Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Family gathering


__ADS_3

Hal seru semakin terjadi dihidup Galaksi dan Lintang semenjak mereka semakin dekat untuk memastikan semuanya.


Lintang senang karena Bre, semenjak ia dampingi selama dua bulan ini sudah bisa berjalan. Progres yang mencengangkan. Kedua orang tua Galaksi bahkan sampai terharu saat melihat cucunya bisa berjalan lancar tanpa jatuh.


Flash back on


Suara mobil kedua orang tua Galaksi terparkir di garasi rumah putranya, saat itu Galaksi sedang di halaman samping bersama Lintang dan Breyana.


"Bre, Oma sama Opa dateng, nanti kamu jalan ke sana, ya," bisik Lintang. "Samperin, terus cium tangan, harus so-pan," ucap Lintang.


Suara oma memanggil Bre terdengar. Saat oma dan opa sampai di pintu, Bre berjalan perlahan dengan cengiran khasnya.


"Aaaaaa! Bre ... bisa jalan lancar! Pa.. lihat, Bre, Pa!" ucap ibunda Galaksi histeris.


Bre memeluk kaki ibunda Galaksi saat sudah sampai di hadapannya. Lalu suara penuh rasa syukur dan haru terdengar.


"Lintang, makasih ....," ucap ibunda Galaksi.


"Sama-sama Tante, cuma butuh disiplin sama terus disemangatin, jangan sering-sering dimanja," jawab Lintang sambil mencium punggung tangan kedua orang tua Galaksi.


Kedua orang tua tersebut tersenyum. Ibunda Galaksi menoleh ke Galaksi yang heboh loncat-loncat sambil berbicara tanpa suara.


"Aku mau nikah sama dia, Ma!" ucap Galaksi ke ibundanya.


Ibundanya tersenyum lalu menoleh ke suaminya yang mengangguk. Galaksi loncat dan joged-joged ala india. Lintang menoleh. Menonton kegilaan Galaksi yang di luar batas kewajaran manusia menurut Lintang.


"Papa kamu kenapa, Bre? Kumat ya?" bisik Lintang ke Bre yang langsung berjalan menghampiri Galaksi.


Flash back end.


"Lin,minggu depan ada acara family gathering perusahaan, lo bisa ikutan, 'kan?"


"Hhh? Kenapa gue ikut?" tanya Lintang. Keduanya sedang asik menyapu halaman rumah kedua orang tua Lintang yang banyak sampah dedaunan kering.


"Ya kan, masa gue sama Bre doang, lagian judulnya family, harus ada Bapak, Emak, sama Anak," ucap Galaksi sambil menunjuk Lintang. "Lo kan Emaknya." Galaksi memperjelas.


"Malu ah, Lak, kita kan nggak ada ikatan apa-apaan."


"Ada. Siapa bilang nggak ada, yeee!" protes Galaksi sambil berkacak pinggang.


"Edo ikut?" tanya Lintang lagi. Ia kembali menyapu rerumputan.


"Ikut! ini wajib."


"Nah, Edo kan nggak ada istri, bisa tuh, sendiri."


"Ya beda, Lin, kan gue ajak Bre, masa ajak anak tapi nggak sama Ibunya." Modus sekali memang Galaksi ini.


"Telfon Ibunyalah suruh pulang dari Perth, tengokin anaknya sesekali."


"Nggak. Udah deh, Lin nggak usah ngeles atau coba nolak. Ikut pokoknya. Kita nginep semalem di sana."


"Hah! Nginep! Wah... enggak deh, enggak, kepedean amat gue ikut-ikut, kalo ditanya bos bos sama temen-temen lo gimana jawabnya, gebleknya masih nempel ya, Lak, sampai nggak bisa mikir panjang," kini Lintang yang berkacak pinggang.


"Kan, Lintang Maheswari calon istrinya Galaksi Arbena." Galaksi mendekatkan diri ke Lintang dengan wajah berseri-seri.


"Ikut ya Mama Lintang, ayo lah ... ayo lah ..."


Lintang membuang tatapan, berdecak lalu terkekeh.


"Nah, gitu, dong. Urusan nanti orang kantor tanya lo siapa, yang gue tinggal kasih pengumuman kayak gini ... 'dengan ini menginformasikan bahwa, wanita bernama Lintang Maheswari merupakan, calon istri idaman yang paling sempurna untuk seorang Galaksi Arbena. Tidak ada yang bisa memisahkan dan merebut Lintang atau Galaksi untuk dimiliki orang lain.  Perihal acara pernikahan akan dilaksanakan dalam waktu sesingkat-singkatnya'. Gimana, keren 'kan?"


Galaksi menatap Lintang sambil memeluk sapu lidi bergagang panjang itu.


"NORAK. Masih aja nggak ilang-ilang noraknya Galak ...!" ucap Lintang sambil melengos dan berjalan ke dalam rumah. Galaksi diam menatap Lintang dari belakang.


"To much in love with you Lintang, walaupun cara gue kata lo norak, tapi lo tau nggak ada kebohongan di hati gue."


***


Hari itu pun tiba. Lintang sudah bersiap dengan satu tas berisi pakaian ganti untuk satu malam dan sling bag warna army. Jam menunjukan pukul setengah lima pagi. Info dari Galaksi mereka akan berkumpul di depan gedung kantor, yang mana itu lokasi tempat Lintang bekerja di bank waktu itu.


Deru mobil terdengar. Lintang beranjak dan berjalan ke pagar. Galaksi turun dengan wajah cerah ceria di kondisi langit masih gelap.


"Ceria bener," ucap Lintang seraya meletakan tas ke bagasi yang sudah di buka Galaksi.


"Seneng. Lin, peluk dong...." tangan Galaksi sudah ia rentangkan.


"Ogah!" Lintang melengos dan masuk ke dalam mobil. Terlihat Bre masih pulas tidur di jok belakang. Lengkap dengan bantal dan selimut kesayangannya.


"Anak cantik masih pules banget bobonya," ucap Lintang sambil menoleh.


"Pagi sayangku," ucap Galaksi kelintang yang jarak wajah mereka sudah sangat dekat. Lintang mendorong kening Galaksi dengan jarinya.


"Tolong ya Bapak Galak, no no no..." ucap Lintang.


"Siap calon nyonya Galaksi, Galaksi sabar menanti," ucapnya sambil menancapkan gas dan mengarakan mobil ke kantor.


"Bre nanti kalo masih tidur biarin aja, Lak, jangan dibangunin. Kita naik bis bareng karyawan lainnya juga, 'kan?" tanya Lintang.


"Nggak, yang bawa mobil pribadi cuma beberapa. Bos bos besar sama gue."


"Ohh, eh, Edo suruh ikut kita aja."


"Boleh. Coba lo tawarin aja nanti."

__ADS_1


Jam lima lewat lima belas mereka sampai di depan gedung kantor. Lintang dan Galaksi turun, karena Galaksi harus menyapa para bos dan beberapa karyawan lainnya.


"Pagi Pak Galaksi," sapa beberapa karyawan. Galaksi hanya membalas dengan anggukan. Lintang menatap heran.


"Pagi Pak direktur, dan Ibu," sapa Galaksi. Direktur dan istri membalas sapaan Galaksi dan berjabat tangan.


"Siapa nih, Galaksi?" tanya pak direktur.


"Kenalin Pak, calon istri saya, Lintang," ucap Galaksi. Lintang menjabat tangan bos Galaksi sambil menyebutkan nama.


"Lintang? Kayak pernah denger, apa, kamu yang di resto itu ya?" ucap direktur lagi. Lintang mengangguk.


"Lintang junior saya dikampus, Pak, satu fakultas, kerja ikut sama keluarganya yang pemilik resto itu," ucap Galaksi.


"Bagus dong. Bisa bantu-bantu bisnis keluarga, kapan nikah sama Galaksi? Kasian udah lama duda, takut keburu layu," ledek pak direktur.


"Eh, mmm... kalau itu ..." jawab Lintang bingung.


"Secepatnya, Pak. Makanya saya ajak ke acara ini. Kebetulan Linntang sepupunya Edo."


"Edo anak buah kamu?" tanya pak direktur lagi. Galaksi mengangguk.


"Semoga secepatnya ya, jangan nunda-nunda Lintang," ucap istri direktur. Lintang hanya tersenyum kikuk.


Lintang dan Galaksi kembali berdiri di dekat mobil sambil menyapa beberapa anak buah satu departemen dengan Galaksi. Tubuh lintang menegang saat satu pelukan ia rasakan di bahunya.


"Ngantuk gue, Hoam," suara Edo terdengar.


"Kampret. Gue kira siapa" ucap Lintang yang langsung melepas pelukan sepupunya itu. Galaksi terkekeh.


"Ngarepnya gue yang meluk ya, Lin" bisik Galaksi. Lintang menyipitkan mata dan mencubit lengan kekar Galaksi.


"Masih butuh bantal gue, Lak," ucap Edo pelan.


"Ikut mobil kita aja deh, Do," ucap Lintang.


"Nggak lah, gila. Nanti gue di Bully mentang-mentang calon resmi manajer operasional, sepupu gue. Mencret gue nanti di kantor nggak punya temen."


"Dih, najis omongannya Edo ...." Lintang menyikut perut Edo.


Suara aba-aba ketua panitia terdengar. Lokasi acara mereka di Bandung. Harus jalan pagi supaya ontime sampai ditujuan.


Satu persatu karyawaman dan keluarganya naik ke bis. Edo memeluk Lintang dan seperti biasa mencium kedua pipi sepupunya itu.


"See you there Ibu Bos," ucap Edo.


"Hati-hati nyetirnya ya, Lak, jagain sodara gue tersayang ini."


"Iya, udah sana!"


Lintang masih berdiri di samping mobil. Galaksi tersenyum menatap wanitanya.


"Bukannya ini paksaan elo," jawab Lintang sambil menarik pelan hidung mancung Galaksi yang diakhir kekehan malu-malu napsu. Lintang tersenyum sambil masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil Lintang diam. Ia melakukan itu karena Mira sejak tadi memperhatikan ia, Edo dan Galaksi dengan tatapan sendu.


Jujur, Lintang tidak akan lemah dan mengalah. Ia sudah tau seperti apa perasaannya. Tinggal tunggu waktu yang pas untuk bilang ke Galaksi.


***


Sesampainya di lokasi, para peserta dipersilakan menempati kamar yang sudah disiapkan. Resort besar itu tampak asri dan sejuk. Lintang memandikan Breyana lalu memakaikan pakaian seragam acara yang sudah dibagikan panitia.


Aba-aba untuk berkumpul di lapangan sudah terdengar, Galaksi menggandeng tangan kanan Breyana dan Lintang menggandeng tangan kiri Bre juga. Mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Edo terkikik melihatnya, ia lalu mengabadikan dengan ponselnya untuk ia kirim ke grup keluarga dengan caption :


'Siap-siap kita kondangan-in, janda pengkolan nomer wahid udah taken ama bos gue.'


Edo ngakak sendiri. Lintang yang tak sengaja melihat langsung menatap curiga. Edo mengangkat ponsel sambil menatap Lintang. Lintang komat kamit sambil menatap Edo.


"Yuk duduk di sana, mau ada pengarahan dulu," ucap Galaksi yang berjalan sambil merangkul bahu Lintang. Breyana berlari menuju ke Edo karena Edo terus memanggilnya.


"Hati-hati sayang, kalo jatuh jangan nangis ya!" ucap Lintang setengah berteriak. Bre mengangguk dan langsung menubruk Edo yang memeluknya.


"Lo mau minum dulu nggak, Lak? Tuh, udah disiapin," tunjuk Lintang ke salah satu booth minuman.


"Boleh, tolong ambilin ya, cinta ...."


"Please deh, Lak, jangan gila di sini. Mau penilaian lo sebagai bos tegas tiarap di depan semuanya?"


"Oh ya jelas enggak, dong. Makanya gue bisik-bisik tetangga ke elo." Galaksi terkekeh menatap Lintang yang lebih pendek darinya, mereka saling melempar senyum. Tinggi Lintang hanya sebatas dagu Galaksi. Ia sering meminta Galaksi duduk atau menyamai tingginya saat berbicara.


Ketua panitia menjelaskan kegiatan acara hari pertama. Kegiatan pertama perlombaan untuk keluarga per-tim. Ada empat perlombaan yang harus mereka ikuti. Panitia mengacak grup dan para anggotanya.


Dasar rejeki, Edo masuk di grup Galaksi dan Lintang. Serta salah satu keluarga karyawan departemen keuangan. Galaksi yang otaknya sableng mau-mau aja di dandanin Lintang dengan mata tertutup. Walau cemong tapi ia merasa bahagia. Lintang pun demikian, kegilaan saat ospek dahulu mereka berdua tuangkan di acara kantor. Edo ngakak guling-guling saat melihat hasil akhirnya, Galaksi harus berpose seunik mungkin.


"Jatuh harga diri lo, Lak kalo posenya yang aneh-aneh," bisik Lintang.


"Sekali aja demi mereka semua bahagia," ucap Galaksi. Ia lalu bergaya ala pria gemulai, membuat para direksi dan anak buahnya ngakak tak tertahankan. Tapi tidak lama setelah itu, ia meminta Lintang membersihkan wajahnya. Mereka berhadapan, dengan posisi Galaksi duduk dan Lintang berdiri di hadapannya.


Tangan Galaksi merengkuh pinggang Lintang saat Lintang dengan telaten melakukan kegiatan bersih-bersih wajah Galaksi.


"Pinter ya tangannya, he-em terus aja, Lak," lirih Lintang sambil tersenyum.


"Biarin. Sama calon istri ini," ucap Galaksi sambil mesam mesem nggak jelas.


"Mira ngeliatin kita ya?" tanya Lintang.

__ADS_1


"Bodoh amat," jawab Galaksi singkat. Tangannya masih aduhai melingkar di pinggang Lintang tanpa mau bergeser sedikit.


"Pa," panggil Bre yang berjalan bersama Edo.


"Apa cantik," jawab Galaksi sambil memangku anaknya itu. Bre bersandar di dada Galaksi.


"Ngantuk itu, Bre mau bobo? Yuk sama Tante Lintang. Edo, stroller bawa ke sini tolongin," perintah Lintang.


"Siap Nyonya, sebentar saya ambilkan," jawab Edo sambil memberi hormat.


"Terima kasih ajudan," ucap Lintang. Tidak lama Edo kembali dengan stroller milik Breyana.


Sebelumnya ia menimang-nimang Bre di pelukannya hingga tertidur. Setelah dirasa pulas, Bre ia letakan di stroller. Acara masih berlanjut hingga hampir jam makan siang. Galaksi duduk satu meja dengan para pemimpin perusahaan. Lintang mengambilkan makanan untuk Galaksi. Hingga saat makan, beberapa karyawan banyak yang melihat senang dengan sikap Lintang yang ramah dan suka menyapa lebih dulu. Hingga saat Mira menyapa Lintang, Lintang juga dengan sopan meresponnya.


"Mbak calon istrinya Pak Galaksi ya?" ucap salah satu teman Mira yang ikut mengantri mengambil puding. Lintang mengangguk dan tersenyum.


"Wah, Mbak, selamat ya, mudah-mudahan dilancarkan persiapan pernikahannya."


"Iya, makasih," jawab Lintang.


Dua orang lainnya yang mengantri di belakang Lintang sambil berbisik. "Kasihan Mira, udah ngarep-ngarep Pak Galaksi, ternyata si bos udah punya calon. Biasa aja sih, padahal orangnya."


Suara bisikan itu sedikit membuat Lintang insecure. "Jangan didengerin ya Mbak, mereka biang gossip kantor," ucap salah satu anak buah Galaksi.


"Nggak apa-apa, wajar kok, calon suami saya itu banyak pemujanya, tapi saya yang dipilih Galaksi. Karena kita kenal nggak sebentar, jadi zaman kuliah bareng, satu fakultas."


"Oh, iya Mbak, saya denger ceritanya gitu. Kemarin sempet ngobrol juga sama Edo, Edo cerita gitu juga. Kalo sama Edo, Mbak sepupuan?" tanya wanita itu lagi. Lintang mengangguk.


"Mbak juga deket sama anaknya Pak Galaksi ya?" pertanyaan selanjutnya.


"Iya. Saya sayang banget sama Bre, udah kayak anak saya sendiri."


"Selamat ya Mbak, Pak Galaksi emang baik orangnya, kadang kebaikan Pak Galaksi disalah artikan sama beberapa orang, ada yang ke GRan sampai baper dan ngarep. Kayak mereka-mereka di belakang kita nih! Saya duluan ya, Mbak."


"Oh, iya ... iya, silakan," jawab Lintang yang sedikit terkejut. Lintang membawa satu piring berisi potongan puding untuk Galaksi. Sebelumnya ia menoleh ke Mira dan dua teman yang bergossip itu.


"Permisi, saya duluan," ucap Lintang sambil tersenyum. Mira mengangguk sendu, tidak berani menatap Lintang.


***


Di dalam kamar tidak hanya Lintang, Bre dan Galaksi. Ada Edo yang lagi asik ngobrol sama Galaksi.


"Do, mending lo di sini juga, deh, ngeri gue" ucap Lintang.


"Halah ... pura-pura, sama calon suami sendiri jangan ngeri, Tang." Edo melempar Lintang dengan bantal sofa.


"Iya, Do, tidur di sini aja, biar rame, takut khilaf gue kan," sambung Galaksi.


"Yakin lo berdua. Gue si ok ok aja, jadi satpam lo berdua sebelum SAH beneran."


"Terus aja itu mulut ya ... ini orang dua, ya ampun!" Lintang membekap mulut Edo kesal. Bre sedang asik makan biskuit dan wafer sambil menonton TV. Tidak tergganggu dengan kebrisikan ketiga orang dewasa itu.


"Do, lo ambil deh tas lo, pindahin ke sini." perintah Galaksi.


"Okeh. Gue ambil dulu." Edo beranjak dan meninggalkan kamar.


Lintang menatap Galaksi lekat sambil bersedekap.


"Kenapa, liatinnya kok gitu amat ciii ... tayang...." Galaksi memajukan wajahnya ke wajah Lintang.


"Ck. Lak, gue mau ngomong."


"Ngomong aja. Emang mau ngomong apa? Jangan kaku-kaku sama gue, lo kan tau, cuma sama lo gue bisa jadi diri sendiri dengan kegilaan dan ke norak-an gue yang bikin lo ilfeel tapi lo juga nggak bisa kehil-"


"Gue mau nikah sama lo." Selak Lintang. Galaksi diam dengan mulutnya menganga.


"Gue mau, nikah sama lo, Lak. Jadi Mamanya Breyana dan istri lo. Gue cuma mau bilang it-"


Tubuh lintang ditarik Galaksi ke dalam pelukannya. Galaksi memeluk dengan erat.


"Iya Lin, iya, pulang dari sini gue langsung lamar lo. Gue bilang ke Mama sama Papa. Nanti sekaligus rombongan tanjidor sama ondel-ondel, rame pokoknya rame. Makasih sayangku, Lintangku." Galaksi masih memeluk Lintang.


"Iya, maaf, baru bisa jawab sekarang, Galak." Lintang membalas pelukan Galaksi seraya mengusap punggung kekar calon suaminya itu.


"Mau lebih lama lagi gue juga bakal tunggu Lintang," mereka melepaskan pelukan. Galaksi menatap Lintang.


"Tapi, gue mau denger lo bilang sayang atau cinta ke gue, Lin."


"Udah sih, Lak ... tanpa gue bilang kan udah include sama jawaban gue nerima mau nikah sama elo."


"Nggak mau, bilang dulu, ayo bilang dong, kuping ini mau denger, dan hati mau bergetar, perut ini mau ngerasain kupu-kupu, gue mau berjuta rasa bahagia bersarang di dada, menembus sanubari hingga bulan terbit dan bintang menemani malamku yang selalu sen-""


"Norak!" teriak Lintang lalu tertawa, Galaksi pun juga. Ia mendekatkan bibirnya ke wajah Lintang, mencium dengan penuh rasa sayang ke wanita yang akhirnya luluh dan bisa ia dapatkan setelah sekian lama.


"I love you Galaksi, Galak gila, Galak norak, Galak lebay," ucap Lintang saat Galaksi masih mencium pipinya. Galaksi menunduk saat melepaskan ciumannya.


"I love you more Lintangku." Galaksi kini mencium kening Lintang. Lalu melepaskan dan loncat ke tempat tidur.


"Bre, mau punya Mama! Tante Lintang jadi Mamanya Bre, hore! Papa kawin lagi, Papa kawin lagi!" ucap Galaksi sambil joged-joged di atas kasur. Breyana hanya melihat yang kali ini sedang memakan wafer.


"Hadeh, anak gue kayak apa sama lo nanti, Lak, mudah-mudahan nggak ikutan somplak."


"Ehem... udah ngebet bikin anak ya, Lin, sabar ya, Kakanda mau semedi dulu biar langsung tokcer," jawaban Galaksi membuat Lintang bergidik lalu menghampiri Breyana.


Galaksi mengusap kepala Lintang lembut.

__ADS_1


'Your mine Lintang, terima kasih.' ucap Galaksi dalam hati.


TBC


__ADS_2