
Hai readers, maaf lama updatenya ya. Terima kasih sabar menunggu.
________________________________________________________
Lintang dikejutkan dengan Breyana yang tiba-tiba demam tinggi, Sari membangunkannya tengah malam, Galak juga ikut terbangun. Breyana, kemarin saat di sekolah memang ikut ekskul renang, Sari sudah melarang karena Breyana tampak tak enak badan, namanya anak kecil, dilarang malah menangis. Sari jadi merasa bersalah, tapi Lintang dan Galaksi tak masalah, sudah saatnya sakit ya sakit saja, pikirnya. Karena ia tau Sari menjaga Breyana begitu penuh perhatian juga sayang.
IGD menjadi saksi tangis Lintang saat dokter memberitahu jika Breyana tipes sehingga harus dirawat intensif di rumah sakit. Sari juga ikut menangis, bahkan meminta maaf kepada Lintang dan Galaksi.
"Kamu nggak salah Sari, saya cuma sedih lihat anak saya dipasang infusan sampai Breyana nangis jerit-jerit. Ibu mana yang nggak sedih, udah, kamu jangan sedih juga." Lintang mengusap lengan Sari. Ketiganya masuk ke kamar rawat kelas VIP itu, tubuh Breyana masih demam tinggi, Galaksi mencium kening putrinya yang terus memeluk Lintang yang mau tak mau memiringkan posisi tidurnya.
"Sari, pulang sama supir, siapin baju Breyana, saya sama Lintang di sini dulu," perintah Galaksi. Sari mengangguk. Ia pamit pulang setelah mengusap tangan Breyana yang terpejam matanya tapi menggigil.
"Kmau tidur, Tang, nyamanin posisinya, kasihan si kembar takut ketendang Breyana," perintah Galaksi. Lintang mengangguk. Galaksi membenarkan posisi Breyana supaya kedua manusia yang begitu Galaksi cintai, bisa nyaman dengan posisi tidurnya. Televisi dinyalakan, Galaksi tidur di sofa sembari menonton. Ia sempat mengirimkan pesan ke pihak kantor - HRD tepatnya - untuk memberi tahu jika Breyana dirawat di rumah sakit. Pihak kantor akan mengurus untuk asuransi kesehatan Breyana.
"Lak," panggil Lintang. Galaksi beranjak, berjalan menghampiri Lintang yang mendadak bilang pusing, Galaksi menghampiri, badan Lintang mendadak demam. Ia panik, lalu saat mencoba membantu Lintang bangun, justru Lintang pingsan.
***
Kedua mata Lintang mengerjap, ia merasakan silau dengan cahaya lampu. Mendadak ia teringat Breyana. "Bre! Bre!" panggilnya histerin. Galaksi mengusap wajah istrinya, lalu mencium lama kening Lintang.
"Udah sadar, lama banget pingsannya," ledek Galak.
"A..aku pingsan?" tanyanya. Galaksi mengangguk.
"Kamu kecapean, di rumah kamu beberes kamar untuk si kembar? Kan masih lama Lintang, sampai kurang makan sama minum, iya?" tanya Galaksi tegas. Lintang diam, lalu mengangguk.
__ADS_1
"Bre mana?" tanya Lintang celingukan.
"Ada di kamar sebelah, udah ada Sari, sama--" Lintang tau sorot mata itu.
"Kamu telpon Karmen?! Buat apa! Aku Mamanya Breyana Galaksi!" bentak Lintang. Galaksi menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan.
"Iya, kamu Mama Lintang, tapi Breyana punya Mami kandung, Karmen, dia berhak jaga dan rawat Breyana juga Lintang," begitu lembut dan pelan penyampaian Galaksi. Lintang bersingut, ia merasakan nyeri di perutnya. Galaksi mulai kesal.
"Kamu, lagi hamil. Anak kita berdua, kembar. Kamu, butuh istirahat dan makan yang cukup. Jangan mikirin yang bukan hak kamu. Breya, anak kita juga ada ibu kandungnya, Tang, tolong... aku minta tolong untuk jangan biarin hati dan pikiran kamu terbeban sama hal ini. Breyana nggak ke mana-mana, dia sama Maminya, bahkan suami Karmen juga ikut nungguin, Bre, kamu, istirahat dulu. Aku, suami kamu, mohon dengan sangat Lintangku. Please, jangan bahayain si kembar karena kamu egois ke Breyana." Galaksi berbicara sembari menangkup wajah Lintang yang menatapnya sebal, ia memalingkan wajah, baginya Breyana bagian hidupnya juga, terlalu sayang dan cinta dengan putrinya itu sehingga kadang justru mengalahkan hal penting lainnya.
"Sayangku," lirih Galaksi, perlahan ia naik ke atas ranjang rumah sakit, membawa Lintang ke dalam pelukannya, mengecup lama kening wanita yang begitu ia cintai. "Kasih kesempatan Karmen untuk tebus kesalahannya, kasih kesempatan dia untuk rasain urus Breyana dan jadi Ibu untuk Breyana, walau Bre terus panggil dia Tante, pelan-pelan, seiring berjalannya waktu, Breyana harus tau siapa Karmen. Aku nggak akan minta persetujuan kamu, aku udah putusin ini. Aku mohon, Lintang, jangan marah sama aku apalagi benci. Karmen, nanti yang akan urus Breyana setelah pulang dari sini, aku udah bahas tadi sama suaminya juga, mereka setuju untuk sewa rumah dekat kita, beda lima rumah, dan nanti akan antar jemput Breyana."
"Aku nggak--" sela Lintang. Galaksi menatap tajam istrinya itu.
"Bre akan tinggal sama kita, tapi, sesekali nginep ditempat mereka. Kalau kamu di posisi Karmen, kamu nggak mau kan dipisahkan disaat kamu mau berusaha dekat sama anak kamu?"
"Tapi kalau Karmen..."
"Karmen nggak akan macam-macam, Mama dan Papaku juga pasti pantau mereka. Istirahat, aku nggak mau Mama Lintang stres, si kembar nanti ikut stres. Udah cukup Papanya aja yang stres," kekehan Galaksi membuat Lintang kesal, ia mencubit lengan suaminya yang memeluk juga mengusap punggungnya. Lintang lelah, ia kembali terpejam, rasa kantuk begitu ia rasakan datang menghampiri.
Breyana, ia akan memantau apakah perkataan Galaksi benar tentang Karmen, jika wanita itu macam-macam, maka ia akan menyeretnya ke jalanannya dan memakinya hingga puas.
***
"Mama," tangis Breyana terisak saat melihat Lintang yang masuk ke kamar Breyana dengan tangan terinfus juga, dokter meminta Lintang bedrest, tapi wanita itu ngotot mau bertemu Breyana. Akhirnya, Lintang duduk di kursi roda dengan Galaksi yang mendorong di belakangnya.
__ADS_1
"Sayang..." Lintang merentangkan tangan, lalu mengusap air mata Breyana yang membasahi wajahnya.
"Mama ke mana?" tanya Bre sembari terisak.
"Mama di kamar sebelah, maaf ya, Mama nggak temenin, Kakak," tangan Lintang mengusap wajah Breyana lalu menciumi hingga bocah itu berhenti menangis. Karmen yang berdiri di dekat ranjang, begitu sendu melihat hal di depan matanya.
"Bre di temenin Suster Sari, kan, sama Tante Karmen, kan?" ujarnya. Karmen tersenyum, lalu mengangguk.
"Mama sakit?" tanya Bre. Ia menangis lagi saat melihat tangan Lintang terpasang infusan.
"Bre, nggak boleh cengeng." Tegur Galaksi tegas. Lalu putrinya menghapus air matanya cepat dengan punggung tangan.
"Ay..ay.. kapten." Jawabnya. Membuat Galaksi menahan tawa, Karmen dan Lintang melongo sembari menatap tajam ke Galaksi. Pintu terbuka, tampak suami Karmen datang dengan empat kopi panas dari Starbuck, hari sudah pagi, sarapan dari rumah sakit hanya untuk pasien. Kafka menerima segelas kopi untuknya, lalu memberikan milik Karmen juga Sari. Dengan percakapan bahasa inggris, para orang tua membicarakan kondisi Breyana dan Lintang, membuat Breyana bingung.
"Kakak mau pipis? Yuk sama suster," ajak Sari. Breyana mengangguk, ia juga membawa baju ganti untuk Breyana.
Setelah berbicara, Lintang mau tak mau menuruti saran Galaksi dan permohonan Karmen, ia menatap Karmen dengan serius. "Jaga anakku. Aku kasih kamu kesempatan untuk dekat dengan Breyana, tapi jangan jauhkan aku dari dia. Dia putriku." Lintang begitu tegas, masih tersulur emosi. Karmen mengangguk, ia mengerti. Perlahan mendekat, lalu memeluk Lintang yang duduk di kursi roda.
"Terima kasih, Lintang, terima kasih."
Bersambung,
__ADS_1