
Lintang terserang morning sick, wajar bagi ibu hamil apalagi masih di trimnester pertama. Galaksi yang selalu menjadi pelampiasan Lintang, baik saat kesal karena baru mau makan udah mual muntah, atau saat merasa lemas akhirnya Galaksi memapah Lintang. Hamil payah kalau kata orang-orang. Galaksi menatap wajah Lintang yang tampak tirus, sudah seminggu setelah Karmen memberi kabar jika ia ingin menemui Breya, bersamaan dengan waktu Lintang periksa ke dokter. Semua mulai Lintang rasakan, ia juga tak bisa bekerja, apa jadi masalah dengan Lintang di pecat? Ya tidak, justru Om Kim dan keluarganya menyambut heboh karena Lintang hamil. Tak masalah jika Lintang tak masuk kerja atau mau berhenti.
"Resign aja kamu, ya, kerja lagi nanti kalau udah lahiran," pinta Galaksi sambil merapikan surai rambut Lintang yang menutupi wajah cantiknya. Lintang duduk bersandar lemas di sofa ruang TV, Breyana sudah bersiap sekolah, akan di antar Galaksi, pengasuhnya akan menemani."
"Nanti aku bilang Om Kim, deh, serius nggak apa-apa kalau aku resign?" tatap Lintang ke suaminya yang sudah rapi dengan baju kerjanya duduk di sebelah Lintang.
"Iya, harta bendaku banyak adinda, kakanda sudah sim--"
Mulut Galaksi dibekap Lintang. "Di--am. Aku mual denger kamu ngomong kayak gitu terus." Tergur Lintang. Galaksi mengangguk. Lintang melepaskan bekapan tangannya di mulut Galaksi.
"Mama, Bey mau cium tangan," ucap Breyana.
"Oh iya, Kakak mau berangkat sekolah ya, sama suster, sini sayang," mendadak Lintang semangat dan duduk tegap. Breyana meraih tangan Lintang lalu menciumnya, kemudian beralih ke perut Lintang.
"Adek, Kakak Bey cekolah, ya, adek cama Mama di lumah, dadah adek," lalu Breyana mencium perut Lintang.
"Iya Kakak Bey," jawab Lintang. "Sus, nanti pulangnya naik ojol nggak apa-apa ya, saya nggak bisa jemput, sama titip rujak di deket sekolahan Bre, tau kan yang abangnya ganteng itu," Lintang meraih dompet dan menyerahkan uang ke pengasuh Breyana.
"Iya Bu. Nanti saya pesen duluan, suka antri, Abangnya cakep banget emang, kenapa nggak casting iklan aja ya, Bu," lanjut pengasuh bernama Sari itu.
"Tukang rujak ganteng?" sambar Galaksi.
"Iya, Pak, saya juga kaget, masih anak kuliahan, jual rujak cuma sampai jam 1 siang, dia kuliahnya jam 3 sampai malam. Hebat, Pak, nggak maluan," sambung Sari. Lintang melirik suaminya tajam.
"Kenapa?! Tukang rujak kamu cemburuin juga, gitu?" sewot Lintang.
"Ya ampun, enggak sayang. Ih, nuduh melulu sekarang hobinya ya," keduanya saling melotot. Lintang lalu tersenyum.
__ADS_1
"Tetap gantengan kamu dong, Papa Galak," lalu Lintang memeluk leher suaminya itu. Sari cekikikan, ia dan Bre menunggu di garasi mobil saja. Sementara pasangan itu saling memeluk dan bercumbu dulu. Sempet-sempetnya emang ya mereka.
"Sana berangkat, cari duit yang banyak, kalau anakmu ternyata kembar, pengeluaran kita buanyakkk, Lak," ucap Lintang sembari merapikan kerah baju suaminya.
"Emang belum ketahuan tunggal apa ganda?" tatap Galaksi yang kembali memeluk Lintang dan menciumi leher istrinya itu.
"Belum, kemarin masih cuma kelihatan satu sih," jawab Lintang.
"Yaudah, kita lihat bulan depan. Aku berangkat ya, Lin," pamit Galaksi lalu mengusap dan mencium perut istrinya. Lintang tersenyum, ia beranjak, mengantarkan suami dan putrinya berangkat beraktifitas. Tangannya melambai ke arah mobil yang keluar dari garasi. Baru saja ingin masuk rumah, masuk mobil city car putih yang langsung terparkir di garasi rumah Lintang yang bermodel tanpa pagar itu.
"Sister!" Adjie datang. Ia lalu menutup pintu mobil dengan cepat, berlari menghampiri Lintang dan memeluk kakak sepupunya itu.
"Selamat! Gue punya keponakan lagi. Nih, dari Mami, katanya sop daging ini bisa ilangin mual, sama ini, dari Vanka, dia beliin lo susu hamil sebanyak ini."
"Wah... rejeki nomplo. Makasih Adjie...." Lintang menerima rantang berisi makanan, sedangkan Adjie membawa plastik besar berisi enam kotak susu hamil.
"Boro-boro, cium bau bumbu dapur gue udah mual banget. Beli aja deh, tukang bubur atau ketupat sayur lewat kok, sebentat lagi, pas jam setengah delapan sekarang," ujar Lintang sembari merapikan kotak susu ke dalam lemari penyimpanan. Ia membuka rantang berisi sop daging, dengan aroma yang menggiurkan.
"Gue rasa mending gue catering ke resto aja deh, Ji, nggak mual nih cium masakan Om Kim." Tutur Lintang.
"Halah lagu lo, bilang aja minta dikirim tiap hari. Sok basa-basi anda," timpal Adjie santai.
"Nah, tuh, paham. Tapi lo yang anterin tiap hari ya?" ledek Lintang.
"Beres. Asal ada uang jalan." Adjie memainkan alis matanya naik turun. Lintang mencebik sambil menatap tajam ke Adjie yang tertawa. Lintang duduk di sebelah Adjie, menikmati nasi dan sop daging yang membuat perutnya tak bergejolak. Hingga hampir habis, terdengar suara mobil terparkir di depan rumah Lintang. Adjie beranjak, Lintang masih asik makan. Tak lama, Adjie masuk ke dalam rumah.
"Tang," panggil Adjie dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Lintang pelan.
"Karmen. Mantan istrinya Galaksi," jawab Adjie. Lintang diam, ia beranjak cepat lalu berjalan ke arah meja makan, meletakkan mangkuk dan membilas mulut dengan air putih sebelum berjalan ke teras. Tatapan Lintang mendadak berubah, Adjie khawatir.
"Tenang dulu, jangan emosi." Adjie mengusap bahu Lintang. Wanita itu diam saja. Tampak seorang wanita tinggi semampai dan cantik luar biasana tersenyum ke arahnya. Lintang mencoba tersenyu walau yang terlihat senyum kecut.
"Silakan duduk," ucap Lintang menunjuk ke kursi teras.
"Makasih Lintang," ucap Karmen. Lintang menelisik mantan istri suaminya itu. Berbanding terbalik dengan rupa dirinya yang tampak cuek.
"Maaf aku baru ke sini sekarang, jadwal penerbanganku diundur jadi kemarin pagi," ujar Karmen basa basi, sedangkan Lintang hanya bergeming tanpa melepas tatapannya ke arah Karmen.
"Aku mau izin ke kamu dan Galaksi, untuk--"
"Nggak. Kami nggak izini." Ketus Lintang. Karmen menatap bingung.
"Aku cuma mau ketemu Breyana dan ajak makan juga main, Lintang, bukan mau bawa dia pergi atau kabur," bujuk Karmen.
"Tujuan kamu apa? Mau bilang kalau kamu Mama kandungnya Breyana? Anak yang kamu tinggalin gitu aja tanpa kamu tanya-tanya kabarnya setelah sekian tahun, dan sekarang kamu muncul mau ketemu Bre, ajak makan dan main, buat apa?!" Lintang bertanya dengan begitu tegas. Karmen diam. Ia menatap sendu ke Lintang. Istri Galaksi itu membuang pandangan ke arah lain, malas dengan drama.
"Aku akuin aku salah karena udah milih pergi dan nggak tanya kabar, Breyana, tapi aku kangen dia, Lintang, aku juga mau kenal putriku, aku mau kita semua bisa baik-baik aja."
Lintang tertawa sinis mendengar ucapan Karmen. "Maaf, aku nggak bisa. Galaksi juga nggak setuju, karena alasan kamu klise. Breyana anakku, putriku, bukan kamu yang udah sia-siain dia sampai diusia dini udah dititipin ke day care di saat Galaksi kerja, bahkan pulangnya malam, besok subuh berangkat lagi, hampir setiap hari kerja begitu sampai akhirnya aku ketemu lagi sama Galaksi dan akhirnya kita nikah. Aku yang rawat Breyana, aku punya hak untuk larang dia ketemu sama orang yang aku nggak suka. Nggak peduli sekalipun itu kamu." Ketus Lintang. Ia beranjak. Tangannya menunjuk ke arah luar rumah.
"Lebih baik kamu urungin niat kamu itu. Kalaupun kamu mau ketemu Breyana, kasih alasan yang jelas apa tujuannya. Aku nggak mau bikin Breyana bingung sama keadaan ini, hak dia untuk merasa bahagia punya orang tua lengkap. Silakan pergi dari rumah saya." Tegas, lugas dan begitu dalam ucapan Lintang. Karmen mengangguk, ia paham ia salah, dan ia tak mau memancing keributan, maka ia mengalah untuk pergi dari sana. Ia akan mencoba lain waktu, karena tujuan Karmen memang ingin bilang kepada Breyana jika ia ibu kandungnya, walau ia tak akan membawa Breyana pergi dan ikut tinggal dengannya, saat itu.
__ADS_1
bersambung,