Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua

Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua
BAB 33 :KELEMBUTAN TARA


__ADS_3

Tara menemani Nusa semalaman, dia sangat sabar mengelap keringat sahabatnya yang bercucuran.


"Lama banget sadarnya, dia pingsan atau mati sih. Kalau terus begini, terpaksa aku harus melakukan sesuatu." Tara menyubat hidung dan mulut Nusa.


Setelah 3 menit, wajah Nusa perlahan menjadi ungu. "Masih belum bangun juga! Ampun deh ini orang."


Tara mengambil bantal dari kepala Nusa, dengan wajah datar dia menindih Nusa lalu membekapnya dengan bantal. Tidak disangka Nusa tersadar, dia berusaha melepaskan bantal itu dari wajahnya.


Saat bantal itu di angkat, wajah Nusa sudah menghitam layaknya tinta cumi-cumi. Masih dengan wajah dinginnya, Tara membantu Nusa bernapas dengan melepaskan sumbat mulut dan sumbat hidungnya.


Nusa melirik Tara tajam dan berkata. "Woi... anda mau bunuh saya!"


"Eeee...Nggak kok."


"Terus ini apa!"


"Eee... mmm... Jadi gini, menurut film yang aku tonton. Jika seseorang tidak sadarkan diri dalam waktu lama, maka bekap wajahnya dengan bantal."


Nusa terkejut dan berkata. "Tunggu sebentar, kok adegannya brutal banget ya. Sebenarnya film apa yang kamu tonton?!"


"Eee...film kan*bal. Oh iya, ayo kita pergi."


"Kemana?!"


Tara tidak menjawab pertanyaan Nusa secara lantang, dia membisikkan beberapa kata lalu tersenyum manis. Nusa mengangguk paham, mereka berdua diam-diam pergi dari guild Bulan Sabit.


...*******...


Nusa dan Tara berjalan ke sebuah hutan di dekat kota Arzak. Sebelum masuk lebih dalam, Nusa memasang pelindung di sekeliling hutan. Kali ini mereka cukup waspada, sepertinya ada tempat rahasia yang akan di datangi oleh keduanya.


Mereka sampai di tengah hutan yang lebat, Nusa dan Tara membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di tengah hutan. Tujuan mereka adalah pergi ke sebuah gua yang ada di dekat sungai, di hutan itu terdapat sebuah gua yang tersembunyi dan sulit menemukannya.

__ADS_1


Mereka akhirnya menemukan gua itu, mulut goa berdiameter 1x1 menter. Gua yang tersembunyi dibalik lebatnya pepohonan, dan belum terjamah seseorang. Dinding gua itu sudah berlumut dan mengeluarkan bau amis.


Nusa dan Tara masuk ke dalam gua, mereka berjalan menuruni bebatuan licin. 10 menit berjalan menyusuri gua yang gelap dan lembab, mereka pun sampai di inti gua. Keduanya sudah di sambut oleh Atita dengan senyum misteriusnya.


"Selamat datang, tuan Nusa dan nona Tara. Saya sudah menangkap semua petualang yang mencurigakan. Saya pun berusaha menggali informasi dari mereka, tapi para petualang itu tidak mau membuka mulutnya." Atita mengarahkan majikannya menemui para petualang.


Lain halnya dengan jalan gua yang gelap, inti gua sangat terang, Atita menggunakan sihir cahaya di ruangan itu. Nusa melihat 10 orang duduk di atas kursi, kedua tangan dan kakinya terikat tali. Wajah para petualang itu layaknya tempe jeprek, mata mereka juga tidak lupa diikat kuat menggunakan kain.


"Aku penasaran dengan langkah Tara selanjutnya." gumam Nusa dalam hati.


"Jadi mereka tidak mau membuka mulut, baiklah buka penutup mata mereka," ucap Tara sambil mengambil belatinya.


Atita melepaskan penutup mata mereka, dia juga melepaskan sumbat mulut para petualang itu. Tara mendekati salah satu pria lalu menempelkan kepala si pria ke tubuhnya.


Tara tersenyum manis ke arah si pria. "Tuan petualang yang hebat, sebenarnya kalian sedang apa di benua Eurasia. Kalau kalian menjawab jujur, aku tidak keberatan melayani kalian semalaman."


Nusa menatap Tara malas dan berkata dalam hati. "Kok biasa banget ya, aku kira ada adegan Gorenya. Please Tara please, aku berharap banget ada adegan berdarahnya."


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Tara mencengkram kepala si pria kuat. Seluruh tubuhnya diselimuti aura merah mengerikan, Nusa berlindung di balik tubuh Atita.


"Jangan-jangan Tara akan berubah jadi setan!"


"Tenang saja Tuan Nusa, anda tidak perlu khawatir. Nona Tara tidak akan menggunakan skill pasifnya, dia hanya menggunakan skill intimidasi saja." Atita melirik ke arah Nusa yang bersembunyi di bawah gaunnya.


Nusa mengeluarkan kepalanya dari gaun Atita, dia melihat Tara sedang menusuk mulut si pria lalu merobeknya. Belum cukup di situ, Tara juga menarik lidah si pria dan memotongnya.


Setelah pria itu mati, Tara menendang jasad si pria sampai terjungkal ke belakang. Petualang lain yang menyaksikan rekannya di bunuh dengan sadis sontak terkejut. Mereka semua ketakutan karena Tara membunuh rekannya satu persatu.


Nusa tersenyum lebar, wajahnya berseri-seri menyaksikan kebrutalan sahabatnya. "Nice Tara! Aku mencintaimu! Seharusnya kamu lakukan itu dari awal," ucap Nusa antusias, dia sangat semangat sampai bersiul beberapa kali.


"Tuan Nusa! jika anda sudah kembali ceria, cepat keluar dari dalam gaun saya. Saya kurang nyaman, jika anda bersembunyi di bawah kaki saya," ucap Atita dingin, walaupun begitu wajahnya terlihat merona.

__ADS_1


Nusa keluar dari gaun Atita, dia meloncat-loncat layaknya pemandu sorak.


"Cepat katakan rencana kalian! kalau tidak, kau pun akan menyusul mereka," bentak Tara sambil memainkan belatinya di pipi petualang terakhir itu.


Petualang itu menggelengkan kepalanya keras, dia sangat teguh dengan pendiriannya. Tara menghela napas berat, dia menatap si petualang iba. Tara mengusap kepala petualang itu lembut dan berkata.


"Boost Death."


Tiba-tiba petualang itu terpental jauh sampai membentur dinding gua. Tubuh si petualang melesat bak peluru yang keluar dari senapan mesin, tubuhnya hancur berserakan setelah menghantam dinding gua.


Tara menanyakan apakah tidak masalah jika di melenyapkan semua petualang ini. Nusa tidak mempersalahkan itu, lagipula dia sangat menikmati pertunjukan gore didepannya.


Lain halnya dengan Atita, dia tidak berkomentar apapun. Wajah Atita masih merona, dengan malu-malu dia menutupi mulutnya. Tingkah Atita sangat aneh, tidak biasanya dia bersikap malu-malu seperti itu.


"Nus, Atita kenapa tuh?!" tanya Tara heran.


"Nggak tau, mungkin kesambet! Yang aku tahu tempat gelap dan lembab itu markasnya para setan." Nusa mengusap pundaknya merinding.


Obrolan santai mereka berubah ketika Nusa memasang wajah serius. "Aku merasakan firasat buruk."


"Firasat buruk apa yang kamu maksud?!" tanya Tara khawatir.


"Ada yang menerobos penghalang, aku belum tau siapa mereka. Yang jelas para penyusup berjumlah dua orang, walaupun hanya berdua, mereka sangat kuat. Nameer yang menjaga bagian depan berhasil dikalahkan." Nusa menarik Tara dan Atita menuju permukaan.


"Tunggu Nusa! Kalau mereka sangat kuat, kita tidak bisa melawan mereka tanpa persiapan." Tara menghentikan langkahnya, Nusa dan Atita pun ikut berhenti mendadak.


"Siapa mereka sebenarnya, lalu kita harus bagaimana tuan?!" tanya Atita mulai khawatir.


Penghalang yang Nusa buat cukup kuat, pemain berlevel 1500 ke bawah tidak bisa menembusnya. Di tambah, Nusa juga menempatkan 2 penjaga di dalam penghalang.


Para penjaga itu adalah Nameer dan Delta. Nameer merupakan npc berlevel 1750, dia juga npc jenis petarung jarak dekat. Sedangkan Delta merupakan npc berlevel 1850, dia adalah npc jenis petarung jarak menengah.

__ADS_1


Nusa merasa pertarungan kali ini akan lebih sulit dari sebelumnya. Mereka bertiga belum mengetahui musuh seperti apa yang akan menjadi lawan mereka.


__ADS_2