Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Pejoeang tanggoeh


__ADS_3

Lewat jalan darat dengan menggunakan roda empat berkekuatan super, alias mobil sedan andalannya yang baru ia beli hasil tukar tambah karena mobil lamanya sudah mulai ngambek,  Galaksi sendirian menuju ke Yogyakarta. Setelah mengetahui keberandaan Lintang, juga, setelah mencari tau lewat Adjie dan Edo, Galaksi benar-benar nekat akan menjemput wanitanya itu.


Kedua sepupu Lintang - Adjie dan Edo - sudah menawari untuk ikut. Tapi Galaksi menolak. Sebelum berangkat, ia sudah siap dengan vitamin yang ia minum dan bawa sebagai persediaan, serta saat subuh tadi sebelum berangkat, ia sudah memakan telur ayam kampung setengah matang sebanyak dua butir. Katanya sebagai stamina untuk kekuatannya mengejar Lintang. Hal itu membuat kepala Galaksi sempat di keplak ayahnya dengan koran yang tergeletak di dekat meja makan.


"Sekalian sama madu aja Galaksi. Biar itu kamu tegak berdiri!" lirik pria berusia akhir lima puluhan itu, Galaksi kesal, ayahnya memang suka meledeknya dengan mengungkit hal itu.


"Jangan dong, Pa, Galaksi maunya halal dulu, biar berkah seeee...muanya." Sanggahan Galaksi hanya mendapatnya decakan dari mulut ayahnya itu.


"Yaudah sana! Hati-hati, jemput Adinda kamu. Bawa dia pulang, dan segera pinang dia," ucap ayah Galaksi kemudian.


"Baik paduka raja, Ananda berangkat dulu. Doakan Ananda supaya kuda mesin Ananda mampu menerjang jal—"


Plak!


"Lebay... lebay... lebay! udah sana!" omel Ibunda Galaksi sambil menyerahkan amplop putih ketangan putranya itu.


"Apakah ini Ibunda Ratu?" tanya Galaksi santai sambil membuka amplop denga pinggang bersandar pada meja dapur.


"Surat pemecatan kamu sebagai anak." Ketus Ibunya.


"HAH!" Galaksi melotot. Raut wajahnya mulai di dramatisir, bibir bawah bergetar, raut wajah memelas, duh! Galaksi kembali konyol.


"Lebay banget sih lagian. Pusing Mama dengernya. Itu uang jajan kamu selama di sana, Mama males transfer-transfer, mumpung uang cash lagi banyak," ucap ibunda Galaksi sambil menatap dan memainkan kuku-kuku jarinya itu.


"Suombongggg nyaaa!! Madammm!" Galaksi lalu memeluk Ibunya sambil menciumi wajah cantik wanita itu juga.


"Makasih Mama, kalo kurang Galaksi kabarin. ya?"


"Kurang ajiaarr, emang dasar anak kamu ya, Pa!" pelotot wanita itu. Galaksi tertawa, begitupun Papanya.


"Mama kan tau... kamu pengangguran beberapa bulan ini kan, masa iya mau ngejar calon menantu baik Mama, nggak Mama modalin."


"Aseeekkkk... colek dikit, ah! Dagu Mama baru di  tanam benang ya, wahhh... bagus banget, Ma!"


"Penjilat kamu. Hus! Sana jalan, pusing Mama nih, pening Galaksiii, sana-sana...!" usir ibundanya sambil mendorong-dorong tubuh Galaksi diakhiri kekehan. "Punya anak satu, kelakuannya nggak jelas gini, Papa sih! Nggak mau punya anak banyak. Gini nih, jadinya." Kini wanita itu melempar kekesalan kepada suaminya yang hanya terkekeh menatap dari balik kacamatanya yang digunakan hanya saat membaca.


"Titip Bre ya, Ma, Galaksi berjuang dulu. Pejuang tanggung Mama sama Papa, mau berper--"


"Iya. Ya ampun Galaksi. Lebay, ih!" Ibundanya geleng-geleng lalu terkekeh.


***


Setengah perjalan sudah di tempuh Galaksi seorang diri. Ia berhenti sejenak di rest area saat  merasa perutnya protes. Ia membeli makanan cepat saji, namun membawa makanannya ke dalam mobil dan memilih makan di sana. Ia menatap sekilas foto Lintang yang terpampang cantik sebagai wallpaper ponselnya.


"Tunggu aku ya, Sayang," gumam Galaksi sambil lanjut memakan makanannya. Ia membaca alamat yang diberikan Edo. Tempat di mana Lintang berada. Ia terus berdoa supaya Lintang mau menemuinya. Ia akan menjelaskan semuanya tanpa terkecuali.


Perjalanan kembali Galaksi lakukan, ia tak merasa letih atau ngantuk, semangatnya berkobar-kobar layaknya pejuang kemerdekaan. Pukul dua siang Galaksi sampai di kota pelajar itu. Suasananya yang nyaman membuat Galaksi tersenyum. Ia mencari letak hotel tempatnya menginap yang belum lama ia booking via aplikasi.


"Mbak, tau alamat ini nggak?" tanya Galaksi ke resepsionis, sesaat setelah ia selesai membersihkan diri di kamar hotel, tubuh dan wajahnya juga sudah lebih segar.


"Oh, ini toko cup cake and pastry yang lagi booming, Mas di sini. Enak-enak, lho, Mas cup cake-nya," ucap petugas resepsionis itu.


"Toko... cup cake and pastry?" tanya Galaksi bingung dan ragu. Ia berfikir apa Lintang bekerja di sana sekarang. Ia mengira itu alamat rumah Lintang di Yogya.


"Jauh nggak dari sini?" Galaksi bertanya kembali.


"Nggak, Mas. Keluar hotel ini belok kiri, kira-kira dua ratus meter, ada di sebelah kiri, kok. Tapi antriannya panjang Mas kalo mau beli kuenya."


"Nggak apa-apa, makasih ya infonya." Galaksi lalu berjalan ke arah parkiran mobil.


Galaksi mengeluarkan mobilnya keluar dari parkiran hotel. Ia sudah berganti baju dengan celana training panjang warna hitam, dan kaos polos warna abu-abu dengan sandal santai. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan 20km/jam, takut-takut letak toko itu terlewat olehnya.


"Itu kayaknya, deh, yang rame banget. Buset..! Antriannya sampe keluar toko. Mau nyaingin roti Pak ogah yang di Bogor kali ya, ck..ck..ck.." Galaksi merapat ke kiri. Setelah terparkir sempurna, ia berjalan keluar dan langsung menyilangkan sling bag yang ia kenakan di depan dadanya.


"Degdegan ya ampun, duh... duh... duh..., Galaksi, kontrol emosi, kontrol semuanya, huft!" ia bermonolog sendiri. Galaksi lalu berjalan pelan sambil mencari sosok Lintang.


Wajah Galaksi menegang, lalu tak lama tersenyum dan terkekeh saat ia membaca merk toko tersebut.


Brey's Cup cakes and pastry by lintang.

__ADS_1


"Jadi calon bini gue owner-nya. Nama tokonya nama anak gue, Lintang, bisa banget sih kamu, Sayang." Galaksi berjalan mendekati toko. Ia terhenti saat dirinya ditahan sekuriti di luar. Ia diminta mengambil nomor antrian. Galaksi mendengkus kesal, namun ia tetap mengantri.


Dengan tubuh tingginya, ia bisa menatap wanita yang sedang sibuk menyapa beberapa pelanggan dengan berpakaian seragam berwarna pink magenta, dan celana panjang warna hitam, membuat ia terlihat anggun menpesona. Galaksi mengulum senyum, ia berkali-kali membuang pandangan karena merasa malu tiap melihat Lintang yang tersenyum ramah. Sebentar lagi tiba Galaksi yang masuk ke dalam pintu toko. Lintang tetap sedang berbicara dengan seorang karyawannya dan membelakangi Galaksi.


Mau peluk kamu sumpah, Lin. ucap Galaksi dalam hati. Ia ingin melompat-lompat, joged-joged ala shincan, karena posisinya sangat dekat dengan Lintang, bahkan tercium wangi parfume kesukaan Lintang, semakin membuat jantung Galaksi jumpalitan.


"Saya nanti check laporannya di rumah ya, untuk besok, mau diliput sama media lokal jadi saya minta tol—"


"Lintang," Sapa Galaksi pelan, ia kini sudah berdiri di sebelah Lintang. Lintang diam, cukup lama hingga ia menoleh ke arah sumber suara.


"Lin," kedua mata mereka saling menatap.


"Pergi kamu dari sini Galaksi." kalimat bernada datar terlontar dari bibir Lintang dan dengan tatapan dingin Lintang  mampu membuat Galaksi diam, berdiri tanpa ekspresi. Napas Lintang seolah memburu cepat, Galaksi diam mematung.  Maka, dengan ini, menyatakan bahwa Galaksi harus kembali berjuang sekuat tenaga untuk membuat Lintang kembali walau harus berkorban apa pun. Ia tak ingin wanitanya pergi atau lepas kembali.


***


Lintang berjalan ke dalam ruang kecil yang terlihat seperti ruang kerjanya. Galaksi keluar toko dan menunggu di dekat pintu. Sekuriti melihat Galaksi curiga. "Anda siapa? Kenapa kenal bos saya, Bu Lintang yang saya tau berinteraksi cuma sama dua laki-laki doang. Anda siapa" tanya sekuriti itu tegas.


"Calon suaminya," jawab Galaksi santai.


"Jangan bohong sampean, Mas, Bu Lintang itu nggak akan menikah katanya,"


"Kata siapa. Sok tau Bapak, nih." Galaksi bersedekap dan bersandar di kaca besar dekat pintu masuk.


"Bu Lintang yang bilang. Banyak, Mas, yang suka datang ke sini cuma buat cari tau tentang Bu Lintang. Tapi semua kapok pas Bu Lintang pasang tulisan di depan sini."


"Tulisan? Tulisan apaan" Galaksi menatap bingung.


"Tulisan 'SAYA LINTANG,DAN SAYA TIDAK AKAN MENIKAH DENGAN KALIAN. STOP KE TOKO KALO CUMA MAU MODUSIN SAYA'. Bu Lintang pake pasang gambar anjing pitbull di kertasnya." Tunjuk sekuriti ke arah kaca depan toko.


Mendengar cerita sekuriti itu, Galaksi justru tertawa terbahak-bahak. Ia sampai memegang perutnya karena geli membayangkan kejadian yang Lintang lakukan.


"Terus, Bapak percaya juga?" tanya Galaksi.


"Jelas. Bu Lintang bodyguard-nya serem. Apalagi yang namanya Mas Adjie. Itu ngelebihin siapa pun jutek dan galaknya kalau ada laki-laki yang coba deketin Bu Lintang."


"Pak, saya itu tahu Lintang dari A sampe Z, jangan percaya kalau Lintang begitu. Saya hafal bang—"


"Nggak. Jangan sok tau kamu, ya! Pak, saya nggak mau lihat muka laki-laki ini. Kalau besok masih ada disekitar toko, tolong bawa ke kantor polisi aja." Ketus Lintang dengan tatapan mematikan.  Galaksi diam. Ia lalu berjalan mengejar Lintang.


"Lin, aku mau ngomong sama kamu. Lintang, aku mau jelasin semuanya. Edo sama Adjie juga saksi pengakuan Mira, Lintang!" panggil Galaksi tegas. Tangan Lintang di genggam Galaksi, dengan cepat tangan wanita itu  menepisnya kasar.


"Lak, walaupun nggak sengaja. Tapi semua masih terekam jelas di kepala aku. Aku jijik kalau ingatan itu balik lagi lak. Sakit banget inget itu. Gimana aku lihat kamu pasrah dan suara yang kalian berdua buat. Hal itu bikin aku trauma. Tolong. Pergi Galaksi." Kedua mata Lintang memerah.


"Tolong dengerin aku Lintang. Ayo, kita sama-sama hadapin hal ini, Mira udah ngakuin semuanya." Galaksi dan Lintang saling berdiri berhadapan.


"Maaf Galak. Aku masih merasa jijik kalau ingatan itu muncul lagi. Jijik sama kamu dan marah sama diri aku seandainya waktu itu aku nggak sok sok-an bikin kejutan tolol sepanjang sejarah hidup aku!" bentak Lintang.


"Lin, Lintang, Lin..." Galaksi mengikuti Lintang menyusuri trotoar.


"Bre kangen kamu. Dia kangen Mama Lintangnya. Bre minggu lalu demam dan nginggo panggilin kamu. Lintang,"


Lintang menoleh. "Jangan bawa-bawa Bre di antara kita di sini Galaksi."


"Terus kenapa nama toko kamu pake nama anak aku?!" tanya Galaksi setengah berteriak. Lintang membuang pandangan dan kembali berlari menyusuri trotoar.


Galaksi diam. Mungkin ia terlalu memaksa. Ia akan coba lagi keesokan harinya. Dengan cara berbeda. Iya tau Lintang butuh waktu. Ia harus terus bersabar.


***


Keesokan harinya.


Kalau di tanya orang gila itu pintar atau tidak, itu semua tergantung siapa yang gila. Kalau Galaksi yang gila, udah pasti dia orang gila dengan seribu cara untuk mendapatkan kembali wanitanya, bahkan dengan yang malu-maluin.


Galaksi sudah berdiri di depan toko yang masih tutup. Mengenakan celana pendek, kaos polos lengan panjang warna putih, dan sandal. Jam masih menunjukan pukul enam pagi. Tujuan Galaksi satu, cuma mau kasih sarapan ke Lintang. Seperti saat kuliah dulu. Di mana Lintang sampe ilfeel dan enek sama kelakuan Galaksi. Setengah jam ia berdiri. Owner cantik itu pun datang dengan senyuman sambil mendengarkan lagu dari earphone yang ia kenakan. Senyuman itu menguap tatkala melihat Galaksi berdiri di depan toko.


"Pagi Lintang cantik, Mamanya Breyana anak paling manis sedunia..." sapaan lebay Galaksi membuat  Lintang diam, tidak membalas sapaan Galaksi.


"Lin, aku bawain sarapan. Di makan ya, biar kamu kuat menghadapi hari ini yang pasti akan banyak tantangannya. Aku mau jalan-jalan ya, bye, Sayang." Galaksi mengusap kepala Lintang lalu pergi berlalu menuju ke arah belokan lampu merah dekat toko.Ia menghentikan langkah dan mengintip, Lintang membawa sarapan yang ia beli atau ia letakan kembali ke meja sekuriti.

__ADS_1


"Yah, di anggurin tuh, nasi pecel," gerendeng Galaksi.


Sore menjelang.


Galaksi datang lagi, ia akan terus mencoba untuk membuat Lintang melihat kembali kearahnya. Atau sekedar senyuman. Galaksi asik ngobrol bersama sekuriti di saat para karyawan sedang membereskan toko karena jam lima sudah tutup. Galaksi duduk sambil menghisap rokok, sesekali mereka berdua tertawa bersama, hal itu tak luput dari lirikan Lintang, tapi ia kembali mengabaikan dan fokus memeriksa laporan penjualan harian.


Lintang bersama beberapa karyawannya, tak lama menutup toko.  "Aku anter ya Lintang, sekalian makan yok, laper, nih, aku belum makan." ucap Galaksi memelas. Lagi-lagi Lintang diam tak menggubris Galaksi, pria itu menatap Lintang sambil menghela napas sedih.


Aku kangen kamu lin, kangen. ucap Galaksi dalam hati.


***


Hari ketiga Galaksi di Yogya. Setelah berjuang dengan mendekati sekuriti, lewat  mengajak ngobrol dan membawakan sogokan makanan. Akhirnya Galaksi mendapatkan alamat rumah tinggal Lintang. Ia memarkirkan mobilnya di depan rumah sederhana itu. Berharap penuh semoga Lintang mau mendengarkan penjelasannya.


"Assalamualaikum." Galaksi mengetuk pintu rumah itu.


"Waalaikumsalam," jawab seorang pria. Lalu pintu terbuka. Keduanya sama-sama terkejut.


"Galaksi!"


"Bapak!" Galaksi lalu langsung memeluk tubuh ayah Lintang.


"Galaksi minta maaf, Pak, maaf..." ucap Galaksi penuh kesedihan. Ayah Lintang menepuk bahu Galaksi.


"Sudah-sudah, ayo masuk. Maaf, di sini kecil rumahnya." Galaksi dan ayah Lintang duduk di ruang tamu.


"Lintang lagi beli makan katanya di depan. Sama Ibu juga. Eh, kamu di sini berapa lama?"


"Seminggu, Pak. Senin depan Galaksi kembali kerja di kantor lama."


"Terus tujuan kamu apa ke sini?"


"Mengejar Lintang, Pak." keduanya terdiam. Lalu kembali dengan tawa keduanya juga.


"Jadi, Kakanda Galaksi mau menjemput pulang Adinda Lintang?" ledek ayahLintang.


"Begitu maksud dan tujuan saya ke sini Baginda," jawab Galaksi. Ayah Lintang tertawa terpingkal-pingkal.


"Bapak ngetawain apa siapa, Pak?" Lintang menatap sebal ke Galaksi setibanya ia masuk ke dalam rumah. "Ngapain ke sini. Silakan pergi dari sini Galak!" Lintang masih memanggilnya 'Galak'. Galaksi beranjak.


"Ngobrol berdua bisa, Lin, di depan," ajak Galaksi.


"Enggak. Di depan serem. Udah malem." jawab Lintang ketus.


"Wes, ngobrol di sini aja. Bapak sama Ibu mau di kamar aja, Kakandamu dateng hendak menjemputmu Ananda sayang" ucap ayah Lintang sambil senyum-senyum ke Galaksi. Galaksi menahan tawa.


"Kalian ngobrol, ya. Galaksi, kok kamu jelek sih, kurusan. Ibu nggak suka lihatnya," ucap ibu sambil menyusul suaminya ke dalam kamar.


Galaksi senyum-senyum malu sambil menunduk. Lintang melirik. Menatap Galaksi dari atas sampai bawah. Mencoba meyakini ucapan ibundanya, dan memang benar, Galaksai tampak jauh lebih kurus seolah tak terurus.


 


::TBC::


 


Gantung ya? Iya, besok lagi ya ... Makasih udah baca, peluk jauh.... 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2