Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Belum tentu


__ADS_3

Menjadi pemenang belum tentu Lintang mau menikahi Galaksi. Ia tetap butuh waktu. Terkesan mengulur? Sepertinya, ia butuh kesiapan mental berlebih untuk masalah pada dirinya sendiri.


Ia duduk di teras rumah dengan terus menunduk memainkan ujung kaosnya, berfikir keras. Thinker sejati. Semua dianalisa sendiri, berakhir menjadi kepala batu.


"Kalau aku udah menang, kenapa kamu masih mikir terus sih, Lin, posisi aku di hidup kamu apa, Lintang?"


Itu pertanyaan sekaligus pernyataan yang galaksi ucapkan semalam saat mereka berdiskusi bersama di teras rumah. Galaksi sudah berangkat ke kantornya yang di cabang Yogya. Setelah hanya meminum kopi dan memakan sepotong gorengan bakwan buatan Lintang, pria itu melesat ke kantor sengan menggunakan becak.


Edo berdiri di depan pintu, sudah dengan pakaian rapi.


"Nggak ke toko? Udah jam setengah tujuh, Lin." Edo duduk di sebelah Lintang yang tampak galau.


"Lo tuh kebanyakan apa-apa di pikir ini itunya, Lintang, sesekali, lakuin sesuatu tanpa pikir panjang, semua hal di hidup kita itu pasti ada resiko dan efeknya, positif selalu sebelahan sama negatif. Udah law of life. Setiap masalah nggak bisa lo pikir sendirian, sharing lah, lo punya banyak orang yang perduli dan sayang sama lo, kan?"


Lintang diam. Ia bersandar di bahu Edo. Memejamkan mata.


"Terus, gue harus langsung iyain ajakan Galaksi nikah gitu?" tanya Lintang pelan.


"Itu terserah lo. Karena sekali lo udah ambil keputusan buat nikah, itu udah pake pakem never look back. Gue yang belum pernah nikah aja mikirnya gitu, Tang, ini elo... Dodol!" kening Lintang di sentil Edo.


"Do,"


"Ape," lirik Edo.


"Gantiin gue hari ini ya di toko, lo kan cuma meriksa laporan penjualan, sekarang gue tambah awasin operasional toko."


"Kemana lu. Semedi lagi?" Sinis edo.


"Enggak. Mau coba relaksin pikiran gue, gue mau coba obrolin semuanya sama Galaksi, dia cuma sampe jam sebelas katanya, besok udah balik ke Jakarta."


"Sekalian aja Brey's di sini gue yang kelola, gue mau pindah ke sini ah... nyaman, tentram, ke mana-mana bisa naik sepeda."


"Lo mau? Gih...! Sana urus. Gue mau buka cabang di Jakarta, Bang Igo investornya, udah kasih gue modal." Lintang terkikik. Edo menatap kesal.


"Pilih kasih. Bang Igo keterlaluan. Adeknya kan gue... Huh!" Edo menggoyang-goyangkan bahu Lintang.


"Hahahaha... Adek laknat sih, Lo..."


"Assalamualaikum Mbak, Lintang," suara lembut perempuan terdengar di depan pagar rumah.


Lintang dan edo menoleh, "Waalaikumsalam," jawab Lintang lalu beranjak dan berjalan ke pagar.


"Sita? Pagi Sita, mau ketemu Ibu ya, Ibu lagi di Jakarta," Jawab Lintang sambil membuka pagar lebar-lebar.


"Bukan Mbak, niki wonten bubur sumsum dari Ibu, tadi Ibu sita bikin dan inget Mbak Lintang suka." Sita, nama gadis itu. Ia memberikan semangkuk bubur sumsum ke tangan Lintang.


"Wahhh... asik, makasih ya, Sita, matur nuwun lho, aku jadi enak," ucap Lintang sambil cengengesan.


"Njih Mbak, sami-sami, pareng Mbak Lintang, Mas," pamit Sita.


Lintang menoleh ke Edo yang diam sambil bola matanya mengikuti langkah sita hingga masuk kedalam rumahnya yang ada di depan rumah lintang.


"Tang, Fiix gue pindah ke sini. Calon masa depan gue ada di depan mata, Tang."


"Sapa? Sita?"


"Sita ya namanya, cantik banget, natural, wow...." ucap Edo sangat pelan saking terpesonanya dengan Sita.


"Masih anak SMK itu, kelas tiga."


"Nggak apa-apa, gue tungguin, Brey's cabang di sini gue yang kelola deh, deal ya, Tang, deal." Edo mengikuti Lintang masuk ke dalam rumah.


"Eh tapi Do, kayaknya Sita itu nggak pingin kuliah deh, dia tuh harus langsung kerja karena harus bantu Ibunya untuk nafkahin keluarga." Informasi valid dari Lintang, diperoleh dari Ibunya yang memberi tahu Lintang saat mereka baru pindah ke Yogya. Keluarga Sita yang pertama menyambut dan membantu.

__ADS_1


"Bapaknya?" tanya edo lagi.


"Seinget gue kerja di Malaysia, TKI," jawab Lintang sambil memakan bubur sumsum.


"Fix. Gue nikahin deh, dia, gue tanggung kehidupan keluarganya sekalian. Di Jakarta nggak ada model kayak gitu tang, gue deketin ya."


"Coba aja sana, eh, di Jakarta tuh ada, elonya aja males nyari...!"


"Ck. Ogah, ah. Nyaru sama yang model oplas apa dempulan, susah bedain, yang natural alami bener-bener bikin gue meleleh, apalagi bukan jan-"


"Berangkat sana! Gue mau beresin rumah!" omel Lintang sambil beranjak dan mendorong-dorong Edo keluar rumah. Edo terkekeh. Ia menyiapkan sepeda yang ia pinjam ke Lintang untuk menjadi alat transportasi dirinya menuju ke toko hari itu. Kalo Lintang sukanya jalan kaki.


***


"Lak, kita maksi bareng, aku tunggu di rumah makan nasi gudeg deket stasiun."


Begitu isi pesan singkat Lintang yang ia kirim ke Galaksi. Galaksi membalasnya hanya dengan satu kata 'iya.'


Saat jam makan siang tiba, Lintang sudah duduk di kursi rumah makan sederhana itu dengan segelas es teh manis di hadapannya. Ia menatap ke jalanan yang ramai di jam makan siang. Sebelumnya, saat di rumah ia memikirkannya dan harus ia bahas dengan Halaksi.


Ia bertopang dagu menatap keluar rumah makan, sosok Galaksi muncul dengan pakaian yang masih rapi. Lintang tersenyum singkat sambil menatap Galaksi yang tersenyum bahagia menatapnya.


"Nggak kegedean kemejanya, 'kan?" ucap Lintang saat menatap Galaksi yang semalam berburu baju kerja dan beberapa pakaian lainnya bersama Edo karena Galaksi sengaja tak membawanya.


"Iya," jawab Galaksi singkat.


"Langsung makan, ya? Aku pesenin," ucap Lintang seraya beranjak.


"Boleh," jawab Galaksi, singkat kembali. Lintang mengerutkan kening. Menatap bingung ke Galaksi.


Namun ia tetap berjalan ke meja pemesanan.


***


Sabar Galaksi, Lintang butuh waktu, nggak akan mudah lupain apa yang dia lihat waktu itu, kesabaran akan membuahkan hasil yang baik.


Galaksi menyemangati diri sendiri.


"Aku mau ngomong, Galak,"


"Iya... ngomong apa, Lin?" Galaksi menyiapkan telinga dan matanya. Menyimak dan mendengarkan semua hal yang mengganjal di hati dan pikirannya.


"Jujur, aku belum bisa lupain kejadian itu, hal itu selalu ada di kepala aku, Lak, aku ngerasa takut."


Galaksi masih diam, tidak mau menyela ucapan Lintang.


"Aku terlalu takut, karena hal itu nantinya bisa jadi masalah pribadi kita berdua di saat kita...," lintang menjeda ucapannya. "Menikah," lanjutnya sambil menatap Galaksi.


"Takut apa? Takut aku malah jadi bayangin dia pas kita lagi 'itu', Lin?" ucap Galaksi menjaga kata-katanya karena mereka sedang ditempat makan. Lintang mengangguk.


Galaksi tersenyum. "Terus apalagi yang masih ganjel di hati sama pikiran kamu?" tanya Galaksi.


"Mira di mana sekarang?" Tatapan Lintang menatap galaksi mencoba melihat apakah ia menjawab jujur atau tidak.


"Mira di rumahnya, rumah dia sama Fero, tinggal sama Ibu dan Adiknya Fero juga. Mereka udah nikah, anak mereka juga udah lahir, laki-laki. Kamu nggak usah khawatir tentang dia, Lin."


"Aku khawatir, Lak, perasaan dia ke kamu kan ada, aku takut suatu hari dia balik lagi dan..." Lintang menunduk. Ia sungguh merasa terintimidasi dengan Mira. Ia merasa Galaksi bukan seutuhnya miliknya. Ini salah satu sifat Lintang yang berkali-kali diingatkan sepupu-sepupunya.


Setiap orang punya hak untuk menyukai seseorang, tapi semua kembali ke orang itu. Bisa melihat kenyataan didepan mata atau tidak. Bukan karena satu kata bernama cinta, seseorang bisa melalukan hal apapun di luar akal nalar yang baik.


Lintang menghela napas. Menatap sendu ke Galaksi.


"Aku ngerasa kamu nggak cuma punya aku, Lak," ucapan Lintang justru membuat Galaksi menahan senyum.

__ADS_1


"Aku bayar dulu ya makanan kita, kita ngobrol sambil jalan" ucap galaksi kemudian ia beranjak ke meja kasir. Lintang memilih menunggu di luar rumah makan. Ia menatap lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang sibuk beraktivitas, beberapa kali ia menghela napas gusar.


"Naik becak yuk, Lin, seru deh kayaknya, biar dapet momen kita berdua." Galaksi cengar cengir.


"Mulai deh, gilanya.


"Siapa yang gila. Ayok!" Galaksi menarik pergelangan tangan Lintang. Ia hanya pasrah sambil berjalan mengikuti Galaksi menuju ke tempat becak mangkal.


Dan, di sinilah mereka, duduk berdua di dalam becak berdempetan. Galaksi pasti senyum-senyum bahagia, sedangkan Lintang salah tingkah sendiri. Ia terus menatap lurus jalanan di depan.


"Lin, jangan khawatir sama perasaan aku, udah berkali kali aku bilang kan, gimana seorang Galaksi tergila-gila sama seorang Lintang dari jaman kuliah. Mau nanti di masa depan ada ratusan Mira yang dateng, aku nggak akan tengak tengok atau ladenin, Lin."


"Tapi kamu orangnya kan gitu, Lak, suka becanda ngeledekin orang-orang, perempuan yang nggak tau kamu pasti baper lah di becandain sama kamu kayak gitu, sok gombal gembel gitu."


"Nggak juga. Buktinya kamu susah banget di becandain, apalagi di gombal gembel. Aku harus bener-bener gembel dulu baru kamu lirik." Galaksi menatap ke Lintang.


"Ngapain ngeladenin orang sableng."


"Halahhh... ojo ngono toh permaisuriku sing pualing ayu," dagu Lintang di colek Galaksi. Lintang auto ngegas. Tidak pakai ucapan. Tapi pelototan dan cubitan di lengan Galaksi.


"Sshhh.. sakit Lin, nanti kalo nikah badanku jadi sasaran kamu terus, dong, bisa-bisa jadi biru badanku kaya jinnya aladin."


"Mau kayak gitu!? Sekalian aku rendem kamu pake blao!"


"Yakin tega?" Kedua mata Galaksi menyipit.


"Ngapain nggak tega sama kamu. Dengan senang hati." Ketus Lintang.


"Aku loncat, nih, aku nekat, nih, loncat ya, loncat, nih. Kamu tau kan orang kalau loncat dari kendaraan pasti luka-luka dan berakhir di IGD rumah sakit." Galak mengancap.


"Mikir dong, Lak?! Ini becak aja kecepatannya paling 10km/jam, nggak ngebut. Paling kamu lecet doang. Loncat sana!" ketus Lintang. Galaksi kalah. Ia manyun-manyun sendiri.


"I love you." Halaksi mengusap lembut kepala Lintang dengan sayang. Ia menghela napas dan menatap Lintang yang juga menoleh ke arahnya yang sangat serius.


"Jangan ragu atau takut buat jalanin hubungan serius kita, aku bisa jamin perasaan ini nggak akan berubah atau berkurang, akan semakin bertambah, kamu selalu jadi yang satu-satunya ada di hati dan pikiran aku. Aku mau kita hidup bersama lintang, jalanin semuanya bersama, susah senang bersama, sehat sakit bersama." Galaksi menatap lekat ke dalam mata Lintang.


"Kita nggak akan tau takdir di depan seperti apa, kita cuma bisa jalanin, tapi kita punya pencipta kita yang begitu baik kalau kita rajin berdoa meminta hal yang baik-baik, masa nggak dikabulkan. Jadi... Lintangnya Galaksi, Mama Lintangnya Breyana anaknya Galaksi yang cantiknya sama kaya kamu, jangan ragu sama apa yang akan kita jalanin. Yakin sama keputusan kita berdua." Air mata Lintang sudang menggenang dipelupuk matanya, ia tak sedetik pun menatap ke yang lain selain melihat keseriusan Galaksi berbicara.


"Becak ini jadi saksi, dan aku juga nggak mau kalah dari ninja hatori yang bisa mendaki gunung lewati lembah untuk menaklukan sesuatu, sayang ku, Lintangku, nikah yuk sama Halaksi, orang lebay bin gila yang selalu nggak berenti kejar kamu dari dulu." Galaksi menangkup wajah Lintang dengan kedua telapak tangannya. Lintang diam terus menatap. Galaksi mencari jawaban dari sorot mata Lintang.


"Sudah sampai, Mas... Mbak.. monggo."


Galaksi memejamkan kedua matanya. Momentnya kacau balau. Ia gerutu sendiri sambil turun dari becak dengan cara loncat. Lintang malah terkekeh geli melihat raut wajah Galaksi. Edo yang sedang membuka pintu toko justru melihat heran.


"Napa lu Galaksi? Muka lo ditekuk gitu," ucap edo. Lintang berjalan masuk ke dalam toko sambil tertawa geli.


"Tau ah!" omel Galaksi yang menyusul lintang ke dalam toko lalu mengarah ke kursi tempat konsumen menunggu dan bersedekap. Ia meraup kasar wajahnya. Pemandangan itu tak luput dari para konsumen Lintang yang melihat Galaksi terlihat kacau.


Ia berdiri. "LINTANG, LINTANG, NIKAH YOK!" teriakan Galaksi membuat seisi toko sontak menoleh kompak ke arahnya.


bersambung,


...Cast ...


...Dear, Lintang ...


...Aku suka banget song jae rim & kim so eun, mudah-mudahan mewakili ya... ❤❤❤...




__ADS_1



__ADS_2