Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Ambruk


__ADS_3

Hening terasa di ruang tamu yang juga tersambung langsung ke meja makan dan ruang TV. Lintang duduk sangat berjarak dengan Galaksi. Sesekali Galaksi melirik ke wanita cantiknya.


"Lintang, aku mau kamu dengerin aku tanpa dipotong sedikit pun omongan aku," pinta Galaksi. Ia butuh Lintang mendengarkan.


"Aku perlu denger apa lagi. Edo sama Adjie udah jelasin ke aku semua. Tapi maaf Lak, aku nggak bisa."


"Kamu nggak bisa maafin aku? Lintang, banyak di luar sana, pasangan dibluar sana yang punya masalah jauh lebih besar dari kita tapi mereka bisa untuk hadapin bersama, melupakan masalah dan memaafkan."


"Kamu anggap aku apa, Lak? Udah gitu aja lupain. Lupa sama apa yang aku lihat dan denger. Kamu bayangin kalau kamu jadi aku. Saat orang yang kamu cinta dan sebentar lagi menikah, berbuat kaya gitu. Itu nggak sepele, Lak! Aku orang yang nggak mudah lupain kejadian apa pun, baik atau buruk di hidup aku. Tapi kamu kok bisa seakan maksa aku untuk cepat-cepat lupain semua gitu aja."


"Bukan gitu, Lintang, aku udah mulai kerja lagi dibperusahaan itu, minggu lalu aku dipanggil para direksi, mereka akhirnya tau kebenarannya dan minta maaf ke aku juga karena mereka lebih percaya Mira yang fitnah aku habis-habisan di kantor. Ayo Lin, kita mulai lagi semuanya dari awal, udah mau setahun kita nggak ada kabar. Aku salah karena aku nggak kontrol diri aku waktu itu, terpengaruh sama efek obat yang dikasih Mira di dalam minuman aku itu. Maafin aku Lintang, kamu tau gimana hancurnya aku kan nggak ada kamu."


"Hancur? Kamu nggak fikir aku gimana hancurnya?! Aku malu sama semua orang. Sekarang kalau kita mulai lagi semuanya, dan kita nikah, hal itu akan tetap ada di kepala aku. Bayang-bayang itu begitu hebatnya nempel di kepala aku Galak."


Galaksi meraup wajahnya kasar, "karena kamu salahin diri kamu sendiri, sedangkan kamu nggak salah apa-apa Lintang." Galaksi menatap Lintang yang sudah menitikan air mata.


"Jangan nangis, please, udah cukup air mata kamu keluar untuk aku. Aku mau bahagiain kamu sekarang Lin, Lintang, please, aku mohon jangan nangis." Galaksi meraih jemari tangan Lintang, di genggamnya erat dan ia tempelkan ke keningnya.


"Galak! Aku nggak bisa. Nggak bisa, Lak!" Lintang semakin menangis. Sampai-sampai ia sesenggukan. Galaksi mendekat, ingin menarik tubuh Lintang, ia bawa ke dalam dekapannya, tapi Lintang menghalau. "Pergi, Lak. Aku nggak mau lihat kamu lagi." Pinta Lintang.


Galaksi menolak, "aku kangen kamu Lintang, rasanya sesak lihat kamu kayao gini, aku nggak akan lepas kamu Lintang, aku akan terus berjuang untuk kamu, mau sampai kapan pun." Galaksi masih menggenggam jemari Lintang, ia begitu terpuruk dengan penolakan Lintang. Perlahan Lintang melepaskan genggaman tangan Galaksi, ia beranjak, berjalan keluar rumah pintu rumahnya, ia mengusir Galaksi. Mau tak mau Galaksi beranjak dan pergi.


Di dalam kamar. Lintang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan kembali menangis. Ia benci kenapa bayangan itu selalu berada di kepala sehingga membuat dirinya kembali sedih dan memaki dirinya sendiri lagi.


***


"Pagi, Pak Sekuriti," sapa Galaksi.


"Pagi, Mas Galaksi," jawab sekuriti sambil beranjak dan berjabat tangan.


"Titip ini buat Lintang ya, dia suka lupa sarapan, kan?" Galaksi memberikan seporsi nasi,ayam dan beberapa camilan kecil dari restaurant fast food yang buka 24 jam disana.


"Mas, maaf, sarapan yang kemarin-kemarin aja nggak di makan Bu Lintang, malah akhirnya ada yang dibuang sama pegawai karena perintah Bu Lintang," ucap sekuriti itu.


"Nggak apa-apa Pak, saya juga nggak lama lagi kok di sini, hari minggu besok saya pulang ke Jakarta lagi."


"Lusa dong, Mas?" tanya sekuriti itu. Galaksi mengangguk.


"Saya duduk di sini ya," ucap Galaksi yang terlihat lebih kalem. Dari luar, Galaksi juga dapat terlihat raut wajah Lintang yang sendu. Ia juga tidak mau memaksa jika hati Lintang masih tertutup lagi untuknya.


"Mas Galaksi sakit? Kok diem aja?" tanya sekuriti. Galaksi hanya tersenyum dan duduk di luar toko. Ada kursi panjang yang memang disediakan Lintang.


"Galaksi!" suara seseorang memanggilnya. Terlihat Adjie yang turun dari becak dengan cara lompat setelah membayar ongkosnya. Galaksi terkekeh kecil melihatnya.


"Gimana, gimana, Lintang udah maafin lo kan?" Adjie langsung duduk di sebelah Galaksi. Galaksi tersenyum sinis. Adjie bisa menebaknya.


"Sabar, Bro." Adjie menyenggol bahu Galaksi. "Wanjrit! Lo sakit! Panas banget badan lo!" Adjie tampak panik. Ia ingin beranjak dan masuk ke dalam toko untuk memberitahu Lintang, tapi Galaksi meminta Adjie untuk tidak perlu lakuin itu.


"Lintang nggak akan mempan luluh dengan lo bilang gue sakit. Gue semalem udah ngomong ke Lintang, jelasin, dan minta kita mulai lagi semua dari awal, tapi Lintang nolak gue mentah-mentah, bayang-bayang hal itu masih membekas banget dipikiran Lintang, gue juga nggak bisa maksa. Dia perempuan, logikanya kalah sama perasaan. Gue paham kok."


"Ck! Tapi lo forsir tenaga lo, kecapean nih." Adjie kembali menempelkan telapak tangannya ke tangan Galaksi.


"Kurang tidur doang. Lintang sibuk banget kayaknya." Galaksi menunjuk dengan dagunya.


"Biasa akhir bulan, sama mau ada liputan media lokal. Lo balik hari minggu besok, jadi?"


"Jadi. Senin gue kan masuk kerja lagi." Galaksi memasang hoddie ke kepalanya.


"Gue ke Lintang dulu bentar. Lo sini aja dulu." Adjie beranjak. Galaksi manggut-manggut lalu memasukan kedua tangannya ke dalam saku sweaternya. Tubuhnya demam dan menggigil, tapi ia abaikan demi berjuang meraih tatapan lintang ke arahnya. Hanya tatapan. Galaksi benar-benar pejuang.


***


Di Dalam toko.


"Woy, Tang, Galaksi udah jauh-jauh samperin lo, jangan gini, Tang. Gue kan juga udah bilang kalau Mira jebak Galaksi pake obat perangsang itu. Lo jangan lupain semua hal bahagia elo sama Galaksi dengan kesalahan nggak sengaja ini, Tang."


"Lo sekarang belain dia?" lirik sinis Lintang ke Adjie.


"Gue nggak belain. Gue cuma kasih tau realita aja Kakakku sayang." Adjie merangkul bahu Lintang gemas.


"Galaksi sakit, panas badannya. Tadi gue lihat dia agak menggigil, samperin sana, Tang, kasihan."


"Lo aja. Gue sibuk." sahut Lintang dingin.


"Ck. Lintang, jangan gini, kasian asli, deh."


"Minggir. Gue mau urusin laporan." Lintang mendorong tubuh Adjie sedikit kasar. Adjie hanya menggeleng-geleng kepala.


***


Galaksi diam di dalam kamar hotelnya, bersandar di kepala ranjang setelah meminum obat dan berusaha tidur. Tetapi tidak bisa.


"Haduh, demam banget gue." Galaksi bergumam.


Ia lalu membuka ponselnya dan membaca pesan singkat dari Adjie.


Gimana keadaan lo, Galaksi?


Read.


Barusan minum obat.


Send.


Lintang udah gue kasih tau tapi gitu, deh, sodara gue rada-rada emang. Cepet sehat, bro.


Read.


Thank you, Jie. Gpp, ngerti gue Llintang bisa bgitu karena gue.


Send.


Galaksi meletakan ponsel di atas nakas. Ia lalu bergelung selimut, seorang diri dengan tubuh menggigil dan lemas. Ia berdoa semoga besok bisa sembuh karena perjalanan ia kembali ke Jakarta juga dilakukan seorang diri.


Di rumah Lintang.


Ia duduk di teras rumahnya. Diam menatap langit yang gelap hanya terlihat beberapa bintang-bintang saja. Ia lalu termenung dan mencoba berdialog dengan diri sendiri. Melawan semuanya sendiri.


***


Lintang terlihat cantik saat wajahnya muncul di televisi setelah kemarin diwawancara oleh media TV lokal. Galaksi tersenyum menatap wanitanya sambil memeluk guling di atas tempat tidur.


"Kamu cantik banget sih, Sayangku, Lintangku," gumam Galaksi. Tubuhnya masih panas. Ia mengeluh karena untuk bangkit dari tempat tidur dan menuju ke lantai bawah untuk sarapan saja tidak bisa. Kepalanya terasa berat dan pusing. Tapi masih sempat-sempatnya senyum-senyum sambil menatap Lintang dari layar kaca. Suara bel di kamarnya terdengar. Galaksi melirik malas ke arah pintu kamarnya.


"Helaaahh ... sapa sih!" Galaksi beranjak perlahan. Ia mengontrol rasa pusingnya sejenak. Lalu bangkit dan berjalan pelan kearah pintu. Ia mengintip dari lubang kecil. Terlihat dua orang berdiri dengan memakai topi hitam serta masker hitam.


Galaksi membuka pintu. Terlihat Adjie dan ... Lintang berdiri di depan kamar hotelnya.


"Hadeh, halusinasi deh, gue," ucap Galaksi sambil berjalan kembali ke dalam kamar.


"Halu kenapa lo?" tanya Adjie.


"Itu, bayang-bayang kekasih hati gue, Lintang ada di belakang lo. Gue salah minum obat kali, ya? Galaksi kembali bergelung di dalam selimut. Ia kembali meringkuk.

__ADS_1


"Halu apaan. Lintang beneran ini Galaksi. Woy!" Adjie menarik selimut yang rapat menutupi tubuh Galaksi.


"Tipu lo. Gue mau tidur. Besok gue takut nggak kuat nyetir sampe Jakarta." Galaksi memejamkan mata.


"Lak, Galak ," panggil Lintang.


Galaksi masih diam. Bergeming.


"Galak ..., Lak, Galak!" Bentak Lintang sambil memukul bahu pria itu. Galaksi membalikan tubuhnya cepat.


"Ssshhhhhh..." ia memegang kepalanya yang pusing.


"Mesti di tabok dulu biar sadar nih, orang kayaknya." ucap Adjie yang duduk di kursi dekat meja kecil disudut kamar.


"Lin," ucap Galaksi lirih.


"Acting deh actinggg...." Adjie melirik sinis ke Galaksi. Galaksi tak kalah sinisnya.


"Muke gue keliatan acting macam apa, Jie" ucap Galaksi membela diri.


"Udah sarapan?" tanya Lintang yang masih berdiri di dekat Galaksi. Ia melepaskan topi dan masker. Galaksi berdebar.


Serangan jantung gue bisa-bisa kalo gini.


Ucap Galaksi dalam hati. Ia lalu menggelengkan kepala.


"Pusing banget aku. Lemes." Galaksi lalu kembali tiduran dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Lintang memegang kening Galaksi. "Panas," lirih Lintang. Ia lalu berjalan ke meja kecil dan membuka bubur ayam yang tadi ia beli didekat hotel.


"Aku bawa ini, kamu makan deh, biar ada tenaganya." Lintang menyodorkan bubur ayam. Galaksi duduk perlahan dan menerima dengan hati senang.


Setelah beberapa suap, Galaksi meletakan bubur dan beranjak ke kamar mandi. Ia muntah-muntah. Lintang menoleh ke Adjie.


"Tang! Anak orang itu, nggak lo kasih racun kan?!"


"Apa sih, Jie. Eh, lo beliin obat asam lambung deh, kalo udah gini asam lambung Galaksi kumat, dia emang ada penyakit ini." Lintang mengeluarkan kartu debet dari dompetnya dan memberikan ke Adjie.


"Siap Bu boss! Ini, sekalian gue jajan boleh?" Adjie senyum-senyum jahil.


"Iya, buru sana!" perintah Lintang.


Adjie lalu keluar dari kamar hotel, sedangkan Lintang mengetuk pintu kamar mandi. Pintu terbuka, terlihat Galaksi yang lemas dan menatap sayu ke Lintang.


"Buburnya enak kok, aku nggak niat mau muntahin Lin, serius," ucap Galaksi pelan.


"Aku tau." Lintang merangkulkan tangan Galaksi ke pundaknya dan membawa ke tempat tidur.


"Kamu jadi repot kan, Lin," ucap Galaksi pelan sambil kembali merebahkan tubuh di tempat tidur.


"Diem. Ngomong melulu." ketus Lintang. Ia membuka koper milik Galaksi dan mengambil kaos baru untuk Galaksi ganti baju.


"Lak, ganti baju dulu," Lintang membantu Galaksi duduk. Tubuhnya masih panas dan wajahnya pucat.


"Sini aku aja, aku bisa kok." Galaksi mengambil kaos miliknya. Ia diam menatap Lintang.


"Iya, aku tutup mata. Aku nggak ngintip, kok," ucap Lintang. Galaksi tersenyum. Ia lalu mengganti pakaiannya. Tapi ia sempat menatap Lintang yang terpejam. Dan berucap lirih tak bersuara.


"I love you Lintang" lalu ia tersenyum dan  memberitahu Lintang kalau ia sudah selesai.


"Kamu tidur. Besok naik kereta aja pulangnya. Biar Adjie yang bawa mobil kamu sampe Jakarta minggu depan, Edo juga mau ke sini, tugas dia buat audit bulanan toko aku."


"Iya, aku nanti pesen tiketnya," ucap Galaksi sambil memejamkan matanya.


***


Adjie dan Lintang sedang asik berbicara saat Galaksi mengerang. Tubuhnya Gelisah, dan tangannya memegang perutnya.


"Lak, Galaksi," ucap Lintang pelan.


"Arrghhh...." erang Galaksi. Badan Galaksi masih panas.


"Galak." Lintang menepuk pelan wajah Galaksi. Galaksi membuka matanya.


"Sa—kit, Lin," ucap Galaksi. Kedua matanya menatap Lintang.


"Ke rumah sakit ya. Panas kamu nggak turun-turun" Lintang juga mulai panik.


Adjie menelfon resepsionis dan meminta bantuan untuk membawa Galaksi ke mobilnya.


Galaksi meringkuk. Ia memegang perutnya.


"Iya, sebentar. Kita ke rumah sakit sekarang ya." Lintang mengusap peluh dikening Galaksi. Ia juga menyibak selimut dan membantu Galaksi duduk. Galaksi mual-mual lagi dan muntah didekat Lintang.


"Maaf Lin," ucap Galaksi lemas.


"Iya, nggak apa-apa." Lintang menatap Adjie. Adjie mengambil kunci mobil Galaksi dan saat membuka pintu dua petugas hotel sudah datang dengan membawa kursi roda.


Galaksi kembali mengerang. Ia bahkan sampai meremas kursi roda.


Lintang menekan tombol lift. Ia lalu menatap Galaksi yang tampak kesakitan.


"Sabar, Lak, kita ke rumah sakit sekarang ya," Lintang menggenggam jemari Galaksi. Galaksi membalasnya walau kondisinya terbilang mengkhawatirkan.


***


Mereka sudah tiba di IGD rumah sakit, Galaksi masih mengerang kesakitan. Ia juga terus menggenggam jemari Lintang. Lintang tidak tega melihat Galaksi seperti ini.


Dokter jaga datang dan segera memeriksa Galaksi. Segala prosedur dilaksanakan hingga Galaksi dibawa ke ruangan pemeriksaan lebih lanjut. Adjie dan Lintang duduk didepan pintu ruangan tersebut.


"Appendicitis, Pak Galaksi harus segera dioperasi, peradangannya sudah parah," ucap sang dokter pria itu sambil berdiri didekat Lintang setelah mereka kembali ke IGD.


"Usus buntu dok?" Lintang memastikan. Dokter mengangguk. "Bukan asam lambungnya kambuh? Karena Galaksi tadi muntah-muntah dan demam dok"


"Salah satu gejala usus buntu itu bu, orang-orang suka salah arti sama rasa sakit diperut, dianggapnya masuk angin, atau maag, asam lambung,ternyata itu peradangan usus buntu. Pak, pak Galaksi" Galaksi menoleh ke dokter yang memeriksananya.


"Operasi ya pak, saya hubungin dokter penyakit dalam dan dokter bedahnya, nanti perawat kasih tau kapan jadwal operasinya, bisa besok atau maksimal lusa, saya nggak rekomendasi nunggu lebih lama"


"Ok dok" jawab Galaksi. Galaksi sudah diberi obat pereda nyeri, untuk mengurangi rasa sakit karena peradangan itu.


"Lin,"


"Hemm,"


"Hp aku mana? Aku harus hubungin orang kantor, senin besok aku pasti belum bisa kerja" Lintang mengambil ponsel Galaksi dan memberikan ke tangannya.


"Ini, aku ke administrasi dulu kalo gitu" Lintang beranjak.


"Kartu asuransi ku di dompet, kalau mereka butuh DP, kartu debet aku yang gold, jangan yang biru" ucap Galaksi menatap sayu.


"Nggak ada isinya," Galaksi menahan senyum.


"Udah kere sekarang?" Ledek Lintang dengan ekspresi datar. Galaksi memejamkan mata sambil senyum-senyum.

__ADS_1


***


Lintang mengurus pendaftaran kamar rawat dan hal lainnya. Adjie lalu menghampiri.


"Kasian Galaksi tang, gara-gara ngejar lo sampe sakit gini" Adjie merangkul dan menyandarkan kepala ke bahu Lintang.


"Ngaco." Jawab Lintang sambil menandatangani beberapa berkas.


"Loh, kok elo yang tanda tangan? Kan harus yang ada hubungan atau kerabat dekat,ya kan mba ya" tanya Adjie ke petugas pendaftaran. Petugas itu mengangguk.


"Lo sebagai apa tang, woy" Adjie memanggil Lintang yang ngeloyor ke IGD lagi.


"Itu kakak saya tanda tangan, keterangannya apa mba?" Tanya Adjie penasaran.


"Disini Bu Lintang kasih keterangan sebagai, istrinya pak Galaksi, Mas."


"Eh, istri mba?" Tanya Adjie memastikan. Petugas itu mengangguk. "Makasih ya" Adjie lalu berjalan ke arah IGD lagi.


"Kudu ambruk ngejeledak dulu baru elo perduli Galaksi lagi tang, jalannya nyeremin juga ya, tapi kalo ini yang jadi awal kalian mulai kembali lagi, pencipta dan semesta sungguh hebat!" Gumam Adjie sambil mengepalkan tangan ke udara seperti sedang berorasi.


Pintu IGD terbuka, terlihat Galaksi sedang duduk dikursi roda didorong perawat menuju ke kamar rawatnya. Lintang berjalan dibelakangnya.


"Urus check out kamar hotel jie, bawain baju-baju Galaksi, yang kotor tarohin di laundry aja minta yang fast cleaning, besok siang biar bisa diambil. Pegang ATM gue, gue tau lo bokek, kesini aja naik kereta ekonomi kan lo" bisik Lintang terburu-buru.


"Hehehe, papi sama mami belum kasih gua gaji bulan ini, katanya kebanyakan bolos kerja jadi di tahan  dulu"


"Lagu lama. Buru sana." Pelotot Lintang. Adjie memberikan hormat dan berjalan keluar rumah sakit menuju parkiran mobil.


"Suster, kalo proses recovery setelah operasi usus buntu berapa lama ya?" Tanya Galaksi yang terlihat lemas.


"Biasanya tiga atau empat hari maksimal setelah tindakan udah bisa pulang kok pak, bapak udah bisa jalan pelan pelan intinya pak."


"Oh gitu, makasih suster infonya" ucap Galaksi. Suster mengangguk. Mereka bertiga masuk kedalam lift.


Kamar berisi dua tempat tidur itu terasa kosong karena hanya Galaksi pasien yang menempati. Lintang perlahan membantu Galaksi berdiri supaya Galaksi bisa berganti pakaian pasien rumah sakit.


"Aku dibantu perawat cowok aja Lin,"


"Diem. Aku merem nanti kalau pas kamu ganti celana panjang"


"Perawat aja deh Lin,"


"Kamu mau mereka lihat aku aneh,gantiin baju kamu minta perawat yang urus." Ketus Lintang.


"Loh emang kenapa? Wajar kan, malu tau nggak aku kalo kamu yang gantiin baju, nanti ****** aku jadi pemandangan nggak indah buat mata kamu Lin," Galaksi meringis menahan tawanya sambil memegang perut.


"Dibilangin aku merem pas kamu lepas celana jeans kamu. Aku tadi tanda tangan dan kasih keterangan sebagai istri kamu. Makanya prosesnya cepet nggak mesti tunggu kabar mamah sama papah di jakarta" ucap Lintang sambil melipat baju galaksi dan ia letakan di laci lemari besi kecil disamping tempat tidur.


"Serius kamu bilangnya gitu Lin, istri aku?"


"Iyaaaaa. Udah deh ah jangan bawel. Buruan pake ini baju pasiennya. Terus istirahat. Ngomong aja dari tadi." Dumel Lintang sambil membantu kedua tangan Galaksi masuk kedalam lobang baju rumah sakit yang sudah tersedia. Ia senyum-senyum sambil menatap Lintang.


"Aku harus sakit dulu ya Lin baru kamu perduli ke aku lagi"


"Ini kepaksa." Jawab Lintang enteng.


"Ck. Adinda tidak bisa berbohong kepada kakanda, lihat lah wajah cantik adinda, betapa meronanya seak—"


PLAK


Bibir Galaksi ditabok Lintang. Galaksi manyun-manyun.


"Masih bawel. Aku tinggal sekalian."


"Jangan.. jangan.. jangan… Jangan lagi tinggalin aku" rajuk Galaksi sambil menggenggam jemari Lintang. Lintang melepaskan genggaman jemari Galaksi.


"Jangan pegang-pegang lagi. Udah kebanyakan. Over dosis banti" ucap Lintang lalu ia memejamkan mata saat membantu melepaskan celana jeans Galaksi.


"Buruan ini kaki kamu lepasin celananya Galak. Jangan di lelet-leletin deh!" Omel Lintang.


"Ya ampun, istri tuh nggak boleh galak-galak ke suami sayang ku, dosa lho"


PLAK


Lintang menabok lutut Galaksi. Galaksi cengar cengir.


"Besok aku mau ajuin RUU KDRT dari istri ke suami ah"


"Lebay." Ketus Lintang saat Galaksi berdiri sehingga baju pasien yang panjang selutut itu menutupi bagian 'itu' nya yang tertutup cawet.


Suster memberikan obat lainnya ke Galaksi, Galaksi harus istirahat, ia tertidur. Lintang masih tetap berada disana sambil mengontrol toko dari ponselnya.


Ponsel Galaksi berbunyi, Lintang mengambil dan menekan tanda hijau dilayar.


"Ha—lo" jawab Lintang ragu.


"Halo, Galaksi, Galaksi kamu di rumah sakit mana nak" suara ibunda Galaksi terdengar panik.


"Di rumah sakit XXX mah," jawab Lintang degdegan.


"Lho.. ini, ini Lintang?" Tanya ibunda Galaksi terkejut.


"Iya mah, mamah apa kabar" tanya Lintang pelan. Ia lalu berjalan keluar kamar rawat.


"Lintangggggggg menantu mamah, Galaksi sama kamu sayang" tanya ibunda Galaksi lagi.


"Iya mah," Lintang lalu menjelaskan awal mula Galaksi sakit.


Lalu suara tawa justru terdengar dari ujung telfon.


"Yaudah sayang, kalau udah ada kamu sama Adjie, mamah tenang. Nanti mamah, papah sama Bre nyusul kesana ya, sama supir juga kok"


"Iya mah, nanti Lintang kabarin jadwal operasi Galaksi ya mah, sama urus pindah kamarnya"


"Iya, maaf repotin kamu ya Lintang,itu anak emang bisanya bikin kamu repot"


"Enggak kok mah, Lintang nggak direpotin Galaksi" jawab Lintang sambil menatap ujung sepatunya.


"Hemmmhhh, kamu udah bisa maafin anak mamah Lintang?"


"Untuk maafin udah mah, tapi Lintang masih belum bisa lupain itu, semuanya masih terekam jelas dan itu bikin Lintang,"


"Nggak usah buru-buru, mamah paham kok sayang, mamah cuma berharap perasaan kamu tetep ada untuk Galaksi. Tunggu mamah ya Lintang, Breyana pasti seneng banget ketemu kamu lagi, kangen mamah Lintang"


Mendengar nama Breyana, senyum Lintang mengembang. Ia juga rindu anak cantiknya itu.


"Iya, Ma."


::TBC::


whoaaa... 3000 kata .... Belum di Edit juga ... maaf ya, kalau bacanya agak kurang nyaman.


 

__ADS_1


__ADS_2