Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Think twice


__ADS_3

Hari sabtu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Lintang ngotot naik ojol sampai ke rumah Galaksi. Jam enam pagi ia sudah sampai.


Dengan kaos over size dibalut jaket jeans modal minjem ke Adjie dan celana pendek selutut serta sendal jepit andalan, Lintang memencet bel didekat pintu rumah. Model rumah Galaksi tanpa pagar, jadi ia langsung berdiri didepan pintu bercat biru itu.


Nuansa rumahnya mirip suasana di greek. Cet rumah putih bersih, lalu pintu dan kusen berwarna biru terang.


Terdengar suara kunci pintu terbuka. Galaksi memicingkan matanya. Tampilannya benar-benar khas baru bangun tidur dengan kaos dan celana panjang kotak-kotak.


"Pagi-pagi udah minta sumbangan apa?" Ucapnya sambil mengucek matanya.


"Buka mata lo." Ucap ketus Lintang. Galaksi seketika melotot mendengar suara bidadarinya yang nggak balas satu pesan yang ia kirim sejak semalam.


"Lin," ucapnya sambil tersenyum.


"Jangan ngomong dulu. Bau naga mulut lo" jeplak Lintang yang langsung masuk sebelum sipemilik rumah menyuruh.


"Mana bre?" Tanya Lintang.


"Masih tidur. Semalem agak rewel, mau tumbuh gigi lagi kayaknya" ucap Galaksi sambil berjalan ke dapur.


"Lin, mau tea, coffee, or-me?" Ledek Galaksi dengan tatapan menggodanya. Menggoda menurut Galaksi, tapi tidak bagi Lintang.


"Udah kenyang. Mana kamar lo," tanya Lintang sambil melepaskan jaket dan menaruh didekat sofa ruang tamu.


"Tuh, pintu yang ada tulisan nama Bre. Dirumah ini cuma ada dua kamar, kiri sama kanan. Kamar mandi disini, deket dapur, pintu kaca ini bisa dibuka, biar dapet udara segar dari taman disamping ini, air kamar mandi ada pemanas, toren 1000 liter, mesin cuci sama tempat jemurin di deket taman situ. Sama-"


"Lo pikir gue pembantu harus lo jelasin kaya gitu!" Ucap Lintang sambil berkacak pinggang.


"Lo kan calon mamahnya Bre, lupa? Jadi lo harus tau lah seluk beluk rumah ini adinda" Galaksi menuang kopi yang baru ia buat dengan mesin khusus kedalam dua cangkir.


"Nggak usah banyak khayal lak, gue disini buat Breyana. Inget itu"


"Lambat laun juga lo kesini buat gue Lin, yakin gue. Asli deh"


"Terseraaaahhhh" Lintang menuju ke kamar. Membuka pintu perlahan. Terlihat Breyana masih tidur dengan selimut halus berwarna pink. Kamarnya berantakan. Wajar. Seorang duda gila sama anak balita berdua saja yang tinggal dirumah itu, jadi anggap lah area bermain anak.


Lintang tiduran disebelah Bre, menatap anak kecil itu sambil membelai kepalanya.


"Anak cantiknya tante Lintang" bisik Lintang lalu mengecup wajah balita lucu itu.

__ADS_1


Galaksi menyesap kopi sambil menatap pemandangan pagi hari yang baru. Ia berdoa dalam hati berharap pemandangan ini akan ia lihat dan rasakan selamanya. Ia sungguh-sungguh berdoa.


***


Lintang mengambil keranjang baju dan memasukan baju-baju kotor yang ada dikamar, merapihkan mainan Bre dan membuka tirai.


Ia lalu membawa keranjang kotor ke arah tempat cucian lalu memasukan kedalam mesin cuci. Galaksi yang sedang menyiram pohon jambu air yang ada dihalaman samping, melirik sambil terkekeh.


"Katanya bukan pembantu, kok nyuciin baju Lin?" Ledek Galaksi.


"Gue risih lihat rumah berantakan. Nggak rapih. Lo nyiram-nyiram aja. Sekalian tuh otak lo disiram" ucap Lintang lalu pergi menuju dapur dan menggeser pintu kaca berukuran besar yang tembus langsung ke halaman samping. Ia membuka kulkas. Tidak ada bahan untuk dimasak.


"Belanja dulu Lin? Pasar bersih di deket gerbang utama didepan sana" ucap Galaksi sambil menyodorkan cangkir kopi milik Lintang.


"Makasih," ucap Lintang sambil menyesap lalu melirik ke beberapa biji telur ayam yang ada di kotak.


"Gue bikin nasi goreng dulu deh, kasian Bre kalau bangun tidur belum ada makanan" Lintang membuka rice cooker dan ada nasi putih juga.


"Papahnya juga lapar Lin" Galaksi senyum-senyum.


"Bodo amat" ucap Lintang sambil berlalu.


Rumah Galaksi memang tidak terlalu besar, ia tidak suka, karena tinggal berdua dengan Breyana saja. Dengan mudah ia bisa memantau Breyana ketika tidur atau bermain sendiri dikamar maupun ruang tv.


Breyana sudah digendong Galaksi. Kepala balita itu bersandar dibahu papahnya.


"Hai Bre, udah bangun, minum air putih ya, jangan susu" ucap Lintang sambil meletakan tiga piring nasi goreng diatas meja makan. Khusus untuk Bre tidak ia tambah cabe rawit dan dimangkuk khusus.


"Biasanya susu Lin" ucap Galaksi sambil mengusap punggung kecil putrinya itu.


"Terus, jam berapa makannya? siang? Jam sembilan. Nggak boleh gitu,waktunya sarapan itu pagi,apalagi Bre udah setahun lebih kan. Harus mulai disiplin" ucap Lintang sambil mengambil alih Bre dari gendongan Galaksi.


"ih papah, belum ganti pampers nih anaknya udah digendong-gendong" lirik Lintang sinis sambil membawa Bre ke kamarnya untuk ambil pampers lalu ke kamar mandi.


"Anak perempuan harus bersih ya," ucap Lintang sambil ngeloyor masuk kekamar mandi yang justru diikuti Galaksi.


"Sama aja Lin, anak cewek atau cowok" ucap Galaksi bersedekap dan bersandar didepan pintu kamar mandi.


"Iya sama. Sama-sama harus bersih, tapi anak cewek harus jauh lebih bersih. Kenapa gitu? Karena, lo liat nih Bre, pampersnya udah penuh, harus di bersihin kewanitaannya, cara cebokinnya juga dari depan ke belakang bukan belakang ke depan. Kenapa gitu? Karena jarak anus sama lubang pipis anak perempuan itu pendek, kalau kena bakteri bisa jadi infeksi saluran kencing dan itu kasian, tau istilah anyang-anyangan?" Mata Lintang menatap Galaksi. Lelaki itu mengangguk.

__ADS_1


"Bagus kalo lo paham. Namanya punya anak tuh nggak boleh males apalagi karena kitanya males efek buruknya ke anak. Tolol bin dongdong itu"


Galaksi terkekeh.


"Nggak salah emang gue pilih lo jadi mamahnya Breyana lin, ilmu lo ngelebihin emak-emak yang udah punya anak"


"Elah, gitu aja ribet. Hp udah pinter, yang pake juga harus pinter lah, banyak baca banyak ilmu" Bre sudah siap kembali. Lintang mendirikan Bre diatas keset kamar mandi.


"Diri ya Bre, jalan yok selangkah-selangkah" ucap Lintang dihadapan Bre yang tampak takut.


"Ada tante Lintang, nggak perlu takut. Lest go, angkat kaki kanannya," ucap Lintang, bre masih ragu.


"Bre, peluk tante donggg" Lintang duduk satu meter didepan Bre. Kedua tangan Breyana sudah terangkat. Ingin memeluk lintang.


"Jalan, ayok, satu langkah satu langkah" pinta Lintang. Galaksi menatap Lintang dan Bre bergantian.


"Mah.." ucap Bre memanggil Lintang.


"Jalan, bisa kok, yok.." Lintang senyum-senyum.


Breyana mengakat kakinya pelan secara bergantian, badannya masih belum seimbang. Lintang mundur lagi.


"Sini Bre" pinta Lintang lagi. Lalu setelah beberapa waktu berusaha, Breyana bisa berjalan walau tiga langkah dengan kedua kakinya.


Lintang langsung memeluk lalu menggandeng tangan Bre untuk berjalan ke meja makan.


"Kita sarapan, terus mandi, terus tante Lintang pijit sebentar kakinya ya" Breyana memegang sendok ditangannya. Lintang mengajarinya memakan dengan sendok.


Galaksi juga ikut makan sambil tak lepas menatap Lintang dan Bre bergantian.


"Lintang, nikah yuk, i need you to be my wife and my daughters mom"


Ucap Galaksi sambil menatap Lintang penuh harap.


"Sorry lak. Gue harus mikir-mikir lagi buat nikah sama lo. Gue lakuin ini demi Bre. Demi Bre" jawab Lintang tanpa menatap raut wajah Galaksi yang terlihat gusar dan sendu.


TBC


...Pepet terus Galaksiiiiii 😉...

__ADS_1


__ADS_2