Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
IGD


__ADS_3

Adjie berlari dan membuka pintu bank tempat Lintang bekerja dengan tergesa-gesa membuat security dan orang-orang yang ada disana melihat kearah pintu, begitu pun Lintang.


"Mau—ketemu—Lintang—Pak," ucap Adjie dengan nafas ngos-ngosan. Ia berlari dengan kencang dari parkiran motor menuju kedalam bank.


"Jie," Lintang berdiri. Lalu berjalan kearah adjie. "Apaan si lo," bisik Lintang sambil mencoba tenang.


"Bokap lo. Bokap lo drop, kena serangan kedua. Kita ke rumah sakit sekarang. Nyokap lo udah on the way di ambulance. Tadi bude yang telfon gue karena hp lo mati" kaki Lintang lemas. Ia berpegangan pada lengan Adjie.


"Pulang mbak Lintang, saya yang izin ke ibu pimpinan unit" ucap security begitupun Vanka yang langsung bergegas ke ruang ganti dan mengambil tas Lintang lalu berlari kembali ke arah depan. Adjie segera mengambil motor dan meminta Lintang menunggu di lobby.


***


Adjie mengendarai motor dengan cepat dan tetap berhati-hati. Sesampainya didepan Instalasi Gawat Darurat rumah sakit, Lintang berlari dan mencari kedalamnta, tapi ambulance belum datang, jarak dari kantor lintang ke rumah sakit memang lebih dekat, jadi bisa dipastikan memang Lintang yang sampai lebih dulu. Ia duduk dengan gelisah di depan ruang tersebut bersama Adjie. Mobil ambulance datang dan turun ibunya lebih dulu.


"Lintang," ibunya berlari dan memeluk putrinya itu. Lalu petugas rumah sakit mendorong brankar dan masuk kedalam IGD, wajah ayahnya sudah pucat dan lemah.


"Ibu masuk Bu, aku ke administrasi ya, dompet ayah mana, sini Bu," pinta Lintang. Ibu memberikan, lalu ia dan Adjie ke bagian administrasi.


Setelah selesai mendaftarkan pasien atas nama ayahnya, ia kembali ke IGD bersama Adjie. Tubuh ayahnya sudah penuh kabel dan beberapan selang juga. Bunyi suara monitor terdengar. Selang oksigen juga sudah terpasang dihidung ayahnya.


Pandangan Lintang mengabur, ia teringat kejadian setahun lalu dimana ia harus kehilangan suaminya, bunyi monitor dan segala keriuhan di IGD membuatnya susah bernafas.


"Lintang." Adjie langsung memeluk tubuh kakak sepupunya itu yang hampir jatuh. Ia memeluknya dengan erat. Ia juga tidak akan lupa dimana suami Lintang meninggal di IGD tersebut dan saat itu ia juga ada menemani Lintang.

__ADS_1


***


"Udah enakan?" tanya Adjie yang berjongkok dihadapan spupunya itu sambil memberikan teh manis hangat untuknya. Lintang mengangguk.


"Sori, Jie, jadi repot." Lintang tersenyum.


"ish, gue ngerti, Tang. Udah siap ke dalam lagi?" tanya Adjie. Lintang mengangguk. Ia beranjak pelan dan berjalan bersama Adjie masuk ke dalam IGD lagi.


Ia menatap ibunya yang duduk di kursi sebelah tempat tidur ayahnya.


"Harus dirawat," ucap ibunya pelan.


"Rawat aja Bu. Sampai Ayah lebih baik, nanti Lintang urus ke asuransinya," ucap Lintang, ibu mengangguk. Ayahnya tersenyum menatap Lintang. Ia berjalan menghampiri.


Suara tangisan anak kecil terdengar kencang, Lintang dan Adjie menoleh bersamaan kearah pintu masuk. Terlihat galaksi dengan panik sedang menggendong Breyana.


"Galak?" ucap Lintang lirih. Adjie menatap Lintang dan Galaksi bergantian.


"Galaksi, Tang?" tanya Adjie. Lintang mengangguk. Breyana di tidurkan diatas tempat tidur dengan tangisan tak henti. Seorang dokter dan suster datang menghampiri.


"Siapa, Tang?" tanya ibu.


"Galaksi Bu, sama--anaknya," jawab Lintang datar.

__ADS_1


"Galaksi, Galaksi yang itu, Tang?" tanya ibu lagi. Lintang mengangguk.


"Lintang ke sana sebentar ya Bu, Ayah, Adjie," ketiganya mengangguk pelan. Lintang berjalan, lalu saat sudah dekat menepuk bahu galaksi.


"Lintang?!" ucap galaksi terkejut. "kok—" Galaksi masih takjub.


"Ayah ku kena serangan jantung kedua, tuh, di sana," tunjuk Lintang. Galaksi tersenyum sambil menyapa ayah, ibu dan adjie.


"Bre kenapa, Lak?"


"Diare. Dari semalem, dan sekarang demam tinggi. Gue nggak tau mesti apa, jadi gue bawa kesini" Lintang dan Galaksi menatap Bre yang masih menangis sambil diperiksa.


Balita itu bergeliat tak mau diam. Akhirnya lintang mendekat dan kembali menggendong Bre setelah selesai diperiksa.


"Panas banget badan kamu, Bre," ucap Lintang sambil memeluk dan menimang tubuh mungil Bre.


"Pak, Ibu, nanti saya kasih obat penurun demam yang di masukan lewat ***** ya," ucap dokter. Galaksi mengangguk.


"Harus di rawat, dok?" tanya galaksi. Dokter mengangguk.


"Bapak bisa urus administrasinya didepan, sementara kita nunggu suster ambil obat di bagian farmasi." Dokter kembali ke meja dan menulis beberapa hal.


"Udah sana lo ke admin, Bre sama gue. Nih, udah anteng." Lintang masih memeluk Bre yang mulai reda tangisannya. Galaksi mengangguk. Saat hendak berjalan keluar IGD, ia mampir ke tempat ayah lintang sekedar menyapa untuk menunjukan kesopanannya.

__ADS_1


Adjie berjalan menghampiri Lintang lalu berbicara sesuatu, dan mengusap lembut kepala Breyana juga. Galaksi yang melihat hal itu hanya diam sambil kembali berjalan ke bagian administrasi. 


__ADS_2