Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Helper


__ADS_3

Kondisi ayah Lintang sudah stabil sudah menempati kamar rawat. Lintang dan Adjie berjalan menuju ke meja suster karena harus ada yang dibicarakan.


"Lo balik aja jie ke resto, kasian mami sama papi lo pasti nyariin lo. Gue nggak apa-apa kok"


"Yaudah, nanti mami juga mau kesini katanya, sekalian bawain makanan buat lo sama ibuk"


"Ok. Hati-hati ya" Lintang berdiri didepan meja suster. Adjie memeluk Lintang dan berjalan menuju lift.


Lintang berdiri bersama suster yang menjelaskan beberapa hal, Lintang manggut-manggut mengerti. Hingga ia melakukan proses penandatanganan sebagai tanda ia setuju dengan prosedur yang akan dokter lalukan.


Ia menunduk, memegang pangkal hidungnya sambil berjalan pelan. Kembali, suara tangis bre terdengar. Lintang berjalan kembali ke meja suster.


"Sus, apa dilantai ini ada pasien anak-anak juga?" Tanya Lintang


"Ada bu. Di bangsal sebelah kiri, pintu kaca itu" tunjuk suster.


"Apa ada pasien anak atas nama Breyana?" Tanya Lintang lagi. Suster mengangguk.


"Baru masuk ya bu, dikamar V.113"


"Ok. Saya kesana ya"


"Silahkan bu, kebetulan hanya bersama ayahnya aja dikamar rawat"


"Iya, makasih ya sus" ucap Lintang. Lintang berjalan kearah kamar V.113 itu, ia membuka pelan pintu. Terlihat Bre yang menangis karena infuse ditangannya dan Galaksi yang coba menenangkan sambil membuatkan susu untuk Bre.


"Hai cantik nya tante Lintanggg" raut wajah ceria Lintang langsung disambut tangisan kencang oleh Breyana. Tangannya terangkat keatas. Lintang yang masih menggunakan seragam kerjanya melepas blazer nya dan menggulung lengan kemeja sampai ke siku lalu menggendong Bre.


"Sayangggg" Breyana memejamkan mata sambil menggendong dan memeluk anak kecil itu. Breyana sesenggukan. Lintang menepuk-nepuk punggung Breyana pelan.


"Buruan susunya papahhhhh, lama yaaaaa" ucap Lintang penuh penekanannya sambil melotot. Galaksi terkekeh. Ia lalu berjalan sambil mengocok botol susu dan diberikan ke Lintang.


"Nih bre, pelan-pelan ya minumnya, sini tante Lintang pangku" Lintang duduk di tepi tempat tidur dan memangku Bre yang tenang meminum susunya.


Galaksi duduk di sofa yang ada dikamar rawat itu sambil mengusap kasar wajahnya.


"Biasa aja kali lak. Anak kecil sakit gini kan emang wajar, udah ditanganin dokter ini. Hasil lab udah keluar belom?" Tanya Lintang sambil menepuk-nepuk bokong Breyana pelan.


"Belum, sejam lagi katanya. Lo kok bisa kesini, ayah sama ibu lo nggak ada yang temenin"


"Gue denger suara bre nangis, gue tanya suster trus langsung kesini"


"Oh"


Lalu pintu kamar rawat terbuka. Tampak kedua orang tua galaksi yang datang dan terlihat khawatir.


"Bre—yana" ucap ibu galaksi yang nampak terkejut karena melihat Breyana yang sedang dipangku Lintang. Lintang perlahan bangun dan menyapa kedua orang tua Galaksi.


"Saya Lintang tante, om, temen nya Galaksi" sapa Lintang sopan.

__ADS_1


"Lintang? Kok kaya nggak asing?" ucap ibunda Galaksi yang langsung disenggol suaminya.


"Mantan gebetannya Galaksi yang pas kuliah dulu mah, masa lupa" bisik ayah Galaksi. Ibunda Galaksi menutup mulutnya dengan tangan.


"Ya ampunnnnn, jadi kamu Lintang-Lintang itu?!"


"Ehhh?" Lintang menatap galaksi bingung.


"lintang, tante minta maaf yaaaa, coba kalo wak—"


"Mah. Udah. Nggak usah di bahas" ucap Galaksi sambil beranjak dan berjalan ke arah kedua orang tuanya.


Ibundanya mengangguk. Tapi menunjukan wajah tak enak hati dengan Lintang.


"Cucu oma kenapaaaa, sini sayanggg" Bre mengakat kedua tangannya, minta digendong ibunda Galaksi. Lintang menghampiri ayah Galaksi dan mencium punggung tangannya.


"Kalau gitu saya permisi, mau ke kamar ayah saya, permisi om, tante, AGalak—si" Lintang berjalan pelan. Lalu suara teriakan terdengar.


"MAH!!"


Keempat pasang mata orang dewasa itu menoleh bersamaan dan menatap Breyana yang mulai menunjukan raut wajah sedih saat melihat lintang hendak keluar kamar.


***


2 hari selanjutnya.


"Nggak bisa bu, ayah saya nggak ada yang jagain dan rawat, ibu saya nggak kuat kalau sendirian, apa nggak ada jatah cuti saya bu? Saya kan jarang izin-izin atau cuti, kecuali waktu suami saya meninggal"


"Maaf tang, udah kebijakan dari atas, saya bisa apa. Ini sudah dua hari kamu nggak masuk kan, yang kemarin izin, sekarang mau nggak mau potong gaji tang"


"Ya ampun bu. Saya nggak mungkin ninggalin ayah saya, masih banyak yang harus saya pantau" Lintang duduk dan menunduk. Ia dan boss nya sama-sama diam.


"Gini deh bu. Kalau memang tidak ada kebijakan dari perusahaan, saya resign bu, kesehatan ayah saya yang utama, saya anak satu-satunya bu, nggak mungkin saya repotin keluarga lainnya yang diluar kota, sodara saya disini juga sibuk. Ini tanggung jawab saya. Surat resign saya, saya siapin siang ini juga bu"


Ucap Lintang sambil terus menunduk.


"Tapi kamu nggak dapet apa-apa tang, karena baru tiga tahun itu juga masih kontrak kan"


"Yang saya dapet apa bu?"


"Gaji bulan ini aja"


Lintang diam, tapi niatnya sudah bulat. Ia tidak mau mementingkan pekerjaan dari pada kesehatan ayahnya yang butuh perhatian ekstra.


"Baik bu. Nggak apa-apa, besok pagi saya antar surat resign saya ya bu, terima kasih"


"Maafin saya ya Lintang"


"Iya bu, nggak apa-apa"

__ADS_1


Lalu telfon terputus. Lintang mengetuk-ngetuk kening dengan ponselnya berulang kali. Ia kesal dengan tempat ia bekerja, tetapi ia tidak mau membiarkan ibunya seorang diri merawat ayahnya yang sakit.


"Keluarga pasien bapak Dahlan" panggil suster. Lintang beranjak.


"Ya saya sus"


"Ke meja saya sebentar yuk bu" ucap suster. Lintang mengangguk.


Lintang kembali dijelaskan suster perihal pengobatan ayahnya. Lintang mengangguk dan menyanggupi. Setelah kembali menandatangani persetujuan, ia melihat Galaksi yang baru datang dari kantor, karena Galaksi masih mengenakan kemeja kerjanya.


"Lho, kok lo baru kesini, Bre sama siapa lak?" Tanya Lintang.


"Mamah papah, ni mau gantian, gue setengah hari kerjanya"


"Semalem yang nginep disini mamah sama papah?" Tanya Lintang lagi. Galaksi mengangguk.


"Ya ampun, kasian om sama tante"


"Bapak gimana tang?"


Galaksi balik bertanya.


"Much better, ni mau dikasih obat lainnya, tunggu visit dokter sekalian"


"Syukurlah kalo gitu. Terus, lo nggak kerja? Cuti?" Tanya Galaksi. Lintang mengangguk cepat sambil tersenyum.


"Ok, gue ke kamar Bre ya, mamah sama papah mau pulang"


"Oke, bye"


Lintang berjalan menuju ke kamar ayahnya. Saat ia membuka pintu kamar, terlihat ibunya yang tertidur di sofa. Ia tidak tega. Ayahnya juga sedang tertidur. Lintang menyelimuti tubuh ibunya lalu ia berjalan keluar kamar menuju ke kamar Bre. Ia sudah berganti baju, semalam Adjie yang membawa pakaian gantinya.


"Permisi"


Ucap Lintang saat masuk kekamar Bre. Semua tampak sibuk saat Bre kembali buang-buang air. Galaksi mengambil pampers, kedua orang tua Galaksi sibuk menenangkan Bre. Perutnya masih suka sakit, membuat Bre tidak nyaman.


"Breeee"


sapa Lintang. Ketiganya sontak menoleh ke Lintang.


"Tante, sini saya bantu gantiin pampers Bre"


ibunda Galaksi terlihat lega. Sudah bukan usianya lagi memang untuk mengurus bre. Galaksi kekeuh tidak mau pakai baby sitter karena takut anaknya di apa-apakan.


"Kenapa Bre, sakit perutnya ya. Kita ke kamar mandi yok, pake air anget bersih-bersihnya, yok tante gendong" Lintang menggendong Bre dan membawa pampers ditangannya. Galaksi mencopot infuse dari tiang lalu ikut berjalan kedalam kamar mandi.


Tidak lama terdengar suara Bre tertawa karena Lintang memandikan dengan air hangat dan sambil bercanda.


"Pah, apa kita nikahin aja mereka ya? Galaksi masih sayang sama Lintang kayaknya. Mamah mau nebus kesalahan mamah beberapa tahun lalu?" ibunda Galaksi menatap ke suaminya.

__ADS_1


"Tanya Galaksi dan Lintang, jangan kita yang atur lagi, mereka udah dewasa mah" papahnya merangkul bahu istrinya sambil duduk di sofa. Mereka tampak lelah.


"iya ya, Pa."


__ADS_2