Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Siapa dia?


__ADS_3

Galaksi dan Lintang berpisah kembali karena Galaksi dan keluarganya harus kembali ke Jakarta. Mobil Galaksi juga sudah di bawa Adjie lebih dulu saat ia pulang ke Jakarta beberapa waktu sebelumnya. Breyana menangis saat harus berpisah kembali dengan mamah lintangnya.


"Nanti Mama ketempat Bre, ya, sekarang Mama kerja dulu oke?" Akhirnya Bre mengangguk dan mencium pipi Lintang.


"Hati-hati ya, Ma, Pa," lalu Lintang menatap Galaksi yang sudah duduk di kursi penumpang bagian depan.


"Galak, hati-hati." Lintang melambaikan tangan. Tatapan Galaksi sendu. Ia tidak ingin meninggalkan Yogya tanpa jawaban pasti. Tetapi ini yang terjadi. Lintang juga masih belum bisa memberikan jawaban jelas. Ia masih harus memikirkan dan menata hatinya kembali. Ia tidak ingin ada paksaan atau bujuk rayu dari siapa pun.


Mobil pun pergi meninggalkan pekarangan kecil rumah keluarga Lintang di sana. Lintang berjalan ke dalam rumah. Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur kamarnya. Memejamkan kedua mata, mencoba meresapi dan memikirkan apa yang di mau hatinya.


***


Foto breyana terpajang di toko dengan cantik, dekorasi anyar baru saja Lintang pasang.


"Anak Mama cantik," ucap Lintang sambil tersenyum menatap wajah Bre yang sedang tertawa sambil memegang beberapa cup cakes. Ia sempat melakukan sesi foto sata Bre di Yogya untuk keperluan promosi dan menaruh di toko juga.


"Permisi Bu Lintang, ada yang cariin Ibu di depan, katanya dari media online." Karyawan Lintang menunjuk ke arah luar toko.


"Oke, makasih, Ya." Lintang tersenyum lalu menemui orang tersebut.


"Dengan Lintang?" ucap pria berwajah seperti orang Philippine dengan postur tubuh mirip seperti Galaksi. Tinggi, tegap dan tampan. Kulitnya putih.


"Iya, anda dengan?" tanya Lintang menunjuk ke pria tersebut.


"Javi, Javier," ucap pria itu sambil mengulurkan tangan ke hadapan lintang.


"Lintang." Sapanya balik.


Mereka lalu duduk di tempat duduk yang ada di dalam toko. Javi dari media online ternama di Indonesia, ia seorang reporter lapangan. Ia ingin me-review toko cup cake yang sedang booming milik Lintang.


Wawancara berjalan santai, sesekali bahkan Lintang dan Javi saling melempar senyum dan tawa. Javier menatap Lintang dengan tatapan terpesona.


"Setelah toko tutup kamu ada rencana ke mana, Lintang?" tanya Javi sambil merapikan kamera yang ia pakai untuk memoto Lintang sebagai profile dan beberapa hal yang ada di toko.


"Pulang," jawab lintang singkat.


"Makan bakso, Yuk," ajak Javi. Kedua tatapan Lintang berubah dingin dan curiga.


"Nggak usah curiga gitu, sekedar ucapan terima kasih, karena udah mau diwawancara tanpa perjanjian." Javi terkekeh kecil.


"Oh, kayaknya nggak bisa, deh, aku udah ada janji sama Ibuku" jawab Lintang, lalu beranjak dari duduknya.


"Ok. Kalo gitu aku pamit. Makasih buat wawancara dadakannya, dan semoga semakin sukses, ya," keduanya berjabat tangan. Lintang mengangguk. Javi melepaskan jabatan tangan sambil tersenyum.


Pintu toko terbuka. Tiga sosok yang ia tak sangka-sangka ada di hadapannya. Edo, Adjie dan Dastan.


"Kalian!" Pekik Lintang sambil memeluk Edo, Adjie dan Dastan bergantian.

__ADS_1


"Bang Dastan makin sangar, ih!" Ledek Lintang. Dastan senyum singkat lalu melirik ke Javi.


"Siapa dia?" tanya dastan ke Lintang.


"Reporter media online, bang," ucap Lintang lalu menoleh ke Javi.


Javi sempat menatap Lintang bersama tiga lelaki itu sambil tersenyum. Javi seperti merasakan cinta pada pandangan pertama. Ia harus berterima kasih kepada kantornya karena mengutus ia ke Brey's cup cake and pastry.


***


Teras rumah Lintang menjadi saksi obrolan ngalor ngidul ke empat orang itu sambil memakan sate ayam yang sudah habis hampir enam puluh tusuk. Belum lagi lontongnya, penjual sate yang suka lewat di depan rumah Lintang di Yogya itu seperti mendapat angin segar karena dagangannya belum habis hingga jam sepuluh malam.


"Bang Dastan yang bayar!" Palak Lintang sambil menghabiskan teh manis hangatnya.


"Lebihin, Bang, buat Bapak penjual satenya. Bang Dastan, kan sultan," ucap edo santai.


"Lebihin ke gue juga, Bang, bagi duit jajan." Palak Adjie. Dastan ngedumel tapi ia tetap mengeluarkan dompetnya.


"Nih, bayarin ke tukang satenya." Dastan memberikan uang seratus ribu sebanyak lima lembar ke Adjie.


"Buat gue mana, Bang?" Tangan Adjie sudah berada di depan tangan Dastan.


"Nanti gue transfer. Adek-adek kurang ngajar kalian." Dumel Dastan yang berubuh tinggi dan kekar itu. Edo dan lintang tertawa melihat muka Dastan yang pasrah dipalak.


"Igo kapan balik?" tanya Dastan sambil menghisap rokoknya.


"Kapan kenalin kita ke calon istrinya, gue denger kabar, kalian udah mau nikah?"


"Nanti. Pasti gue kenalin ke kalian semua." Dastan tersenyum.


"Bang Dastan sekarang sering senyum. Makin tajir juga, calon istri Bang Dastan hebat bisa bikin The Black Wings jadi cewiwi! Sayap ayam!" Edo ngakak. Dastan melempar bungkus rokok yang masih terisi penuh ke kepala Edo.


"Hasek! Rokok gratis turun dari langit!" celetuknya.


"Dia beda. Gue nggak pernah ketemu cewek senerima dia, dia rumah semuanya, ah! Udah lah, kenapa ngomongin gue. Elu Lintang, udah janda, mau nikah malah batal, sekarang mau apa lagi, udah, jalanin lagi sama Galaksi sana!"


Lintang mendengkus dan bersandar ke dinding yang ada di belakangnya.


"Gue bingung, Bang. Bayangan kejadian itu masih bikin gue sakit dan marah," ucap lintang sendu. Dastan terkekeh.


"Apa kabar gue, mantan **** boy legend, ***** mana di sana yang belum pernah gue jajal dulu, tanpa gue cari mereka suka rela datengin gue, dan calon istri gue ini malah bilang. 'Kamu yang dulu nggak perlu aku tahu dan aku ingat, kita jalan bersama ke depan sekarang. Manusia selalu punya sisi buruk dihidupnya. Nggak perlu kita bahas kalau sudah ditinggalkan' Lintang, gue cuma kepingin elo lupain, ikhlasin yang udah terjadi sama Galaksi dan Mira. Toh, kenyataannya Mira hamil bukan sama Galaksi. Gue tanya ke Mira waktu itu. Valid informasi gue, Lin."


"Nggak tau, lah, Bang." Lintang menunduk.


"Payah lo!" Dastan mengusak kepala Lintang.


"Tang! Lintang! Woy!" Teriak Adjie yang terus mendekat. Semua mata menatap ke arah Adjie.

__ADS_1


"Lo dicariin sama, siapa nama lo?" tanya Adjie.


"Javier," ucapnya.


Lintang beranjak. Ia menatap Edo dan Dastan. Sedangkan Adjie melempar sebungkus rokok ke Edo. Adjie mengkode Edo atas ke datangan Javier.


"Malam semua," salam sopan Javi ke Lintang dan ketiga bodyguardnya.


"Malam," jawab Edo. Dastan diam dengan tatapan menghunus tajam ke mata Javi.


"Lintang," sapa Javier. Lintang dan Javi sudah berdiri berhadapan.


"Ada apa? Kok bisa tau alamat rumah aku?" tanya Lintang.


"Tadi siang kita kan ngobrol, Lin, dan aku tau daerah sini."


"Oh, ada apa kalo gitu ke sini?" tanya lintang lagi.


"Tadinya mau ajak kamu makan di luar, tapi udah kemaleman karena aku juga baru balik dari kantor. Jadi, sekedar mampir aja ke sini."


"Oh, gitu," jawab Lintang yang bingung harus bersikap apa.


"Mmm... ok, aku pulang kalau gitu, sampai ketemu lagi, ya." Javier tersenyum kaku sambil melambaikan tangan ke Lintang.


"Bye." balas Lintang.


"Permisi semuanya, selamat malam." Pamit javier. Javier pergi menjauh keluar area rumah lintang. Lintang dan Adjie masuk ke dalam rumah karena membawa gelas dan piring kotor.


Dastan mengambil ponsel dan menelfon anak buahnya.


"Cari tau informasi tentang laki-laki bernama Javier, reporter media online di Yogya,"


"...."


"Ok. Makasih" ucap dastan sambil menatap ke Edo.


"Galaksi kepepet nih bisa-bisa, Bang," ucap Edo.


"Kita lihat nanti dari Lintangnya sendiri, Do, respon Javier atau nggak. Kita juga nggak bisa paksain perasaan orang kalau emang Lintang nggak ada rasa sama Galaksi lagi," ucap Dastan santai sambil menghembuskan asap rokok dari bibirnya.


Di Ibu kota.


Galaksi diam merenung di balkon kamarnya, ia memikirkan apa yang harus ia lakukan agar Lintangnya mau kembali lagi dan tujuan mereka menikah bisa terlaksana. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menghela napas.


"I want you, Lintang," lirihnya.


 

__ADS_1


__ADS_2