
"Mari kita mulai persidangan ini. Pertama komandan Wina dipersilahkan untuk menyampaikan kesaksiannya." ucap seorang pria berjubah besar berwarna hitam.
Komandan Wina berdiri lalu berkata dengan lantang. "Orang ini adalah dalang dari penyerangan serta penculikan warga. Dia juga berperan sebagai eksekutor, dia sangat berbahaya yang mulia. Saat penangkapannya membutuhkan waktu lama, prajurit kami pun ada yang mengalami luka. Kami mengikat tangan dan kakinya supaya dia tidak memberontak, untuk berjaga-jaga kami sudah siapkan kain penutup mulut."
Komandan Wina kembali duduk, dia melirik ke arah Nusa dengan tatapan mengejek. Sekarang giliran Tara untuk memberikan kesaksiannya. Wajah Nusa berubah suram, dia tahu bahwa Tara akan memberikan informasi palsu agar Nusa lebih menderita. Nusa juga tahu Tara sangat senang melihatnya sengsara.
Tara berdiri dengan anggun, wajahnya sedikit merona. Tara berkata dengan pelan tapi jelas. "Yang dikatakan komandan Wina itu tidak sepenuhnya benar yang mulia. Terdakwa lebih sadis dalam melakukan kejahatannya, dia tidak segan merobek perut korbannya lalu mengeluarkan semua isinya. Jika kami terlambat sebentar saja, semua warga akan dia bunuh."
"Aku.merasa yang dikatakan Nona kecil itu benar, dari tampangnya saja sudah jelas jika pria itu adalah penjahat," bisik seorang penonton dari atas tribun.
"Benar! lebih baik langsung eksekusi saja agar tidak membahayakan," timpal penonton lain sambil memakan cemilan.
Tara berhasil memancing penonton, mereka berteriak meminta hakim mengeksekusi Nusa. Keributan terjadi di atas tribun, ribuan penonton menyuarakan aspirasinya. Suara penonton terdengar seperti kawan lebah.
Tok.tok.tok...
Hakim mengetuk palunya, semua penonton menjadi diam. "Kalian semua harap tenang, ini pengadilan bukan ajang gladiator! Sekarang kita dengarkan kesaksian terdakwa."
"Sebelum saya berbicara, saya harap kemurahan hati yang mulia untuk melepaskan rantai yang mengikat kaki dan tangan saya." Nusa menatap hakim dengan meratap.
Komandan Wina berdiri dan berkata dengan tegas. "Jangan dengarkan dia yang mulia! terdakwa hanya mengelabui kita, saat kita lengah dia akan lari! Lebih baik ki..."
"Diam! di sini saya yang memutuskan, bukan kamu! Kalian lepaskan ikatan pemuda itu." Hakim kesal dengan sikap komandan Wina yang mencoba mengaturnya.
"Tapi yang mulia..."
"Tidak ada tapi-tapian, cepat lepaskan dia!" bentak hakim pada prajurit yang menentangnya.
Ikatan Nusa dilepaskan satu persatu, Nusa mentap komandan Wina dengan tatapan mengejek. Wajah komandan Wina menjadi suram, dia seperti lalat yang terjebak perekat. Para penonton mulai panik, mereka takut Nusa akan menyerang tribun.
"Saya sangat berterima kasih atas kebaikan hati yang mulia. Baiklah, saatnya meluruskan kesalahpahaman ini," ucap Nusa sambil merenggangkan tubuh.
Nusa melanjutkan penjelasannya sambil sesekali melirik komandan Wina dan Tara. "Seperti yang saya katakan tadi, semua ini hanya kesalahpahaman saja yang mulia. Sebenarnya kedua gadis itu menyukai saya, terutama komandan Wina. Sepanjang perjalanan dia selalu memamerkan bagian tubuhnya untuk menggoda saya. Walaupun tubuhnya montok! tapi saya menolak dengan sopan ajak komandan Wina untuk membuat anak."
__ADS_1
Kedua tangan komandan Wina sudah mengepal, wajahnya memerah menahan malu. Nusa terus mempermalukannya sambil sesekali menunjuk ke arahnya.
Brakk...
Komandan Wina memukul meja dan berkata."I-itu fitnah yang mulia! Di-dia selalu menatap saya dengan cab*l! Dia juga beberapa kali mencoba kabur, jadi saya memasukkannya ke dalam sangkar agar..."
"Agar kita bisa mesra-mesraan di dalam sangkar. Oh iya! itu bukan sangkar besi, tapi sangkar cinta yang mulia!" Nusa memotong perkataan komandan Wina.
"Huhhh... " para penonton menyoraki komandan Wina.
"Kalau urusan percintaan kalian bisa selesai sendiri. Jangan dibawa ke pengadilan!" teriak seorang penonton pria di tribun.
"Benar! Kau tidak pantas menjadi komandan pasukan elit. Turun! turun! turun! " timpal penonton lain.
Spontan semua penonton menyuarakan komandan Wina agar turun dari jabatannya. Mereka dengan mudahnya terprovokasi, dan lupa jika Nusa adalah penjahat yang licik.
Komandan Wina terduduk lemas, dia tidak menyangka Nusa akan menfitnah dirinya dengan kejam. Tara mengusap pundak sang komandan, dia mencoba memberi kekuatan pada komandan agar tegar.
Keadaan di Colosseum memanas, para penonton berteriak keras, ada juga yang melempar makanan mereka ke arah komandan Wina. Panitia persidangan tidak bisa menghentikan para penonton, mereka sibuk menjual cindramata dan makanan ringan.
Tok.tok.tok...
Sekali lagi hakim memukul palunya, dia berusaha mengendalikan keadaan. Pertama kalinya dalam sejarah, penonton ikut menyuarakan aspirasinya.
Tara mengangkat tangannya. "Yang mulia, terdakwa mencoba mengintimidasi saksi. Dia juga mencoba menjatuhkan martabat komandan Wina."
"Saya berbicara sesuai fakta yang mulia. Anda bisa lihat wajah komandan Wina yang memerah menahan nafsu," ujar Nusa sambil menunjuk wajah komandan Wina.
Hakim menatap komandan Wina dan berkata. "Sodara Nusa, coba anda jelaskan mengapa komandan Wina menuduh anda sebagai pelaku penculikan."
"Saya tidak pernah melakukan kejahatan yang disangkakan oleh mereka, justru saya yang telah menyelamatkan warga yang diculik dan me..."
"Bohong!" ucap seorang pria sambil berdiri di atas tribun.
__ADS_1
Nusa memutar bola matanya malas dan berkata dalam hati. "Yaampun! ini juga belum kelar udah nambah lagi masalah baru!"
Pria di tribun meminta agar dirinya dijadikan saksi atas dugaan penipuan yang dilakukan oleh Nusa. Hakim mengabulkan permintaannya. Tidak lama 3 orang berjalan ketengah Colosseum, salah satu dari mereka adalah perempuan.
"Terima kasih yang mulia telah mengizinkan kami ikut serta dalam sidang ini. Yang ini saya sampaikan adalah terdakwa telah berbohong, saya tidak tau motifnya yang jelas dia berusaha memutar balikkan fakta. Kami bertiga petualang yang diberi tugas menyelidiki kasus hilangnya warga secara misterius. Saat diperjalanan kami bertemu 3 petualang tingkat tinggi, mereka berasal dari kota Carani. Kami ber-6 memutuskan membuat party untuk memudahkan pencarian. Kami berhasil menemukan para warga yang di culik dan berhasil menyelamatkan mereka semua." ucap pria yang sebelumnya berteriak di tribun.
Pria itu melanjutkan perkataannya. "Setelah misi penyelamatan berhasil, kami akhirnya berpisah. Intinya terdakwa bukan petualang yang menyelamatkan warga yang di culik."
"Gobl*k! kalian gak bisa liat kalau petualang itu gw. Oh iya lupa, gw kan nyamar!" gumam Nusa dalam hati.
"Benar yang mulia, pria ini mencoba menipu kita semua. Sebaiknya dia kembali diikat, lalu dieksekusi secepatnya, " ucap Lusi sambil menunjuk Nusa.
Yap, ketiga orang itu adalah Lusi, Deni, dan Arga, petualang tingkat tinggi yang pernah bertualang bersama Nusa.
"Sodara Nusa, berdasarkan kesaksian dari beberapa orang. Kami memutuskan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada anda." Hakim mengetuk palunya beberapa kali.
Tara tersenyum pahit."Yahh... kok udahan sih! Hakimnya kurang asyik nih" gumam Tara dalam hati.
Booom...
Petir menyambar ke arah Nusa dan teman-temannya. Untunglah sebelumnya Tara sudah memasang sihir pelindung, jadi semua orang yang ada di tengah Colosseum selamat. Para penonton panik, mereka yakin serangan kali ini ulah anak buah Nusa yang berusaha membebaskan tuannya.
Tidak lama seorang pria berdiri di atas Colosseum, dia menggunakan penutup wajah serta berpakaian ala ninja.
"Perhatikan! Kami sudah menculik anak perdana menteri. Jika kalian ingin anak itu selamat, maka bebaskan bos kami," teriak pria itu lantang.
Tara menunjuk Nusa dan berkata. "Ini bos kalian! ambil aja."
"Jangan bercanda! bos kami bukan bocak bau ketek seperti dia." Pria itu mengeluarkan belati dari jubahnya lalu menunjuk Nusa.
Para prajurit mengepung pria itu, tetapi mereka kesulitan menangkapnya karena pria itu berdiri di puncak Colosseum yang tinggi menjulang.
"Kami beri waktu sampai sore hari! jika bos kami belum dibebaskan. Maka anak perdana menteri kerajaan Bhayangkara tinggal kenangan saja."
__ADS_1