
"Aaaaa...!" teriak Tara kencang.
Atita terperanjat kaget, dia berlari menuju asal suara. "Siapa kau! kau bawa kemana nona Tara!" teriak Atita dengan nada tinggi.
Atita terkejut melihat Tara tidak ada, dia yakin pria di depannya telah menculik tuannya. Mata Atita menatap tajam ke arah si pria, dia sangat khawatir dengan pada Tara.
Pria itu tidak mengenakan pakaian sehelai pun, dia nampak bingung dengan sikap Atita.
"Aku Tara, lalu kau siapa. Kenapa kau tahu namaku."
Atita tidak percaya pria itu adalah Tara, penampilannya berubah 360 derajat. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Tara, yang jelas ia merasa ada yang hilang di tubuhnya.
"Ini bohong kan! kenapa tubuhku terasa kekar." Wajah Atita pucat pasi.
"Hahaha... apa kalian suka dengan penampilan barunya?!" ucap Nusa di atas batu besar.
Nusa turun dari batu lalu berkata. "Aku putuskan merubah kalian juga. Sekarang Namamu Dayat, bukan lagi Tara dan Atita sekarang namamu Hadi.
Buukkk...
Tara meninju Nusa keras sampai membentur langit-langit. "Bodoh! lu sembarangan bikin gue jadi laki! Balikin gue sekarang! cepet!"
"Loh... ya ndak bisa. Selesaikan misi ini, baru kamu bisa kembali jadi cewek lagi." tubuh Nusa terbaring di lantai.
Tara menghela napas berat, "Apa boleh buat, bubur sudah jadi basi. Okee, kita sukseskan misi ini, jangan sampai gagal."
"Yaa... " teriak Nusa dan Atita bersamaan.
...*********...
Matahari sore perlahan dilahap gelapnya malam. Tiga bayangan hitam bergerak cepat memasuki benteng kota Waruru. Para penjaga tidak menyadari kehadiran mereka, malam yang larut serta cuaca dingin mengganggu konsentrasi para penjaga.
Ketiga bayangan itu terus berlari sampai ke tengah kota. Mereka berhenti di suatu gang sempit yang jarang dilewati orang. Ketiganya membuat penutup wajah mereka secara bersamaan.
__ADS_1
"Ahhh... akhirnya kita berhasil masuk. Penjaga kota tidak seketat yang kubayangkan," ucap Tara terengah-engah, bukan penjaga yang ketat, melainkan pakaiannya yang terlalu ketat. Tara kesulitan bernapas dengan pakaian itu.
"Kita perlu memastikan keamanan kota, kemudian melacak para penyusup. Aku yakin setiap kota di Kerajaan ini sudah dimasuki oleh penyusup, mereka cepat berbaur dengan masyarakat." tangan Nusa menarik penutup wajahnya.
"Kalau begitu kita berpencar, saya dan nona Tara pergi ke utara. Sedangkan nona muda pergi ke selatan. Kita berkumpul di alun-alun 3 jam lagi, tentu tidak dengan pakaian ini." Atita sedikit menarik kalung di lehernya.
Akhirnya mereka berpisah, Nusa pergi ke selatan kota. Tujuannya adalah kediaman walikota Waruru dan gudang senjata. Dia juga akan memeriksa tempat-tempat yang sekiranya mencurigakan.
"Semoga saja tidak ada hal yang menjijikkan. Aku paling benci masuk ke kota terkutuk ini," ucap Nusa sambil menggosok kedua lengan atasnya.
Nusa berlari melewati atap rumah warga. Rambut panjangnya tertiup angin malam, terlihat indahnya rambut Nusa seakan menari di terangi cahaya rembulan.
Sampai di gudang senjata, dia menemukan banyak senjata tua. "Orang-orang bodoh, mereka membiarkan semua senjata ini berkarat. Aku rasa rumor itu benar, prajurit kota ini terkenal dengan kebejatannya."
Nusa masuk ke dalam gudang, tidak ada hal yang aneh di sana. Dia terus memeriksa bagian gudang teliti, bahkan atap gudang pun tidak luput di periksa.
"Aku penasaran, kenapa gudang ini tidak dijaga?!"
Nusa tidak sengaja menekan tombol rahasia, sebuah pintu tiba-tiba muncul dari balik tumpukan senjata.
Ada sebuah terowongan di balik pintu, semakin ke dalam udara semakin sedikit. Nusa melihat secercah cahaya di ujung terowongan.
"Dayat, Hadi, aku menemukan sesuatu yang menarik di bawah gudang senjata. Kalian periksa setiap tempat dengan teliti, mungkin saja mereka menyembunyikan banyak pintu rahasia."
Kenapa Nusa dan teman-temannya tahu lokasi vital kota Waruru? Jawabannya karena setiap instalasi memiliki bangunan yang besar serta unik. Orang awam pun bisa tahu hanya dengan sekali lihat.
Nusa menemukan ruangan yang dipenuhi berbagai macam senjata. Kualitas serta penampilan senjata-senjata itu berbeda dari senjata yang Nusa temui sebelumnya.
Nusa memegang salah satu senjata lalu berkata. "Senjata ini dibuat oleh ahlinya, setiap bagian dibuat begitu detail. Ternyata ruangan di atas hanya kamuflase, gudang senjata yang sebenarnya ada di bawah sini."
"Itu benar nona, kau berhasil menemukan gudang rahasia kami." Sebuah suara bergema di penjuru ruangan.
Nusa tidak panik dengan kehadiran orang itu, dia berkata dalam hati. "Tentu saja... Ruangan rahasia seperti apa yang tidak di jaga."
__ADS_1
"Kalau berani tunjukkan dirimu! jangan bersembunyi ditumpukan sampah kakek tua!" teriak Nusa dengan nada mengejek.
"Berani sekali kau menghinaku!" bentak suara itu tidak terima.
Tiba-tiba puluhan senjata terbang di langit-langit. Senjata itu berputar lalu menyerang Nusa tanpa jeda. Nusa menghindari setiap senjata yang menghujam ke arahnya. Kecepatan senjata itu tidak bisa mengimbangi gerakan Nusa.
Nusa menikmati setiap serangan tanpa ampun itu. Andai saja ada orang yang melihat, dia akan berpikir Nusa sedang latihan menari.
"Si*l! Siapa kau sebenarnya, kenapa senjataku tidak bisa menggoresmu."
"Sudahlah kakek tua, tunjukkan dirimu. Barang jelek seperti ini mustahil melukaiku."
Nusa menatap ke arah lemari besar, baginya tempat itu cukup mencurigakan. Benar saja, tidak lama seorang pria keluar dari lemari itu. Penampilannya seperti pandai besi ahli, dengan martil di tangannya serta ikat kepala putih di keningnya. Memperjelas siapa dia sebenarnya.
Nusa tersenyum sinis ke arah si pria. "Ras Mante, kau nampak kuat kakek tua."
"Itu benar! akulah orang terkuat di kota ini. Sayang sekali nasibmu buruk nona manis. Setelah aku menangkapmu, kau akan jadi mahakaryaku yang sempurna." Pria itu mengangkat tangannya gembira.
Pria itu berlari cepat sambil mengayunkan martilnya, terlihat aura membunuh memancar di matanya. Nusa menghindar kesamping, kemudian menendang pria itu keras.
Kerasnya tendangan Nusa, membuat si pria terpental jauh. "Untuk seorang wanita, kau cukup kuat nona. Tapi sera..."
Bukkk...
Nusa meninju perut si pria, lalu memukul dagunya keras. Pria itu membentur langit-langit dan terjatuh ke lantai, Nusa memegang kepadanya kemudian menghajar wajah si pria tanpa henti.
"Apanya yang terkuat di kota, kau hanya kakek tua yang lemah," ejek Nusa sambil memukul si pria.
Wajah si pria bak adonan donat, darah segar terus mengucur di hidungnya. Dia merasakan sakit yang luar biasa, setiap pukul yang diterimanya setara dengan 1 ton baja yang diluncurkan dari atas ketinggian.
"Destroy!" ucap Nusa sambil menyentuh kepala si pria.
Tiba-tiba tubuh pria itu hancur berkeping-keping, seketika pria itu jadi abu. Tidak ada setetes darah pun yang keluar dari tubuh si pria, hanya ikat kepalanya saja yang tersisa.
__ADS_1
"Baiklah aku amankan semua senjata ini, kemudian melanjutkan penyelidikanku ke istana walikota."