenalin ke Ayah sama Bunda almarhum Mas Haga," ucap Lintang. Galaksi mengangguk. Ia justru menjadi degdegan saat tau Lintang membawanya bertemu dengan keluarga mantan suaminya itu. Galaksi takut tatapan tidak menyenangkan justru yang terjadi. Ia juga takut penilaian negativ justru Galaksi dapatkan.
Mereka masuk setelah satpam membuka pagar tinggi besar itu dan menyambut Lintang.
Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu. Lalu terlihat dua wanita beda usia berjalan menghampiri.
"Mbak Lintang!" sapa wanita muda berusia sembilan belas tahun itu. Lintang memeluk setelah mencium kedua pipi Hanna.
"Bunda." Lintang mencium kedua pipi ibunda Haga dan memeluknya. Ibunda Haga tersenyum dan mempersilahkan Galaksi dan Lintang duduk kembali.
"Ini orangnya, Lintang?" lirik kedua mata bunda sambil tersenyum. Lintang mengangguk sambil tersipu malu.
"Saya Galaksi tante, calon suaminya Lintang," ucap Galaksi sambil tersenyum.
"Saya Bundanya almarhum Haga, suaminya Lintang yang meninggal setahun lalu. Kapan kalian nikah?" tanya bunda.
"Secepatnya Tante," jawab Galaksi.
"Terima kasih, kamu mau terima Lintang apa adanya, seorang janda ditinggal meninggal suaminya, saya seneng, Lintang bisa menikah lagi. Lintang baik, selama menikah sama anak saya, berkali-kali Haga cerita kalau Lintang wanita jelmaan malaikat tanpa sayap yang ikhlas dan tulus, saya bersyukur Haga bisa merasakan memiliki istri sebaik Lintang. Mau sampai kapan pun, Lintang tetap anak menantu saya. Nggak akan saya lupain," mendengar kata-kata itu, Lintang berderai air mata. Ia menangis sesenggukan. Galaksi menggenggam jemari Lintang erat.
"Peluk Bunda, Lintang, sini, Bunda kangen kamu," bunda Haga merentangkan tangan untuk menyambut pelukan Lintang. Lintang berhambur ke dalam pelukan bunda Haga dan mereka menangis bersama.
"Doain Lintang, Bunda semoga semua berjalan lancar, Lintang juga akan terus anggap keluarga di sini keluarga Lintang sampai kapan pun."
...Kadang tanpa kita sadari, banyak malaikat tak bersayap di sekeliling kita. Mereka melalukan sesuatu tanpa banyak bicara, lebih dengan tindakan, dan kadang tak nampak. Senyuman serta dukungan mereka berikan dengan tulus dan ikhlas tampa pamrih. ...
__ADS_1
TBC