Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua

Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua
BAB 19 : JADI TAHANAN


__ADS_3

Sosok itu adalah pemimpin pasukan yang di utus kerajaan Cakrawala. Dia bernama jendral Handry, jenderal Handry menyadari bahwa melawan Kerajaan Bhayangkara merupakan kesalahan besar.


Sebanyak 3.456 prajurit elit yang ia pimpin kalah melawan penduduk yang tidak memiliki kesatuan prajurit, dan berperang mengandalkan para petualang saja.


Jika pasukan elit saja kalah melawan kota kecil. Bagaimana nasib mereka melawan Kota besar, kota besar pasti memiliki prajurit terlatih dan persenjataan lengkap. Jenderal Handry memutuskan mundur, dia tidak menyangka penduduk kota membantai seluruh pasukannya dan menyisakan 4 orang saja.


4 orang itu adalah 1 komandan garda depan, 1 komandan garda tengah, 1 komandan garda belakang, dan terakhir adalah dirinya.


"Tidak ada yang memberitahu jika kota ini memiliki monster!" ucap komandan garda belakang dengan gemetar, dia sudah kehilangan keberaniannya. Bahkan dia sudah tak memiliki semangat hidup lagi.


Tekanan mental yang diterima semua komandan sangat berat, mereka melihat semua prajurit kebanggaannya tewas satu persatu. Jenderal Handry dan komandan garda belakang berkumpul dengan Letnan Barda dan komandan garda depan.


Mereka sudah keluar dari kota, sekarang ke-4 orang itu berkumpul di hutan sebelah timur kota Carani. Napas Jenderal Handry terasa sesak, dia berlari sambil menggendong bawahannya yang tidak berdaya.


"Kita harus pergi dari kota terkutuk ini! Aku belum mau mati," ucap komandan garda depan sambil memegang kepalanya. Padahal semalam dia lah orang yang bersemangat untuk membantai penduduk kota.


Letnan Barda setuju dengan usul bawahannya dan berkata. "Kita bisa lolos asalkan dapat menyebrangi perbatasan."


Malam masih panjang, tapi pasukan elit yang di kirim kerajaan Cakrawala sudah tewas di bantai. Semua orang memikirkan rencana yang dapat menyelamatkan mereka dari kejaran pasukan kota Carani.


Jendral Handry berkata. "Sementara kita sembunyi di sini, aku yakin prajurit kota tidak da...."


Perkataan jendral Handry terpotong saat dia melihat ke arah Letnan Barda. Di belakang Letnan Barda terlihat sepasang mata dengan posisi terbalik mengawasi mereka dari dekat, mata itu berwarna merah darah.


Jendral Handry langsung menarik bawahannya menjauh lalu berkata. "Keluar kalian! aku tau kalian semua ada di sini."


Pemilik mata merah itu kemudian turun dari pohon, dia ternyata wanita cantik yang mengenakan gaun berwarna merah. Wanita itu berkata dengan sopan. "Mohon maaf kalian tidak bisa meninggalkan kota ini dengan selamat."


"Jangan mendekat! kalian semua monster!" teriak komandan garda depan histeris.


Keempat orang itu berkumpul menjadi satu, mereka menatap Atita dengan khawatir. "Yo! kalian apa kabar?!" ucap Nusa sambil memegang tongkat sihir yang mengeluarkan cahaya ungu gelap.


Tara berdiri di belakang Nusa dan berkata. "Padahal kalian berdua cukup kuat, kenapa malah melindungi komandan garda depan dan belakang yang tidak memberikan keuntungan apapun."


Tara mengeluarkan rantai dari balik punggungnya, rantai itu langsung menusuk kepala komandan garda belakang. Sedangkan komandan garda depan ditarik oleh sihir milik Atita dan tewas dengan dada berlubang terkena tusukan tangan Atita.

__ADS_1


"Kalian! Aku akan habisi kalian semua!" Letnan Barda kehilangan kesabaran lalu menyerang Atita, dia mengayunkan pedang ke arah wanita cantik itu.


Tang....


Serangan Letnan Barda di tahan oleh tongkat sihir Nusa, Letnan Barda terkejut karena serangan terkuatnya di tahan oleh tongkat kayu. Jenderal Handry mencoba membantu bawahannya, tetapi Tara tidak membiarkannya lewat.


Pertarungan segera di mulai, walaupun pertarungan tidak akan lama karena perbedaan kekuatan yang jauh.


"Fire ball!"


Letnan Barda menembakkan bola api ke arah Nusa dengan berutal. Nusa tersenyum tipis, dia menerima semua serangan. Asap mengepul di sekitar Nusa, Letnan Barda berkata dengan ekspresi puas.


"Rasakan serangan mematikanku! tidak ada satupun makhluk hidup yang selamat setelah terkena bola api super panasku."


"Hah... kau bilang lilin ini panas, jangan bercanda! Serangan yang kau banggakan hanya sanggup membunuh kutu." Nusa tidak bergerak satu jengkal pun, dia tidak menerima luka apapun.


"Si*l! kenapa seranganku tidak berdampak," suara Letnan Barda mulai bergetar, dia benar-benar melihat monster yang mengerikan.


Nusa mengeluarkan aura ungu yang mencekam, auranya mulai terasa di atmosfer. Letnan Barda dan Jenderal Handry perlahan mulai berlutut, tekanan dari aura Nusa membuat mereka tak berdaya.


"Yes boss!" jawab Tara dan Atita antusias.


"Oi, kalian berdua! kalian sudah menculik dan menyiksa anak-anak manisku dengan kejam, sekarang waktunya pembalasan." Tara menusuk punggung jenderal Handry dengan sabitnya.


Aaaa....


Atita tidak mau kalah dari Tara, dia menusuk mata Letnan Barda dengan dua jarinya. Tara dan Atita tidak langsung membunuh Jenderal Handry dan Letnan Barda, mereka menyiksa keduanya terlebih dahulu.


13 menit kemudian mereka baru membunuh musuhnya. Atita menyayat sedikit tangannya dan merapal sihir.


"Death Blood."


Kedua petinggi pasukan Cakrawala itu seketika tewas dan hanya tersisa tengkoraknya saja. Nusa dan partynya kembali ke kota, mereka belum tahu situasi kota saat ini.


Sampai di luar gerbang, mereka di sambut dengan ratusan warga yang menunggu di luar gerbang. Mayat pasukan Cakrawala sudah di urus oleh para petualang.

__ADS_1


"Beri sorakan untuk pahlawan kita, Nusa dan Tara!" teriak salah satu warga gembira. Mereka sangat bahagia karena tidak perlu pergi mengungsi, cukup bersembunyi di dalam jalan rahasia dan selamat.


Para petualang juga bahagia karena berhasil melewati masa sulit, walaupun teman-teman mereka ada yang gugur. Tapi mereka bahagia bisa berperang bersama demi menyelamatkan kota Carani.


...********...


Pagi pun tiba dengan cepat, suasana riuh masih terdengar di penjuru kota. Penduduk kota Carani sibuk membereskan kota mereka yang hancur paska perang. Ya, tidak semua bangunan hancur, hanya beberapa bangunan saja yang rata dengan tanah, sisanya cuma kaca dan atap rumah saja yang rusak.


Penduduk kota tidak mengalami trauma ataupun putus asa dengan keadaan kotanya. Mereka bahu membahu membangun kota secara gotongroyong. Nusa, Tara, dan Atma berkeliling mencari tempat makan, mereka tidak menemukan kedai atau warung yang menjual jajanan.


Sampai di alun-alun mereka terkejut dengan kedatangan ribuan prajurit bersenjata lengkap. Mereka adalah prajurit yang di utus Raja untuk membantu kota menghadapi pasukan Cakrawala.


"Apa maksud dari semua ini, kota Carani dilaporkan mengalami serangan musuh dan penduduknya tewas mengenaskan. Tapi aku lihat kalian semua baik-baik saja, hanya beberapa bangunan yang rusak. Dimana pasukan musuhnya!" tanya komandan pasukan itu pada warga, dari suaranya dia adalah wanita.


"Kalian semua telat, semua pasukan musuh sudah kami kalahkan. Dasar pahlawan kesiangan!" teriak seorang warga dari kerumunan.


"Kalau tidak ada Nusa dan Tara mungkin penduduk kota ini akan tewas sebelum kalian datang!" saut warga lain memberi tekanan.


"Ayo semuanya kita beri sorakan untuk pahlawan kita."


"Hidup Nusa dan Tara!"


"Hidup!!!"


Teriak warga serentak terdengar di penjuru kota, membuat komandan pasukan itu merasa kesal.


Komandan itu menaiki kudanya kemudian dia berkata dengan lantang."Diam kalian semua! jika pahlawan kalian sangat hebat, bawa dia kehadapanku."


Gawat! mereka semua kenapa sih. Tolong jangan buat komandan itu lebih marah lagi. Darimana pun aku lihat, komandan itu menakutkan. gumam Nusa dalam hati.


Nusa sebisa mungkin tidak ingin berurusan dengan Kerajaan karena mereka merepotkan. Nusa, Tara dan Atma perlahan pergi dari kerumunan.


Sialnya mereka bertemu seorang prajurit, prajurit itu merasa curiga dengan mereka bertiga, dia lalu berteriak keras. Semua mata tertuju pada asal suara itu, para warga yang melihat pahlawannya kemudian berteriak sambil memanggil nama Nusa dan Tara.


Komandan pasukan mendekati Nusa dan Tara kemudian berkata. "Jadi kalian berdua pahlawan yang di puji-puji para penduduk kota ini. Baiklah, Nusa, Tara, sebagai komandan pasukan elit Kerajaan Bhayangkara. Aku putuskan untuk menahan serta membawa kalian ke ibukota untuk di adili! Sebagai warga sipil, kalian sudah melanggar peraturan dengan ikut dalam perang."

__ADS_1


__ADS_2