
Halo apa kabar, mohon maaf kalau saya jarang up ya, makasih yang udah mau ikutin kisah Lintang dan Galaksi sapai saat ini.
🌷🌷🌷
"Saya tau kamu ibu kandung Breyana, tapi saya minta kamu untuk jujur, Karmen, sekali lagi saya mau tanya sama kamu. Apa... kamu berniat bawa Breyana tinggal dan menetap sama kamu?"
Pertanyaan itu terlontar begitu lancar dengan nada bicara santai namun penuh penekanan. Lintang akan benar-benar menahan emosi dan egonya kali ini. Ia tam mau meledak-ledak apalagi gegabah. Hati Breyana yang ia harus jaga.
Karmen menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Iya, Lintang, aku memang... suatu hari nanti berniat bawa Bre tinggal dan kembali ke aku, seenggaknya satu tahun ke depan."
Lintang sudah menduga hal itu, lambat laun pasti akan begitu. Ia menunduk, mengangguk pelan. Hatinya sakit juga sedih, bagaimana ia suatu hari memang akan berpisah dengan Breyana.
"Aku minta maaf sama kamu Lintang, aku begitu naif beberapa tahun lalu, nggak mau bawa Bre untuk hidup sama aku karena menurutku, fokus saat itu ke suamiku sekarang. Aku mau memperbaiki hubunganku sama dia, di mana emang aku cintanya sama dia, bukan sama Galaksi.
Galaksi juga tau dan paham. Aku hamil karena ketidak sengajaan, niat awal memang kami nggak akan berhubungan badan selama menjalani pernikahan sama Galaksi, tapi malam itu, ya... kami sama-sama terbuai, dan aku hamil. Galaksi ngotot akan jaga Bre, itu bagian tanggung jawab dia, dan bodohnya aku, aku justru lepasin Bre yang aku sesali sekarang. Aku belum hamil sampai saat ini, aku takut ini hukuman aku karena sia-siain Bre. Aku nggak mau kecewain suamiku yang sekarang Lintang. Dia juga yang sadarin aku kalau harusnya bawa Bre saat itu. Aku... aku minta maaf Lintang."
Karmen menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya, menangis terisak. Keduanya berbicara di ruang tamu. Breyana di kamar dengan Sari, Lintang juga sudah meminta Sari untuk tidak keluar kamar selama mereka berbicara.
Tangan Lintang terulur, ia mengusap pundak Karmen yang bergetar pelan. Karmen menatap Lintang.
"Men, jujur, saya berat untuk jalanin ini, tapi saya paham posisi kamu. Aku sadar aku salah karena udah marah ke kamu karena..."
"Kamu berhak marah, Lintang, aku terima itu. Aku cuma mau dekat sama Bre, anakku sendiri." Karmen menatap Nanar.
__ADS_1
Lintang mengangguk, "Apa saya bisa percayain Bre ke kamu dan suamimu? Kamu di sana kerja apa? Bre nggak bisa ditinggal sendirian, saya nggak--"
"Aku kerja di rumah, aku translater bahasa, kalaupun ke luar rumah cuma keperluan serahin naskah buku yang aku kerjain. Bre juga bisa ikut aku ke mana-mana. Suamiku, kamu tau dia mapan dan sekarang juga kerja di cabang perusahaan yang di sini, sebentar... maksud kamu?" Karmen menatap bingung, kedua alis matanya mengkerut.
"Saya mau mastiin kalau Bre nggak akan terlantar, atau kesepian. Dari kecil dia biasa ramai di sini, dan semua kasih Bre perhatian banyak. Saya takut kalau suatu hari kamu akan bawa Bre ke sana, dia kesepian, dan itu bahaya untuk tumbuh kembang dia."
"Maksudnya, kamu izinin aku suatu saat bawa Bre tinggal sama aku?" kedua mata Karmen terbelalak, ia terkejut juga senang bersamaan. Lintang mengangguk.
Karmen menangis, memeluk Lintang yang ia tahu wanita ini berhati baik dan berjiwa besar. Emosinya memang mudah terpancing, tapi bisa ia kontrol dengan cepat juga.
"Tapi, saya punya kesepakatan yang harus kamu pelajari dan tandatangani. Ini bentuk tanggung jawab kamu dan tanggung jawab saya karena lepasin Bre ke kamu," ucapan Lintang membuat Karmen melepaskan pelukan lalu mengangguk. Lintang beranjak, ke dalam kamarnya lalu kembali dengan kertas juga pulpen di tangan.
"Kamu bisa baca, aku ke kamar Bre sebentar," pamit Lintang.
Surat perjanjian itu berisi hanya tiga poin. Pertama, jika Karmen terbukti menelantarkan Breyana, Galaksi dan Lintang akan membawa Breyana pulang dengan paksa. Kedua, jika Breyana merasa tidak betah tinggal dengan Karmen, Galaksi dan Lintang berhak membawa Breyana pulang, terakhir, Saat usia dua belas tahun, Breyana berhak memilih untuk tetap tinggal dengan Karmen atau Galaksi, sesuai hukum juga sudah legal dan Lintang tidak mau Breyana punya dua kewarganegaraan. Harus satu dan menetap.
"Saya akan pelan-pelan kasih tau Bre kalau kamu Mami kandungnya, saya juga nggak mau Breyana nanti kecewa sama saya. Galaksi udah minta saya fokus ke kehamilan ini, dan karena kembar, jadi butuh fokus dua kali lipat. Maafin saya yang..." Lintang menunduk.
"Nggak apa-apa, Lintang, aku paham. Aku cuma bisa bilang makasih ke kamu karena udah kasih kesempatan untuk bisa sama anakku lagi." Karmen tersenyum penuh rasa syukur, ia menggenggam jemari tangan Lintang. Istri Galaksi itu hanya bisa mengangguk. Lalu memanggil Breyana untuk duduk bersama ia dan Karmen.
Lintang ingin Breyana mulai terbiasa dengan adanya Karmen, pelan-pelan ia yakin jika Breyana akan mengerti. Apalagi, hati seorang ibu dan anak kandung pasti akan tetap terkoneksi baik, batin mereka yang bicara.
***
__ADS_1
Malam tiba.
Galaksi pulang dengan keadaan begitu lelah, banyaknya pekerjaan juga memikirkan Breyana dan Lintang, membuatnya kusut raut wajahnya. Lintang tersenyum, menyambut sang suami pulang di teras depan rumah.
"Kaciannya Papa Galaksi, kenapa kusut banget mukanya?" Lintang menggoda Galaksi yang mengahambur memeluk istrinya itu manja.
"Capek..., gagal fokus di kantor," keluhnya sembari memeluk erat istrinya. Ia bahkan menyandarkan kepala di bahu Lintang yang lebih pendek dari Galaksi.
"Berat Galak, ih!" Lintang memukul pelan lengan kekar suaminya itu. Galaksi mengurai pelukannya. Ia mencium kening dan perut Lintang.
"Kakak mana? Tumben nggak ikut sambut aku pulang, sombongnya Breyana, ck..ck..ck..."
Lintang tersenyum. "Bre nginep di rumah Karmen," ucapnya.
"Hah!? Kok... bisa, kamu izinin?" Galaksi mengekor Lintang yang sudah berjalan ke dalam rumah. Sari tampak sedang membereskan kamar Breyana.
"Sari, kamu nggak ikut nginep di rumah Karmen?" tanya Galaksi.
"Enggak, Pak, biar Kakak deket sama Bu Karmen, saya juga lihat Bu Karmen memang sayang dengan Bre, namanya juga anak sendiri, Ya, Pak, Bu." Sari mematikan AC kamar Breyana, lalu beralih ke dapur.
"Bu, ini sayur di panasin? Ibu juga belum makan malam. Saya siapin ya," ujar Sari. Lintang mengangguk.
"Ada apa nih, aku ketinggalan gosip rumah ini, ada ghibahan apa?" tanya Galaksi bingung.
__ADS_1
"Mandi dulu, nanti aku ceritain sambil kita makan malam." Lintang tersenyum. Galaksi mengangguk. Suasana rumah yang tenang tanpa Lintang merengut, membuat Galaksi ikut tersenyum. Ia merasakaj angin segar akan datang menghampiri keluarga mereka.
bersambung,