
Galaksi menatap istrinya yang sudah menghabiskan dua kelapa muda langsung dari kelapanya, alias masih murni tanpa tambahan gula. Mereka duduk di warung kelapa muda yang ada di dekat pantai di daerah Anyer, Banten. Ngidamnya Lintang kali ini kelewatan, sebelum subuh, Galaksi dibangunkan Lintang yang langsung bikin panik karena dengan mengguncang-guncangkan tubuh suaminya itu yang sedang menikmati mimpi
indah.
“Ke Anyer, ayok. Aku mau minum air kelapa muda di sana. Cepeettt...,” rengekan itu jelas pemaksaan. Galaksi mau menolak tak mungkin, akhirnya sembari berjalan dengan muka bantal dan mata masih semi melek, ia berjalan ke kamar mandi, sementara Lintang membangunkan Breyana dan pengasuhnya. Lintang sendiri sudah
siap dengan training satu stel warna abu-abu terang.
Dan di sinilah mereka, duduk di tepi pantai, pukul tujuh pagi, dengan Galaksi yang harus memaksa pemilik warung membuka kiosnya karena Lintang yang udah kepingin banget minum air kelapa muda itu. Kedua mata
Galaksi menatap istrinya yang diam sembari menikmati hembusan angin laut yang menerpa wajahnya, membuat rambut panjang Lintang terbang ke sana- ke sini.
“Mikirin apa lagi? Aku udah turutin ke sini, sampe aku cuti dadakan, hum?” Galaksi merangkul bahu istrinya lalu membawa bersandar di bahunya.
“Kamu lihat, Breyana ceria banget kita ajak main ke sini, aku nggak kebayang kalau pisang sama dia, Lak,” lirik Lintang sedikit mendongak lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher suaminya yang harum walau
belum mandi, masih pakai piyama tidur juga.
“Nggak, aku juga nggak akan biarin Bre di bawa Karmen gitu aja. Tapi, Tang, emang Karmen punya hak buat deket atau kenal Breyana. Kita salah kalau larang dia.” Galaksi menatap putrinya yang asik bermain pasir sambil disuapi sarapan burger yang mereka beli di rest area sebelum sampai ke pantai. Helaan napas Lintang terasa di leher Galaksi, ia mengusap lengan Lintang mencoba menyalurkan kekuatan juga ketenangan dalam
menghadapi masalah itu.
“Kamu tau, kenapa aku ngotot banget larang Karmen deketin Breyana, Lak?” tanya Lintang sembari merapatkan sandarannya ke Galaksi. Keduanya duduk di atas pasir beralaskan kain yang sudah Lintang siapkan.
“Cemburu dan takut kehilangan, kan?” jawab Galaksi sembari mengecup kening istrinya itu.
“Iya, ada yang lainnya juga,” sanggah Lintang.
“Apaan?” Jemari Galaksi masih mengusap lembut bahu hingga lengan Lintang.
__ADS_1
“Aku dendam sama Karmen, biar dia tau rasa sia-siain anaknya sendiri.”
Galaksi terkejut, ia bahkan melepaskan rangkulannya dan menatap Lintang serius. “Kenapa bisa gitu? Dia nggak ada salah sama kamu, kan? Kenapa kamu terkesan wakilin Bre yang nggak tau masalah ini? Kamu jangan
ajarin Bre untuk balas dendam dan sebel sama Mama kandungnya sendiri, Tang. Kamu nanti yang akan susah di masa depan. Kamu yang nanti di salahkan Bre. Gimana juga Mama kandungnya dia masih hidup, dan sehat, kamu nggak ber—“
Galaksi diam. Lintang menangis, bibirnya mengkerut dan bergetar pelan. Dengan punggung tangan, Lintang menghapus air matanya. Ia diam, menatap lurus ke arah laut lepas yang begitu tenang. Kini justru Galaksi yang
merasa tak enak hati karena menegur Lintang begitu panjang lebar.
“Lintang…, Mama Lintangnya Bre, aku nggak maksud marahin atau bentak kamu, sayang. Aku cuma mau ingetin fakta, kalau Bre harus tau siapa Mamanya yang asli, Mama kandungnya, kita nggak bisa larang dia untuk
dekat. Maaf ya, Tang, kelepasan marahin kamu.” Galaksi memeluk Lintang lagi, istrinya itu diam saja saat Galaksi memeluknya.
Sungguh, Lintang tak marah dengan suaminya, karena mendadak ia tersadar dan dengan cepat mencerna ucapan Galaksi tadi sehingga begitu masuk ke dalam hatinya tanpa aba-aba. Breyana mendekat, langsung memeluk
***
Kamar hotel.
Breyana tidur di kamar lain dengan pengasuhnya. Sementara Lintang dan Galaksi kamar lain yang ada bathupnya. Lain lah kalau suami istri ini, bisa aja modusnya.
Galaksi dan Lintang berendam di air yang suhunya sudah di sesuaikan dengan kebutuhan Lintang yang sedang hamil. Busa sabun juga begitu banyak menutupi tubuh mereka. Cumbuan-cumbuan mesra menjadi penambah kenikmatan mereka berendam di dalam sana.
“Lak…,” panggil Lintang.
“Hum,” Galaksi terus mencumbui leher mulus Lintang yang bebas terekspos karena rambut istrinya itu yang digulung menyatu ke atas kepalanya semua. Membuat Galaksi bebas melakukan apa saja kepada leher istrinya
itu.
__ADS_1
“Itu, kemarin, aku sama Mama ke dokter, Mama penasaran sama kandungan aku, dan—“ Lintang menjeda kalimatnya sejenak. Galaksi menyudahi cumbuannya, menatap Lintang lekat. Menggesek ujung hidung mancungnya ke pipi Lintang. Jemari Lintang melingkat di leher Galaksi.
“Apa, sayang?” bisik Galaksi sensual di telinga Lintang lalu kembali mencumbu sekilas bibir Lintang.
“Kembar, Lak, ada dua kantong rahim.” Jawaban Lintang membuat suasana hening. Tak ada yang bergerak, bahkan busa pun ikut membeku.
Lintang menatap suaminya, melihat reaksi apa yang akan muncul dari pria dengan predikat manusia iseng dan tingkat percaya diri maksimal tak terkalahkan. “Kok, bengong?” Lintang menangkup wajah suaminya. Lalu
perlahan Galaksi menangis namun ia juga terkekeh.
“Kem—bar? Beneran?” tanyanya ke Lintang yang dijawab anggukan.
“Alhamdulillah…! Yes!” teriak Galaksi lantang. Ia memeluk Lintang, lalu menciumi wajah istrinya itu. Galaksi memeluk erat, ia menangis bahagia.
“Lak, kembar lho ini… kamu harus ekstra kerja keras untuk kebutuhan mereka,” ujar Lintang sembari mengusap punggung suaminya.
“Tenang. Tanah warisan masih banyak, jangan di pikirin.” Celetukan ala Galaksi mampu membuta Lintang tertawa. Galaksi meminta Lintang berdiri, lalu berjalan ke bilik kaca untuk membilan tubuh mereka.
“Ayok cepetan bilasnya,” Galaksi bersemangat sekali, membuat Lintang bingung sembari mengilangkan busa di tubuhnya dengan shower yang di pegang suaminya.
“Apaan si, Lak?” tanya Lintang bingung yang kemudian membantu Galaksi berbilas.
“Mau nengokin si kembar, yuk… yuk, lets go, baby…” Galaksi menyambar dua handuk, satu ia lilitkan di pinggangnya, satu lagi ia menutupi tubuh telanjang istrinya.
“Galak! Ih… kirain mau ajak ke mana, ke kasur lagi.. ke kasur lagi… ih…!” Lintang menghentakan kaki.
“Tempur dulu, besok pulang dari sini, ke emol, Mama Lintang butuh baju hamil baru kan, Papa beliin, tapi… service dulu, dong, ayo Mama…” ucap Galaksi dengan nada berat yang dibuat-buat. Buyar sudah ambekan Lintang
yang berganti gelak tawa. Emang sableng punya suami komedi banget. Belum tau aja nanti kalau si kembar mulai minta ini itu, rasakan kau Papa.
__ADS_1