
Aturannya, sebelum menikah itu kedua pasangan harus semakin intens komunikasi, tapi, yang terjadi di Lintang dan Galaksi justru berkurang komunikasinya. Kalau kata Meta, ujian menuju pernikahan. Well, bener si emang begitu, diuji dengan banyak hal. Ada... aja yang bikin dongkol.
"Lintang," suara perempuan memanggilnya saat ia sedang berdiri di dekat meja kasier resto. Lintang menatap.
Mira. Sebutnya dalam hati.
"Hai, apa kabar, Mir?" Lintang selalu bersikap biasa. Mira dan Lintang berjabat tangan.
"Baik, kebetulan mau makan siang sama temen, tapi nggak sama Pak Galaksi, kok."
Apa-apaan maksud nih, cewek. Lintang tersenyum.
"Galaksi lagi makan siang sama Edo, tadi udah japri saya, kok," ucap Lintang penuh wibawa. Sebagai calon istri Galaksi dan di hadapannya ada wanita yang bisa kapan saja menyalip dirinya, ia harus bisa membawa dirinya seolah sedikit ... angkuh. Padahal di dalam dirinya, ia ketar ketir jika Galaksinya di ambil Mira.
"Lintang."
"Ya," jawab Lintang dengan menatap Mira, kedua mata wanita itu menatap Lintang sendu. Ia lalu menggenggam jemari Lintang.
"Selamat ya, semoga nanti pernikahannya berjalan lancar, Pak Galaksi bisa jadi suami dan pemimpin keluarga yang hebat dan bertanggung jawab. Saya ngaku kalah, karena nggak ada apa-apanya sama kamu, Pak Galaksi memang pria yang baik, humble dan pintar. Mudah buat perempuan manapun jatuh hati sama dia, tapi pemenangnya tetap kamu." Mira menunduk sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Maaf, kalau kamu sempet nggak nyaman sama ucapan beberapa temen kantor waktu itu. Memang, saya akui, suka sama Pak Galaksi, karena pesona Pak Galaksi baik dan saya yang terlalu gede rasa."
Lintang merasa terenyuh, bagaimana seorang wanita yang jatuh cinta dengan seseorang, sanggup jujur tentang perasaannya kepada rivalnya. Ia tersenyum sambil menggenggam jemari Mira juga.
"Nggak apa-apa. Maaf, kalau calon suami saya itu udah bikin kamu atau perempuan lain menaruh harap, saya yakin Galaksi nggak niat mau kasih harapan palsu." Lintang melepaskan genggamannya.
"Iya." Mira menunduk. "Mungkin saya yang kebaperan sama sikap baik Pak Galaksi." Wanita itu memaksa tersenyum, jelas terlihat.
"Tapi bukannya Galaksi jutek ya kalau di kantor?" tanya Lintang.
"Jutek? Enggak kok, Bu, jutek kalo lagi pusing sama kerjaan, kalo di luar jam kerja, Pak Galaksi suka bercanda dan ngeledekin temen-temen atau iseng ke orang-orang, Pak Galaksi rame kalo di kantor, tapi kalau jam kerja udah mulai lagi, Pak Galaksi berubah jadi dingin dan serius."
__ADS_1
Mira tersenyum sendiri. Lintang mencoba ikut tersenyum dan mengatur napasnya, walau rasanya sedikit sesak karena wanita di hadapannya seolah begitu memuja calon suaminya.
"Sebentar, saya ada kok, foto-fotonya."
"Hah? Foto?" Lintang bingung. Mira memainkan jemarinya di layar ponsel lalu menunjukan beberapa foto.
"Ini waktu kita lagi makan bersama di ruang serbaguna kantor, Pak Galaksi nggak segan-segan isengin anak buahnya sampe ketawa-ketawa, ini waktu kemarin di Bogor, Pak Galaksi suka iseng juga ke saya. Sesekali tapi kok, itu juga Pak Edo yang ingetin buat Pak Galaksi jangan suka iseng. Ini juga ada videonya, lho," jemari Mira menekan layar video.
Lintang tersenyum, ia menatap Mira yang menjelaskan kejadian di video. Tatapan Lintang justru beralih ke Edo yang terlihat gusar dan beberapa kali berbisik ke Galaksi. Hingga Galaksi mengangguk dan menyudahi bercanda dengan jeplakannya.
"Makasih infonya ya, Mira," ucap Lintang sambil menepuk-nepuk bahu Mira.
"Iya Lintang, makanya nggak sedikit perempuan di kantor yang kecewa waktu tau Pak Galaksi tiba-tiba mau nikah. Tapi ya nggak apa-apa, kita-kita nggak sebanding sama Bu Lintang, Ibu punya tempat spesial di hati Pak Galaksi. Saya permisi ya, jadi keasikan ngobrol sama kamu, Bu Lintant"
"Bye!" Lintang melambaikan tangan. Ia diam. Merasa kembali takut. Ketakutan dan keraguan itu secara instan muncul kembali.
"Calon uler tuh, Mbak Lintang, jangan di dengerin. Dari cara penjelasannya udah kelihatan kalau dia pingin Mbak jadi kepanasan. Pak Galaksi nggak mungkin kayak gitu, saya sering lihat interaksi Mbak sama Pak Galaksi kalau pas jemput."
"Mbak coba obrolin sama Pak Galaksi, deh."
"Mudah-mudahan bisa, kebetulan saya sama Galaksi lagi jarang komunikasi, nggak tau, tiba-tiba kayak cuek-cuekan."
"Biasa itu mah Mbak, ujian mau nikah, pasti pada ngalamin, kata Ibu saya sih, gitu. Ada aja setan yang mau ganggu biar gagal."
Lintang bersedekap. "Jadi,maksud kamu, Mira itu setan?" Lintang berbisik.
"Gitu deh, Mbak," lalu keduanya terkikik geli.
***
__ADS_1
"Kita seminggu ini jarang ngobrol, Lak," ucap Lintang saat Galaksi ke rumahnya sepulang bekerja. Galaksi duduk di hadapan Lintang.
"Kan lagi sama-sama sibuk, jangan mikir aneh-aneh ya, Mama Lintang." Galaksi mengecup jemari Lintang.
"Kangen tau nggak," ucap Lintang kemudian.
WHAT!. Seorang Lintang bilang kangen ke Galaksi. Sontak hati Galaksi menghangat dan wajahnya ke GRanluar biasa. Ia berjongkok di hadapan Lintang.
"Kalo kangen peluk, dong. Sini, Kakanda juga rindu menggapai Adinda, memeluk erat hingga hati ini merasa menghangat."
Lintang sontak menatap jijay. Tapi rasa rindu itu memang tumbuh menghebat dengan cepat mengalahkan rasa jijaynya, ia memeluk Galaksi dan menyandarkan kepala di bahu Galaksi. Menghirup aroma maskulin dari parfume yang beberapa waktu ia rekomendasikan untuk Galaksi dan langsung dibeli saat itu juga. Lintang mencium pipi Galaksi dan kembali memeluknya erat.
"Maaf kalo aku sibuk banget," lirih Lintang yang tiba-tiba, mode manja dan perasaan takut kehilangan Galaksi justru terasa di hatinya. Galaksi juga memeluk Lintang tak kalah erat.
"Aku juga. Kita sampe belum pindahan " Galaksi mengusap punggung Lintang.
"Lintang,"
"Ya..." Lintang melepaskan pelukannya. Mereka bertatapan.
"Senin besok aku ulang tahun, kamu udah siapin kado buat aku belom?"
Lintang menjitak kening Galaksi. "Ada ya, orang yang ultah ngarep di kadoin." Lintang cemberut.
"Lah, boleh, dong. Apalagi dari calon istri tercinta." Galaksi menarik hidung mancung Lintang. Ia kembali duduk berhadapan dengan Lintang sambil bertopang dagu.
"Nggak ah. Boros. Ngapain nyiapin kado, nanti juga dapet kado pas kita nikah dari orang-orang, anggep aja sama." Lintang duduk bersandar dikursi teras.
"Pelit. Seenggaknya cake deh, Lin, ya, beli cake ya."
__ADS_1
"Enggak ah. Ucapan aja cukup buat kamu." Lintang tersenyum. Galaksi manyun-manyun, membuat Lintang gemas,tapi ia harus tahan untuk luluh dengan kegemasannya itu. Padahal ia sudah punya rencana surprise ulang tahun untuk Galaksi. Edo, Adjie serta Vanka sudah ia seret-seret untuk membuat kejutan ulang tahun Galaksi tiga hari lagi.
::TBC::