Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Gantung


__ADS_3

Lintang dan Adjie duduk di depan ruang tunggu dekat pintu ruang operasi. Galaksi sudah satu jam lebih masuk ke dalam sana untuk dilakukan tindakan. Adjie juga memberitahu Lintang kalau kedua orang tua Lintang sudah ia beritahu tentang keadaan Galaksi. 


"Bapak sama Ibu nggak bisa ke sini, jadi cuma minta dikabarin aja katanya," ucap Lintang sambil menyandarkan kepala ke dinding. 


"Tadi pagi jam berapa lo sampe sini, Lin, gue nggak ngeh lo dateng." Adjie menguap, kantuk melanda dirijya. Ia semalam yang menjaga Galaksi di rumah sakit atas perintah Lintang. Ia tak mau Galak repot mondar mandir ke kamar mandi sendirian. Alhasil dengan sogokan 'Uang jajan' tambahan dari Lintang, Adjie siap sedia, kalau perlu dua puluh empat jam jadi perawat Galaksi.


"Tang,"


"Apa." Lintang meminum ice coffee yang sudah mulai mencair itu.


"Habis ini apa, Tang? Mulai semua dari awal sama Galaksi, 'kan?" Adjie bersedekap dan duduk santai.


"Nggak tau, Jie." Lintang menghela napas sambil menatap dan memainkan gelas plastik dengan sedotan hijau itu ditangannya.


"Pelan-pelan lupain cerita itu, lo nggak akan tau lo bisa lupa itu semua apa nggak, kalau lo nggak coba. Bukan cuma simpen sebentar di kotak memory lo, trus nanti ke buka lagi, lo simpen lagi, kebuka lagi, jangan, lah." Adjie melirik ke spupunya itu.


"Masih cinta kan, sama Galaksi?" Adjie kini menoleh. Ia menatap lekat kedua bola mata Lintang. Lintang juga menatap Adjie.


"Gue—"


Tittttttt


Pintu ruang operasi terbuka. Galaksi terpejam di atas tempat tidur yang di dorong dua perawat. Satu perawat menghampiri Lintang.


"Ibu, Ibu nggak jijik'an kan ya?" tanya perawat.


"Enggak suster," jawab Lintang. Lalu lintang diajak ke sebuah ruangan dan diperlihatan potongan usus buntu Galaksi yang di taruh di dalam tempat seperti botol balsem transparan yang sudah diberi cairan. Warnanya menghitam, sudah sangat meradang.


"Ini ya, Bu, ini bukti kalau Bapak memang usus buntunya sudah meradang terlampau parah."


"Iya. Terima kasih ya suster," ucap Lintang. Suster mengangguk lalu mengantar Lintang ke kamar rawat Galaksi di lantai tujuh rumah sakit.


***


Galaksi sedikit mengingau, efek obat bius. Lintang menatap Galaksi lekat. Ia mengusap pelan surai Galaksi dengan lembut.


"Bisa ambruk juga kamu, Lak, kirain selalu jagoan dan cengengesan," ucap Lintang lalu menoleh saat pintu kamar terbuka.


"Lintang, Galaksi..." terdengar suara pelan yang Lintang rindukan.


"Mama!" Lintang berjalan menghampiri dan memeluk tubuh Ibunda Galaksi dengan erat. "Apa kabar Ma?" tanya Lintang kemudian. Ibunda Galaksi menatap Lintang sambil tersenyum.


"Baik," jawab ibunda Galaksi. Wanita itu bergeser dari posisi berdirinya dan terlihat Breyana di dekat pintu bersama Ayahanda galaksi.


"Bre..." ucap Lintang dengan suara bergetar. Ia berlutut dan merentangkan tangan. Breyana sumringah. Ia berjalan sambil merentangkan tangan juga dan memeluk Lintang. Lintang memeluk Bre meluapkan rasa rindunya.


"Brenya Mama apa kabar, maafin Mama ya, Bre," Lintang berdiri sambil menggendong Bre dan memeluknya.


"Mama," ucap Bre sambil bersandar di bahu Lintang. Lintang menangis.


"Iya sayang, ini Mama," bisik Lintang sambil menciumi pipi Bre gemas, mencurahkan rasa sayangnya. Dengan masih menggendong Bre, Lintang mencium punggung tangan Ayahanda Galaksi.

__ADS_1


"Apa kabar, 'Nak?" tanya Ayah Galaksi.


"Baik, Pa, Papaapa kabar?"


"Baik. Makasih ya Lintang, udah mau bawa Galaksi ke dokter," ucap Ayahanda Galaksi. Lintang mengangguk.


"Sama-sama, Pa," kedua orang tua Galaksi berdiri di dekat ranjang. Menatap putra lebay-nya yang masih memejamkan mata karena belum sadar.


"Kita bangunin Papa, yuk, Bre," ucap Lintang. Bre mengangguk. Lintang menggendong Bre kesamping dekat kepala Galaksi. Breyana membungkuk dan mencium pipi Galaksi.


"Pa... Papa, ini Bre, Pa..." panggil Breyana pelan dengan suara imutnya sambil menepuk-nepuk wajah Galaksi. "Ngun.. Pa, Bre nih," ucap Bre.


Breyana terus menciumi wajah Galaksi berganti kiri dan kanan.


"Mmmgghh...," Galaksi bereaksi. Breyana tertawa. Ia lalu menarik bawah mata Galaksi dan terkikik sendiri. Memencet hidung Galaksi yang mancung dan melepaskannya.


"Papa!" teriak Bre. Lintang terkikik begitu pun kedua orang tua Galaksi.


"Bangun anak lebay, dibius gitu aja K.O!" celetuk Ayahanda galaksi menepuk-nepuk tangan Galaksi.


Lalu semuanya saling menatap saat mencium aroma limbah tubuh Galaksi.


"Hmmmhhh... legaaa... " ucap galaksi pelan. Ia lalu membuka mata perlahan dan tersenyum menatap semua yang ada di sana.


"Wangi kan..." ucap galaksi.


"Kurang asem. Bau ****** kayak gini Galaksi!" Lengan Galaksi di cubit ayahannda kesal.


"Kamu udah sadar dari kapan?" tanya lintang mendekat.


"Dari di ruang observasi, aku pura-pura merem aja."


"HAH!!" Lintang teriak. Membuat semuanya terkejut.


"Ka--kamu." Lintang melotot. "Iseng banget sih, Galak!" Omel lintang sambil mencubit paha Galaksi dari luar selimut.


"Hahaha, aduh...duh...duh... sakit... Ssshh.." ringis galaksi memegang perut yang baru dioperasi.


"Rasain." Omel ibundanya.


"Bre, cium Papa lagi yang gilanya nggak ilang-ilang, ya, terus ikut Mama makan, yuk!" ucap Lintang. Bre mengangguk. Ia mendekat dan memeluk leher Galaksi. Galaksi mencium kepala purtrinya sambil mengusap pipi gembul Bre.


"Mama sama Pqpq mau nitip apa?" tanya lintang.


"Papa kopi aja, Lin."


"Mama juga, Ya."


Lintang mengangguk. Ia menurunkan Bre dari gendongannya dan menggandeng tangan bocah itu.


"Aku nggak ditawarin, Lin?" tanya galaksi.

__ADS_1


"Nggak." Jawab lintang sewot.


"Kok gitu sih, Mama Lintang, Papa Galaksi mau juga dong..., apa kek beliin ya?" rajuk Galaksi yang mendapat pelototan dari Lintang dan pukulan di keningnya dari tangan Ibundanya.


"Bius lagi aja deh, biar nggak lebay nih anak!" celetuk Ibunda galaksi sambil memicingkan mata menatap putranya itu.


***


Breyana, Lintang, dan kedua orang tua Galaksi asik bercengkrama di kamar rawat. Lintang dengan telaten juga menyuapi Bre makan karena tadi merengek minta makan di kamar rawat.


"Mama mau lihat tokonya dong, Lin, sekarang yok?" Pinta Ibunda Galaksi saat Lintang menceritakan bisnis yang ia bangun menggunakan nama Breyana.


"Galaksi di tinggal, Ma?" Pria itu menyambar obrolan.


"Iya. Bisa kan sendirian. Bisa lah pasti, jagoan... " ledek Ibundanya dengan memainkan kedua alis mata.


"Tau, ah!" jawab Galaksi manyun. Lintang selesai menyuapi Breyana makan. Lalu seorang suster masuk mengantar makan siang untuk Galaksi.


"Makannya sambil belajar duduk ya, Pak, terus pelan-pelan miring kanan kiri, besok pagi pelan-pelan belajar jalan," ucap perawat itu.


"Iya, terima kasih suster," ucap galaksi. Ia menoleh ke semua yang ada di kamar itu.


Lintang yang sadar beranjak dan mendekat ke Galaksi. Ia menekan tombol untuk menaikan tempat tidur supaya agak tegak posisi tubuhnya. Dengan telaten menyiapkan sendok supaya Galaksi bisa makan.


"Yah, kok bubur sumsum?" Protes galaksi.


"Emang kamu maunya apa? Pecel ayam sama sambel, lalapan, es teh manis, hah?" ujar Ibundanya


"Nah, itu ma..." jawab Galaksi merespon ucapan.


"Jangan ngaco, Lak, makan nggak!" ucap lintang saat sudah menyendok bubur sumsum ke arah mulut galaksi. Galaksi mau tidak mau membuka mulutnya. Kedua orang tua Galaksi hanya terkekeh menatap interaksi Galaksi dan Lintang.


***


Hari ke tiga.


Galaksi sudah boleh pulang, ia tidak langsung pulang ke Jakarta, tapi ke rumah keluarga Lintang di Yogya, begitu pun kedua orang tua Galaksi yang tidak mau menginap di hotel. Adjie sudah pulang duluan karena menyiapkan sidang skripsinya.


Mereka semua sedang makan malam bersama, Lintang dan ibundanya yang menyiapkan.


"Jadi, gimana, Tang, mau jalanin sama Galaksi lagi?" tanya ibundanya. Lintang diam. Ia hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.


"Yasudah kalau kamu masih belum bisa pastiin," ucap Ibundanya. Galaksi tak sengaja mendengar percakapan singkat itu dari samping pintu.


Galaksi menunduk. Ia harus berfikir bagaimana membuat lintang bisa luluh dan mau menikah dengannya.


Selama pemulihan baik di rumah sakit dan di rumah Lintang, Lintang berperan penting merawat Galaksi. Ia sudah yakin kalau Lintang akan menerimanya kembali, tapi ia butuh usaha lebih dan lebih lagi.


::TBC::


Halo... maaf lama nunggu ya, kemarin sibuk urusan real life, terima kasih sudah mau membaca karya saya ya..

__ADS_1


__ADS_2