Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Cemburu


__ADS_3

Lintang ingin sekali bisa beraktifitas normal, namun kehamilannya membuatnya harus bersabar dan mengalah kepada Karmen yang kini, mengantar jemput Breyana sekolah. Lintang selalu diingatkat Galaksi untuk sabar dan mengerti, kasihan Breyana juga nantinya.


Siang itu, Lintang sedang membeli buah-buahan di supermarket buah, diantar Adjie yang sedang memiliki waktu luang, sementara Galaksi sibuk bekerja. Ia paham posisi dan kondisi suaminya itu, dan Adjie lah yang menjadi orang yang dihubungi saat darurat.


"Tang, enak kayaknya nih, pir, beliin gue ya, buat di rumah." Palak Adjie.


"Kebangetan. Udah kaya, masih malah gue." ketus Lintang. "Ambil!" lanjutnya. Lintang tak akan tega pada akhirnya.


"Eh iya, Bang Igo tanya, Breys cabang Jakarta, gimana progesnya?" tanya Adjie.


"Aman, Kak Dita kan yang ngurusin. Gue udah nggak boleh mondar mandir ke sana, Jie, bawel banget Kak Dita, takut gue kenapa-kenapa." Lintang mendorong troli lagi, Berkeliling mencari buah dan camilan lainnya,


Adjie mengekor, tak lupa tangannya ikut mengambil buah potong yang sudah dikemas, tingga makan lagi tak repot. Kedua mata Lintang menatap ke pintu masuk. Karmen dan Breyana berjalan masuk, diikuti Sari di belakangnya. Buru-buru Lintang menarik tangan Adjie untuk bersembunyi. Ia tak mau terlihat ketiganya. Adjie protes, namun setelah Lintang beritahu, baru ia ikut bersembunyi.


Keduanya mengintip dari balik rak camilan, Breyana tersenyum saat Karmen memperbolehkannya membeli semangka potong. Lalu dengan cekatan, Bre mengambil buah potong lainnya. Sari juga membantu Breyana memasukkan apel, anggur dan jeruk ke dalam tiga kantong plastik berbeda. Lintang dan Adjie masih memantau dari balik rak. Hati Lintang mencelos perih saat melihat Breyana di peluk Karmen erat dan Breyana tertawa bahagia.


Lintang berbalik badan, menghapus air matanya yang mendadak luruh, ia menunduk. "Pulang yuk, Jie," pinta Lintang.


"Lo ke duluan, gue bayar ini dulu. Nih kuncinya." Adjie memberikan kunci mobilnya. Lintang berjalan dengan perut gendut karena kehamilannya sudah masuk bulan ke empat. Ia mengendap-ngendap supaya Karmen, Breyana dan Sari tak melihatnya. Setelah berhasil keluar dari supermarket buah, ia berjalan ke arah mobil Adjie terparkir, masuk ke dalam mobil lalu menangis. Ia merasa sedih melihat senyuman Breyana yang biasanya selalu untuk Lintang, tapi kini berbagi kepada Karmen. Ketakutannya muncul, namun buru-buru ia menenangkan diri karena merasakan kedutan di perutnya.


Tangan Lintang mengusap perutnya, ia berbicara kepada si kembar. "Kalian kenapa? Maaf Mama sedih, Mama cemburu lihat Kakak kamu senyum sama Ibu kandungnya. Mama salah nggak sih kalau takut kehilangan Kakak kamu? Mama sayang banget sama Breyana, Kakak kamu itu anak Mama juga walau bukan Mama yang lahirin."


Tak lama Adjie datang, ia meletakkan kantong belanjaan di jok belakang, mengambil buah jeruk bali yang manis rasanya, ia berikan ke lintang. "Cemburu nguras tenaga, makan dulu, kita ke kedai mie ayam langganan yuk, Tang, lo laper kan?"


Lintang menerima buah itu dan membuka kotaknya. Jeruk itu sudah siap makan, tak membuat Lintang kerepotan."Lo tau dari mana gue cemburu?" tanya Lintang cemberut.

__ADS_1


"Hati lo rapuh kalau soal Breyana, dan masalah yang lagi lo hadapin ini akan berujung ke perasaan itu. Breyana lagi sama Mami kandungnya, Tang, bukan orang lain. Coba lo lepas pelan-pelan, Breyana, Karmen punya hak juga kan. Lo yang kesiksa, kasian si kembar dan Galaksi, karena mereka yang ada di posisi sulit.


Gue bilang begini karena lo juga bukan orang yang bisa pura-pura dan basa basi, gue bilang apa adanya. Kalau pun, pahitnya nih, Breyana suatu saat di bawa Karmen, itu hak Karmen, lo nggak bisa apa-apa, Tang, dia ibu kandungnya."


"Gue nggak mau Breyana di bawa Karmen." Tatapan tajam Lintang membuat Adjie menghela napas.


"Lintang, dengerin. Lo, lama-lama keliatan kaya obses sama Breyana, lo terlalu melindungi dia dan nggak suka sama Karmen yang muncul tiba-tiba. Gue tau dan paham, lo sayang dan cinta banget sama Breyana, tapi lagi-lagi, kapasitas lo nggak tepat di sini. Kalau pun, sampai ada tuntutan hukum, elo yang kalah. Apa nggak akan bikin Breyana bingung. Menurut gue, harusnya lo ngobrol sama Karmen, biarkan Breyana ada di tengah-tengah diantara kalian, biar terbiasa sambil, di kasih tau kalau Karmen emang ibu kandung Breyana."


"Saran lo--"


"Apa? Aneh? Lintang, gue orang hukum, gue tau masalah ginian. Gue nggak mau suatu hari Kakak sepupu gue, elo, dituntut karena memisahkan anak dengan ibu kandungnya. Alasan lo karena Karmen menelantarkan, itu salah, nyatanya enggak, kan? Breyana di asuh Papa kandung dan Nenek Kakeknya juga. Nggak dibuang di jalan apalagi di geletakin di panti asuhan??"


Lintang diam, kedua bahunya merosot. Ia menoleh ke arah kiri, tak membalas ucapan Adjie, ia memilih tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Tiba di rumah.


Lintang merapikan belanjaannya, Adjie langsung pulang, mereka juga sempat menikmati mie ayam di kedai langganan. Wanita itu duduk termenung di meja makan, memikirkan kembali saran Adjie, nasehat suaminya, juga kedua orang tuanya di Yogya yang juga meminta Lintang untuk ikhlas jika suatu hari Breyana memang akan di asuh oleh Karmen.


Ia beranjak, berjalan ke arah kamar Breyana, mengedarkan pandangan ke kamar yang serba pink itu dengan tatapan Nanar. Ia masuk ke dalam kamar. Melihat jejeran pigura foto kecil yang terpajang dengan foto ia dan Breyana pada banyak momen. Lintang mendaratkan bokongnya di ranjang Breyana dengan sprei snow white. Ia kembali menitikan air mata, menarik napas berat lalu menghembuskannya pelan. Bukan Lintang jika tak cengeng untuk urusan Breyana, ia akan begitu senstif dan Lintang menangis seorang diri di kamar putrinya itu.


Di tempat lain.


Karmen mengajak Breyana makan di restoran siap saji. Sari memberi tahu jika Breyana tak boleh banyak minum soda, Karmen mengerti, ia memesan teh rasa buah sebagai minumannya. Ketiganya duduk, Breyana makan sendiri, dengan begitu rapi.


"Pinter ya, Bre, makan sendiri, nggak berantakan," puji Karmen.

__ADS_1


"Iya, Mama yang ajarin. Bre nggak boleh makan berantakan, kata Mama, Bre anak perempuan, harus rapi dan bersih." Sahut Breyana yang menikmati burger keju. Karmen menoleh ke Sari yang menganggukkan kepala.


"Bre sayang Mama Lintang?" tanya Karmen lagi.


"Sayang banget, itu kan Mama Breyana. Apalagi Bre mau punya adek kembar, Bre seneng banget."


Karmen mengangguk, ia paham. "Kalau aku, Bre sayang nggak?" tanya Karmen.


"Sayang juga. Aunty Karmen baik." Jawab Breyana.


"Bre, panggilnya Mami, lupa ya..." ledek Sari.


"Oh iya. Mami, Mami Karmen baik ke Bre, Bre sayang juga. Mami temennya Mama sama Papa ya? Mami cantik, sama kayak Mama." Lalu Breyana tersenyum. Karmen membungkam mulutnya, ia sedih juga senang. Putrinya menganggapnya cantik, dan memanggilnya Mami. Buru-buru ia hapus air matanya. Tersenyum menatap Breyana dengan sisa air mata di wajahnya.


"Breyana, terus sayang Mami ya, Mami juga sayang Breyana," pinta Karmen. Bre mengangguk, tangannya terulur mengusap wajah Karmen. Lalu kembali makan.


Mereka tiba di rumah Lintang pukul dua siang. Breyana memanggil Lintang dengan keras. Lintang berjalan keluar dari kamarnya. Menyambut sang putri yang langsung di bawa ke kamarnya sendiri oleh Sari.


"Aku pamit Lintang, besok aku jemput Breyana lagi. Makasih ya, hampir dua bulan ini, kamu kasih kesempatan itu ke aku." Karmen pamit.


"Kita bisa bicara berdua, Men, tentang Breyana dan masa depannya." tanya Lintang. Keduanya berdiri sembari menatap. Karmen menganggukkan kepala menyetujui usul Lintang itu.


 


bersambung, 

__ADS_1


__ADS_2