Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Gelisah


__ADS_3

Jari jemari Galaksi menari cepat di atas kibor laptop sambil membaca laporan dari anak buahnya. Sebelum sampai ke direksi, laporan itu harus sudah ia pastikan benar dan ia pindahkan ke format lain supaya saat presentasi semua bisa terbaca jelas dan tersampaikan dengan tepat sasaran.


Sesekali ia berhenti menggerakan jemarinya, pikirannya teralihkan ke Lintang yang ada di Yogya.


Ia mendengkus gusar, pikiran dan perasaannya menjadi cukup gelisah. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya, kembali fokus sampai ia menyelesaikan pekerjaannya.


Jam makan siang Galaksi habisnya di ruangannya, ia memesan makanan cepat saji untuk menghemat waktu karena ia bisa makan sambil bekerja.


Toktoktok


Seseorang mengetuk pintu ruangan Galaksi.


"Masuk," ucap galaksi. Sosok itu masuk kedalam ruang kerja galaksi dengan tatapan tajam dan menakutkan. Tidak hanya seorang, ternyata mereka berdua. Igo dan dastan.


Mereka dua orang itu. Galaksi menelan ludah sudah payah, seperti kedatangan dua algojo yang siap menyambitnya. Sang ketua regu yang ditunggu-tunggu sudah turun dari dinasnya di kapal pesiar. Tanpa aba-aba dari Galaksi, Igo langsung duduk di sofa ruang kerja Galaksi.


"Mau minum apa, Bang Igo, Bang Dastan?" tanya Galaksi sambil beranjak dan berjabat tangan dengan keduanya.


"Terserah." ucap Igo dingin.


Aura mencekam begitu terasa di ruang kerja itu, Galaksi keluar sebentar untuk meminta office boy membuatkan dua cangkir kopi panas dan satu teh manis hangat. Galaksi duduk dengan perasaan waswas. Dua orang di hadapannya ini bukan orang sembarangan di keluarga besar Lintang. Justru dua orang ini - walau Dastan bukan keluarga kandung - mrupakan orang pertama yang akan berada di garda tersepan kalau ada apa-apa dengan keluarganya.


"Udah berapa lama sejak lo terakhir ketemu Lintang di Yogya?" tanya Igo.


"Seminggu lebih, Bang," jawab Galaksi pelan.


"Nggak ada usaha lebih keras lagi buat ambil hati Lintang?" tanya igo lagi sambil menatap tajam ke manik mata Galaksi yang terlihat ia segan menatap Igo.


"Ada, Bang, tapi pekerjaan gue nyita waktu banget, gue be--"


"Cuma sekedar buat telfon atau chat juga nggak bisa, Lak?!" Igo menaikan nada bicaranya.


Dastan mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya dan meletakan di atas meja di hadapan Galaksi.


"Buka!" ucap Igo yang lebih seperti memaksa.


Suara office boy terdengar dibdepan pintu dan berjalan masuk lalu meletakan tiga cangkir berisi minuman hangat di atas meja. Pintu kembali di tutup.


Galaksi membuka amplop coklat. Beberapa lembar foto Lintang yang sedang tertawa bersama javier di depan toko, saat makan angkringan, dan saat di depan rumah Lintang.


Kedua mata Galaksi memanas. Raut wajahnya juga berubah.

__ADS_1


"Lo lihat, kan, Lintang lagi ada yang deketin, itu cowok gerakannya cepat, dan apa lo nggak takut nanti Lintang bakal tumbuh rasa suka di hati dia buat laki-laki di foto ini." Ketus Igo.


"Lo kaya anak kemarin sore yang baru mau deketin cewek. Lo duda, Lintang janda. Harusnya gerakan lo lebih gesit. Bikin Lintang lupa sama bayang-bayang itu, gerilya, dong! Lo tau nggak laki-laki itu gencar banget deketin Lintang, dari segi ganteng, yaaa, sama lah sama lo, bisa aja kan Lintang pindah hatinya ke dia." Lanjut Igo. Galaksi menunduk, ia meremas kedua tangannya yang juga terkepal.


Gerilya, pantang menyerah, ok, gue berjuang lebih keras lagi dari sekarang, gue nggak mau kehilangan Lintang lagi. ucap galaksi dalam hati. Ia menatap kedua mata dua orang yang sedang duduk menatap tajam ke dirinya.


"Lo masih mau sama adek gue kan, Galaksi!?" tanya Igo dengan nada meninggi.


"Siap! Mau bang! Mau banget! Swear Bang Igo! Bang Dastan! Sumpah demi apapun gue setia sama Lintang! Gue mau berjuang dapetin Lintang! Merdeka!" ucap Galaksi kencang, tegas dan seperti seorang pejuang kemerdekaan.


Jujur Igo dan Dastan harus susah payah menahan tawa. Namun mereka harus tetap, cool.


"Kalo gitu mulai bergerak!" celoteh Dastan. Galaksi mengangguk cepat. Ia beranjak dan mengambil ponselnya. Lalu mencoba menelfon Lintang.


Igo dan dastan menyesap kopinya,sambil terus memperhatikan Galaksi yang gelisah karena Lintang tidak mengangkat sambungan telfon dari Galaksi.


Setelah beberapa kali mencoba, Galaksi masih belum dapat jawaban. Ia menoleh ke Igo dan Dastan.


"Nggak diangkat, Bang," ucap Galaksi bersandar di sudut meja kerjanya.


"Hmmhhh, lagi makan siang keluar berarti, sama Javier" ucap Dastan, kemudian ia dan Igo beranjak. Dastan kembali memasang kancing jasnya sambil menatap kasihan ke Galaksi dengan berdecak serta menggelengkan kepala.


"Kita berdua mau ke Yogya, lo mau ikut nggak? Igo mau ketemu Lintang," ucap Dastan sambil berdiri di dekat pintu.


Galaksi belum bisa cuti, jadi ia menolak tawaran Dastan dan Igo secara halus. Kedua pria itu keluar dari ruang kerja Galaksi. Saat pintu tertutup, Galaksi menghela napas sedih dan meraup wajahnya kasar.


"Aku nggak bisa kehilangan kamu, Lin" ucap Galaksi sambil kembali mencoba menghubungi Lintang.


Setelah beberapa saat,


"Haloo," suara Lintang terdengar. Galaksi terkejut, kakinya sampai terpentok meja karena ia beranjak cepat.


"Hey... lagi apa, Lin," pertanyaan super standar dari setiap umat manusia di bumi kalau lagi telfon seseorang.


"Lagi makan, ada apa, Lak?" tanya Lintang. Galaksi berdiri di dekat jendela ruang kerjanya. Menatap lurus ke jalanan yang ramai.


"Cuma, mau denger suara kamu aja," jawaban Galaksi malah membuat Lintang tertawa.


"Kamu habis kejedot apaan kepalanya, jawaban kamu bikin aku ketawa ngakak."


Galaksi tersenyum. Ia senang bisa membuat Lintang tertawa kembali. Galaksi mengatur napasnya, lalu mencoba berbicara lebih banyak.

__ADS_1


"Makan di mana?" Galaksi berharap jawabannya bukan yang ia takutkan.


"Sama temen," jawab lintang santai.


"Cowok?" Galaksi memejamkan matanya.


"Iya. Javier namanya," lanjut Lintang.


DEG.


"Dia suka sama kamu?" Galaksi to the point.


"Ngarang! Jangan ngaco deh, Lak."


"Iya. Dia lagi deketin kamu Lintang, aku..., aku nggak mau kamu sama laki-laki lain," ucap Galaksi tegas dengan nada bicara sangat dalam dan sedikit memohon.


"Dia temen doang, Galaksi, udah ya, kalo cuma buat omongin kaya gini via chat aja. Kamu juga harus kerja, 'kan?"


"Lintang,"


"Apa,"


"Aku sayang banget sama kamu, Lin, i still love you, jangan suka sama Javier ya, please."


"Udah ya, Lak, aku harus ke toko lagi, kita juga udah mau selesai makan, nih."


"Oke. Take care ya sayangnya Galaksi, Mama Lintangnya Breyana."


"Take care, Galak," balas Lintang singkat. Lalu sambungan telfon disudahi lintang sepihak.


Galaksi diam menatap wajah Lintang yang menjadi wallpaper ponselnya. Wajah Lintang saat ospek dulu. Di mana Galaksi pertama kali bertemu dan menatap Lintang.


"Aku akan dapetin dan buktiin rasa cinta aku ke kamu Lintang. Kalau perlu, dalam semalam akan ku bangun rumah untukmu permaisuriku. Tunggu kesatriamu ini permaisuri pujaan hati kakanda Galaksi seorang." Galaksi berbicara dengan menggebu-gebu didalam ruangannya seorang diri.


Fix. Ke lebay-an Galaksi memang tak pernah hilang.


 


::TBC::


...Bisa nggak nih kira-kira Kakanda Galaksi mewujudkan niatnya? ...

__ADS_1


__ADS_2