
Atita, Atma, dan Melani mengawasi dari jauh, masing-masing dari mereka diberikan tugas yang berbeda. Atita diberi tugas mengawasi warga yang keluar dari desa lewat darat.
Atma diberi tugas mengawasi warga yang kabur lewat udara. Sedangkan Melani diberi tugas memasang jebakan di lubang atau terowongan tempat warga keluar masuk desa secara diam-diam.
Semua akses sudah di blokir, para warga tidak bisa keluar dari desa. Mereka mirip ikan hias yang berputar-putar dalam akuarium tanpa tahu jalan keluar.
Para pria sudah bersiap dengan pedang dan perisai yang mereka punya. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil agar memudahkan dalam bergerak dan lebih efektif untuk memberikan serangan kejutan.
Tara terus berjalan lurus sambil menyeret sabit besarnya. Tara mengeluarkan aura merah yang mengerikan, seluruh tubuhnya di penuhi dengan aura merah itu.
7 orang pria berlari mendekati Tara, mereka mencoba menyerang Tara menggunakan pedang dan tombak. Serangan mereka tidak menggores Tara sedikitpun, malahan pedang dan tombak itu patah sebelum mengenai Tara.
Tara memiliki skill pasif yang membuat setiap serangan tertahan sejauh 30 cm dari tubuhnya. Tidak hanya serangan tingkat rendah saja yang dapat di tahan, serangan tingkat tinggi sekalipun dapat di tahannya. Tentu ada batasan jika Tara menghadapi serangan tingkat tinggi secara terus-menerus.
Para pria itu mulai mundur perlahan, mereka tidak tahu sosok apa yang mereka hadapi. Dalam kedipan mata Tara sudah berada di depan para pria itu.
Mereka menatap mata merah Tara dengan gemetar ketakutan, senjata yang mereka pegang berjatuhan ke tanah. Keringat mulai bercucuran deras dari tubuh para pria itu.
Tara melanjutkan perjalanannya, dia tidak berniat membunuh para pria itu. Menurut Tara mereka semua membosankan, tidak bisa menghiburnya lebih lama lagi.
Atita membunuh warga yang membeku ketakutan itu dari jarak jauh, dia mengunakan anak panah dengan ujung berbentuk trisula,
Teriakan para pria itu bergema di ujung desa, memancing kelompok lain mendatangi asal suara. Tara bertemu dengan 5 kelompok kecil berisikan 6-7 orang disetiap kelompoknya.
Mereka mencoba menyerang Tara dari berbagai arah, perbandingan kekuatan mereka terlalu jauh. Mereka semua tidak kuasa menahan serangan mental dari Tara.
Orang-orang mulai berdatangan secara berkelompok, mereka mencoba menghalangi Tara supaya tidak sampai ke tengah desa. Tara muak dengan warga desa yang selalu menghalangi.
"Area Negatif level 1."
Area disekitar Tara menjadi gelap, membentuk satu lingkaran besar. Semua yang dilewati oleh lingkaran itu layu dan mati. Tara terus berjalan, dia seakan mencari sesuatu atau seseorang yang penting.
"Kita harus pergi dari sini! musuh mengetahui lokasi kita. Mereka mengirim prajurit terbaiknya untuk melawan kita," ucap seorang tetua panik, dia mengintip dibalik dinding rumah yang terbuat dari bambu.
Para tetua berjalan cepat menuju suatu ruangan, rupanya di ruangan itu hanya ada satu lemari berukuran besar. Di bawah lemari itu terdapat jalan rahasia yang digunakan dalam keadaan darurat.
Para tetua memasuki terowongan ditemani batu sihir sebagai pencahayaan. Terowongan itu berukuran sedang dengan tinggi 2 meter dan lebar 4 meter.
Suasana di dalam terowongan cukup pengap, semakin jauh berjalan udara pun semakin terbatas. Terowongan itu langsung menuju ke perbatasan Kerajaan Bhayangkara dan Kerajaan Cakrawala.
__ADS_1
Mereka berlarian di dalam terowongan, tiba-tiba para tetua itu berhenti. Mereka dicegat oleh seorang lelaki yang menggunakan topeng karung di wajahnya.
"Kalian mau pergi kemana?! Jalan di depan sana sudah kami tutup. Lebih baik kalian bersantai di sini sambil menunggu kematian datang," ucap laki-laki bertopeng karung itu dengan santai.
"Hei bocah! kau pikir bisa menghalangi kami untuk lari dari sini," bentak salah satu tetua geram, suaranya bergema di dalam terowongan.
Lelaki bertopeng karung itu mengangkat sebelah tangan dengan gaya menantang. Satu tetua menghampirinya, dia sedikit lebih muda dari tetua yang lain.
Tetua itu melancarkan pukulan pada sang lelaki, lelaki itu menghindar kesamping. Dia menyentil dahi sang tetua sampai terpental kembali pada kelompoknya.
Pria bertopeng karung itu melempar 1 granat.
Bomm...
Asap mengepul dari granat, para tetua itu mendadak pingsan. Asap yang keluar dari granat itu mengandung gas tidur.
Setelah para tetua pingsan, lelaki itupun membuka topeng karungnya. Ternyata lelaki bertopeng karung itu adalah Nusa. Nusa tersenyum tipis, dengan pencahayaan seadanya senyum Nusa nampak seperti iblis.
"Tara! suruh Atma membunuh seluruh warga desa. Para tetua sudah aku amankan." Nusa memberikan arahan pada Tara melalui telepati.
Tara sedang duduk santai di atas tumpukan mayat warga desa, dia menyentuh telinga kirinya dan berkata. "Atma! Habisi semua warga desa kecuali 7 tetua, jangan biarkan mereka lolos."
Atma mengeluarkan senjata mematikannya, senjata itu dia beri nama Famas Wibu. Senjata Atma memliki warna biru terang, di tengahnya terdapat wajah imut Atma.
Senjata Atma mengeluarkan cahaya terang berwarna biru, dari kejauhan Atma seperti bintang yang indah di tengah malam.
Dengan posisi kepala di bawah, Atma mulai menghujani seluruh desa dengan timah panas. Atma di juluki sebagai Sniper terkuat, dengan skill headshot miliknya, dia dapat menembak musuhnya tepat di kepala.
Walaupun musuhnya berbelok, tetapi peluru yang keluar dari senapan Atma pasti mengenai kepala musuhnya. Peluru itu dapat mengikuti musuhnya kemanapun.
...*******...
Salah satu tetua membuka matanya, dia terkejut karena tangan dan kakinya terikat, tidak lupa mulutnya di sumpal dengan kain pel. Dia melihat tetua lain bernasib sama dengan dirinya, mereka semua berada di ruangan tertutup.
Di sana tidak ada jendela atau pentilasi udara, hanya terdapat satu pintu di ruangan itu. Para tetua lain mulai sadar dan meronta-ronta.
Tidak lama terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah pintu. Para tetua terkejut melihat bocah bodoh yang mereka seret sebelumnya ke penjara sekarang berdiri di depan mereka.
Nusa menatap para tetua dengan penuh kehinaan, dia yakin orang-orang yang masuk ke desa secara suka rela ataupun terpaksa akan di perlakukan layaknya binatang.
__ADS_1
Tara, Atma, Atita, dan Melani berjalan dibelakang Nusa, mereka semua meresa muak dengan warga desa. Terutama Tara, di matanya terpancar kebencian serta amarah yang memuncak.
Tara menaruh dendam kepada warga desa karena memberinya tempat tinggal yang tidak layak, di tambah Tara harus tinggal di tempat gelap gulita. Sementara para warga tinggal di tempat yang nyaman lagi terang.
Nusa memukul kepala para tetua secara bergantian dan berkata. "Aku serahkan urusan interogasi ini pada ahlinya."
Nusa menunjuk Atma untuk menginterogasi para tetua. Atma sangat senang, telinga panjangnya sampai bergerak-gerak ke atas dan ke bawah.
"Mo-mohon maaf karena A-atma harus menanyai para tetua se-secara tidak sopan," ucap Atma gugup, ini pertama kalinya Atma menginterogasi musuh di saksikan langsung oleh tuannya.
Tangan Atma terus memukuli para tetua menggunakan ujung senapan Shotgun miliknya. Darah segar bercucuran dari kepala tetua, Atma memasukan ujung Shotgunnya pada hidung salah satu tetua.
"To-tolong katakan rencana a-anda pada kami." Karena tidak mendapatkan jawaban, Atma menembakan Shotgunnya. Seketika kepala tetua itu hancur berserakan, tubuhnya terjungkal ke belakang.
Para tetua lain mulai meronta-ronta, mereka takut melihat wajah Atma yang polos tanpa dosa. Para tetua diam seribu bahasa, mereka masih kokoh dengan pendiriannya.
"Ini bakalan lama, sebaiknya lepaskan sumbat mulutnya supaya mereka bisa bicara," ucap Nusa tenang, dia duduk didepan para tetua.
"Devil Eyes!"
Atma memegang dagu salah satu tetua dan menatapnya. Tetua itu menjadi diam, matanya berubah biru dan sayu. Atma menanyakan pertanyaan sebelumnya, tetua itu mengangguk lalu menceritakan semua rencana mereka.
"Kami adalah tentara yang di utus untuk menculik anak-anak ketua suku dari Ras Dedemit. Kerajaan Cakrawala menginginkan semua anak ketua suku dari Ras Dedemit, mereka akan menjadi pelengkap dalam acara menumbalan. Kami sudah menculik 2000 penduduk dari Ras Dedemit."
Nusa dan teman-temannya terkejut bukan main, ternyata dugaan Nusa selama ini benar. Nusa dan Tara sudah mencurigai penduduk yang hilang itu di culik oleh tentara asing.
Tetua itu memberi tahu lokasi para penduduk di culik, mereka semua kini berada di perbatasan, tepatnya di desa Cipoho. Dalam 4-5 hari para penduduk akan di bawa menuju Kerajaan Cakrawala untuk ditumbalkan.
Tara menyuruh Atma membunuh para tetua dan berkata dengan marah. "Orang-orang biadap! mereka semua harus kita hancurkan! "
Setelah para tetua mati Melani mengatakan bahwa ia menemukan banyak harta diruangan bawah tanah. Mata Nusa berbinar, dia selalu senang jika urusan harta.
"Summon! Nameer keluar lah!"
Seekor Harimau besar muncul pada lingkaran di depan Nusa. Harimau itu berwarna putih dengan garis hitam. Dia memiliki gigi yang besar dan kuat, matanya tajam berwarna emas. Mereka yang melihat Nameer akan terpesona dengan kegagahannya
Tiba-tiba tubuh Nameer mengecil, dia sekarang seukuran kucing Anggora. Nameer berlari cepat menuju ruang harta, dengan skill maling yang dipinjamkan Nusa, Nameer dapat mengambil semua harta tanpa terlewat sedikitpun.
Warga desa sudah mati, harta sudah di curi, saatnya Nusa dan kawan-kawan melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1