Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Rapat menyusun rencana masa depan


__ADS_3

Keduanya sama-sama menatap layar laptop yang menunjukan webside tentang beberapa sekolah untuk Breyana. Iya betul, ini adalah kerjaan Lintang yang setelah sebulan menikah, menjalani hari-hari dengan suaminya yang penuh tawa, kini saatnya ia serius guna memikirkan masa depan keluarganya. Lintang bukan tipe wanita yang bisa santai yang hanya akan menyerahkan semua ke suaminya. Salah, justru Lintang adalah wanita yang penuh dengan rencana guna tercapainya tujuan yang diinginkan. Ia sudah menikah dan memiliki anak, masa iya harus membebankan Galaksi lagi perkara urusan rumah dan masa depan mereka. Bisa dibilang Galaksi cukup bekerja dan mendapatkan laporan dari Lintang jika semua kondisi rumah tangga mereka aman damai tentram sejahtera tiada tara dan air mata. Ralat, untuk air mata, rasanya akan ada, dan kita skip bagian itu.


"Lak, Breyana mau disekolahin kapan?" ia menoleh, Galaksi duduk di sebelahnya membaca profil salah satu sekolah yang tampak di layar laptop.


"Kalo Bre siap, masukin aja. Masuk pre-school berarti ya?" Galaksi menatap Lintang. Istrinya itu mengangguk.


"Tapi aku nggak bisa nemenin Bre sekolah, aku kan kerja." Lanjut Lintang.


"Tenang, kita cari pengasuh. Mama punya banyak kenalan, atau kita ambil dari yayasan pengasuh, gimana?"


Ide Galaksi itu jelas ditolak Lintang.


"Aku nggak mau deh, mending cari dari yang udah dikenal." Lanjut istri cantik nan bohai Galaksi itu. Jemari Lintang menuju ke layar bertuliskan biaya sekolah. Ia menekan enter, kemudian...


"HAH! Apaan? Masuk Pre-scholl 25 juta? Sekolah apaan?!" Galaksi teriak. Lintang terkejut karena telinganya jelas berdenging. Ia memukul-mukul lengan Galaksi yang tak peduli, ia masih fokus menatap angka itu.


"Black list!" pinta Galaksi. Lintang manut, ia lalu mencari-cari sekolah lain. Selama jemarinya bergerak mencari-cari sekolah yang sesuai keinginannya, Galaksi justru tak henti cerewet seperti ibu-ibu.


"Apa-apaan sekolah anak 3 tahun udah kayak mau masuk kuliah. Emang lulusan pre-school bisa langsung kerja?! Gila sekali." Celetuk Galaksi yang membuat Lintang menghentikan jemarinya berselancar lalu kedua bahunya naik turun, ia mendadak tertawa geli mendengar ucapan suaminya itu.


"Aku tuh, haduh... asli deh, Lintang, suka nggak habis pikir sama sekolah jaman sekarang." Mulai deh, Galaksi mulai sok menganalisa. Maka, sebelum itu terjadi, Lintang sudang meng-Cut duluan.


"Stop. Jangan bawel, tugas anda cari uang, sisanya serahkan ke nyonya kamu ini ya," ia menepuk-nepuk lengan kekar suaminya itu.


"Ini Pre-school, Tang, jangan yang harganya bisa buat beli motor. Elah..." keluh Galaksi.

__ADS_1


"Iya bawel. Ini juga mau di cariin lagi. Ngomong-ngomong, aku mau tau, Breyana mau di masukin ke sekolah yang kayak gimana sekepinginnya kamu. Kita nggak bisa pungkiri, Lak, sekolah jaman sekarang macam-macam model dan penawarannya." Lintang mulai mengorek pola pikir suaminya.


"Jujur aku nggak neko-neko, selama Breyana bisa seneng dan lingkungan sekolahnya aman, nyaman, dan Bre bisa ikutin, ya silakan, tapi balik lagi ke biayanya juga. Realistis aja aku, sih, anaknya." Galaksi melirik Lintang yang bersandar dalam rangkulannya. Lalu ia tersenyum. Lintang manggut-manggut.


"Kalau gitu masukin ke sekolah yang satu yayasan melingkupi semua sampe SMA, gimana?" tanya Lintang.


"Nggak. Kasihan, nggak berkembang kenal lingkungan baru dan variasi pergaulan. No... no... no." Tolak Galaksi.


"Tapi kan, aman, Lak, kita udah tau A sampai Znya sekolah itu," sanggah Lintang.


"Tapi kasihan Lintang, perkembangan emosi dan pergaulan Bre akan bosenin, kamu mau anak kamu nanti diem-diem bandel, ibaratnya kayak baru keluar kandang, karena otomatis pakem sekolah A sama B jelas beda, dan itu nanti berpengaruh walau kurikulum sama. Gini-gini, aku cuma minta kamu coba bayangin jadi Breyana, nyaman nggak kalau kayak gitu." Galaksi tersenyum.


"Makanya aku tanya kamu, pingin tau pendapat kamu. Karena kalau aku, sekolahnya dulu itu dari TK sampai SMA satu yayasan, jadinya Ayah sama Ibu nyaman. Belum lagi Bang IGO CS nggak berhenti awasin sama jaga aku. Berhubung kamu, sebagai penanam benih Breyana, aku mau tau pendapat kamu, ya kalau kata kamu begitu, aku coba pilah-pilah dari sekarang, hitung biaya dan juga perkara lingkungan yang jadi dasar perkembangan jiwa mereka ke depannya."


"Tapi yang inget biayanya juga, ya, sayang." Sambung Galaksi. Lintang manggut-manggut.


"Sampai lahiran anak ke dua." Sambung Galaksi lagi.


"Sistem kartu apa kita modal dulu?" Lintang masih mengajukan pertanyaan.


"Kartu," jawab Galaksi. Lintang mengacungkan jempol. Ia bisa bernapas lega, karena jika sakit dan harus opname atau ia melahirkan nanti, tak perlu pusing mikirin biaya.


"Tunjangan kamu kerja, gimana?" Ganti topik lagi. Galaksi membeberkan jika gaji tiap bulannya sudah dikurangi tunjangan masa pensiun kelak atau jaminan uang hari tua, investasi program tabungan masa depan yang nanti bisa cair setelah sepuluh tahun masa berjalan yang perusahaan tempat ia bekerja, melakukan kerja sama dengan salah satu bank besar, juga ada potongan koperasi. Lintang menganggukan kepala. Jelas ia harus tau sumber dana rumah tangganya, karena ia juga hanya bekerja di restoran milik Om Kim - suami tantenya - yang dari gosip beredar, Om Kim akan mewariskan ke salah satu anaknya tapi meminta Lintang ikut mengembangkan restoran itu. Jangan tanyakan Adjie ke mana, dia sibuk kuliah S2 masih dijurusan hukum, boro-boro diminta bantu kegiatan Resto keburu monyong-monyong duluan.


"Uang gaji aku untuk kebutuhan bulanan kita ya, Lak, nah uang gaji kamu untuk investasi, tabungan sama biaya sekolah, Bre, gimana?" usul Lintang. Galaksi setuju. Tak ada penolakan sama sekali. Ia beranjak, berjalan menuju ke kamarnya, lalu kembali lagi. Ia membuka dompet.

__ADS_1


"Pegang kartu ini, gaji masuk ke bank ini semua. Nah, aku cukup pegang yang ini aja, kamu yang isi uang untuk jajan aku berapa. Urusan bensin mobil, itu kantor yang tanggung, karena masuk ke uang operasional manajer." Galaksi berdeham. Kumat belagunya mentang-mentang manajer.


"Ih, nikah sama kamu ternyata enak ya, sumber dananya jelas dan terkonsep. Mantap jiwa Bapak Galakkk..." Lintang mengacungkan jempol ke hadapan Galaksi.


"Makanya, sok jual mahal sih. Aku tuh udah pikirin semuanya, Mama Lintang. Belum lagi aku anak satu-satunya Mama Papa, warisan mereka nggak kehitung. Aman lah, kamu mau lahiran sampai 10 anak juga."


"Sembarangan. Kamu pikir aku kelinci. Emang didik anak itu gampang?! Mulai halu nih pikiran kamu. Kamu lupa, kalau aku juga anak satu-satunya Ayah Ibu? Warisanku juga buanyakkk..." Lintang tak mau kalah.


"Nah makanya, bikin anak yang banyak yok, biar rame. Gimana? Hum... hum... perang yuk, Lin, ada gaya baru nih," colek Galaksi ke dagu istrinya.


"Haduh... ini pembahasan masih banyakkk... jangan mikirin kasur terus kenapa, Lak." Dumal Lintang. Keduanya membahas itu mumpu hari minggu, esok keduanya akan sibuk bekerja, sementara Bre akan Lintang bawa juga ke resto, dan satu lagi, ia juga diminta Igo membuka usaha Bresy cupcake and pastry, kepalanya semakin dibuat berputar-putar dengan banyak rencana jangka pendek dan panjang. Galaksi paham, ia hanya senang meledek istri cantiknya itu yang tak sabar ingin ia lihat dalam keadaan berbadan dua. Ia sangat ingin melihat keturunan-keturunannya lahir dari rahim Lintang.


"Inget biaya jalan-jalan, Lintang, jangan nabung melulu, kita juga butuh relaks dan refreshing, nikmatin apa yang kita punya. Jangan pelit untuk hal itu, ya sayangku. Sini coba lihat aku," pinta Galaksi yang membuat Lintang menoleh untuk menatap suami gantengnya itu.


"Aku percayain urusan ini ke kamu, aku percaya kamu bisa atur dan urus rumah tangga kita perkara ini, jangan lupa juga untuk share ke aku, aku nggak mau cuma jadi orang yang kerja cari uang tapi nggak tau susahnya kamu, capeknya kamu ngatur ini itu. Belum lagi kamu kerja juga diresto, urus usaha Breys cupcake and pastry cabang sini juga. Aku nggak mau kita terlalu fokus urus materi tapi lupa urus kebahagiaan hati. Breyana beruntung punya kamu sebagai Mamanya, aku beruntung punya kamu jadi pendamping hidupku seumur hidup, tapi ingat, kamu juga butuh bahagiain diri sendiri. Bilang aku kalau kamu capek, aku siap berbagi keluh kesah dan... ******* kamu... eeaaa..."


Galaksi cengar cengir. Baru saja Lintang terharu dengan kata-kata suaminya, tapi berakhir ia mencubit paha suaminya karena kesal. Bercanda lagi, ngeledek lagi. Tapi akhirnya Lintang meletakkan laptop ke atas meja yang sebelumnya ia pangku, kini ia yang naik ke pangkuan Galaksi, O... ow... tiba-tiba Galaksi diserang secara mendadak oleh istrinya. Di tolak? Ya tidak lah... Galaksi justru seolah-olah pasrah dengan apa yang istrinya lakukan. Pertahanannya runtuh, kepura-puraan pasrah maksudnya, karena Galaksi lebih senang jika ia yang mendominasi. Kegiatan keduanya memanas, hingga tak sadar Breyana sudah kembali pulang setelah jajan ke minimarket bersama Adjie dan Vanka.


"Woy! ngamar sana! mana pintu ruang tamu ke buka lebar! Lo berdua bener-bener ya!" omel Adjie. Sementara Breyana asik meminum susu kotak. Galaksi mengendong Lintang menuju ke kamar mereka.


"Papa, Mama?" tanya Bre ke Adjie.


"Lagi gulat." Jawab Adjie ngasal. Vanka hanya bisa meringis sebal sembari mengajak Breyana ke taman komplek lagi. Bahaya jika telinganya terkena polusi suara Papa Mamanya yang sibuk bikin adik untuk Breyana.


"Kita nanti kalem-kalem aja ya, Vanka, jangan kayak mereka. Barbar banget kadang kala. Heran aku." Sementara Adjie tak sadar jika Vanka berdiri di tempat, terkejut dengan ucapan Adjie. Ia menoleh, "Aku mau nikahin kamu setelah S2 ku selesai. Nggak ada penolakan. Tuh, rumah sebelah udah aku take-in buat kita tinggal." Adjie yang memang cuek dan santai, justru membuat Vanka berdebar tak karuan.

__ADS_1


"Ayo, Vanka sayang, kenapa sih?" Adjie cengar cengir. Vanka menangis. Ia memeluk Adjie. Ia memang sudah lama menunggu kapan Adjie berniat menikahinya, dan akhirnya kalimat itu terucap juga. Adjie mengecup kening Vanka. "Sabar ya, aku sekolah dulu biar bisa jadi orang hebat di dunia hukum." Vanka mengangguk, Breyana menggandeng tangan Omnya itu. Mereka beriga pun meninggalkan rumah yang suasanya sudah memanas. Adjie tersenyum juga, melihat kakak sepupunya bahagia menemukan laki-laki yang perkasa dan mampu membuat bahagia, sebagai saudara, tak ada yang lebih membahagiakan dari pada hal itu.


*Bersambung, *


__ADS_2