
Suasana teras rumah orang tua Lintang heboh dan berisik dengan ocehan dan candaan para 'panitia wedding organizer dadakan' yang lagi-lagi terdiri dari para sepupu dan beberapa Pakde serta Bude dan Tante juga Om pihak Lintang.
Lintang bahkan harus memanggil tukang bakso Malang yang suka lewat di depan rumah untuk memberi makan mereka semua.
"Jadi pindah lokasi acara, Tang?"
"Iya Pakde. Kita dapetnya di hotel yang lain, tanggalnya juga dimundurin satu minggu."
"Berarti lima minggu dari sekarang?"
"Iya," jawab Lintang sambil meletakan minuman dingin di atas meja.
"Tang, kita pake acara pesta bujang, yok!"
"Adjie! Gue nih, udah janda, ya! Nggak usah aneh-aneh pake gituan." Lintang melempar Adjie pakai kotak tisu.
"Buat Galaksi, lah," ucap Adjie lagi.
"Galak juga duda, gue lempar lagi, nih!" omel Lintang.
Mereka semua kembali riuh, ricuh, ribut untuk menentukan banyak hal. Jadwal beli seragam, kain, berapa orang yang nanti bajunya sewa di sanggar rias karena yang laki-laki pakai beskap jawa, belum lagi untuk pas acara resepsi yang katanya bima mau pakai home band temennya yang bisa bawain lagu top 40, serta Abang-abang sepupu lainnya yang sibuk booking hotel buat keluarga, berapa kamar yang harus di sewa.
Lintang memijat pangkal hidungnya.
"Tenang, urusan hotel untuk keluarga... Pakde, Bude kamu yang handle. Wes, koe mingkem wae nduk, biayanya kita yang patungan," ucap Budenya yang di dalam keluarga merupakan Kakak kandung dari Ayahnya.
Nah ,ini yang membuat Lintang tidak enak hati, setidaknya ini acara dia, dia juga harus mengeluarkan walau beberapa, tapi keluarganya suka menolak, yang berakhir Lintang jadi suka kepikiran karena merasa ada hutang.
"Ya halo, Galak." Lintang menerima telepon dari Galaksi.
"Lin, souvenir aku udah dapet yang lain, mug juga, dilokasi lain, aku lagi liat-liat di web dan mau hubungin orangnya."
"Oh, yaudah, kalo kamu sibuk nanti biar aku yang urus, Lak, kamu nggak ke sini?"
"Enggak kayaknya. Bre minta berenang, aku mau temenin, sama Mama Papa juga, kok."
"Yaudah, kiss buat Bre ya, aku kangen."
"Papanya juga di kiss dong, Mama Lintang ...."
"Mulai deh!"
"Hehehe, eh iya, besok ke sanggar rias, test make up sama fitting baju?"
‘Haduh,apa lagi ini, ribeeetttt’. Lintang manyun-manyun.
"Hem, iya... iya," jawab Lintang sambil melirik ke sepupunya yang sibuk mencari baju seragam keluarga. Keputusannya mereka tidak menggunakan bahan brokat jahit sendiri. Tetapi model lain yang tinggal beli jadi dan langsung pakai.
"Tang, pilih model tenda buat acara pengajian sama siraman, lo mau yang kayak gimana, gue mau hubungin orang tendanya," ucap Irfan. Kakak sepupu yang punya usaha sewa peralatan pernikahan dan usaha konveksi di Bandung.
"Pilihin aja deh, Bang, Lintang manut aja."
"Ya jangan, Tang, lo yang mau nikah, kan, cepet pili." Irfan menunjukan gambar beberapa model di ponselnya. Lintang duduk dan malah menjadi bingung karena justru para sepupunya yang heboh memilih.
"Nah, udah pilihin aja, deh, voting aja ya kalian, aku mau ke dalam dulu, mau siapin obat Bapak." Lintang lalu ngeloyor masuk ke dalam rumah. Ia terkekeh melihat kehebohan di luar. Satu sisi ia beruntung punya keluarga yang begitu kompak, satu sisi ia merasa merepotkan mereka.
***
__ADS_1
Sepulang kerja, Galaksi menuju ke rumah Lintang. Mereka sudah tiga hari tidak bertemu. Kesibukan masing-masing membuat mereka berkomunikasi melalui telefon dan video call saja. Lintang baru sampai rumah dan turun dari ojol, ia terkejut melihat mobil Galaksi sudah parkir di depan rumahnya.
Lintang berjalan masuk ke dalam rumah.
"Mama!" Suara Bre terdengar. Lintang terkejut dan berjongkok.
"Sayang, eh bentar Mama ganti baju dulu, ya. Bre tunggu di sini." Bre mengangguk, Lintang buru-buru masuk ke dalam kamar. Tidak butuh waktu lama, ia kembali dengan kondisi lebih segar dan sudah berganti pakaian.
"Ma," Bre minta di peluk Lintang. Lintang lalu memeluk dan menggendong Breyana.
"Mama kangen Bre," ucap Lintang lalu duduk di sofa bersebelahan dengan Galaksi. Lintang merapihkan rambut Bre dan menyelipkan ke belakang telinganya.
Bre menatap Lintang. Memegang wajah Lintang sambil tersenyum.
"Apa sayang, Mama cantik? Bre juga cantik. Bre udah maem belom?" Bre tidak menjawab. Ia justru bersandar di dada Lintang dan melingkarkan tangannya di leher Lintang. Lintang merasa haru sekaligus senang. Dengan erat ia memeluk dan menepuk-nepuk punggung Bre dengan sayang.
"Kok Bre bisa sama kamu, Lak?" Tanya Lintang ke Galaksi yang terlihat mengerutkan alis sambil membaca sesuatu di ponselnya.
"Galak," panggil Lintang. Galaksi masih serius.
"Galaksi, hei...." Lintang mengusap wajah Galaksi dengan jemarinya. Galaksi tersadar dan menoleh. Ia tersenyum sambil mengecup jemari Lintang.
"Kayaknya aku besok berangkat ke Bogor, deh, Lin, ada rapat kantor, aku harus hadir."
"Yaudah berangkat aja," ucap Lintang. Galaksi menatap Lintang.
"Bre nggak ada yang awasin, Mama sama Papa meeting keluar negri empat hari."
"Kan Bre ada aku, Mamanya bisa jagain, nanti aku ajak ke resto juga nggak masalah, kamu berangkat aja sana, berapa hari?"
"Dua hari aja, kok."
"Belom, tadi baru nyuapin Bre makan sebelum ke sini, tadi Mama sama Papa antar Bre ke kantor, makanya Bre bisa sama aku ke sini."
"Kaciannya, yaudah aku siapin makan. Ibu sama Bapak ke mana, sih? Nggak keliatan dari tadi." Lintang celingukan.
"Arisan RT katanya, eh Lin, Bre tidur itu." Galaksi menunjuk ke Bre yang tidur bersandar di dada Lintang.
"Ya ampun, anak Mama kasian, udah ngantuk ya tadi, bawa baju Bre nggak kamu?"
"Bawa, cuma beberapa, besok pagi aku drop ke sini sebelum aku ke Bogor. Sini aku gendong Bre, ke kamar kamu, kan?"
"Iya, aku siapin makanan buat kamu kalo gitu."
"Makasih Lintang ku cayangggg, Mama Lintangnya Bre...." Galaksi mendusel-dusel ke bahu Lintang. Lintang mencubit pinggang Galaksi.
"Geli Galak, ish...!" Lintang lalu memindahkan tubuh Bre ke gendongan Papanya. Ia lalu beranjak menuju dapur.
"Geli... geli, nanti juga ketagihan," ucap Galaksi pelan.
"Galakkkkk!" Teriak Lintang.
"Eh, emang kamu denger aku ngomong apaan?" Galaksi terkekeh.
"Kuping aku masih normal!" Teriak Lintang lagi dari dapur. Galaksi terkekeh sambil membuka pintu kamar dan meletakan Bre di atas tempat tidur Lintang.
***
__ADS_1
Benar, keesokan paginya Galaksi datang setelah subuh, Bre masih tidur. Kedua orang tua Lintang juga masih di dalam kamar. Dengan piyama motif bulan dan bintang, Lintang berjalan membuka pintu garasi. Ia sudah cuci muka dan gosok gigi, malu kalo Galaksi lihat ia masih muka bantal dan ileran.
"Mana tasnya, Bre?" Tangan Lintang mengarah ke Galaksi yang baru turun dari mobil.
"Sebentar dong, baru juga sampe. Belum ngalem-ngalem ke calon istri," ucap Galaksi yang sudah rapi dengan setelan kemeja kerja tanpa menggunakan jas.
"Hmmm.... " Lintang hanya pasrah menerima saat Galaksi main peluk dirinya.
"Aku titip Bre, ya, Sayang," bisik Galaksi.
"Iya, aku nanti juga titip kamu ke Edo ya"
"Edo udah di sana dari semalam, dia sama Mira nyiapin ruang meeting dan semua-semuanya."
"Mira ikut ke—Bogor?" wajah Lintang menunjukan ketidak sukaannya. Jujur ia masih khawatir dengan wanita satu itu.
"Iya, dia kan aspri direktur. Jangan mikir aneh-aneh, aku udah berkali-kali bilang." Galaksi melepas pelukannya.
"Apa kamu mau ikut ke Bogor?" Galaksi senyum-senyum jahil.
"Ngarang kamu. Yaudah sana, keburu macet. Hati-hati, jangan ngebut-ngebut, di sana jangan lirik-lirik Mira, nanti aku minta Edo ikutin kamu terus."
Galaksi bersandar di body mobil sambil bersedekap. Menatap Lintang bingung.
"Sejak kapan seorang Lintang cemburu?"
"Sapa yang cemburu!" jawab Lintang tanpa menatap Galaksi.
"Itu tadi, kayaknya pesan-pesannya lebih menjurus ke ancaman, kalo aku lirik-lirik gimana?" ucap Galaksi sambil mengangkat dagunya.
"Ya berarti kamu nggak bisa setia, Lak, berarti nggak bisa jaga perasaan aku, berarti kamu calon-calon tukang jajan nantinya," ucap Lintang sambil tertunduk.
"Kalo aku nggak lirik-lirik, nanti pas meeting sama orang-orang dan bos bos perempuan, mataku harus lihatnya ke mana, apa aku merem sambil ngomong pas presentasi laporan di depan semuanya."
Sontak Lintang terkejut dan menahan tawa. Bahunya bergetar.
"Iya ya, kok aku bego banget si, Lak." Lintang tertawa cekikikan.
"Nggak akan kegoda sayangku, jangan pernah raguin perasaan aku ke kamu Lintang, kamu itu udah susah aku dapetin, akan susah juga buat lepas dari aku." Lintang tersenyum malu sambil mengangguk.
"Peluk lagi deh, biar aku semangat cari serpihan berlian."
Lintang memeluk Galaksi. Galaksi menggoyangkan tubuh Lintang ke kanan dan ke kiri.
"Aku kerja dulu ya Mama lintang, aku pasti kabarin kamu terus, pulang dari sana aku bareng Edo kok, aku tuh—" Galaksi mengeratkan pelukannya sambil mencium pipi kiri Lintang.
"Terlalu cinta sama kamu Lintang, pulang dari Bogor kita nyicil pindahan ya, pindahin barang-barang kamu ke rumah aku."
"Oke." Lintang mengangguk di dalam pelukan Galaksi. Mereka melepaskan pelukan.
"Hati-hati," ucap Lintang. Galaksi mengangguk.
"Bye, Papa, Galak!!" Teriak Lintang sambil melambaikan tangan. Galaksi terkekeh di dalam mobil.
Lintang menatap mobil Galaksi hingga berbelok semakin menjauh. Ia menghela napas. Seraya berdoa.
"Semoga selamat sampai tujuan calon suamiku sayang, aku tunggu kamu pulang. Lindungi ia dalam perjalanan dinasnya, aamiin."
__ADS_1
Lintang lalu berjalan ke dalam rumah sambil membawa tas berisi perlengkapan Breyana selama berada bersamanya.
::TBC::