
Hari ini Nusa dan Tara pergi menuju pusat guild. Mereka akan menyelidiki siapa ketua guild sebenarnya. Dari informasi yang telah didapat, ketua guild Bulan Sabit bukanlah orang biasa.
"Kenapa kita harus menyelidiki ketua guild?! Lagipula pusat guild pasti dijaga ketat oleh petualang kelas tinggi." Tara memandang Nusa heran.
Nusa berpikir sejenak dan berkata. "Aku rasa ketua guild mengetahui sesuatu tentang dunia ini. Dia sangat paham jika pemain asing bisa saja menyusup ke sini. Anehnya ketua guild tidak banyak bertindak, dia seperti tahu identitas asli kita."
Setelah penjelasan singkat mereka mulai menyusup ke pusat guild. Keadaan guild Bulan Sabit sangat ramai, banyak orang datang untuk menonton pertandingan final. Khusus untuk final, panitia membolehkan warga biasa menonton. Tentunya para warga diperiksa identitas dan barang bawaannya.
Kesempatan ini tidak di sia-siakan Nusa dan teman-temannya. Mereka tahu anggota guild sibuk mengatur jalannya acara. Jumlah penonton yang membeludak, di tambah adanya penyusup yang sulit ditemukan memaksa semua orang bekerja keras.
Tara dengan mudah menyelinap ke dalam pusat guild. Pekerjaan Assassin membantunya menyusup tanpa di sadari oleh siapapun. Dia memeriksa setiap ruangan di pusat guild.
"Aneh sekali, pusat guild tidak di jaga ketat. Ruang rapat dan ruang sekertaris kosong tanpa penjaga." Tara terus memeriksa setiap ruangan.
Saat Tara masuk ke dalam, Nusa mengawasi semua tempat dengan boneka jeraminya. Menggunakan boneka jerami lebih cepat dan efisien, hanya saja boneka ini tidak bisa menangkap gambar.
"Hati-hati Tara, di ruang sebelah kanan ada suara benda jatuh. Mungkin diruangan itu ada seseorang, jangan lengah." Nusa berbicara lewat telepati.
"Ada yang aneh, kenapa pusat guild sepi. Firasatku mengatakan ini jebakan."
"Kalau begitu kita atur rencana ulang. Kamu keluar dari sana, jangan sampai ketahuan orang lain."
"Okee," ucap Tara pelan, "Shadow Path."
Tara masuk ke dalam bayangan, dengan begitu dia bisa bergerak cepat dalam bayangan. Saat melewati ruang perjamuan, tiba-tiba dia tidak bisa bergerak. Tubuhnya seperti terlilit tali yang mengikatnya kuat. Tara berusaha lepas lilitan tali itu secara paksa, namun usahanya sia-sia.
"Nusa, aku tidak bisa bergerak, seluruh tubuhku seperti terjerat tali. Aku juga tidak bisa keluar dari bayangan, tolong aku! Help me! Tolong aku cepat!"
Nusa keluar dari kamar, dia berlari kencang penuh gaya. Keadaan guild yang ramai menyulitkannya bergerak dengan leluasa.
__ADS_1
"Kalau begini, aku tidak akan sampai tepat waktu," ucap Nusa sambil menarik napas, "Disappear!"
Bak arwah penasaran, Nusa menghilang tanpa jejak. Dengan skillnya ini, orang lain tidak bisa melihatnya. Nusa bergerak cepat menembus kerumunan massa tanpa hambatan.
"Mmm... Benar ucapan Tara, sepertinya kita masuk jebakan betmen. Baiklah, hari ini aku bongkar identitas ketua guild Bulan Sabit."
"Nusa, kamu tidur ya! Aku kesulitan bernapas nih, buruan, mungkin 10 menit lagi aku mati."
Nusa mempercepat langkahnya, kurang dari 7 menit dia sudah menemukan Tara.
"Tendangan bebas!"
Nusa melayangkan tendangan keras ke arah ruang perjamuan. Tiba-tiba sebuah suara muncul sambil meringis kesakitan. Tendangan Nusa berhasil melepaskan ikatan Tara, Tara akhirnya bisa keluar dari bayangan.
"Kamu baik-baik saja," ucap Nusa sambil menatap ruang perjamuan.
"Aku baik-baik saja, aku tidak tahu siapa yang mengikatku dalam bayangan. Tapi kamu berhasil memukulnya keras."
"Baiklah kalau itu maumu. Orang secerdas dirimu tidak mungkin tertipu oleh trikku," ucap sebuah suara dengan nada kecewa, dari suaranya dia adalah seorang pria.
Nusa dan Tara mendekati kursi di ruang perjamuan. Mereka bisa melihat sebuah sosok tak kasat mata perlahan menunjukkan keberadaannya.
"Kalian berdua bisa duduk di kursi itu. Maaf aku sedikit usil tadi," ucap pria itu sambil duduk di kursi perjamuan.
Tara terkejut melihat pria di depannya. "Ternyata ketua guild itu kamu Asep!"
"Iya mbak, siapa lagi kalau bukan Asep yang hebat. Aku sudah menunggu kalian selama 30 tahun, kenapa baru sekarang kalian datang."
Tara menarik kursi untuk duduk, dia melirik Nusa yang sibuk dengan jempolnya sendiri.
__ADS_1
"Maaf sep kami datang terlambat. Sebenarnya kami baru sampai ke dunia ini 4 bulan yang lalu," ucap Tara sambil menunduk.
"Ehhh... kok lama banget. Padahal aku pikir kalian sudah lama di dunia ini."
Brakk...
"Jelaskan apa maksudmu?!" Tara berdiri sambil memukul meja.
Asep mengeluarkan catatan kecilnya lalu menjelaskan informasi yang dia peroleh selama 30 tahun ini.
"Menurut laporan yang kami terima, 90% orang yang memainkan game Jelajah Benua terpanggil ke dunia ini. Ada banyak cara para pemain untuk sampai di dunia ini, salah satunya di panggil secara langsung atau bereinkarnasi. Dunia ini bukan lagi game Jelajah Benua, melaikan sebuah dunia nyata untuk kita para pemain. Aku tidak mengerti kenapa kalian baru saja sampai di dunia ini. Padahal kalian sudah mati di bumi selama 2 tahun lebih."
"Tunggu sebentar, kenapa kamu tahu kami sudah mati. Padahal kamu datang ke dunia ini lebih dulu, terus kenapa kamu tahu kami sudah mati 2 tahun lalu?" tanya Tara tidak mengerti.
"Tentu saja aku tahu, kematian kalian menggegerkan seantero Indonesia. Aku akan bacaan kejadian tragis itu. Sebuah ledakan terjadi di sebuah kontrakan kumuh, lokasinya di pinggiran kota Serang. Seorang mahasiswa ditemukan tewas bersama teman wanitanya. Diduga terlibat kasus kejahatan dan obat-obatan terlarang. Sepasang kekasih itu memutuskan bunuh diri dengan cara meledakkan tempat tinggal mereka. Akibat ledakan itu, 17 unit kontrakan hangus terbakar dan memakan 23 korban jiwa. Setelah penyelidikan, terungkap si wanita sedang mengandung 3 bulan. Keluarga si wa..."
"Tunggu sep! Tara, apa benar kamu sedang hamil?!" tanya Nusa dengan wajah tegang.
"Enak aja! Mana mungkin aku hamil diluar nikah. Lagipula waktu di bumi aku sibuk dengan misi. Oh iya sep, darimana kamu dapet berita sesaat itu." Tara mendekati asep dan memegang kerah bajunya.
Asep tidak tahu kebenaran berita itu, dia malas memeriksa berita yang di perolehannya. Setelah mendapat berita panas, dia langsung menyebarkannys tanpa pikir panjang.
"Sabar Ra, Asep bilang ada 23 korban jiwa. Mungkin saja ada mahasiswa lain yang tinggal di kontrakan itu. Yang jelas tenang ya, kita dengarkan penjelasan kang Asep."
Tara kembali duduk, wajahnya terlihat muram dan lesu. Nusa meminta Asep melanjutkan penjelasannya.
"30 tahun lalu aku sampai di dunia ini tanpa tahu apapun. Yang aku tahu waktu itu, dunia ini hanyalah game online yang biasa aku mainkan. Tapi setelah berjalannya waktu, aku mulai sadar jika ini bukan game. 2 tahun lamanya aku mencari pemain lain, satu persatu guild petualang aku periksa. Sayang banyak guild kecil bubar, para pemain kuat pergi mencari guild besar."
Asep menghela napas dan kembali menjelaskan. "Waktu itu yang terpikir hanya kota Arzak, tempat guild bulan sabit berada. Aku harap kalian ada di guild, sampai di sini guild bulan sabit sangat terbengkalai. Akhirnya aku putuskan menunggu kalian sambil mengumpulkan informasi tentang dunia ini. Guild bulan sabit aku kelola selama 28 tahun lamanya, para pemain kuat mulai bergabung dan meramaikan guild."
__ADS_1
Nusa termenung, dunia seakan berputar di kepalanya. "Aku datang ke sini karena tahu ketua guild itu kamu. Kita abaikan dulu mengenai distraksi waktunya. Aku yakin kita di sini bukan sekedar reunian, lalu informasi penting apa yang ingin disampaikan."
"Langsung saja ke intinya. Para penyusup di dominasi pemain dari Benua Saberbest dan Drit Island."