
Pertandingan pertama telah selesai, para penonton diperbolehkan keluar Colosseum untuk makan siang. Seorang pria berjalan sempoyongan di Koridor, tubuhnya sesekali membentur dinding. Dengan caping di kepala, pria itu terus meracau tidak jelas. Orang-orang di sekitarnya merasa aneh dengan tingkah pria itu.
"Bukankah dia pria yang mengalahkan Ranto," bisik seorang petualang pada temannya.
"Ya, dia orangnya. Walaupun penampilannya mencurigakan, tapi dia petualang yang kuat," balas teman si petualang.
Nusa terus berjalan sempoyongan. "Anj*r kepala gw pusing banget, mungkin ini efek samping sehabis makan durian semalam. Kalau tahu begini, gw kapok makan 300 durian sekaligus."
Langkah Nusa terhenti ketika melihat lukisan indah di sampingnya. "Aku rasa guild ini lebih indah dari istana raja. Setiap ornamennya bernilai seni tinggi, kalau di jual pasti mahal."
"Kau tidak boleh menjualnya," ucap seseorang sambil menepuk pundak Nusa. Dari suaranya, bisa di tebak jika dia seorang lansia.
Nusa tidak terkejut dengan kehadiran si kakek, dia seperti menyadari keberadaan si kakek sebelumnya. "Aku juga tidak berani menjualnya kek. Kalau pemiliknya tau, mungkin masa depanku suram."
"Baguslah jika kamu sudah tau." Kakek itu mengusap jenggot putihnya.
"Ya, ialah, gw tau! Orang lukisan ini milik Tara. Seandainya lukisan ini gw curi, bisa-bisa gw di cincang terus di jadiin kudapan," gumam Nusa dalam hati.
Nusa membuang napas lega dan berkata. "Kakek siapa ya?"
"A-aku hanya kakek tua yang tersesat. Ka-kalau tuan muda berkenan, bisa beritahu kakek kamar no. 321."
"Oh, kamar no.321." Nusa mengangguk paham.
Nusa mengarahkan tangannya kedepan koridor lalu berkata. "Dari sini kakek lurus aja, terus belok ke kiri. Dari situh kakek jalan kira-kira 30 langkah, kemudian belok kanan, setelah itu ada pertigaan, kakek belok kiri. Kalau kakek ketemu patung macan, maka kakek terus jalan lalu belok kiri lagi. Nah, setelah kakek melewati tikungan tinggal belok kanan. Udah deh sampai."
"Terimakasih nak, kakek paham. Jadi setelah melewati tikungan kakek akan sampai di kamar no.321."
"Nggak, setelah tikungan itu toilet kek."
"Terus, kamar no.321 dimana!" ucap si kakek sedikit marah.
"Ya ndak taau! Kok nanya saya, saya juga nyasar kek." Nusa menggaruk kepalanya sambil cengengesan.
Si kakek meremas tongkat kayunya kuat, dia seakan menahan sesuatu agar tidak keluar. Tanpa rasa bersalah, Nusa pergi meninggalkan si kakek.
"Tunggu! setelah mempermainkan seorang pria tua, kau akan pergi begitu saja." kedua mata si kakek melotot ke arah Nusa.
"Kakek peyot ini maunya apa sih!" ucap Nusa dalam hati.
"Oh iya, maaf ya kek. Ngomong-ngomong kakek mau apa ke sana?!" ucap Nusa sambil melirik si kakek. "Jangan pergi jauh-jauh kek, soalnya kakek udah bau tanah. Takutnya kalau kakek mati, semua orang bisa repot."
__ADS_1
Si kakek melempar tongkat kayunya ke samping lalu berkata dengan marah. "Hei anak muda, ucapanmu sudah kelewatan, kau pikir aku siapa! Asal kau tahu, aku adalah salah satu petinggi di guild ini."
Wajah Nusa menunjukkan keterkejutannya. "Terus gw harus koprol sambil bilang wow gitu!"
Tiba-tiba saja si kakek menghilang, Nusa dibuat panik oleh si kakek. Nusa mencari si kakek ke setiap sudut koridor, namun tidak menemukannya.
"Kek, kakek! eh kok ilang!" teriak Nusa panik, "Jangan-jangan si kakek itu hantu! Anj*r, sejak kapan game ini berubah jadi horor!"
"Kakek ada di sini cu. Kakek kesepian, temenin kakek main sebentar," ucap si kakek gemetar, suaranya sangat khas lansia usia 90 tahunan.
Nusa diam seribu bahasa, mulutnya seakan terkunci rapat. Wajah Nusa sangat tegang, keringat dingin mulai bercucuran membasahi seluruh tubuh.
"Cu... "
"Se-setan!" teriak Nusa histeris.
Nusa lari terbirit-birit, kedua tangannya melayang tanpa beban di udara. Ekspresi wajahnya sudah tak karuan, dia tidak peduli lagi dengan orang-orang sekitar.
"Cu... Temenin kakek main."
"Najis! main aja lu sendiri! Gw kaga sudi main bareng setan!"
"Nusa, jadilah pria yang tenang dan berwibawa. Jangan sampai ketakutan menguasaimu, ingat di mana pun kamu berada tetap tenang dan selalu...."
"Bodo amat! kalau gw takut kenapa! Sekarang bukan waktunya tenang dan berwibawa," teriak Nusa keras sambil berlari di Koridor.
"Orang itu kenapa lari sambil teriak-teriak?!" tanya petualang wanita melihat Nusa berlari melewatinya.
"Biarkan saja dia, orang gila mah bebas," balas teman si wanita.
Seorang petualang pria berdiri di tengah Koridor, dia berusaha menghentikan Nusa. "Hei... Jangan berlarian di Koridor! petualang itu harus so..."
Bukk...
Nusa menendang pria itu sampai terbentur ke langit-langit. Seketika pria itu tidak sadarkan diri, dia tersangkut di atas dengan mengenaskan.
"Semoga bahagia di alam sana." Seorang pria lain membungkuk di depan langit-langit yang hancur.
Lelah pergi ke sana kemari, akhirnya Nusa menemukan sebuah kamar mencurigakan. Dengan napas naik turun, dia masuk ke dalam kamar itu lalu menguncinya. Sekarang Nusa bersandar di pintu kamar, perlahan tubuhnya jatuh lemas.
Nusa bersyukur bisa lepas dari setan penunggang Koridor. "Untung kakek itu tidak mengejarku lagi."
__ADS_1
Ntah sebuah kebetulan atau sebuah takdir, Nusa masuk ke dalam kamar misterius. Di dalam kamar pencahayaannya sangat minim, walaupun sekarang tengah hari, tapi sinar matahari tidak masuk ke dalam kamar.
Nusa merasa ada yang aneh dengan kamar itu, dia membalikkan badan lalu berusaha pergi dari sana. Sayangnya pintu kamar tidak bisa dibuka, pintu itu seperti di halangi benda yang beratnya ribuan ton.
Udara di sekitar Nusa tiba-tiba terasa dingin, seluruh bulu kuduknya berdiri. Nusa berusaha keluar sekuat tenaga, tetapi pintu itu sangat kuat dan tidak bisa di rusak dengan sihir.
Tidak lama di dalam kamar muncul cahaya remang-remang, cahaya itu menyerupai obor berwarna merah. Nusa bisa melihat ada sesuatu yang menggeliat di atas kasur, dia tidak tahu makhluk seperti apa yang akan muncul di balik selimut.
"Aku harus pergi dari sini!"
Nusa mengambil kuda-kuda penuh, dia siap melayangkan tendang keras pada pintu itu. Tiba-tiba sepasang rantai merayap dari bawah lalu mengikat seluruh tubuhnya kuat. Nusa menggoyangkan tubuhnya keras, ikatan rantai itu semakin erat mencengkram tubuh Nusa.
"Kik, kik, kik, kik, kik." Terdengar suara wanita tertawa di dalam selimut.
"Siapa itu! tunjukkan wajahmu!" bentak Nusa dengan mata tertutup.
Perlahan selimut di atas kasur turun ke bawah, terlihat rambut hitam muncul dari balik selimut.
"Tunjukkan wajahmu! aku tidak takut!" teriak Nusa histeris.
"Nuusaaa...ini aku, hantu jeruk peras 👻," ucap wanita itu dengan nada seram, dia masih bersembunyi di dalam selimut.
"Ke-keluar kau setan! ka-kau pikir aku ta..."
"Baaa...!"
Seorang wanita dengan mata merah keluar dari selimut, wajah wanita itu putih pucat. Aura negatif menyelimuti si wanita, selimut berwarna merah seketika menjadi merah darah.
Nusa tidak sadarkan diri, kepalanya mendongak ke belakang. Mulut Nusa terbuka lebar, kedua bola matanya memutar ke belakang lalu berubah menjadi putih.
"Yah, dia udah pingsan Nona," ujar seorang wanita memeriksa keadaan Nusa.
"Hahaha.... Nusa itu lemah saat berhadapan dengan hantu. Atita, letakkan dia di kasur, setelah itu ganti seluruh pakaiannya," ucap Tara sambil tertawa bahagia. Dia berhasil menakut-nakuti Nusa sampai ngompol di celana.
Tara duduk di samping Nusa dan berkata. "Makanya, jangan sok-sokan jual barang milik Tara ya. Kali ini aku sangat terhibur, jadi aku maafin kamu deh."
Tara menggunakan skill pasifnya pada Nusa, skill ini hanya dimiliki oleh ras true kuyang saja. Karena skill ini Nusa mengalami halusinasi hebat dan tekanan dari aura negatif yang sangat mencekam. Jika Tara menggunakan skill ini pada orang lain, dapat dipastikan orang itu akan mati ketakutan.
Tujuan Tara sudah tercapai, selanjutnya dia akan menemani Nusa sampai siuman. "Aku akan menemaninya di sini. Kamu lanjutkan saja rencana kita, kalau Nusa sampai terlibat itu cukup merepotkan."
Atita memberi hormat pada Tara lalu keluar dari kamar itu.
__ADS_1