Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua

Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua
BAB 44 : TOKO KUE


__ADS_3

Matahari sudah menjulang tinggi, Nusa dan teman-temannya pergi menuju guild di kota waruru. Sepanjang jalan, orang-orang memperhatikan mereka.


"Aku belum pernah melihat mereka," ucap seorang pria penjual sayur.


"Aku rasa mereka baru saja tiba di kota, penampilan mereka sangat luar biasa," timpal teman si pria.


Para penduduk takjub melihat Nusa, Tara dan Atita. Mereka belum pernah melihat wanita secantik Nusa serta pria setampan Tara dan Atita.


Nusa sekarang menyamar sebagai gadis dari ras kuyang, sedangkan Tara dan Atita menyamar sebagai laki-laki dari ras tuyul.


Kedua ras ini terkenal dengan kecantikan serta ketampanannya. Ras tuyul sendiri memiliki 3 wujud, pertama wujud anak kecil, yang kedua wujud pria dewasa dan yang terakhir wujud remaja.


Sama halnya dengan tuyul, ras kuyang memiliki 3 wujud. Pertama wujud manusia, kedua wujud setan dan terakhir wujud tempur.


Nusa melirik sebuah toko di pinggir kota. "Aku penasaran dengan toko ini, mungkin saja mereka menjual barang bagus."


"Mari kita masuk, aku pun cukup tertarik dengan toko ini, " ujar Tara sambil merogoh saku.


Toko yang mereka maksud adalah tempat orang-orang biasa membeli makanan. Mereka masuk ke dalam toko, sampai di dalam seorang pelayan langsung menghampiri.


"Selamat datang di toko kami. Tuan dan Nona ingin mencari makanan seperti apa," ucap pelayan wanita sopan.


Tara melirik pakai si pelayan, nafsu makannya seketika hilang melihat dada besar si pelayan. "Kami mencari makanan penutup, seperti kue atau puding."


Pelayan itu tersenyum lalu berkata. "Kalau begitu Tuan dan Nona saya antar menuju Genut. Di sana tempatnya makanan penutup yang menggugah selera."


Toko itu memiliki 3 ruangan, pertama tempat makanan berat, yang kedua tempat makanan ringan, dan terakhir tempat makanan penutup. Semua tempat di jaga 30 pelayan yang siap melayani pelanggan.


"Aku belum pernah melihat makanan sebanyak ini. Ternyata dunia makanan tidak selebar daun kelor," gumam Tara dalam hati.


Tara mengepalkan tangannya, dia berusaha tidak tergoda oleh makanan didepannya. Beda dengan Tara, Atita dan Nusa tidak tertarik melihat ratusan makanan yang berjejer di rak. Tujuan mereka mengumpulkan informasi, bukan berburu kuliner.


"Ehmm... Tolong jaga sikapmu tuan Dayat. Kita hanya membeli 2 bungkus makanan di sini," ucap Atita tegas pada Tara. Dia tahu tuannya sulit fokus jika dikelilingi makanan.


"Be-benar katamu, waktu ki-kita tidak banyak." Tara tersenyum canggung, matanya masih melirik ke arah rak makanan.


Pelayan toko memberikan rekomendasi rak makanan penutup terbaik di tokonya. Nusa melihat 2 kue besar di atas rak kaca, warna merahnya terang menggoda serta taburan buah segar yang memanjakan mata.


"Berapa harga kue ini?" tanya Nusa sambil menunjuk kedua kue itu.


Pelayan itu tersenyum manis lalu berkata. "Pilihan nona luar biasa, kedua kue ini merupakan hidangan special dari toko kami. Harga perloyangnya berkisar 20-35 koin emas, tergantung toping dan ukurannya."


Nusa memutar bola matanya malas dan berkata. "Saya tanya berapa harga kue ini, bukan minta kau menjelasan."

__ADS_1


"Maafkan saya nona, saya kurang tanggap. Harga kue warna merah 23 koin emas dan harga kue warna kuning 27 koin emas," ucap si pelayan sambil menundukkan kepalanya.


"Eee... Mahal banget dah, lu bukan jualan mbak, tapi ngerampok," gumam Nusa dalam hati.


"Nusa...," panggil Tara dalam hati.


Nusa melirik ke arah Tara yang memegang tangannya. Tara menatap Nusa dengan mata berbinar, tatapannya membuat siapa saja tidak tega melihatnya.


"Nuusaaa...Kita beli kue itu!"


Nusa menghela napas, dia terpaksa menuruti permintaan Tara. "Aku ambil 3 kue ini, pastikan bungkusnya kuat."


Pelayan itu segera pergi, dia memanggil 3 orang rekannya untuk membungkus kue. Pelayanan toko itu sangat baik dan cepat, semua pelanggan di layani dengan sabar.


Walaupun harga di toko ini terbilang mahal, tapi para pelanggan puas dengan pelayanan dan juga kualitas produknya.


Nusa mengamati setiap pembeli dan juga pelayan toko. Tidak ada yang mencurigakan dari mereka semua. Hanya saja ada beberapa hal yang mengganggu pikiran Nusa selama di toko.


Nusa menghampiri pelayan toko sebelumnya. "Maaf mengganggu, aku penasaran dengan wanita yang duduk di ujung itu. Aku perhatikan dia hanya duduk di situ tanpa memesan apapun."


Pelayan itu membisikkan sesuatu pada Nusa. "Wanita itu datang setiap hari ke toko kami. Dia duduk di bangku itu sepanjang hari, tanpa memesan apapun. Kami sudah menawarkan beberapa produk di toko ini, tapi wanita itu tidak merespon. Banyak pelayan toko takut mendekati wanita itu, mereka merasakan aura jahat dari si wanita. Saya harap nona jangan mendekati wanita itu."


Nusa mengangguk lalu berterima kasih pada si pelayan. Nusa menggunakan sihir untuk membongkar identitas si wanita.


[Identitas :


Nama : Di sensor


Kelamin : Perempuan


Pekerjaan: Di sensor


Umur : Di sensor


Level : 1022


Perlengkapan khusus :


Jubah penyihir hitam level 532


Tongkat sihir Nebus level 989


Gelang orabis level 431

__ADS_1


Zirah bulu ketek level 831


Seruling Antek-antek level maksimal.]


Nusa terkejut wanita itu bisa menyembunyikan statusnya. Level wanita itu lebih tinggi dari komandan pasukan yang menyerang kota Carani. Ditambah perlengkapan yang ia kenakan sangat berbahaya dan diluar kemampuan penduduk biasa.


Nusa sangat yakin wanita itu bukan npc, perlengkapannya membuktikan jika dia seorang pemain andal. Sayangnya Nusa tidak tahu nama serta pekerjaan si wanita, andai saja semua informasi tidak di sembunyikan.


"Untuk saat ini lebih baik aku awasi dari jauh." Nusa memalingkan wajahnya dari si wanita.


Wanita itu menutup kepalanya menggunakan tudung. Dia tidak peduli pada orang-orang di sekitar, dan fokus melihat menu.


"Tidak ada yang istimewa, aku lelah tiap hari mendatangi tempat ini." Wanita itu berbisik pelan, "Kenapa tidak orang lain saja yang mengawasi, aku rasa pelayan toko sudah bosan melihatku."


Saat Nusa dan teman-temannya membayar, tiba-tiba wanita itu berdiri lalu pergi tanpa bersuara.


"Apa tidak papa membiarkan wanita itu setiap hari di sini?" tanya Nusa sedikit bingung.


Pelayan toko tersenyum lebar. "Tidak apa-apa, lagipula pemilik toko tidak mempermasalahkannya."


Nusa tidak berkomentar, dia membayar lalu pergi dari toko. Toko ini merupakan tempatnya kuliner khas kota Waruru, tidak ada toko selengkap dan seramah ini di kota. Sayang banyak penjual yang menaruh dendam kepada toko makanan ini.


Matahari sudah tenggelam, semua karyawan toko sudah keluar dari tempat mereka berkerja. Seorang gadis pelayan pulang terlambat, sebelum pulang dia harus membereskan banyak peralatan.


"Gawat! aku pulang terlalu malam," ucap gadis itu sedikit panik. Dia takut hal buruk menimpanya saat pulang.


Benar saja, saat melewati gang sepi, tiba-tiba gadis itu di hadang segerombolan pria. "Nona cantik, kenapa kau malam-malam jalan sendiri. Boleh kami temani."


Gadis itu menolak keras, dia membalikkan badan lalu berusaha lari. Tapi pria itu menghalanginya, kedua tangan si gadis di pegang erat.


Gadis itu berteriak sekuat tenaga, sayang gang yang sepi serta suaranya yang gemetar, membuat teriakannya tak terdengar. Pria lain dengan cepat menyumbat mulutnya menggunakan kain, mereka membawa gadis itu ke tempat yang sepi.


"Mmm... mmm, " teriak gadis itu sambil meronta-ronta.


"Percuma saja melawan, tidak ada yang akan menyelamatkanmu," ucap seorang pria mengejek.


Para pria itu perlahan membuka pakaian si wanita, wanita itu tidak dapat melawan. Kedua matanya tidak henti mengeluarkan air, dia berharap ada seseorang yang menolongnya.


"Ledakan boneka!"


Boomm...


Tiba-tiba sebuah ledakan mengenai salah satu pria. Ledakan itu menyebabkan kerusakan pada tubuh pria itu.

__ADS_1


"Siapa kau! tunjukkan dirimu pengecut!" teriak pria itu sambil mencekik si gadis.


__ADS_2