Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Ketemu di mall


__ADS_3

Rencana cuma dibuat manusia, tapi penciptalah yang menentukan hasil akhirnya. Galaksi cuti mendadak selama dua hari, ia menepati janji mengajak Lintang ke mall setelah pulang dari pantai. Breyana duduk di


baby stroller yang masih bisa digunakan sampai Bre lima tahunan, cukup berfungsi baik, karena model baby stroller itu yang bisa dijadikan seperti kursi dorong.


“Bu, ini bagus modelnya, bisa sampai Sembilan bulan Ibu pakai,” ujar Sari.


“Iya bener, Sar, yaudah boleh tuh, motifnya lucu, bunga-bunga. Bunga Lily kayaknya ya,” ucap Lintang. Galaksi bersama Breyana ke bagian pria, toko pakaian merek Z itu begitu menggoda Galaksi juga untuk


berbelanja, lain emang bapak-bapak satu ini, nggak mau kalah sama bininya, padahal, dari jauh Lintang sudah melotot ke arah Galaksi saat ia memegang sepatu dan beberapa kaos santai.


Dengan kode tangan yang diberikan Lintang, akhirnya Galaksi menaruh kaos kembali ke gantungan dan meminta izin membeli sepatu santai. Lintang mengangguk.


“Bre, besok-sesok, Papa mendingan sama kamu aja ke sininya, ya, Mama judes,” bisik Galaksi yang mendapat tatapan sinis dari Breyana.


“Kakak, mau beli mainan apa sepatu sekolah?” tanya Lintang yang menghampiri dengan wajah sumringah, Sari sudah repot dengan kantong belanja yang siap di bawa ke kasir.


“Bangkrut deh, aku kalau gini caranya.” Galaksi bengong dengan belanjaan Lintang.


“Tenang Papa, tanah warisan Papa masih banyak kan,” kedipan sebelah mata dari Lintang membuat Sari tertawa. Galaksi jelas hanya bercanda, ia selalu punya budget khusus untuk belanja-belanja kayak gini,


terorganisir urusan keuangan keluarga mereka.


“Ma, Mama…,” panggil Breyana. Galaksi menoleh cepat. Bahaya, Bred an Lintang itu memiliki kekompakan yang luar biasa, apalagi dalam urusan pengaduan, alias lemes, ember, dan julid.


“Apa, Kak?” jawab Lintang sembari melihat sepatu yang akan di beli suaminya.


“Kata Papa, Mama judes. Lain kali ke sini mau ajak Kakak aja, Nggak sama Mama.” Dengan santai Breyana laporan. Lintang senyum-senyum, Galaksi sudah panik dan mencolek pipi anaknya.


“Nggak apa-apa, tapi, kartu ATM dan kartu kredit Papa Galaksi, Mama simpen. Silakan, mau ke mall kek, beli apa kek, tapi nggak bisa bayar… hahay… ora wani, kan, kan, kan…”


Galaksi kalah telak. Lagi-lagi, Sari lah yang terhibur dengan keributan suami istri itu. “Puas, Sar, lihat dagelan keluarga pohon pinus ini?” sindir Galaksi yang langsung duduk lemas.


“Bapak, anaknya mau kembar, Pak, jangan boros-boros." Ledek Sari. Galaksi hanya berdecak kesal.


“Breyana,” suara itu. Lintang diam mematung, Galaksi menoleh ke arah sumber suara, begitu pun Sari. Karmen, wanita itu berdiri dengan seorang pria bule yang dipastikan itu suaminya. Karmen menatap Breyana


yang memiliki mata, dan alis mirip dirinya. Lintang mulai terpancing, tapi Galaksi buru-buru menggenggam erat jemari Lintang. Sari bingung, ia terkejut saat melihat Karmen berjongkok di hadapan Breyana yang mengernyitkan dahi.

__ADS_1


“Hai, Bre, apa kabar?” tanya Karmen sembari menahan supaya air mata tak jatuh dari pelupuk matanya. Breyana mengangguk.


“Tante siapa?” tanya Bre. Karmen diam, terkejut karena Breyana mau membalas sapaannya.


“Kenalin, aku Tante Karmen, temen Papa sama Mama kamu, apa kabar Breyana?” Karmen mengulurkan tangan. Breyana menyambut dan mencium punggung tangan Karmen. Sungguh air matanya tak sanggup ia bending.


Pria bule itu membantu Karmen berdiri lalu menghapus air mata itu. Ia segera menenangkan diri, sementara Breyana sudah tak nyaman karena suasana menjadianeh baginya.


***


Lintang memilih duduk di Starbuck, menikmati green tea latte dan blue velvet roll cake, seorang diri. Ia tak mau ikut bergabung bersama Galaksi dan lainnya yang sedang makan di salah satu resto cepat saji. Galaksi


tak bisa memaksa, ia paham dengan sifat Lintang itu, ia butuh tenang.


Resto iti berseberangan dengan Starbuck dan posisi duduk Lintang, sehingga ia bisa melihat interaksi Bre dan Karmen dari kejauhan. Bulir air mata membasahi sudut matanya, buru-buru ia hapus. Kembali menikmati


minuman juga makanan, di kesendirian.


Setengah jam berlalu, Karmen duduk di hadapan Lintang yang menatapnya cukup tak bersahabat. “Aku ucapain makasih banget, Tang, kamu mau kasih kesempatan aku makan siang sama Breyana walau sebentar.


Mendengar itu, Lintang hanya bisa tersenyum masam. Ia melirik ke Galaksi yang menunggu di luar Starbuck.


“Aku udah izin sama Galaksi, mau ajak Breyana ke apartemen aku dan suami, mau spend time sama Breyana, tinggal tunggu izin dari kamu, apa boleh?” tatapan mereka bertemu. Lintang mendengkus, ia melirik ke luar kaca, bertemu tatap dengan Galaksi yang menganggukan kepala pelan.


“Tujuannya apa? Dan kamu kenalin diri kamu siapa ke Breyana?” Lintang bersedekap.


“Aku sahabat Mama Papanya, mau ajak Breyana berenang. Sari juga ikut, aku nggak mau kalian curiga ke aku. Aku tinggal di apartemen PP, alamat detail tower berapa dan unit mana, udah aku kasih tau


Galaksi. Kamu bisa datang ke sana untuk jemput Breyana dan ju—“


“Jaga Breyana, jangan sampai dia telat makan sehabis berenang, Bre nggak suka minya kayu putih, dia suka minyak telon, Bre nggak suka buah Melon, dia paling suka jeruk sama apel, jangan kasih—“


Karmen menggenggam jemari Lintang. Ia mengangguk, begitu haru karena Lintang memberi izin. Lintang melepaskan pelan jemari tangan Karmen di dirinya.


“Bukan berarti kamu bisa bawa Breyana dan kasih tau ke dia kalau kamu Mama kandungnya. Sekali aku denger Breyana tanya siapa kamu sebenarnya, atau apa kamu Mama kandungnya. Seumur hidup aku tutup akses kamu


untuk deketin Breyana. Paham.” Lintang menatap tajam layaknya induk singa yang

__ADS_1


melindungi anak-anaknya. Karmen mengangguk.


“Aku akan tepatin janji aku, Lintang, kamu bisa pegang kata-kata aku. Aku jemput Breyana besok, langsung di sekolahnya ya, aku juga mau tau sekolah Breyana, makasih Lintang, sekali lagi aku sangat berterima


kasih sama kamu.”


Lintang hanya mengangguk. Karmen pamit, ia beranjak dan keluar dari Starbuck lalu menghampiri suaminya yang langsung ia peluk. Pria bule itu juga mengucapkan terima kasih ke Lintang yang memberi anggukan sekali.


***


“Sssttt…, cewek, bengong aja dari tadi,” Galaksi memanggil Lintang yang duduk di sofa dekat jendela kamarnya, menatap lurus ke langit malam yang dipenuhi bintang.


“Lak, apa aku harus mulai cerita ke Bre siapa aku yang sebenarnya? Aku kepikiran kata-kata kamu, takut malah nanti Breyana benci sama aku di masa depan, aku nggak mau, Lak…” tatapan Lintang sendu. Galaksi


beranjak dari rebahannya di ranjang. Duduk merapat tepat di sebelah istrinya yang tampak cantik dan anggun dengan perut yang mulai terlihat bentuk buncitnya.


“Kita obrolin bareng-bareng aja, ajak Karmen ketemu Mama dan Papa aku juga, kita harus satu suara, supaya Breyana nanti nggak bingung.” Galaksi merangkul bahu Lintang, istrinya itu menyandarkan kepala di


bahu Galaksi.


“Kalau Breyana dibawa Karmen pergi gimana? Atau Bre minta ikut Karmen?” ketakutan terasa jelas oleh Lintang, Galaksi berusaha menenangkan istri tercintanya itu dengan kecupan-kecupan ringan di puncak


kepalanya.


“Kita yang harus belajar ikhlas, Breyana masih punya Mama kandungnya, yang emang harus di kasih kesempatan untuk tau anaknya selama tujuannya baik. Aku yakin, Karmen baik ke anaknya, dia pergi ninggalin aku dan


Bre karena dulu kami kurang komunikasi untuk keputusan urus Breyana. Karmen saat itu juga lagi ribut sama orang tuanya yang kaget karena kita berdua memilih cerai, dia pergi untuk nikah sama si bule itu. Cintanya dia sama bule


itu, bukan aku, dan aku juga, sama kamu bukan sama Karmen. Tapi kami punya Breyana, yang nggak salah apa-apa dan sekarang takut di bikin bingung. Kita pikirin lagi nanti bareng-bareng, sekarang istirahat dulu. Kasian si kembar, Mamanya seharian sendu, kita tidur berempat yok, aku usap-usap sini perutnya.”


Galaksi beranjak, menggandeng tangan Lintang menuju ke ranjang.


“Usap perut, jangan modus usap ke yang lainnya.” Tegur Lintang judes.


“Bonus kalo itu Mama Lintang, tergantung ke mana nanti tangan Papa bergerak, elus atas atau elus bawah,” lanjut Galaksi yang direspon pelototan dari Lintang. “Gemesnya bumil ini…” Galaksi mengecupi bibir Lintang yang manyun-manyun, lalu membawanya ke dalam pelukan dan mendekapnya erat.


Galaksi tau Lintang galau, ia tak ingin membuat kehamilan istrinya bermasalah dengan keadaannya yang membingungan itu.

__ADS_1


__ADS_2