Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Dia


__ADS_3

Tiga minggu berlalu, Bre sudah mulai berdiri seimbang dan berjalan beberapa langkah. Galaksi senang melihat perkembangan anaknya. Lintang masih bersikap biasa, ia belum membahas tentang perempuan bernana 'Mira' yang mengganggu pikirannya.


Lintang duduk di teras rumah kedua orang tuanya. Menemani ayah yang sedang menikmati suasana pagi.


"Lin, kamu nggak ada niat mau serius sama Galaksi? Bapak lihat kamu deket sama anaknya juga, 'kan?"


"Hm... Lintang sama Galak nggak ada hubungan special kok, Pak, Lintang cuma nolongin Breyana, anaknya Galak yang belum bisa berjalan lancar. Sekarang udah bisa pelan-pelan."


"Berarti bener Ibu kandungnya pergi ninggalin anak itu gitu aja?" tanya ayah lagi. Lintang mengangguk.


"Kasian, anak sekecil itu nggak dapet kasih sayang seorang ibu, untung ada kamu."


"Maksudnya?" Lintang menoleh ke ayahnya.


"Kamu itu suka anak-anak, perduli sana anak-anak, makanya kamu suka dan mau tolong Bre, bapak lihat kamu juga sayang sama Bre kan?" Lintang mengangguk.


"Banget, Pak, Lintang sayang sama Breyana," ia tersenyum. "Tapi Lintang nggak tau kalo soal perasaan Lintang ke Galak, Lintang masih butuh waktu."


"Minggu depan tepat setahun Haga meninggal, kamu udah bisa nikah lagi, Bapak sedih lihat kamu sendirian." Ayahanda Lintang menggenggam jemari putrinya itu dengan erat.


"Pernikahan kamu sama Haga juga karena kamu iba lihat kondisi Haga saat itu, tapi dia yang sayang dan cinta sama kamu."


"Tapi disaat Lintang udah mulai sayang banget sama Mas Haga, mas Haga pergi, Pak, Lintang sendirian lagi."


"Tapi, Galaksi dateng lagi. Laki-laki yang ngejar kamu banget."


"Emang kalau Lintang sama Galak, Bapak restuin?" Lintang menatap kedua mata ayahnya lagi.


"Iya, dia anak baik. Igo beberapa waktu lalu sempet telpon Bapak, kasih pendapat dia tentang Galaksi, pandangan Igo juga sama kayak Bapak. Galaksi baik, walau suka terlalu percaya diri sampe kamu ilfeel," kedua bahu ayah Lintang bergetar dan naik turun karena tertawa geli.


"Bapak udah kena dua kali serangan jantung, Lin, Bapak udah tua. Bapak mau lihat putri Bapak satu-satunya menikah dan bahagia, Bapak nggak mau kamu sendirian, coba yakinin apa yang kamu rasain ke Galaksi. Kalo emang he is the one, go a head, jangan menatap masa lalu. Masa lalu biar aja lewat, jadiin pelajaran,hidup maju kedepan, kedua orang tua Haga juga pasti setuju, adiknya juga pasti setuju."


Lintang diam. Ia menunduk menatap kuku-kuku jarinya.


"Lintang pikirin, Pak, nggak bisa buru-buru ambil keputusan."


"Iya, inget, jangan gengsi, rugi gede-gedein gengsi." Bapak meminum obat lalu menghabiskan air putih di gelasnya, kemudian berdiri dan merentangan kedua tangan.


"Cinta itu datangnya kita nggak tau, lihat aja kamu sama Haga. Nah, sama aja sekarang kayak sama si Galak-mu itu, sebenernya kalo Bapak lihat-lihat, kamu tuh udah ada perasaan sama Galaksi, cuma kamunya kebanyakan mikir."


"Bukan kebanyakan mikir, Pak. Lintang itu tahu, di kantor Galak, ada yang suka sama dia juga. Aspri direktur ..., cantik, putih, muluslah, Lintang nggak ada apa-apanya sama dia." Lintang menatap bapaknya.

__ADS_1


"Kamu minder?" ayahnya lalu menggelengkan kepala.


"Sejak kapan nama tengah kamu jadi Lintang 'minderan' Maheswari. Lintangnya Bapak kan prinsipnya masa bodoh. Kok bisa insecure gini?"


"Bapak nggak lihat si ceweknya, Lintang mah ... tet ... tooottt," ucap Lintang sambil mengacungkan jempol ke bawah.


"Emang Galaksi ladenin? Feeling Bapak si enggak."


"Tau dari mana? Anda sungguh sok tahu baginda raja."


"Kata siapa saya sok tau, wahai putri raja. Sungguh anak tak peka," lalu Lintang dan ayahnya tertawa.


"Serius, Pak. Lintang serius. Lintang minder sama saingan-saingan di luar sana, Bapak."


"Emang sebanyak apa sih? Kamu udah cari tau?" Bapak kembali duduk. Lintang menggeleng.


"Hemhh ... kebiasaan, jangan suka ambil keputusan sepihak, coba bahas sama Galaksi, sama jangan lupa berdoa minta petunjuk-Nya, karena ini juga bukan hal pertama buat kalian."


Nasehat ayahanda Lintang ia serap baik-baik. Entah karena terlalu minder atau ragu, ia masih gamang dengan perasaannya.


***


Seorang pria bersenandung sebuah lagu dari rapper terkenal suami mbak kim kardhs (lanjutkan sendiri) yang sempat booming di beberapa belas tahun lalu. Recycle sebuah lagu lawas tapi justru membuat tubuh dan kepala pria itu manggut-manggut mengikuti gaya si rapper.


"Ah... ini lagu" ucapnya sambil membesarkan sedikit volumenya. "Untung lagi nggak bawa Breyana," lanjutnya sambil terkekeh.


Ia mengarahkan mobil ke sebuah rumah yang mungkin sudah bosan lihat wajah pria ini. Ia melihat penjual sarapan, menghentikan mobil dan turun menuju ke penjual roti bakar. Sambil menunggu pesanannya ia mengambil ponsel dan menelfon seseorang.


"Hai," ucapnya dengan senyum mengembang dari bibirnya.


"Hm," jawab lawan bicaranya


"Gue otw kevsana, Bre lagi di rumah Mama, gue gabut nggak ada kerjaan di rumah."


"Oh," jawaban singkat membuat Galaksi diam. Ia mendengkus.


"Kenapa Lin, apa gue bikin salah atau bikin lo ilfeel lagi?"


"Gue mau ngomong sama lo, penting."


"Tentang?"

__ADS_1


"Nanti pas lo udah sampe sini. Gue harus ... yakin sama diri gue dan gue butuh penjelasan dari lo."


Galaksi tertegun. Apa Lintang ragu dengannya, atau ia setuju untuk menikah dengannya, atau ia justru tidak alan memberikan jawaban apanpun dan membiarkan ini terjadi berjalan biasa saja.


"Kalau tentang lo yang nggak suka gue deketin dan minta gue jauh. I wont do that, gue akan terus ke-"


"Gue tau kalo itu. Mau sampe mulut gue berbusa,brambut gue botak, otak gue makin bundet, gue mendelik-delik, lo nggak akan nyerah."


Galaksi terkekeh.


"Karena gue serius sayang dan cinta sama lo, Lin, nggak perlu diragukan lagi soal itu."


"Kita obrolin nanti," lanjut Lintang.


"Be there. Tunggu Kakandamu ini ya Adinda."


"Sak karepmu," jawab Lintang lalu memutuskan sambungan telfon.


***


Roti bakar tiga porsi dengan tiga rasa berbeda sudah tersaji. Lintang berjalan dengan satu piring satu porsi roti rasa keju dengan dua cangkir teh manis hangat dinampan.


Ayahanda Lintang mengkode dirinya supaya berbicara dengan Galaksi. Lintang mengangguk pelan.


"Bapak sama Ibu di kamar, nggak nguping," bisik ayahanda Lintang. Lintang memicingkan kedua matanya menatap ke ayahnya.


Teras samping rumah jadi tempat Lintang dan Galaksi duduk. Galaksi menatap Lintang sambil meletakan siku di pegangan kursi dan menumpukan dagu ditangannya.


Lintang masih diam. Ia seolah sedang mengumpulkan keberanian dan merubuhkan tembok kegengsiannya. Ia menoleh.


"Mira, siapa dia?" satu pertanyan Lintang yang justru membuat kening juga alis mata Galaksi mengkerut.


TBC


...Lintang insecure pemirsah...


...😂😂😂😂...


Note :


*Sak karepmu : Terserah kamu.

__ADS_1


__ADS_2