Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Dan akhirnya


__ADS_3

"Udah siap, Tang?" tanya Adjie sambil mengenakan sabuk pengaman. Lintang mengangguk. Ia, Adjie, kedua orang tua Lintang, Edo dan Delon sudah berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka ke tempat yang baru.


Yogyakarta, menjadi pilihan Lintang. Apa yang akan ia lalukan di sana, entahlah, ia hanya ingin tinggal di kota yang baru, asing, dan memulai semua dengan suasana berbeda. Delon ikut karena ia punya teman saat kuliah yang tahu Yogya melebihi siapa pun. Ia yang membantu mencarikan rumah yang akan Lintang dan kedua orang tuanya sewa.


"Jangan sedih terus ya, Kakakku sayang." Kepala Adjie bersandar di bahu Lintang. Lintang berdecih sambil melirik dan menjitak kening Adjie.


"Lebay," celetuk Lintang.


"Bodo," jawab Adjie. Lintang justru terkekeh dan ikut menyandarkan kepalanya ke kepala Adjie.


***


Di sebuah tempat rahasia beberapa waktu sebelum Lintang, Adjie dan lainnya ke Yogyakarta.


"Lo bilang ke kita awal mulanya gimana sampe hal itu kejadian, walau gue jijik dengernya dan gue masih inget gimana elo—Ah!!! TOKAI LO!" Bentak Edo.


Galaksi 'diculik' oleh sepupu-sepupu Lintang dan di bawa entah ke mana. Ruangan itu berbentuk seperti kamar dengan nuansa kayu. Galaksi duduk menatap satu persatu tak terkecuali pada layar tablet yang memperlihatkan wajah Igo. Igo dengan seragam kerjanya yang mirip seperti nahkoda kapal pesiar, menatap tajam dan ikut mencerna cerita Galaksi. Jujur atau tidak.


"Mira dateng nggak lama gue sampe rumah, yang gue rasain waktu itu kesal dan sebal karena Lintang cuekin gue. Gue buka pintu karena gue kira itu Lintang. Ternyata Mira. Gue tanya tujuan dia apa, dia bilang cuma mau anter berkas laporan yang belum gue tanda tangan. Gue mulai ngerasain nggak enak di badan gue. Panas, sakit dan—"


"Lo ***** kan?!" suara bang Igo terdengar. Galaksi mengangguk.


"Edo!" panggil Igo.


"Ya, Bang," jawab Edo.


"Dengerin gue, gue yakin ini jebakan. Sengaja. Tapi apa pun itu. Galaksi, elo tetap salah. Lo nggak bisa tahan *****. Sekali pun itu Lintang atau Mira, lo lebih baik ke kamar mandi dan lo tuntasin itu sendiri! Gue masih nggak bisa maafin lo yang udah sakitin Adek gue!" Bentak Igo.


"Untung Bang Igo nggak di sini, kalo di sini, lo habis babak belur sama tangan dia," celoteh Bram dengan sinis.


"Edo, gue tau siapa yang bisa bantu kita cari tau semua ini. Kalau emang asli karena obsesi Mira buat dapetin Galaksi dan hancurin pernikahan Lintang, kita bisa hilangin Mira, dengan cara gue. Tapi kalau karena suruhan atau sekongkolan Mira, jangan harap orang itu lepas dari gue. Main-main sama Igo, apalagi keluarga kita. Jangan harap aman hidupnya."


"Maksud Bang Igo? Ba—bang Dastan," ucap Adjie terbata.


"Iya. Gue bakal hubungin Dastan dari sini."


Semua mata menatap Edo. Sambungan video call terputus.


"Mampus. Kalau urusannya sama Dastan. Kita semua angkat tangan. Lubang semut juga bisa dia temuin dalam sekejap," ucap Bram sambil bergidik ngeri.


"Dastan? Siapa Dastan?" tanya Galaksi bingung.


"Kalo lo mau tau. Nggak lama lagi lo bakal ketemu sama dia karena Bang Igo yang langsung hubungin dia."


***


Galaksi diam menatap benci dan jijik kepada Mira yang sedang duduk di ruang tamu rumah kedua orang tuanya sambil menitikan air mata.


"Saya, minta maaf Pak, sa—saya, maafin saya Pak Galaksi. Tapi saya nggak, nggak bohong Pak, saya hamil. Anak kita." Mira menutup wajahnya dengan tangan kembali menangis.


"Apa buktinya itu anak saya Mira," tanya Galaksi datar. Ia menatap sinis dan tajam ke Mira.


"Perlu bukti apa Pak, memang kita, lakuin itu kan Pak." Mira memberanikan diri menatap Galaksi yang menyiratkan kebencian mendalam kepadanya.


"Saya tau Bapak nggak ada perasaan apa pun sama saya, bahkan saya tau Bapak nggak akan cinta ke saya, tapi, ini tetap anak kita, Pak, Bapak harus, tanggung jawab!" ucap Mira tegas.


Galaksi diam. Ia dan Mira hanya duduk berdua. Kedua orang tua Galaksi tidak sudi bertemu dengan Mira. Terutama Ibunda Galaksi.


"Dan mau kamu?" Kini Galaksi melempar pertanyaan.


"Kita menikah, Pak," jawab Mira. Galaksi tersenyum sinis.


"Jangan mimpi Mira. Saya nggak akan nikahin kamu sebelum saya bener-bener tau itu anak saya atau bukan!" Kini nada bicara Galaksi meninggi. Mira terkejut. Merasakan ketakutan saat Galaksi berbicara dengan nada tinggi.


"Nggak, Pak. Nggak bisa. Perut saya akan semakin besar. Saya malu, Pak, keluarga saya juga malu. Bapak bolek nggak punya hati sama saya tapi jangan sama anak kita, Pak."


"Anak kita? You wish! Sekarang lebih baik kamu pergi. Kamu udah cukup bikin saya harus nahan emosi, Mira." Galaksi begitu emosi.


Mira geram. Ia lalu bangkit.


"Saya akan beberkan masalah ini ke semua rekanan Bapak. Saya akan katakan kalau Bapak sudah membuang saya setelah Bapak puas tidurin saya!" Bentak Mira.

__ADS_1


"Silakan. Saya sudah hancur. Apalagi yang harus saya jaga. Nggak ada. Sampai kapan pun saya nggak akan suka apalagi cinta sama kamu. Karena sampai kapan pun saya akan setia ke Lintang!" Bentak Galaksi lagi.


"Kamu jahat Galaksi. Harusnya kamu lihat muka kamu waktu tidurin saya, gimana kamu terima dan nik—"


PLAK!


Satu tamparan mendarat tepat di wajah Mira. Ibunda Galaksi menampar wajah Mira dengan hebatnya. Mira bahkan sampai menangis dan merasakan perih.


"Silakan pergi dari sini Mira. Jangan injak kaki kamu di rumah ini lagi. Apalagi sampai meminta anak saya menikah dengan kamu. Jangan harap."


"Ibu, ini cucu Ibu juga yang ada diperut saya," lirih Mira. Ia kembali menangis.


"Buktikan. Bisa?" ucap Ibunda Galaksi dengan dingin.


"Untuk itu nikahi saya dengan Galaksi bu, saat anak ini lahir semua akan kebukti"


"Nggak. Nggak akan. Kalau perlu tunggu anak itu lahir, baru kita tau apa itu anak Galaksi atau bukan. Silahkan pergi dari sini!" Bentak ibunda Galaksi.


Mira menangis. Ia berlari keluar rumah dengan air mata terus mengalir.


"Kita test DNA anak yang ada di dalam perut perempuan itu Galaksi. Jangan pikirin biaya, Mama percaya walau pun kamu melakukannya, tapi tidak sampai bibit kamu tanam di rahim dia. Logika Mama sudah berfikir ke arah situ."


"Tapi semua juga udah terlambat, Ma, Galaksi nggak tau di mana Lintang, di mana belahan jiwa Galaksi," ucap Galaksi sendu sambil terduduk lemas.


"Sabar sayang, berdoa, mohon ampun, minta di dekatkan lagi dan dilancarkan jodoh kamu ke Lintang. Ayo kita berjuang buat Lintang. Kita jemput Lintang walau kita nggak tau berapa lama kita akan lakuin ini. Mama udah mikirin semuanya, kemarin-kemarin Mama syok, Mama butuh waktu untuk nerka ini semua."


"I miss her so much, Ma, really miss her." Galaksi sesenggukan.


"Iya Galaksi, sabar, Sayang." Wanita itu memeluk sambil mengusap punggung putranya yang kini terlihat lebih kurus.


***


Tiga bulan berlalu. Lintang memulai hidup baru di yogya bersama kedua orang tua dengan menyewa sebuah rumah sederhana di tengah kota.


"Lintang, Bapak udah dapet nih, untuk sewa tempatnya. Murah, setahunnya masa cuma lima belas juta," ucapan Bapak membuat Lintang terkejut. Lalu meminta Bapak membayar untuk dua tahun sekaligus.


Lintang akan mulai membuka usaha yang selama ini ia jadikan side plannya. Toko kue, cup cake dan pastry. Tapi bukan Lintang yang membuat. Ia hanya sebagai pemilik dan pengelola. Kedua orang tua Lintang setuju. Setidaknya dengan memikirkan hal lain, Lintang menjadi kembali semangat.


***


Dastan duduk dengan setelan dan jas licinnya sambil menyesap capuccino yang sudah cangkir keduanya. Ia menyentuh bibir seksinya dengan ibu jari.


Kegiatan Dastan membuat seseorang tersenyum menatapnya. Dastan yang menyadari, menatap dan memberikan senyuman mematikannya. Wanita itu tersenyum malu. Perutnya sudah sedikit terlihat menonjol. Mira, wanita itu Mira. Ia sedang berbicara dengan seseorang yang duduk di hadapannya tetapi tatapannya justru fokus ke Dastan.


Dastan beranjak. Ia berjalan menghampiri Mira yang terlihat gugup dan salah tingkah.


"Hai, apa kita pernah saling kenal?" tanya Dastan yang langsung duduk di kursi kosong dekat Mira.


"Ng—nggak, deh," jawab Mira gugup. Seseorang yang sedang bersama Mira melihat Dastan heran.


"Anda siapa?" tanya pria itu.


"Dastan." jawab Dastah tegas tanpa ragu.


"Dan anda?" tanya pria yang bersama Mira lagi.


"CEO Trigama corps" jawab Dastan lagi - ia berbohong- jelas, ini bagian dari rencananya.


Mira tersenyum ragu sambil menatap Dastan yang sudah tersenyum menatapnya. Mira lalu menunduk malu.


***


"Loh, kamu, lagi hamil, Mir?" tanya Dastan saat mereka berjalan keluar dari cafe. Mira mengangguk.


"Suami kamu yang tadi itu? Yakin?" Ledek Dastan dengan sedikit tertawa.


"Bu—bukan, saya, saya nggak punya suami." Mira menunduk. "Laki-laki itu nggak mau tanggung jawab sama anak ini."


Dastan menatap Mira. "Kamu cinta sama dia?"


"Iya. Saya rela lakuin apa aja untuk dapetin dia. Apa pun." Mira masih menunduk. Dastan tersenyum sinis. Mereka berjalan menuju parkiran mobil. Hari sudah malam dan Dastan memarkirkan mobilnya sedikit menjauh.

__ADS_1


"Kamu beneran nggak mau saya antar Mir, saya nggak bisa biarin Ibu hamil sendiri naik taksi."


"Enggak apa-apa. Saya udah biasa kok, duluan aja kamu," ucap Mira sambil tersenyum menatap Dastan.


Dastan mengusap kepala Mira dan menggenggam jemarinya.


"Semoga laki-laki itu mau tanggung jawab ya, ini kartu nama saya, hubungi saya kalau ada apa-apa, bye. Bye baby." Dastan juga mengelus perut Mira sekilas. Ia lalu masuk ke dalam mobil mewahnya dan melambaikan tangan ke Mira sebelum menancap gas.


"He is cute and, hot," ucap Mira sambil berjalan menuju tempat banyak taksi menunggu para penumpang.


Ponsel Mira berbunyi. Ia menatap jengah saat sebuah nama muncul dilayar ponselnya.


"Kita harus ngobrol Mira," suara itu membuat Mira tersenyum. Lalu kembali datar.


"Boleh. Ketempatku," jawab Mira lalu meminta supir taksi menuju ke alamat tempat tinggalnya.


***


Dastan duduk di mobil sambil terkekeh karena sedang video call dengan Igo.


"Gimana, Das, dapet info apa?" tanya Igo.


"Cetek banget kasusnya. Enteng kayak gini. Lo tenang aja, Go. Oh ya, dan Lintang aman, anak buah gue udah gue suruh pantau terus kok di Yogya."


"Good. Makasih buat bantuan lo,Das, gila..., gue nggak fokus kerja mikirin kayak gini. Lintang itu keluarga gue, siapa pun yang bikin keluarga gue susah, apalagi kaya gini. Gue turun tangan. Dan- untuk Galaksi gimana?"


"Kacau. Gue nggak pernah lihat laki-laki segitu nggak bergairahnya hahaha..." Dastan tertawa.


"Emang elo! Lihat kambing dibedakin juga lo pake."


"Kampret!!" Dastan dan Igo tertawa bersama.


"Eh iya, Go, lo tau, gue sekarang punya seseorang yang bisa bikin jantung gue berdebar hebat." Igo menutup wajahnya karena malu.


"Anjir. Siapa tuh cewek sialnya, Das!"


"Ntar gue kasih tau. Dia balikin dunia hitam gue, Go, dia hangat dan mampu bikin gue luluh."


"Really?" Igo masih tak percaya.


"Ya. One day gue kenalin ke elo."


"Berarti Mira nggak bakal lo pake, kan?" tanya Igo penuh penasaran.


"Sialan, ya nggak lah. Udah cut off gue pake-pake perempuan model Mira. Udah mau lurus gue."


"Pret. Lo pikir gue percaya?"


"Harus lah. Tapi kalo gue colek-colek dikit demi informasi anak siapa yang dia kandung, gue pikir nggak masalah lah, ya," tawa Dastan pecah. Igo juga ikut tertawa.


"Nggak salah gue minya tolong elo."


"Kita sahabat, Go. Di saat gue nggak berdaya, elo, Marlon, Samuel, kalian sahabat yang gue punya. Elo dan para adek-adek sepupu lo yang berisiknya luar biasa itu juga yang hibur gue. Lo udah kayak keluarga buat gue."


"Iya, gue juga cinta elo Dastan." Ledek Igo. Keduanya tertawa.


"TAEEEKKKK KUCINGGG KAU! gue lempar tengah laut lo, Go!"


Mereka lalu tertawa bersama. Dastan sempat melirik ponselnya yang berbunyi saat sedang mengobrol dengan Igo. Ia memperlihatkan layar ponsel ke Igo.


"Dia telepon, akhirnya ada yang khawatirin gue." Kekeh Dastan.


"Siapa nama cewek lo, Das?"


"Dia, Dara." jawab Dastan sambil tersipu malu.


::TBC::


...Hai... nah, untuk kisah Dastan dan Dara, ada di judul : HER, YOU SEE ME IN THE DARK. Di sini juga kok 😊...


 

__ADS_1


__ADS_2