
Sudah satu tahun berjalan pernikahan Lintang dan Galaksi mereka arungi dengan banyak komedi dan humor receh keduanya. Kini, tiba masalah baru yang menyita keseriusan juga memecahan konsentrasi Lintang saat melakukan apa pun. Bayangkan, semalam, saat ia iseng mengecek ponsel suami tercintanya, Galaksi mendapar pesan singkat masuk dari seseorang yang seharusnya, suaminya itu kasih tau Lintang. Bukan perkara besar memang, tapi Lintang tidak suka jika Galaksi menutupi hal seperti itu yang berakhir seperti ini. Lintang diam, merenung sambil menatap laporan operasional resto yang sedang ia periksa tapi semua angka terbang ke mana-mana. Ia terngiyang-ngiyang isi pesan dari seorang perempuan bernama Karmen, yang lain adalah ibu kandung Breyana.
Isi pesan itu berupa permintaan Karmen untuk bertemu dengan Breyana. Namun Galaksi belum membalas apa pun juga, karena ia harus berpikir ke depannya. Maksudnya, Karmen sudah lama tak menghubunginya, lalu kenapa tiba-tiba ia mau menemui Breyana setelah sekian lama hanya ia, dan akhirnya bersama Lintang merawat juga membesarkan Breyana. Karmen, wanita itu tinggal di Perth, Autralia. Ia sudah menikah dengan pria yang menjadi cinta pertamanya sejak dulu. Wanita yang dulu dijodohkan dengan Galaksi karena urusan bisnis keluarga itu, memang, pasti ia punya hak karena ibu kandung Breyana, tapi, Lintang merasa ia dicurangi.
"Nggak bisa. Gue harus cari tau dulu tujuan dan niat Karmen apa sebenarnya, enak aja mau ketemu Breyana gitu aja. No way, gue Mamanya Breyana, bukan dia." Lintang gerendeng sendiri. Ia lalu mencoba kembali fokus memeriksa laporan operasional harian resto. Namun tetap saja, pikirannya tak fokus, ia mengusap wajahnya, dan memutuskan untuk menelpon suaminya. Ia mengusap layar ponsel, lalu setelah nada sambung terdengar, ia menempelkan ponsel ke telinganya.
"Halo... Mama Lintang sayang, udah nggak ngambek sama Papa Galaksi lagi, hum? Kangen, ya, kan... kan... kan..." Galaksi kebiasaan. Bikin Lintang malah nesu-nesu.
"Aku matiin, nih." Ketus Lintang.
"Jangan dong, bebeh, ada apa Lintang sayang? Nanti di jemput ke sana ya, jangan pulang sendiri," lanjut Galaksi.
"Aku kepikiran Karmen, tujuan dia apa mau ketemu Breyana. Aku takut Galaksi," ucap Lintang sembari bertopang dagu dengan siku ia tumpu ke atas meja kerjanya.
"Mungkin mau ketemu aja, namanya Ibu kandungnya, kan?"
"Iya, tapi kenapa mendadak dan baru sekarang? Udah berapa tahun coba, dia nggak ada kabar apa-apa kan ke kamu. Tanya Bre juga enggak. Sekarang, kok..., wajar aku curiga dan takut, kan Sayang...."
"Eh cie, manggil aku sayang, tumben sekali permasuri." Galaksi malah kembali meledek Lintang.
"Galakkk... serius sedikit, Kek!" omel Lintang.
"Kita obrolin di rumah ya, aku jemput kamu nanti. Bawain makanan dong dari sana, kamu nggak usah masak, bair kita lama ngobrolnya, ya," pinta Galaksi.
"Yaudah iya. Jangan ngaret, kebiasaan banget ngerumpi dulu kamu di parkiran, kayak Ibu-ibu rumpi aja." Keluh Lintang.
__ADS_1
"Hahaha... kok tau sih, kalau eike suka rumpi." Tawa Galaksi terdengar puas. Lintang tak membalas jawaban Galaksi, ia mendadak harus ke kamar mandi jadi langsung ia letakkan ponselnya ke atas meja tanpa di matikan dulu. Membuat Galaksi halo-halo tapi tak ada suara.
***
Sore hari.
Galaksi mengusap wajah Lintang yang tampak banyak pikiran karena tampak lesu dan sendu. "Kenapa sih, udah, jangan dipikirin dulu, Lintang, kita tanya ke Karmen dulu bener-benerm tujuannya apa. Kamu jangan manyun-manyun gini ah, gemes aku, khilaf nanti, nih," lirik Galaksi dengan senyum jahilnya. Lintang berdecak lalu memberikan paperbag warna hijau ke tangan Galaksi.
"Apaan?" tanya Galaksi bingung.
"Buka aja, sih, banyak nanya." Celetuk Lintang. Galaksi mengecup bibir Lintang dulu karena tadi lupa absen bibir saat Lintang menghampiri ke mobil. Sudah kebiasaan mereka untuk menyapa dengan mengecup bibir, udah sah ini kan, bebas dong, hahai.
Galaksi membuka, lalu merogoh isi paper bag. Ia mengambilnya, sepatu bayi. Lalu ada amplop putih. Galaksi berdebar, ia diam sejenak sambil menatap ke Lintang. Wajah terkejutnya membuat Lintang mengulum senyum sambil menatap ke arah lain. "Bohong kan, iseng nih, pasti..., Lintang, serius sih." Galaksi tertawa pelan, ia memegang dadanya juga. "Aku deg-degan lho, istriku." Galaksi menarik tangan Lintang dan ia tempelkan ke dadanya. Galaksi membuka isi amplop, surat keterangan dokter yang menyatakan Lintang positif hamil, lima minggu.
"Alhamdulillah!" teriak Galaksi. Ia lalu menunduk, mendadak terharu, Lintang menarik kepala Galaksi lalu membawa ke pelukannya.
Galaksi menangis, ia memeluk Lintang erat. Ia ingin sekali memiliki anak bersama Lintang, dan kini terwujud. "I love you, Lintang, akhirnya kita di kasih titipan luar biasa," ucap Galaksi yang di jawab anggukan Galaksi. Pelukan terurai. Galaksi tersenyum menatap Lintang, jemari Lintang menghapus air mata Galaksi.
"Dan sekarang aku mau makan martabak wijen, buruan beli, laper." Pinta Lintang.
"Siap bumil! Kita meluncur, eh tapi, martabak yang mana?" Galaksi bingung.
"Terang bulan. Buruan ayok, keburu macet, Breyana juga kasihan kalau nunggu kita kemalaman sama suster di rumah. Cepet Papaaa...." Lintang senyum-senyum. Galaksi memegang dadanya dengan kedua tangan, ia menatap Lintang.
"Ahh... so sweet banget sih, denger kamu manggil aku gitu, emesss..." Galaksi mencubit pelan wajah Lintang lalu mengusap perut rata Lintang.
__ADS_1
"Lebay deh, kumat. Ayo buruan, Galaksi... kita juga mau bahas masalah Karmen, kan? Aku nggak mau kalau dia main gampang ketemu sama Bre, aku nggak izinin, walau dia ibu kandungnya. Aku tetap Mamanya Breyana, catat. Mamanya, Lintang seorang." Terlalu sewot, tapi membuat Galaksi mengangguk cepat, Galaksi tau bagaimana Lintang mencurahkan semua kasih sayang kepada putrinya.
Mobil mengarah ke lokasi martabak yang dimau Lintang berada. "Kamu ikhlasin kalau Karmen mau bawa Breyana, Lak?" Lintang menatap suaminya itu.
"Emang mau di bawa ke mana?" toleh Galaksi.
"Ya nggak tau, kan biasa gitu. Nggak ada angin nggak aja hujan, orang tua yang telantarin anaknya dari bayi, tau-tau dateng, eh... di aku-aku dan di bawa tinggal sama mereka. Aku nggak mau ya, nggak ada tuh, Breyana di bawa-bawa." Lintang mati-matian menolak.
"Iya, aku paham, Lintang. Kalem dulu ya, bumil cantik. Kamu kapan ke dokter, kok nggak kasih tau aku? Aku Bapaknya anakmu lho, Lin, jangan gitu." Ngambek? Sok ngambek Galaksi, membuat Lintang malah sebal.
"Aku tadi siang ke rumah sakit, udah tiga hari ini pinggang ku sakit, Galaksi, kamu udah aku keluhin terus, kan, tapi jawaban kamu malah, 'kebanyakan aku goyang kali ya, Lin?' ya kali, Lak, kamu mah nggak peka orangnya, bikin emosi doang." Lintang merajuk, Galaksi tergelak, ia geli sendiri karena mendadak ingat kegiatan mereka yang rajin main jungkat jungkit, kadang satu minggu rutin seolah tak ada bosan. Susah emang Galaksi dan Lintang. Lintang, walaupun menolak, pada akhirnya justru menjadi pemegang kendali, membuat Galaksi semakin terkejut dengan sikap istrinya itu. Seperti dapat doorprise, suami mana yang tak puas dengan good service di atas ranjang bukan?
"Terus aku bilang kan, ke petugas bagian pendaftaran, eh malah di saranin ke Obygn, yaudah aku ke sana, terus, pas diperiksa, di suruh ke lab untuk cek urine, yaudah, pas dilihat hasilnya, garis dua. Ternyata udah lima minggu, padahal kita kemarin power full ya, Lak." Lintang mendadak cekikikan sendiri.
"Kita? Kamu doang kali! Nggak inget aku sampai... sshh... aduhh.. udah deh, jangan bahas sekarang, nggak bisa kompromi nih, tuyul satu." Tunjuk Galaksi ke senjatanya. Membuat Lintang ngakak tak henti-henti. Komedi sekali memang keduanya.
"Terus, dokternya nggak nanya ke kamu, suaminya ke mana? Kok nggak ikut ke rumah sakit?" tanya Galaksi.
"Tanya, aku bilang suamiku bang toyib, nggak pulang-pulang," jawab Lintang santai.
"Wah... luar biasa jawaban Mama Lintang! Luar biasa.... jawaban tepat...!" Galaksi mengacungkan jempol ke depan wajah Lintang. Kembali Lintang tertawa lepas.
"Bulan depan aku ikut, awas kalau kontrol sendiri ke dokter. Tidur di luar kamu, huh." Galaksi memalingkan wajah.
"Dih, dih... hahaha... aduh, Papa kamu sableng, 'nak, ya ampun. Mama capek ketawa melulu, haduh..." Lintang mengipas-ngipas wajahnya karena lelah tertawa. Galaksi tersenyum, ia lalu joged-joged sendiri saat musik yang diputar di mobil terdengar asik untuk menggoyangkan badan.
__ADS_1
"Galak, aku serius lho, harus kita cari tujuan Karmen apa. Karena aku yang Mamanya Breyana. Bukan Karmen." Lintang kembali serius. Galaksi mengangguk, ia juga tak ingin jika Karmen membawa Breyana, putrinya itu sudah besar, dan taunya jika Lintang Mamanya. Jangan sampai membuat masalah dan keributan baru di keluarga mereka, walau jelas asap kebakarannya mulai terlihat.