
Pagi-pagi Lintang sudah siap dengan hasil masakan untuk keluarganya sarapan. Tidak heboh, ia hanya iseng masak nasi gurih dan ayam goreng rempah, terinspirasi sehabis nonton mister chep di TV beberapa waktu lalu. Wajahnya melihat dengan puas makanan yang sudah tersaji.
"Lintang, nanti untuk lamaran di sini kan, nggak sewa-sewa lokasi lain?" tanya ibu sambil meletakkan piring di atas meja makan.
"Di sini kok, Galaksi juga udah bilang ke keluarganya, Lintang pesen ketering nanti."
"Loh, bukannya dari resto ya?"
"Iya. Cuma Lintang nggak mau kalo gratis, walau Om Kim ngotot mau kasih gratis, Lintang nggak mau, bisnis ya bisnis, profesional," ucapnya seraya mengambil beberapa gelas dan menuangkan air putih ke dalamnya.
"Iya, jangan mentang-mentang saudara punya usaha, kita minta diskon terus, apa lagi gratis, justru kita dukung buat semakin majuin usaha mereka."
"Betulll ... Ibuku."
"Panggil Bapak sama Galaksi sana, kalian mau jalan jam berapa nanti?"
"Jam sembilanan blBu, cuma survey ke beberapa tempat aja kok."
Galaksi. Pagi-pagi sudah asik nongkrong di rumah Lintang. Lintang padahal masih pingin santai-santai, tapi suara Galaksi sudah membuyarkan angan-angan leyeh-leyehnya di kamar. Lintang memanggil ayahnya dan Galaksi yang sedang ngobrol di teras depan, mereka lalu masuk dan duduk berempat di meja makan.
"Bre ajak ke sini dong Galaksi, Ibu mau ketemu cucu juga kan," perkataan ibunda Lintang membuat senyum Galaksi merekah sempurna, ia juga mengangguk.
"Atau nggak.., Bre nggak usah deh, taruh di day care, di sini aja, Ibu yang urus nggak apa-apa, biar rame rumahnya," kali ini Lintang yang menoleh dengan tatapan enggan.
Bukan apa-apa, kembali ke prinsip Lintang, mereka belum ada ikatan resmi dan sah, ia takut kalau keluarganya atau Galaksi terlalu dekat sebelum semua sudah jelas, baik di agama atau di atas kertas.
"Nanti coba Lintang obrolin sama Galaksi ya, Ibu." Lintang menatap Galaksi. Galaksi mengangguk setuju dengan pendapat Lintang.
"Rencananya, berapa orang dari keluarga kamu yang dateng sabtu minggu depan Galaksi?" tanya ibu lagi.
"Dua puluh, Bu, kebetulan ada Tante dan keluarganya yang datang dari luar kota, jadi sama Mama diminta ikut juga."
"Ok, soalnya Ibu mau bilang ke Om Kim sama Tantenya Lintang buat urusan makanannya, malu-maluin kalau sampe kurang, 'kan?" ibunda Lintang terkekeh.
"Iya Bu, dan untuk biayanya nanti saya kasih ke Lintang ya dananya."
"Eh, jangan, ini harus dari pihak perempuan. Tenang aja, ya."
"Tapi saya—" kata-kata Galaksi terpotong Lintang yang menggenggam jemarinya.
"Tradisi eyang, kita turutin aja, Lak," ucap Lintang. Galaksi mengangguk.
***
Mereka pergi sesuai jadwal, jam sembilan pagi mobil yang dikemudikan Galaksi melaku membelah jalanan Ibu kota.
"Belok kiri Galakkk...!" ucap Lintang sambil menatap map yang ada di ponselnya.
"Kiri depan lagi kali, Lin." Galaksi ikutan mengarahkan.
"Dibilangin kiri sini, tuh, gedungnya kelihatan, ngeyel banget , sih!" dumal Lintang. Galaksi terkekeh sendiri.
Gedung pertama mereka datangi, keduanya berjalan ke bagian informasi, ternyata sudah ada beberapa orang juga yang sedang menanyakan perihal sewa gedung. Lintang dan Galaksi duduk sambil membaca brosur ketering dari berbagai nama berbeda. Setelah menunggu beberapa saat, giliran mereka yang berbicara dengan petugas.
__ADS_1
"Acaranya malam atau siang ya, sekaligus akad nikah atau hanya resepsi?" tanya petugas tersebut.
"Sekaligus akad Mbak, dan acaranya siang, akad nikah pagi maksudnya," jawab Lintang.
"Untuk bulan?" tanya petugas itu lagi.
Lintang menoleh ke Galaksi. Jujur ia tidak tahu pasti kapan tanggal dan bulannya."Bulan depan sabtu minggu ke tiga," jawab Galaksi. Petugas itu menggelengkan kepala setelah melihat kalender.
"Sudah penuh Mas, Mbak, maaf ya..."
ZONK. Gedung pertama zonk. Mereka lalu pergi dan menuju gedung ke dua. Kali ini Lintang yang ngotot mau nyetir. Galaksi mengalah, ia menjadi petunjuk arahnya.
Gedung kedua merupakan gedung permintaan eyang, mereka sudah memarkirkan mobil di sana. Terlihat hanya satu pasang calon pengantin yang sedang berbicara, mereka duduk sebentar sebelum gilirannya.
"Mmmm, bulan depan sabtu minggu ke tiga ya, sebentar," ucap petugas berseragam rapih itu. Terlihat profesional sekali memang.
"Ada Mas, Mbak, akad nikah pagi jam delapan, resepsi jam sebelas sampai jam dua, dan kita kasih extra time satu setengah jam, jadi total sampai jam setengah empat sore." Lintang tersenyum, Galaksi juga sama.
"Berapa Mbak untuk biaya sewanya?" tanya Lintang.
"Empat puluh lima juta, include keamanan, parkir VIP, dan hadiah voucher menginap di hotel berbintang untuk pengantin selama tiga hari dua malam."
GLEK. Lintang menelan ludah.
"Boleh deh Mb—" Galaksi kini diam. Pahanya sudah di cubit Lintang.
"Gitu ya Mbak, untuk keteringnya harus rekanan atau kita bisa rekomendasi sendiri?"
"Rekanan lebih dianjurkan Mbak, kalau bawa sendiri ada biaya tambahan dua puluh persen."
Mereka sudah masuk ke dalam mobil. Kini Galaksi yang kembali menyetir.
"Gila! Baru gedung udah segitu. Nggak deh, nggak, black list gedung ini."
"Aku sanggup kok, Lin," jawab Galaksi.
"Bukan masalah sanggupnya Galak, nggak worth it buat aku. Lokasi ketiga, kita coba ke sana. Kalau yang ketiga ini nggak ok juga. Nikah di rumah ajalah, pusing amat mikirin kemauan keluarga." Lintang ngedumel sambil melihat map ke arah gedung ketiga.
"Nggak apa-apa kali Lin, untuk momen sekali seumur hidup kita, kok." Galaksi masih membujuk Lintang.
"Nggak. Aku nggak mau buang-buang uang cuma buat biaya sewa gedung yang segitu mahalnya cuma buat beberapa jam dan gengsi semata. Itu duit bisa buat yang lain, Galak, kamu pikir habis nikahan megah-megah kita nggak butuh uang buat kehidupan, jomplanglah, keluar uang sebanyak itu buat beberapa jam, dibandingin sama hidup kita beberapa bulan atau tahun dengan uang segitu. Bedain pelit ama perhitungan akurat."
Fix. Calon emak-emak dengan prinsip 'eman' akan mendampingi Galaksi seumur hidup. Siap-siap Galaksi banyak mengalah dengan wanita di sebelahnya ini untuk urusan uang.
Gedung ketiga. Ruang serba guna disalah salah satu gedung kantor terkenal seantero jakarta. Lintang sudah enggan untuk masuk, tapi Galaksi memaksa.
"Kata saudaraku bisa di tawar, Lin, untuk harganya, coba kamu pake jurus maut emak-emak deal dealan."
"Males ah, Lak, kalo tawar menawar, aku nggak tegaan orangnya."
"Katanya harus itung-itung, suruh tawar menawar nggak mau." Galaksi manyun.
"Bedain dong itungan sama penawaran, gimana sih!"
__ADS_1
Oke. Galaksi sudah kalah duluan sebelum berperang.
"Yaudah, kalau kamu nggak suka, kita lanjut minggu depan lagi, kita pulang dan ketempat Mama Papa, ya "
Lintang mengangguk. Mereka turun dan menuju ke bagian informasi. Tidak butuh lama, hanya sepuluh menit lalu mereka keluar lagi. Lintang nesu-nesu.
"Geblek. Sama aja kayak yang pertama. Keteringnya aja segitu mahalnya juga, Lak, hadoooohhhh, berapa budget semuanya coba, belum seragam, belum undangan, souvenir, acara midodareni, Galak ... di KUA aja deh udah, sisa duitnya buat investasi ke yang lain aja, ya... aku pusing...!" rengek Lintang. Galaksi tertawa sambil merangkul Lintang yang emosi mendengar total angka yang harus mereka keluarkan untuk biaya pernikahan.
"Nikah sama kamu bisa makin kaya aku, Lin, otak kamu otak masa depan sekali."
"Iya lah! harus. Demi kebahagiaan keluarga, jadi istri jangan boros-boros, sewajarnya aja," ucap Lintang yang sudah duduk anteng di dalam mobil.
Ia lalu teringat. "Hotel, Lak, hotel. Kok nggak kepikiran, mereka kan suka tuh bikin paket wedding, udah include ketering juga,kan," wajah Lintang ceria seketika.
"Nah iya bener, ayok kita coba kesana. Mau yang mana?"
Lintang mengingat-ngingat beberapa nama. Akhirnya mereka memilih dua hotel yang biasa mengadakan acara pernikahan.
***
Lintang tersenyum menatap Galaksi.
"Nah, bener kan, lebih ngepres budget dan bisa nyenengin keluarga juga," ucap Lintang. Galaksi memanggut setuju.
"Tinggal undangan sama cari seragam," ucap Galaksi.
"Itu nanti aja setelah lamaran. Kita infoin hotel ini ke keluarga, terutama orang tua kita masing-masing, baru ke keluarga besar."
"DP-nya aku yang bayar, ya, jangan keluarga kamu semua, nanti aku bilang Eyang juga." Lintang mengangguk.
"Lagian ya, Lak, pernikahan itu bukan untuk melaksakan sesuatu hal yang terlampau mewah, semua harus ada perhitungan matang. Jangan karena sekedar mengikuti tradisi atau gengsi, malah jadi mengada-ngada dan berujung penyesalan karena memaksakan. Sah sah aja kalau budget ada, tapi, baiknya dipikirkan setelah acara apa bisa mencukupi hidup?" ucap Lintang yang langsung mendapat pelukan dari Galaksi.
"Nggak salah pilih wanita masa depan kalau gini kan, lagian, kalo uangnya nggak dipake buat nikahan, kamu mau investasi apaan, sih?" Galaksi melepaskan pelukannya. Lintang duduk menghadap Galaksi.
"Investasi diri. Perawatan muka dan body, beli alat olah raga buat dirumah, dan belanjain makanan sehat terus. Biar suami nya nggak lirik-lirik ke yang lain!" jawab Lintang tegas.
"Wih, udah mikir kesana, hebattt!" Galaksi bertepuk tangan heboh sendiri.
"Percuma, Lak, kalo uang suami di pakai cuma buat beli tas, baju, sama perhiasan tapi lupa rawat diri, kecantikan paripurna istri itu tergantung dari kucuran dana suami, jadi suami nggak bisa tuh, nuntut istrinya suruh cantik atau jaga badan kalo sumber dananya nggak ada. Ini realitanya dan kembali ke pola pikir pasangan juga. Karena menurutku, hanya satu dari sepuluh suami yang bilang terima istrinya apa adanya yang penting cantik hati dan ucapan, sisanya, meleng sana sini."
Galaksi tertegun. Semua perkataan Lintang benar. Ia juga laki-laki biasa, akan seperti itu. Lebih baik capek kerja untuk perawatan istri. Istri happy, rumah tangga happy.
"Tapi suami juga harus perawatan, dong, Lin?" sanggah Galaksi.
"Oh ya harus. Tapi perawatan suami, istri yang atur, mulai dari kebersihan rumah, pakaian, sehat apa nggak makanannya, sikap dan perilaku istri ke suaminya nyenengin apa nggak, kan gitu. Istri juga nggak bisa nuntut suami kerja terus demi uang, nggak boleh. Suami juga butuh hiburan dan liburan, walau harus sepengetahuan istri, nggak boleh umpet-umpetan."
Galaksi semakin bangga dengan Lintang yang pola pikirnya dewasa dan memperhitungan apa pun, ia terus mengucap syukur karena ada Lintang di hidupnya.
"Gara-gara gedung, aku jadi semakin tau dan kagum sama pandangan kamu tentang pernikahan, Lin."
"Percuma kuliah ekonomi kalo prinsip dasarnya nggak dipake. Rugi..."
Galaksi ngakak sambil memegang perutnya. Ia geli mendengar pendapat Lintang. Benar-benar penganut prinsip ekonomi sejati.
__ADS_1
bersambung,