
Nusa masuk ke sebuah kafe, di sana orang-orang berkumpul dari berbagai penjuru kota. Kafe itu memiliki bangunan tiga lantai, dengan taman bunga di bagian rooftop.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan." Seorang pelayan wanita menghampiri Nusa yang berdiri di depan pintu keluar kafe.
"Aku ingin memesan meja untuk tiga orang." Nusa melirik meja lain yang penuh. Pelayan itu mengangguk, mengantar Nusa mencari meja kosong.
"Mohon maaf tuan, hanya meja ini saja yang tersisa, hampir semua meja telah di penuh." Pelayan itu mengantar Nusa ke bagian pojok kafe. Di sana satu-satu tempat yang masih kosong.
"Tidak masalah, yang terpenting masih ada meja untukku." Nusa melirik si pelayan. "Aku ingin melihat daftar menu di kafe ini."
Nusa melihat daftar menu. Ada kurang lebih 32 makanan yang tersusun rapi didalamnya. Sambil menunggu Tara dan Atita, Nusa memesan beberapa menu andalan kafe.
Lima menit berlalu, para pelayan datang sambil membawa nampan berisi pesan Nusa. Tidak lama Tara dan Atita datang, duduk di sebelah Nusa.
__ADS_1
"Bagaimana rencana kita sekarang?!" tanya Tara sambil menyendok kuah panas. "Aku rasa kota ini cukup nyaman--dibanding kota sebelumnya."
"Menurutku sebentar lagi kota ini akan menjadi medan perang. Para penyusup sudah menguasai hampir seluruh wilayah kota."
"Kamu dapat informasi itu dari mana?" tanya Tara bingung.
"Hmm... Itu rahasia." Nusa mengambil kertas kecil di bawah meja. "Kota pelabuhan sangat vital bagi sebuah negara. Bayangkan saja jika pelabuhan ini di kuasai negara asing. Perekonomian di negara ini pasti terguncang. Dari ribuan bangunan di kota, hanya segelintir yang digunakan penduduk pribumi. Contohnya kafe ini, pemiliknya adalah penduduk pribumi. Kenapa? karena harga yang ditawarkan relatif lebih mahal dari kafe-kafe lain. Tentu dengan citarasa yang tidak kalah lezat dari kafe-kafe milik orang luar."
Nusa tersenyum.
"Malam ini kita pergi ke istana walikota. Kita buat kegaduhan di sana. Setelah itu kita rebut istana lalu kuasai kota ini. Beres deh."
"Tapi pertarungan kali ini tidak akan mudah, tuan. Bisa saja petualang level tinggi ikut menyerang." Atita ikut berkomentar.
__ADS_1
Tara memanggil salah satu pelayan wanita di kafe yang sedang duduk santai. Pelayan itu diminta Tara duduk disebelahnya. "Kami baru saja tiba di kota ini. Jika berkenan, boleh kami tahu keadaan kota pelabuhan saat ini."
Pelayan itu mengangguk.
"Dahulu kota pelabuhan terkenal karena jalur pelayarannya. Puluhan sampai ratusan kapal bersender setiap harinya di dermaga. Mayoritas penduduk bermatapencaharian sebagai nelayan dan kuli angkut. Namun setelah penguasaan baru berkuasa, kehidupan kami perlahan berubah. Kegiatan mencari ikan dilarang, para nelayan diharuskan menjual kapal mereka pada penguasa.
"Bukan hanya itu. Kami pun dipaksa meminjam uang dengan bunga yang terlampau besar. Karena matapencaharian kami telah hilang, kami tidak sanggup membayar utang. Untuk melunasi bunganya saja sangat memberatkan. Satu per satu rumah penduduk di ambil oleh penguasa. Karena rumah atau tanah dijadikan jaminan untuk meminjam uang yang tidak pernah kami butuhkan."
"Kenapa kalian tidak menolak keputusan penguasa baru?!" ucap Tara sedikit kesal.
Pelayan itu menggeleng.
"Jika kami menolak, maka para prajurit akan mengusir kami dari kota ini. Yang lebih parah kami bisa kapan saja dieksekusi oleh penguasa baru. Untuk itu aku sarankan agar kalian tidak sembarangan berbicara di kota. Bisa saja orang yang kalian ajak bicara merupakan mata-mata penguasa baru."
__ADS_1