
Kabar mendadak diberikan pihak hotel, untuk tanggal yang di booking Lintang dan Galaksi, ternyata sudah ada yang memesan duluan, pihak hotel lupa mencatat, alhasil Lintang diam dan uring-uringan. Aura wajahnya kusut, mulutnya tak henti merapalkan mantra kutukan untuk petugas hotel itu, ia kesal bukan main.
"Kalau mundur nggak apa-apa kali ya, Lak?" ucap Lintang saat makan siang di resto bersama Galaksi yang sengaja meluangkan waktu. Galaksi menatap sendu ke wajah Lintang.
"Jangan lama-lama, maksimal dua bulan aja atau seminggu setelah sebulan."
"Apa sih, maksudnya?" Lintang bersedekap. Kadang Galaksi suka ribet kalo menyampaikan sesuatu yang bikin Lintang bingung.
"Maksud aku? Enam minggu lagi dari sekarang, waktu super maksimal, titik." Galaksi menatap Lintang sambil memasukan makanannya ke mulut.
Lintang membersihkan sudut bibir Galaksi dengan ibu jarinya, "iya kalo emang kosong di minggu segitu hotelnya, Lak, kalo enggak, apa di rumah aja nikahnya?"
"Tetep di gedung atau hotel aja, kasian kalo Eyang kecewa. Udah, tenang aja. Aku bisa kerja setengah hari sekarang, kita jadi ke tempat sovenir buat lihat-lihat?" Galaksi menatap Lintang. Lintang mengangguk.
"Jangan khawatir, Sayang." Galaksi mengusap kepala Lintang pelan.
***
"Loh, Mas, emang ini berapaan? Kenapa jadi mahal banget, perasaan kemarin saya lihat di webside harga satuannya nggak segini, ini tumbler mini lho, Mas, bukan termos buat jualan kopi," jeplak Lintang yang malah membuat Galaksi ngikik. Ia masih melihat-lihat barang lainnya.
"Yah Mbak, lagi mahal emang kalo tumbler, apa mau mug aja? Nanti di print nama Mbak sama Masnya."
"Kalo mug berapaan?" tanya Lintang sambil memegang mug di tangannya.
"Ini, satunya lima belas ribu Mbak, kita printnya yang anti panas dan luntur. Dijamin bagus."
"Bentar-bentar, lima belas ribu, kita undangan berapa, Lak?" Lintang menoleh ke Galaksi.
"Lima ratus undangan, tapi untuk pengajiannya sama siraman beda lagi, itu juga pake sovenir."
Lintang mengitung-ngitung totalnya hampir sepuluh juta hanya untuk sovenir.
"Pilih yang lain, deh." Lintang mengurungkan memilih mug. Galaksi mendengkus dan duduk sambil memperhatikan Lintang yang sibuk memilih dan bertanya harga.
Setengah jam berlalu, Lintang kesal sendiri. Galaksi akhirnya mengambil tindakan.
__ADS_1
"Mug aja, kita pesen 700 buah, warna putih, tulisannya saya minta disain yang rapi, sebelum print konfirm dulu ke saya, di DP sekarang bisa?" ucap Galaksi sambil mengeluarkan kartu debet. Lintang melongo. Ia menarik Galaksi menjauh.
"Kok gitu?!" bisik Lintang kesal sambil menatap Galaksi.
"Kelamaan kamu. Banyak pertimbangan."
"Bukan gitu lak, aku cuma—"
"Prinsip ekonomi? Skip dulu lah, Lin, biar cepet kelar. Kita harus cari hotel lain, bukan?" jutek Galaksi. Lintang diam. Ia keluar toko dan berdiri di dekat mobil Galaksi.
"Kamu harus tau, Lin, nggak semua hal perlu dihitung," ucap Galaksi sambil menekan remot kunci mobilnya.
"Aku cuma nggak mau jadi mubazir, Galaksi."
"Untuk kali ini, nggak ada kata mubazir, hotel sama ketering boleh kita perhitungan, untuk sovenir, nggak ya. Udah, jangan khawatir."
Galaksi mengusap kepala Lintang. Lintang menatap Galaksi yang bisa juga bersikap tegas terhadapnya. Menghilangkan sisi gila di saat yang tepat.
Lintang menahan senyum, ia teringat sesuatu. Galaksi sebentar lagi ulang tahun, ia mau memberikan kejutan sederhana tapi berkesan untuk laki-laki yang akan menjadi teman hidupnya nanti. Ia akan meminta bantuan Adjie dan Edo.
***
"Ini aja, nih, warna dasarnya putih, kesannya bersih dan bagus, Lin." Galaksi menunjuk ke contoh undangan di tangannya.
"Kegedean Galak, itu bisa buat jadi talenan kalo segede gitu," protes Lintang. Galaksi terkekeh.
"Bener juga. Yaudah yang tipis itu aja, Lin, ujung-ujungnya juga dibuang, nih undangan."
"Nah, paham maksud aku kan, sekarang?" lirik Lintang ke Galaksi. "Yaudah, Mas, yang coklat susu ini aja, warna hurufnya coklat tua ya, kebetulan nuansa acara dan seragam juga coklat. Iya kan, Lak?"
"Iya, Sayangku."
Tidak ada perdebatan alot. Good. Galaksi bisa merasa tenang.
***
__ADS_1
Lintang meneguk es kelapa dengan cepat, mereka duduk di kios penjual es kelapa muda, setelah letih karena lumayan drama hari itu. Jam juga sudah menunjukan pukul tiga sore, mereka harus ke lokasi hotel lain sebagai pilihan mereka. Ponsel Galaksi berbunyi, iya mengkerutkan keningnya.
"Ya halo," jawab Galaksi.
"..."
"Loh, terus gimana? Uang mukanya dibalikin full, dong?"
"..."
"Yaudah. Nanti saya kasih nomer rekening saya. Makasih infonya." Galaksi ngedumel sendiri.
"Dari tempat sovenir, untuk pemesanan mug, udah over ternyata. Mereka nggak terima lagi," ucap Galaksi. Lintang menunduk raut wajahnya mendadak sendu.
"Ini ada apa sih, Galaksi, kayaknya semua jadi nggak sesuai sama rencana kita, apa ada yang salah?" Lintang menatap kedua mata Galaksi sendu. Bahkan air mata sudah menggenang di kedua matanya. Tangan Galaksi terulur, ia mengusap kepala Lintang lembut. Lalu tersenyum.
"Karena kamu gerendeng dan setengah hati bikin acara ini, kamu kan emang nggak suka pesta-pesta, pinginnya sederhana," ucap Galaksi pelan.
"Bukan itu maksud aku padahal, Galaksi. Ini bukan firasat buruk kan ya?"
Tuk! Kepala Lintang dijitak Galaksi.
"Bisa nggak sembarangan kan, ngomongnya?"
"Ya habis. Ini gagal, itu nggak jadi, kenapa nggak ikutin aku gitu kan dari awal, di KUA terus syukuran sederhana di rumah. Simple. Nggak ribet ini ono, yang nikah kita, yang heboh keluarga, minta ini itu, hih! Anak-anak kita jangan kayak gini deh nanti, kasihan, yang penting akad nikah lancar, sakral, dan sah di negara juga agama." Lintang mengaduk-ngaduk isi gelas yang sudah sisa sedikit kelapanya.
Galaksi sumringah mendengar penuturan Ljntang. "Emang, udah siap jadi Ibu anak-anak aku?" Galaksi merangkul pundak dan menyandarkan kepala di bahu Lintang.
"Kalo nggak siap ngapain mau nikah Galak... kamu nih, bikin emosi, ya?" Lintang mendorong kepala calon suaminya itu dengan telunjuknya.
"Eits ... dosa lo dorong-dorong kepala aku kayak gitu," protes Galaksi.
"Belum sah jadi suami ini, mumpung masih bisa. Kalo udah sah baru aku kalem sikapnya ke kamu. Tapi, itu juga kalo nggak kepaksa," ucap Lintang seraya membuang pandangan ke arah lain. Galaksi menggenggam jemari Lintang dan mengecupnya. Lintang mengulum senyum menerima perlakuan Galaksi kepadanya.
"Jangan mikirin yang lain, yang bukan-bukan, jangan kaitkan hal lain. Kita jalanin yang ada di depan mata, Lintang, kita harus jalanin semua proses ini dengan rasa bahagia. Biar jadi kenangan kita nanti di hari tua, juga, bisa kita ceritain ke anak cucu. Mereka pasti seneng kalau kita punya cerita yang berkesan. Perjuangan kita sampai akhirnya bisa bersama. Ye khannn, Lintang tayang ...." Galaksi meremas jemari Lintang.
__ADS_1
Bibirnya mendekat ke telinga Lintang, "kalau di mobil, udah aku cium kamu nih, Lin." Galaksi mengedipkan sebelah matanya. Lintang bergidik, ia tak percaya Galaksi punya ide seperti itu.
::TBC::