Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Amsyong


__ADS_3

Suara para karyawan bagian dapur restaurant tempat Lintang bekerja terdengar riuh, jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Saatnya restaurant bersih-bersih karena sudah waktunya tutup.


Lintang membantu merapihkan kimchi yang akan disediakan untuk para pelanggan esok hari kedalam kulkas. Bima yang sudah memakai pakaian koki berwarna putih sibuk memisahkan bahan makanan untuk besok ke dalam ruangan pendingin khusus.


"Tang, balik bareng?" Tanya Bima. "Adjie kan nggak kesini hari ini"


"Tenang, ada ojol. Lo kejauhan kalo anterin gue Bim"


"Nggak kok. Eh lagian kita kan mau ke tempat bang Igo dulu. Lo nggak baca grup keluarga ya?"


Lintang mengernyitkan keningnya. Ia lalu membuka ponsel dan membaca chat yang sudah banyak.


"Ehhh, kumpul semua?"


"Harus dateng pokoknya. Meta sama Aldo aja dateng. Udah sampe malah. Kapan lagi spupu-spupu kumpul" Bima menepuk bahu Lintang.


"Oke deh, gue telfon bapak dulu"


"Yaudah. Gue ganti baju, gue tunggu didepan ya" ucap Bima. Lintang mengangguk-angguk. Karyawan yang bertanggung jawab mematikan lampu dan mengunci pintu restauran juga tidak masalah jika Lintang pergi lebih dahulu.


Lintang dan Bima sedang terkekeh bersama hingga saat lampu mobil seseorang menyorot mereka berdua lalu mobil itu berhenti didepan restaurant.


"Eh, ada calon suami baru tang, haseekkkk" ucap Bima. Galaksi turun dari mobilnya. Berjalan menuju Lintang dan menyapa Bima.


"Kita nggak balik nih lak, mau ada acara kumpul spupu-spupu" ucap Bima sambil kembali mengambil helm cadangan dari tangan Lintang.


"Oh gitu. Yaudah gue anter kesana Lin" ucap Galaksi.


"Gue bareng Bima" tunjuk Lintang.


"Kata sapa. Gue duluan ya, jangan mampir-mampir dulu, bang Igo sama yang lain udah nungguin"


"Oke. Hati-hati Bim" ucap Galaksi.


"Siap bor, bye Lintang" Bima mencolek gemas dagu Lintang. Ia cemberut. Motor Bima sudah meninggalkan resto, ia melirik Galaksi.


"Habis drop gue, langsung pulang. Kasian Bre" ucap Lintang.


"Bre lagi di tempat mamah papah, aman kalo gue mau nongkrong dulu"


Jawab Galaksi semangat sambil merentangkan kedua tangannya keatas.


"Apa maksudnya gitu-gitu" tanya Lintang ketus.


"Mau meluk lo tadinya. Tapi nggak jadi deh. Takut ngamuk" Galaksi terkekeh.


"Udah tau masih coba-coba" Lintang berjalan ke mobil Galaksi dan langsung masuk kedalamnya.


"Mmmhhh, Lin, gregetan tau nggak gue sama lo calon istriiiii" Galaksi kesal tapi tetap menunjukan senyumannya.


***


Rumah dipinggir jalan raya dikawasan elite itu terlihat indah dengan hiasan lampu-lampu bohlam bergantung yang berada di halaman luar rumah. Dan untuk halaman samping, tempat duduk kayu banyak berjejer disana. Igo memang membuat rumah berkonsep cafe di halaman samping, jadi kalau saudara atau temannya kumpul, mereka betah dan bisa membuat minuman apapun. Igo juga menyediakan showcase untuk diisi banyak minuman.


"Keren rumahnya ya Lin" ucap Galaksi saat mereka baru sampai dan memarkirkan mobil di garasi rumah yang cukup besar.


"Hasil kerja ditengah laut. Rajin nabung emang orangnya. Nggak ada yang nyangka bang Igo sekaya ini"


"Emang ditengah laut ngapain? Orang perminyakan?" Tanya Galaksi lagi. Lintang menggeleng.

__ADS_1


"Kapal pesiar. Senior Clerk posisinya. Baru turun dua bulan lalu, minta cuti sebentar, nih kalo dia ngumpulin spupunya, berarti mau ada assigment atau kontrak baru"


"Kerennnn, jurusan apa dulu kuliahnya?"


"Akuntansi keuangan" Lintang menguncir rambutnya. Galaksi menarik kunciran Lintang yang justru sewot.


"Gue nggak suka leher mulus lo dilihat orang-orang" tatapan Galaksi tajam. Lintang mau protes tapi Galaksi sudah menaruh telunjuknya di bibir Lintang.


"Gue serius Lin. Nurut gue kali ini, nggak baik" nada bicara Galaksi benar-benar menunjukan keseriusan. Lintang kembali menggerai dan berjalan kearah pintung samping.


"Gitu dong" Galaksi memegang kepala Lintang.


Kehebohan langsung terdengar saat Lintang berjalan menghampiri.


"Wihhhhhh! Janda pengkolan udah datengggg, ehhhh sama siapa tuh... asekkkkk... calon anggota baru kita kayaknya nih" ledek salah satu spupu Lintang.


"Teros aja terossss" ucap Lintang sambil mencium punggung tangan laki-laki berusia tiga puluhan itu.


"Mba Trisya mana mas?" Tanya Lintang.


"Didalem, lagi bikin pisang bakar"


"Oh- kenalin nih mas, Galaksi" ucap Lintang. Galaksi menjabat tangan.


"Lintanggggg kirain gue lo nggak da-teng, eh, malam pak Galaksi" Edo menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Nggak usah formal do, Galaksi aja, lagi diluar kantor kan" ucap Galaksi.


Edo terkekeh sambil mengangguk.


"Lintaaangggg" teriak sang tuan rumah yang langsung memeluk Lintang dan menciumi pipinya.


"Bang Igo!!! Ihhhh apa siiiiii!! Abang!" Protes Lintang yang terus menghindar dari kegemasan Igo ke adik spupu nya itu. Spupu yang lain tertawa terbahak-bahak. Igo akan selalu seperti jika bertemu Lintang. Saat kecil dulu ia dekat dan selalu dimanjakan oleh Igo yang terpaut usia lima belas tahun dengan Lintang. Istri Igo pun sudah hafal dengan kebiasaan suaminya itu.


"Eh gila. Lama amat! Untung anak-anak lo udah tiga ya bang, kalo nggak, kasian kak Bela, sebelum berangkat lo buntingin, lo pulang tau-tau tinggal lahiran. Edaaannnn emang edannn" Lintang menatap Igo sambil menggelengkan kepala.


"Sembilan bulan juga ada break dua minggu kale. Eh, sama siapa tang, dianggurin, kasian takut jamuran" Mulut Ogo emang bener-bener, mirip sama Litang kalo soal nyeletuk.


"Saya Galaksi bang," Ia menjabat tangan Igo.


"Ohhhh. Ini yang diceritain Adjie, duduk-duduk Galaksi, bebas mau dimana, asal jangan di pinggir kolam ikan, isinya piranha semua" ucap Igo sambil merangkul Galaksi dan duduk di tempat yang kosong.


"Ngomong apaan Adjie bang emangnya?" Tanya Lintang penuh kecurigaan.


"Katanya, Galaksi ini mau nikahin elo, cuma lo tau kan, harus lewatin orientasi kita-kita dulu. Karena cucu cewek nya eyang cuma elo, Meta, Jena sama Jeni, lainnya dua belas orang cowok semua, ya, harus lewatin prosedur kita lah" ucap Igo sambil melirik Edo dan sepupu lainnya.


"Gue nggak ikutan tang, asli suwer, Aldo udah lewatin kaya ginian soalnya." Ucap Meta sambil angkat tangan. Aldo cekikikan.


"Bang Igo. Udah kek, lagian siapa yang mau nikah, jangan iseng napa bang" pinta Lintang memelas.


"Sttts. Diam anda. Ini urusan laki-laki." Ucap Igo


"Pak Gal, eh, Galaksi. Sorry ya, bang Igo sebagai ketua rombongan emang gini nih, maaf ya kalo lo nanti jadi nggak nyaman" ucap Edo yang merasa tidak enak dengan bossnya itu.


"Nggak apa-apa, saya kan udah bilang ke Adjie, saya siap ketemu sodara-sodaranya Lintang. Karena emang saya serius saya Lintang" ucap Galaksi penuh percaya diri seperti biasanya.


"Haduhhhh" Lintang sudah menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Lalu Bela, dan Trisya keluar dari dalam rumah sambil membawa pisang bakar dan beberapa makanan lainnya.

__ADS_1


"Mana calon suaminya Lintang. Coba kenalin ke kita juga" ucap Bela. Lintang semakin merosot posisi duduknya. Ia melirik ke Galaksi yang terlihat percaya diri.


"Inih?" Tunjuk Trisya. Galaksi mengangguk dengan tingkat ke pd-an over load.


"Adjie mana si!!" Ucap Lintang celingukan.


"Ngumpet" jawab Bima. Tidak lama, Dewa yang datang paling akhir. Wajahnya kusut. Ia habis belajar laporan penjualan dan pendapatan dengan papinya.


"Kram otak gue hadohhhh" datang-datang Dewa sudah protes. Matanya terbelalak saat melihat Galaksi.


"Eh, ada calon suami Lintang. Halo apa kabar Gal" ucap Dewa.


"Lho, udah pada kenal toh. Wah, ok lah kalo gitu. Pada mau amunisi apa nih?" Tanya Igo satu persatu ke spupu-spupunya.


Mereka mulai bersuara. Bela mencatat di ponselnya. Lintang melirik ke Galaksi yang masih tidak tau maksud Igo dan lainnya apa.


"Galak" bisik Lintang.


"Apa Lin" jawab Galaksi berbisik manis ke Lintang.


"Punya cash berapa. Atau nggak, bawa credit card kan?"


"Emang kenapa?" Tanya Galaksi lagi.


"Siap-siap, ada perampokan. Gue minta maaf sebelum semua bakal kejadian. Gue nyerah duluan"


"Hhhhh?" Wajah Galaksi masih bingung.


"Okeh. Berarti pesen disatu tempat ya. Bentar gue telfon" ucap kak Bela.


Setelah beberapa saat. Restaurant junk food 24 jam yang mereka hubungi datang.


"Semua satu juta delapan ratus tujuh puluh lima sekian-sekian" tangan Bela sudah berada didepan Galaksi.


Galaksi tersenyum dan memberikan credit card nya ke Bela.


"Sip. makasih Galaksi, gue kedepan dulu ambil pesenannya. Duduk anteng aja disini ya" ucap Bela lagi.


Galaksi cuma senyum-senyum. Ia menoleh ke Lintang yang duduk sambil melirik tak enak kepadanya.


"Nggak apa-apa, buat makan bareng-bareng ini" bisik Galaksi sambil mengusap kepala Lintang.


"Duileeeeee, udah cayang-cayangan aja elus-elus kepalaaaaa, kepala gue juga mau dong di elus-elus" suara Adjie terdengar dibelakang Lintang. Ia beranjak dan langsung mengejar Adjie yang lari terbirit-birit.


Makan malam berjalan seru dan heboh. Karena Lintang jadi bulan-bulanan spupu-spupunya. Galaksi justru merasa senang walau sambutannya dengan cara ia harus mentraktir semua. Jumlah tak masalah jika diakhiri dengan penerimaan tangan terbuka kepadanya.


Justru Lintang yang merasa malu, dan sebal karena terus menjadi sasaran ledekan semuanya.


Igo tak henti-hentinya meledek. Membuka aib Lintang saat kecil, Edo juga ikut-ikutan.


"Lintang tuh cengeng, tengil-tengil pas mulai SMA, tau tuh, dapet ilham dari mana sampe bisa sejudes gitu"


"Iya. Dulu dia pernah kan ya curhat ke kita tentang senior kating nya yang ngejar-ngejar dia dengan hal norak yang bikin dia ilfeel, tapi ujung-ujungnya ngerasa kehilangan juga, waktu masih kuliahhhhh" Igo melirik ke Lintang yang sudah menutup telinganya dengan bantal kecil.


"Maksudnya itu, gue bang?" Tunjuk Galaksi.


"Yaiyalah Malih. Siapa lagi!" Igo melempar sedotan ke Galaksi yang justru tertawa keras.


"Ohhh bener toh, ada yang kehilangan, gitu" ucap Galaksi dengan penuh kebanggan. Adjie terpingkal-pingkal.

__ADS_1


Bela dan Trisya ikut berkomentar yang memojokan Lintang juga. Benar-benar amsyong malam itu bagi image seorang Lintang.


bersambung,


__ADS_2