Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Sudah


__ADS_3

Lintang masih diam. Tak tahu harus seperti apa. Ia mengurung diri di dalam kamar sudah cukup lama - empat hari - wajahnya murung seakan tak ada gairah hidup. Tapi ia punya orang-orang yang hampir setiap hari ada di dekatnya. Kedua orang tuanya tidak kalah terkejut. Tapi, Bapak dengan cepat langsung bersuara.


"Ini salah paham. Bapak yakin Galaksi dijebak," pria paruh baya itu begitu yakin, ia menggenggam jemari anak satu-satunya yang menatap halaman rumah dengan kehampaan di hati, tatapan kosong dengan lingkar hitam di sekitar matanya.


"Coba obrolin baik-baik sama Galaksi ya, Sayang," ucap Bapak sambil menatap sendu. Lintang menggeleng. Ia tak mau, rasanya begitu sakit dan memilukan. Ia kembali menangis tersedu, sesak begitu terasa di dadanya.


"Semuanya masih Lintang ingat jelas, Pak, dan itu sakit banget rasanya. Lintang nggak mudah lupa."


"Bapak tahu. Jadi gimana? Apa keputusan kamu."


"Batalin semuanya, Pam. Lintang nggak mau, Lintang nggak mau!" ia kembali menangis sambil bersandar di dada Bapaknya.


"Yaudah, Bapak juga nggak mau paksa kamu, karena pasti sakit banget. Eyang, nanti biar Bapak sama Ibu yang ngomong, tapi tolong, jangan begini ya, Bapak sedih Lintang," lalu air mata pria itu juga mengalir. Lintang sesenggukan. Ia meremas baju Bapaknya dengan tangisan mengerang. Ia tidak sanggup. Seorang Bapak tak akan tega melihat air mata jatuh di wajah putrinya, apalagi karena urusan seorang pria.


***


"Tang," suara Vanka terdengar di depan pintu kamar Lintang. Hampir setiap hari, sepulang bekerja, Vanka selalu ke rumah Lintang bersama Adjie. Vanka berjalan masuk ke dalam kamar. Ia duduk perlahan di tempat tidur, Lintang diam, Memainkan kuku-kuku jarinya dengan wajah sangat sendu.


"Ada Edo, Adjie, Delon, Brama, Meta sama Aldo di depan, mereka mau ketemu lo, boleh mereka masuk, Tang?" ucap Vanka pelan. Lintang menatap Vanka sambil mencoba tersenyum dan mengangguk.


"Jelek ih..! Matanya ada lingkaran hitam, ewwhhh.. kaya panda aja lo." Vanka mengusap sisa air mata yang masih merembes di sudut mata Lintang. "Sayang akohhhhhh, ayo bangkitttt!" Vanka memeluk dan menggoyang-goyangkan tubuh Lintang. Lintang terkekeh. Vanka senang mendengarnya. Ia lalu beranjak dan memanggil tim yang akan memperbaiki semuanya. Demi Lintang - yang jadi bagian dari hidup mereka - yang sedang dilanda musibah. Melepaskan atau membiarkan, itu tidak akan terjadi di keluarga mereka.


Edo masuk lebih dulu. Lalu mendekat dan mencium kening Lintang, berganti semuanya, Meta bahkan membawa pizza banyak dan minuman kesukaan Lintang, minuman dingin teh bersoda.


Mereka semua duduk berpencar, selonjoran di karpet, duduk di kursi meja rias, tiduran di ranjang Lintang, atau duduk di sisi jendela yang terbuka, hanya Adjie yang duduk di sebelah Lintang dan terus merangkulnya. Adjie sangat sedih melihat Kakak perempuannya terluka seperti ini.


"Semua udah kita beresin, Tang, karena keputusan lo udah bulat buat batalin semua. Kita udah akhirin semuanya. Walau undangan dan souvenir udah sampe di rumah Eyang, nggak masalah, besok kita taruh di rumah Galaksi, atau rumah orang tuanya." Edo menggenggam jemari Lintang.


"Adek kita kuat, Adek kita semua bisa lupain dan bangkit. Bang Igo titip salam peluk buat lo, Bang Igo—" Edo diam sejenak. "Marah besar ke Galaksi. Dan kita semua takut Bang Igo, nekat."

__ADS_1


"Jangan, Do. Jangan biarin hal buruk terjadi sama Galaksi. Bang Igo jangan bolehin apa-apain dia. Please," Lintang kembali menangis. Ia sadar jika ia begitu mencintai juga menyayangi Galaksi, walau sepertinya, semua berakhir sia-sia.


"Apa sih, Tang. Elo udah disakitin begini masih lo bela aja dia!" omel Adjie.


"Jie, walau gue nggak tahu yang sebenarnya terjadi apa, cuma apa pun itu alasannya, perbuatan dia udah salah banget. Sakit rasanya lihat hal itu. Kalau ditambah Igo nyakitin dia juga, gue nggak bisa maafin diri gue lagi, Jie." Air mata Lintang mengalir deras. Adjie memeluknya erat. Lintang kembali menangis menjadi-jadi.


Semua mata saling menatap satu sama lain. Edo mengkode agar tidak membahasnya lagi. Fokus mereka membuat Lintang kembali ceria dan melupakan yang sudah terjadi.


Siapa yang mau, pernikahan sudau di depan mata, tapi harus hancur karena *****. Lintang menyalahkan dirinya karena cuek satu hari itu. Ia beranggapan Galaksi begitu karena kesal dengannya sehingga menumpahkan semua ke Mira. Mira, akan sangat senang menyambut hal itu bahkan dengan tangan terbuka.


***


Rumah keluarga Galaksi.


Galaksi menangis dan berlutut di kaki Mamanya seraya berkali-kali meminta maaf atas kekhilafannya. Ia juga tidak mengerti kenapa bisa sampai terbawa suasana seperti itu. Wanita yang sudah melahirkan Galaksi, menangis dengan histeris. Ia sedih, kecewa, malu, semua menjadi satu. Ayah Galaksi, jangan ditanya. Saat mengetahui hal itu. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya untuk Galaksi. Saat itu Edo dan Brama yang langsung berbicara dengan kedua orang tua Galaksi.


"Ma, maafin Galaksi, Ma..., jangan siksa Galaksi sama air mata Mama, cukup Galaksi kesiksa karena kehilangan Lintang Ma, Galaksi— nggak kuat," air mata lelaki itu menetes mana kala ia sudah menyakiti dua wanita hebat di hidupnya. Galaksi duduk menunduk. Tersungkur di telapak kaki Mamanya.


"Ma! Mama! Papa! Mama, Pa!! Mama bangun! Mama!!" Teriak Galaksi panik sambil menelepon keluarganya yang berprofesi sebagai dokter.


***


Semenjak kejadian pingsannya orang tua Galaksi, suasana di rumah juga menjadi tak nyaman, Galaksi juga seolah hilang semangat untuk menjalani hari-hari.


Galaksi mencoba mencari keberadaan Lintang. Di rumah, resto, ia bahkan hanya bisa memantau dari jauh. Tapi nihil. Tidak ada satu pun jejak Lintang sudah hampir dua minggu ini. Galaksi di keluarkan dari kantor dengan alasan skandal dengan karyawan. Apa ia sudah bangun pun hancur. Kini ia hanya bekerja sebagai freelancer accountan. Ia juga tidak tinggal di rumahnya. Ia kembali ke rumah kedua orang tuanya. Walau perang dingin masih terjadi antara ia dan sang ayah.


Bre, balita itu terus bertanya tentang Lintang. Bahkan pernah, Bre mengigau memanggil Lintang hingga Galaksi menangis karena sedih melihat anaknya yang sangat merindukan calon Mamanya itu.


Semua akses seakan tertutup untuknya bertemu atau meminta maaf atas kesalahannya kepada Lintang.

__ADS_1


Ia sudah berada di depan rumah kedua orang tua Lintang, yang ia dapati justru tulisan ‘rumah ini di sewakan’, Galaksi hanya bisa menatap sendu.


"Kamu di mana Lintang, Sayang," ucapnya lirih. Ia kembali masuk ke dalam mobil dan menangis. Menahan sesak di dada atas kebodohannya. Ia sungguh tak tahu harus apa lagi.


***


Dilain tempat.


"Lintang, kamu yakin sama keputusan kamu, 'Nak?" mantan Ibu mertuanya menggenggam jemari Lintang. Sudah hampir seminggu Lintang diungsikan di rumah Bunda Haga. Bunda dan Ayah Haga terkejut saat tahu apa yang terjadi dengan Lintang.


"Lintang yakin Bunda... Lintang nggak bisa kalau di sini terus." Lintang tersenyum menatap Bunda Haga.


"Yaudah, nanti Bunda, Ayah sama Hanna pasti sesering mungkin tengokin kamu di sana."


Hanna membuka pintu kamar, tersenyum, "Mbak, dipanggil Ayah di ruang keluarga," ucap Hanna pelan. Lintang mengangguk.


"Lintang,"


"Ya Bunda..."


"Semua pasti baik-baik aja, semoga, Bunda berdoa semua apa yang terjadi sekarang kesalah pahaman. Jangan salahin diri kamu, Bunda nggak mau lihat kamu terpuruk. Haga juga pasti sedih lihat kamu begini."


"Iya Bunda. Lambat laun Lintang pasti bisa terima dan anggep ini semua cuma masalah sepele."


"Iya. Yuk, temuin Ayah." Mereka berdua lalu keluar dari kamar dan duduk di sofa ruang keluarga menghampiri Ayah Haga.


"Sayang, sini Ayah mau ngomong," panggil Ayah Haga. Lintang duduk di sebelah Ayah Haga.


"Ini, selembar cek, hasil jual rumah Haga. Kami semua kasih ke kamu. Mulai hidup kamu yang baru di sana, pakai uang ini untuk modal semuanya. Ayah, Bunda, Hanna, dukung apa pun keputusan kamu untuk hubungan kamu dan Galaksi. Ayah marah. Tapi Ayah nggak punya wewenang apa pun. Kita semua, akan tetap anggap kamu bagian keluarga ini. Bangkit ya sayang, kamu wanita kuat. Wanita terkuat setelah Bunda dan Hanna saat kehilangan Haga. Anak Ayah harus jadi wanita tangguh." Ayah Haga memeluk Lintang. Lintang mengangguk.

__ADS_1


"Terima kasih Ayah." Hanya itu yang bisa Lintang ucapkan kepada Ayah Haga, mantan mendiang suaminya yang sudah meninggal.


::TBC::


__ADS_2