
"Aku dimana?" tanya Jia sambil membuka matanya pelan. Pertarungannya dengan Nusa membuat dia tak sadarkan diri.
Seorang pria mengelus peliharaannya dan berkata. "Kamu sekarang di rumahku, Jia."
Jia langsung bangkit dari tempat tidur, sebuah penghinaan jika tidak memberi salam pada tuannya. Sayang, tubuhnya tidak bisa bekerja sama, setiap senti tulangnya terasa sangat sakit.
"Kamu istirahat saja, tidak perlu memaksakan diri. Aku susah bilang agar tidak melawan tuan boneka. Mereka sangat berbahaya dan tak kenal ampun."
"Maafkan saya tuan, kami tidak sengaja perpapasan di jalan. Saya tidak sangka wanita itu sangat kuat, dia bahkan dapat menembus body suit saya."
Pria itu mengeluarkan sepasang kaki dan tangan. "Ini kaki dan tanganmu, mereka tergeletak di samping tubuhmu. Untung saja si tuan boneka tidak membunuhmu, sebelum aku sampai dia sudah hilang di telan kegelapan."
Jia sontak terkejut melihat tangan dan kakinya putus. Dia menghela napas lega saat tahu kedua kaki dan tangannya sudah dipulihkan sempurna.
"Wanita itu sangat berbahaya tuan, sebaiknya kita habisi dia sebelum terlambat," ujar Jia tanpa ragu sedikit pun.
"Kalaupun bisa, aku sudah membunuhnya. Wanita itu mustahil kita kalahkan, bahkan jika kita mengerahkan semua anggota. Kita tetap tidak akan menang melawan tuan boneka."
Jia merasa emosinya campur aduk. Pertemuannya dengan Nusa memberi dampak terhadap kesehatan mentalnya.
"Bagaimanapun, saya akan bertarung melawan wanita itu lalu mengalahkannya." Mata Jia berbinar penuh semangat.
"Aku belum pernah melihatmu seantusias ini, apa ada yang menarik dari wanita itu?"
"Iya tuan, waktu itu kami saling bertabrakan, saya jatuh tertabrak si wanita. Bukannya minta maaf atau merasa bersalah, wanita itu malah marah dan mencubit pipi saya." Mata Jia berapi-api, dia kesal pipinya di sentuh orang asing.
Pria didepannya tertawa cukup kencang, dia berkata sambil menahan tawa. "Dia menarik pipimu lalu memainkannya tanpa ampun. Karena kesal kamu menyerangnya, tapi kamu kalah karena tidak sebanding."
Jia menjadi lesu dan memalingkan wajahnya. Moodnya tiba-tiba menjadi rusak. Tapi dia bahagia, pertama bagi Jia mendengar tuannya tertawa, wajah tuannya terlihat sumringah mendengar cerita memilukannya.
"Sudah jangan dipikirkan, Jia. Cepat atau lambat, kita akan bertemu dengan si tuan boneka." Pria itu mengusap kepala Jia. "Aku terkejut kamu bisa bertemu orang semenarik dia."
__ADS_1
...********...
"Lari, lari, lari!" teriak Nusa dengan wajah panik. Matahari sebentar lagi terbit, Nusa berlari cepat menuju penginapan.
Nusa mengendap-endap masuk ke dalam kamarnya. Suasana kamar hening tanpa ada aktivitas, sepertinya Tara dan Atita masih terlelap.
"Akhirnya aku sampai, tidak kusangka bertemu wanita aneh itu," ujar Nusa sambil menghela napas lega.
"Ohhh... wanita aneh ya?!"
Tiba-tiba firasat Nusa tidak enak, dia mendengar suara pria yang mengerikan. Benar saja, Tara dan Atita duduk santai di samping pintu, menunggu kepulangan Nusa dari petualangan semalam.
"Gawat! aku ketahuan!" batin Nusa panik.
"Jadi kamu pergi bersama wanita ya, bagus! Kami diam di sini bosan, tapi kamu pergi senang-senang di luar." Tara meremas botol minumnya.
"Tu-tunggu Tara! kamu salah paham. Aku tadi tidak sengaja berpapasan dengan wanita aneh di jalan. Dia tiba-tiba menyerangku tanpa alasan, aku panik dan berusaha membela diri."
Nusa mendongak sambil berpikir. "Eeee.... mmmm..."
"Jawab!" bentak Tara sambil melempar botol ke arah Nusa.
"Anj*r. Gue kaya lagi ketahuan selingkuh, terus di sidang sama istri tua." gumam Nusa dalam hati.
Tara mendekati Nusa, dengan tubuh tingginya dia mengangkat kerah baju Nusa tinggi. Tara melempar sahabatnya itu sampai membentur dinding kamar.
"Ampun Ra, iya aku jelasin," ucap Nusa sambil memegang perut. "Sebelum itu, bantu aku berdiri."
Atita mengulurkan tangannya, seyum hangat ia tunjukkan didepan tuannya. Nusa menepuk-nepuk pakaian yang kotor terkena debu.
"Aku sudah bilang kami kebetulan bertemu, kemudian kami bertarung di pinggir sungai. Aku memutuskan kedua tangan dan kaki si wanita, dia terkapar lalu aku meninggalkannya sendiri dipinggir sungai."
__ADS_1
"Oohh...," ujar Tara dingin, "Lantas, kenapa kamu baru pulang!"
"Aku mampir dulu ke rumah bordir, pada malam hari suasana di sana cukup ramai. Para pria menatapku mengerikan, seolah aku adalah hidangan utama yang harus diperebutkan."
"Kamu sekarang jadi wanita penghibur, Nusa. Aku tidak menyangka kamu akan tersesat sejauh itu," goda Tara sambil menutup mulut menggunakan telapak tangannya.
"Enak aja!" dengus Nusa kesal, "Aku menyelidiki tempat-tempat mencurigakan di kota ini. Hasil penyelidikanku sudah Atita simpan. Atita, sekarang bacakan semua data yang terkumpul."
Atita pergi mengambil setumpuk kertas di dalam lemari kayu, tebal kertas itu kurang lebih 10 cm. Warna kertas di benua Eurasia dominan coklat muda, Nusa sengaja mendisainnya sedemikian rupa agar cocok di padupadankan dengan tinta hitam.
Atita mengambil selembar kertas. "Ada 5 tempat yang berpotensi sebagai markas mata-mata benua lain. Pertama arena berkuda, di sana banyak orang asing berkumpul untuk menonton balapan kuda. Kedua, rumah bordir, sudah menjadi rahasia umum jika tempat itu tidak pernah sepi dari pengunjung. Yang ketiga, istana walikota, bisa saja para penyusup menyamar sebagai prajurit atau pejabat publik."
Atita meletakkan kertas di tangannya lalu mengambil kertas lainnya. "Yang keempat pasar, setidaknya ada 170-350 orang asing hilir mudik di dalam pasar. Dan yang terakhir toko kue tempat kita membeli makanan kemarin, alasannya belum diketahui. Sekian laporan yang saya terima dari nona muda."
Tara memasang ekspresi bingung dan berkata. "Penjelasanmu terlalu singkat, lagipula untuk apa kamu bawa kertas sebanyak ini. Aku lihat, kamu hanya membaca 2 lembar kertas saja, jangan biasakan boros."
Atita meminta maaf pada Tara, dia terlalu semangat untuk menjelaskan. Tumpukan kertas yang dibawa Atita isinya berhubungan dengan toko makanan dan rumah bordir. Ke-2 tempat itu berpotensi menjadi markas penyusup.
"Aku tidak mengerti kenapa kamu mencurigai toko makanan, aku lihat tidak ada yang aneh di sana," tanya Tara penasaran mendengar alasan Nusa.
"Kamu tahu kenapa toko itu selalu ramai dan harganya mahal." Mata Nusa berkedip-kedip seperti orang cacingan.
Tara menggeleng, begitu juga Atita. Mereka berdua tidak tahu mengapa toko itu sangat laris dan harganya mahal.
"Rahasianya bukan hanya di pelayanan atau kualitas produknya saja. Setelah aku selidiki, ternyata toko itu tempat bertukarnya informasi terselubung. Orang-orang berpura-pura membeli makanan, para pelayanan toko memasukkan informasi tersebut dalam bungkus makanan. Mereka juga sering memasukkan informasi dalam makanan seperti kue dan sejenisnya."
"Kamu tahu informasi itu dari mana?" tanya Tara sambil memakan buah yang disimpan dalam ruang tunggunya.
Nusa nyengir dan berkata. "Aku merasa aneh dengan toko itu, kemudian aku meletakkan beberapa boneka jerami di sana. Hasilnya mencengangkan, banyak pelayan toko adalah mata-mata benua asing."
Tangan Tara meninju ke atas, dia sangat bersemangat. "Ayo kita musnahkan!"
__ADS_1