Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua

Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua
Bab 53 : Sekutu


__ADS_3

Nusa dihadapkan dengan seorang ninja, bilah pedang dingin terasa menyebar di tenggorokannya. Tara dan Atita tidak panik atau berusaha menendang si penyusup. Mereka duduk santai di atas kasur sambil menonton kejadian itu.


"Jangan sampai mati, Nusa. Kamu masih punya banyak cicilan." Tara tersenyum jahat.


"Semangat Tuan Muda, kami mendukungmu." Atita mengetuk kasur, selimut transparan membungkus penginapan. Dia kini mengontrol siapa saja yang boleh masuk dan keluar sesuka hati.


"A-apa tujuanmu menodongkan senjata padaku!" Nusa berkata gugup, wajahnya pucat. "Aku tidak punya apapun, kalau mau bawa saja mereka berdua."


"Apa maksudmu, Hah! Kamu pikir kami barang bawaan!" sergah Tara sambil berdiri, tidak lama dia kembali duduk.


"Ya... kenyataannya memang begitu, kan."


"Nusa!"


"Tara!"


"Diam kalian berdua!" bentak sang ninja. "Aku di sini hendak menculik pria ini. Bukan yang lain. Bos bilang kau orang penting yang datang dari ibukota."


Keadaan lengang. Ninja itu tetap waspada dengan gerakan yang Tara dan Atita buat. Dia curiga jika kedua perempuan itu merupakan pengawalan pribadi sekaligus prajurit elite Kerajaan.

__ADS_1


"U-untuk apa kalian menculikku."


Ninja itu tidak menjawab, dia melempar bubuk asap ke lantai lalu bergegas pergi.


"To-tolong! Aku diculik!" Nusa berseru panik, suaranya hilang bersama asap yang memudar.


Atita mengetuk kembali kasur, selimut transparan meletus seperti balon. "Apa Nona yakin membiarkan penyusup itu lari bersama Tuan."


Tara merebahkan tubuh di kasur. "Biarkan saja pria menyebalkan itu. Kamu pikir Ninja itu berhasil menculiknya. Justru dia sedang masuk dalam perangkap Nusa, sang aktor menyebalkan. Kamu tengah saja, lebih baik kita bantu Nusa menghabiskan semua buah-buahan ini."


"Baik, Nona." Atita segera mengeduk banyak buah dalam tas belanja.


"Kamu diam di sini!" Ninja itu melempar Nusa kasar, menempatkannya di sebuah ruangan kosong dan minim pencahayaan.


Setelah penjahat itu pergi, Nusa melepas ikatan di tangan, kaki dan sumbat mulut. Dia menyentuh lantai, berkonsentrasi penuh. Ratusan jalan dan ruangan rahasia tergambar jelas dalam pikirannya. Nusa sedang membuat peta tiga dimensi yang langsung tersimpan di kepalanya.


"Hmm... Sepertinya aku di bawa ke lantai tiga puluh tujuh. Untuk sampai ke permukaan, aku harus menerobos seratus penjaga dan lima ratus lorong yang membentuk akar serabut. Lagipula apa manfaat tinggal di bawah tanah, selain pengap, udara juga minim. Salah melangkah, aku bisa tersesat selamanya."


Nusa menyentuh dinding, rambatan listrik menyentuh telapak tangannya. "Ternyata ada beberapa orang yang di tahan di tempat ini. Sebelum si Ninja kembali, aku lepaskan mereka."

__ADS_1


Nusa merapal mantra singkat. Tubuhnya perlahan masuk ke dalam dinding, lalu keluar dari ruangan tanpa suara. Dia memastikan para tawanan masih hidup serta dalam kondisi pria--tidak sekarat.


Satu persatu pintu besi terbuka dengan mudah. Para tahanan yang kebingungan serentak keluar dan bertemu dengan Nusa. Keadaan mereka cukup memperihatinkan, baju koyak dan tubuh penuh luka akibat siksaan.


Nusa menatap lima belas tahanan seksama. Dia menjentikkan jari, membuat para tahanan di selimut air hitam seperti gelembung.


Plop... Saat gelembung pecah, tubuh para tahanan berubah drastis. Mereka mengenakan pakaian layak--mirip pakaian prajurit elit--dan dipersenjatai pedang. Luka akibat penyiksaan sudah sembuh sempurna, mereka siap berlaga di medan perang.


"Aku tahu kalian di tahan karena melawan penguasa baru. Menurut informasi yang kudapat, semua tahanan besok akan dieksekusi di alun-alun kota. Aku datang ke sini untuk membebaskan kalian, sekaligus meminta kalian ikut berperang melawan penguasa baru." Nusa duduk di kursi yang muncul saat menjentikkan jari.


"Kami di kurung di sini selama tiga tahun. Setiap hari makanan yang kami terima jauh dari kata layak. Siksaan dan hinaan terus dilontarkan orang-orang bodoh itu! Dan sekarang ada orang yang berani membebaskan kami dan meminta menumbangkan penguasa baru. Itu hal konyol yang sulit kami percaya!" Seorang pria menolak tawaran Nusa. Dia berusaha meyakinkan rekan-rekannya agar tidak memercayai Nusa.


"Aku hanya menawarkan kalian untuk bergabung dalam pasukan pembebas. Jika kalian menolak, itu terserah. Namun ada dua kerugian besar menolak tawaranku. Pertama kalian akan dianggap pemberontak saat penguasa baru digulingkan, kenapa tidak, kalian menolak bergabung padahal memiliki potensi luar biasa. Dan kedua, kalian akan mati sebentar lagi. Para penjaga akan membasmi kalian lebih cepat dari jadwal. Seandainya kalian ingin kabur, jalan itu tidak mungkin di lewati." Nusa mengubah intonasi suara, lebih mengintimidasi dan berwibawa.


Para tawanan mulai ragu, Mereka dilanda kebingungan luar biasa akibat perkataan Nusa.


Lima belas menit berlalu, Nusa sabar menanti jawaban para tahanan. Dia juga diam-diam menganalisis kemampuan mereka, memastikan tidak ada orang asing yang menyamar. Si Ninja yang menculiknya belum bergerak di lantai atas, dia masih berkumpul bersama tiga orang rekannya.


"Ba-baiklah. Kami semua akan membantu berperang melawan penguasa baru. Tapi dengan satu syarat, tolong bebaskan rekan kami yang lain. Mereka di kurung di setiap lantai di tempat ini." Pria yang awalnya menolak, kini sepakat membantu Nusa.

__ADS_1


"Aku setuju. Kita bebaskan para tahanan yang mendukung penggulingan kekuasaan." Nusa tersenyum ramah. Namun dibalik wajahnya manisnya, tersembunyi rahasia yang mengerikan.


__ADS_2