
Lintang uring-uringan setelah kehadiran Karmen ke rumahnya untuk meminta izin bertemu Breyana. Ia tak rela, apalagi saat tau jika Karmen akan mengajak Bre bermain dan makan bersama. Ketakutan Lintang akan Bre yang termakan bujuk rayu wanita yang melahirkannya begitu besar. Adjie yang masih setia duduk di sofa rumah Lintang dan Galaksi, mencoba untuk menenangkan emosi wanita hamil muda itu yang seperti sudah mengeluarkan tanduknya dan siap menyeruduk.
"Gimana juga, Karmen ibu kandungnya Breyana, Tang, lo bakal salah kalau larang apalagi usir kayak tadi," celoteh Adjie. Lintang menoleh, menatap menusuk ke kedua bola mata Adjie yang langsung mengunci mulutnya.
"Diem. Lo nggak akan tau rasanya jadi gue. Gue perempuan, Karmen juga, harusnya dia mikir panjang, setelah sekian tahun baru cari Bre dan minta ketemu. Nggak sudi gue, bodoh amat mau gue dibilang jahat, kasar, atau apalah. Gue punya alasan kuat ya, buat pertahanin Breyana. Lo kan orang hukum, tau dong, harusnya!" omel Lintang. Adjie memilih diam, ia akan salah bicara apa pun juga jika menyanggah kata-kata Lintang saat itu. Mood Lintang sedang tak baik, jangan sampai memperburuk lagi.
Adjie menerima telepon masuk di ponselnya, sementara Lintang mengirim pesan singkat ke Galaksi, memberi tau jika Karmen datang. Juga, Lintang menghubungi kedua mertuanya, untuk menceritakan hal yang sama. Jujur ia BT, kesel, emosi, dan mengarah ke takut akan kehilangan Breyana. Bocah itu sudah 4 tahun, Lintang membesarkannya dengan cinta luar biasa, tak rela jika mengiyakan permintaan Karmen begitu saja.
Tak terasa air mata Lintang mengalir, ia buru-buru menghapusnya, bukannya berhenti, semakin menjadi-jadi tangisannya, bahkan Lintang sesenggukan. Adjie panik, ia segera mendekat dan merangkul kakak sepupunya itu.
"Semua bakal baik-baik aja, Tang, gue jamin. Tenang dulu," ucap Adjie. Lintang masih sesenggukan, kepalanya tertunduk.
Setelah tangisannya reda dan emosinya bisa terkontrol, Lintang memutuskan mandi, sementara Adjie membereskan dapur karena ada beberapa piring kotor. Mertua Lintang akan datang, rumah harus rapi, Adjie yang tau hal itu, dengan segera membantu Lintang.
Lintang keluar dari kamar, sudah tampak segar dan cantik, namun ia mual-mual lagi. "Tang, Lintang..." suara ibu mertuanya terdengar. Panik melihat Lintang yang berdiri di dekat sofa sambil mual-mual.
"Morning sick ya, nak?" tanya wanita itu. Lintang mengangguk. Ia tak tahan, ia pamit ke kamar mandi dan muntah-muntah lagi.
"Eh, ada Adjie, nggak ke kantor atau kampus?" sapa wanita itu. Adjie mengeringkan tangannya lalu mencium punggung tangan ibu mertua Lintang bernama Shinta. Lalu berganti ke ayah mertua Lintang bernama Bagus.
"Nggak, Ma, kasihan Lintang mual-mual kalau ditinggal sendirian. Galaksi juga nggak bisa diganggu kerjaannya," jawab Adjie.
__ADS_1
"Uluh... kompak ya, keluarga kalian, saling berkorban. Salut Mama." Shinta mengacungkan jempolnya. Bagus menghampiri Lintang yang sudah keluar dari kamar mandi di dalam kamarnya. Ia lemas, tapi memang wajar ibu hamil muda.
"Pa," sapa Lintang. Bagus mengusap kepala menantunya itu.
"Mama bikinin sop sayur ya, Lintang, biar hangat perutnya." Shinta membuka kulkas, ia juga melihat di atas meja makan ada sop daging.
"Eh, tapi ada sop daging, Mama bikin chapcay aja ya," idenya berubah, Lintang hanya manggut-manggut. Adjie pamit ke minimarket, untuk membeli beberapa minuman dan siapa tau ketemu tukang jajanan lain untuk Lintang. Sementara Bagus duduk santai sambil menonton TV.
"Ma, Pa, Karmen dateng. Lintang usir tadi, habis kesel," dumal Lintang.
"Nggak apa-apa, wajar, kok. Terus gimana? Kamu izinin dia mau ajak Breyana jalan?" tampak Shinta sudah memakai celemek dan siap mengeksekusi bahan masakan.
"Papa nggak setuju, biarin Karmen tau rasa. Seenaknya tinggalin Breyana, kalau mau cerai, bisa kan baik-baik, nggak kabur gitu aja." Sambung Bagus. Lintang mengangguk setuju.
"kamu punya hak untuk larang. Breyana dari kecil sama kamu, dan juga Breyana pengasuhannya dibawah hukum asuhan Galaksi, jadi kalau Karmen mendadak maksa, atau malah mulai berulah dengan lapor polisi, kita lawan lah, jangan takut." Lanjut Shinta sambil memotong sayuran.
"Iya, bener kata Mamamu, Lintang. Kalaupun mau ketemu Breyana, harus sama kamu dan Galaksi, jadi kalau dia mulai ngomong yang ngelantur, kalian bisa potong dari situ." Kata-kata Bagus benar. Lintang kembali mengangguk.
"Breyana memang dikandung dan dilahirkan Karmen, tapi sekedar itu, kamu Ibunya Breyana yang sesungguhnya. Pa, Papa coba hubungin orang tua Karmen, siapa tau mereka tau maksud dan tujuan anaknya mau ketemu cucu kita apa? Sembarangan main ajak jalan, nongol tiba-tiba, Mama ora sudi, ya." Sewot Shinta.
"Iya nanti Papa tanya. Eh iya, udah berapa minggu usia kehamilan kamu, Papa hampir pingsan waktu Mama kasih tau kamu hamil, Papa gemeteran, nggak sangka setelah nunggu cukup lama, kecebong Galaksi tokcer."
__ADS_1
"PAPA!" protes Lintang dan Shinta kompak. Bagus tertawa, kadang sifat dan celetukkan sama dengan Galaksi. Susah memang jika pabrikannya sama.
"Semoga laki-laki ya, Tang, biar rame rumah ini. Kalian juga masing-masing sama-sama anak tunggal, harapan Papa sama Mama, anak kalian banyak, supaya ramai dan kalian bikin sejarah baru keturuan keluarga masing-masing."
Lintang tersenyum, moodnya mendadak membaik setelah berbicara dengan kedua mertuanya itu, ditambah, Shinta, sang mama mertua, tak segan untuk membuatkan Lintang masakan. Seolah mengerti posisi dirinya, Lintang begitu di manja oleh keluarga suaminya itu.
"Tapi Lintang nggak salah kan, Ma, Pa, bersikap begitu ke Karmen? Ya kan?" Lintang masih tak yakin. Namun kedua mertuanya tak menyalahkan sikapnya sama sekali.
"Hak kamu, Sayang, nanti kalau Karmen macam-macam, Mama sama Papa juga nggak akan tinggal diam, udah.. tenang dulu ya, jangan khawatir." Timpal Shinta yang kini mulai menguleg bumbu untuk chapcay. Siapa sangka, wanita dengan karir menjulang dikantor, mampu menguleg bumbu dan memasak dengan lihai di dapur. Lintang tersenyum melihat kehebatan Mama mertuanya itu.
Adjie datang, membawa satu plastik besar minuman juga camilan, dan bakso malang. Lintang tergiur, ia beranjak lalu mengambil mangkuk, Shinta melirik.
"Yah... ini sih, kayak Mama dulu hamil Galaksi, maunya jajan bakso malang, ya, Pa, inget nggak?" Shinta tertawa.
"Iya. Nggak cuma itu, Tang, waktu hamil Galaksi, Mama mertuamu itu, minta Papa manjat pohon kelapa, mau minum air kepala tapi Papa yang naik. PR banget emang," tukas Bagus. Lintang senyum-senyum, ia menatap Adjie sambil menaik turunkan alis matanya. Adjie yang paham, juga ikut tersenyum.
Di kantor Galaksi.
Ia merasakan hatinya tak tenang, ada apa gerangan? Tiba-tiba ia memikirkan istrinya yang sedang hamil muda. Ingin segera menghubungi, tapi ia urungkan karena sedang memeriksa laporan keuangan yang jelimet banget.
Kok, gue pingin minum air kelapa muda, ya?. ucap Galaksi dalam hati.
__ADS_1
bersambung,