Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua

Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua
BAB 25 : TAWARAN YANG MENGUNTUNGKAN


__ADS_3

Nusa, Tara dan Komandan Wina tidak langsung mengantarkan si anak pada orang tuanya. Mereka membawa anak itu pergi ke sebuah penginapan di tengah ibukota.


Nusa memesan satu kamar yang paling murah untuk menghemat pengeluaran. Kamar yang Nusa pesan tidak menyediakan banyak pasilitas, didalamnya hanya ada 1 tempat tidur, satu meja dan dua kursi.


Nusa melepaskan ikatan si anak dan berkata. "Anak ini harus kita apakan?"


"Lebih baik kita serahkan anak ini ke istana," ucap komandan Wina sambil mengupas buah apel.


Tara tidak setuju dengan usulan komandan Wina dan berkata. "Kalau kita serahkan anak ini sekarang, mereka akan menuduh kita telah merekayasa penculikan. Setelah itu, kita bertiga akan dieksekusi! Kamu kan tahu beberapa prajurit elit telah berkhianat."


Nusa menatap ke arah luar jendela dan berkata dengan santai. "Aku punya rencana agar kita semua mendapatkan untung."


Semua orang mendengarkan rencana Nusa, termasuk anak perdana menteri. Mereka menyukai rencana licik Nusa dan siap melaksanakan peran yang diberikan Nusa.


...****************...


Sekitar pukul 5 dini hari, Nusa dan rombongannya keluar dari penginapan. Mereka nampak kelelahan, kerutan hitam bergelantungan di kedua mata Nusa dan rombongannya.


"Kalian lihat, mereka semua nampak kelelahan. Mungkin mereka tidak tidur semalaman," bisik seorang pria kepada rekannya.


"Kau benar! kabarnya mereka ber-4 memesan satu kamar saja," timpal rekan si pria sambil memandang wajah lesu Tara.


Pria yang duduk di pinggir meja resepsionis menghampiri kedua pria yang berbisik-bisik itu dan berkata. "Gile! 1 pria dengan 2 wanita cantik tidur satu ranjang!."


Tara menggerakkan sebelah alisnya, dia kesal dengan para pegawai hotel yang menyebarkan rumor aneh. Kalau saja komandan Wina tidak menepuk pundaknya, mungkin Tara akan mengamuk dan membantai semua orang di sana.


...********...


Seorang pria berjalan di Koridor istana, dia sedikit cepat dalam berjalan. Dari penampilannya bisa disimpulkan bahwa dia seorang pejabat tinggi istana.


Pria itu membuka pintu lalu masuk ke dalam ruang tahta, dia langsung di sambut puluhan prajurit elit yang siap siaga.


Pria itu memberi hormat dengan berlutut sambil menundukkan kepalanya di hadapan raja. Raja menyambut pria itu, dia mengizinkan pria itu mengangkat kepalanya.

__ADS_1


"Yang mulia, maaf atas kegaduhan yang anak saya perbuat. Sebagai orang tuanya, saya siap menerima hukuman apapun," ucap pria itu dengan hormat.


Raja menunjukkan ekspresi sedih dan berkata. "Apakah kamu sudah menemukan anakmu? Keselamatan anakmu lebih penting daripada apapun. Jika kita belum bisa menemukan anakmu, maka kita setujui saja syarat dari si penculik."


Wajah pria itu menjadi pucat dan berkata dengan cepat. "Yang mulia tidak perlu menghawatirkan anak saya! Daripada membebaskan tahan itu lebih baik kita biarkan saja anak saya mati."


"Itu benar yang mulia! kita tidak mengambil resiko sebesar itu," ucap seorang pria di samping raja panik.


Kenapa mereka sangat takut pada seorang tahan? jawabannya karena tahan itu sangat berbahaya. Dia telah membantai puluhan prajurit dan merampas harta kerjaan.


Waktu itu keadaan Kerajaan Bhayangkara sedang dilanda kekacauan. Terjadi wabah berbahaya, wabah itu dengan cepat menulari warga.


Disaat keadaan kacau balau, tiba-tiba seorang pria muncul membantai puluhan prajurit Kerajaan yang membantu warga isolasi. Pria itu menjarah bahan makanan yang disalurkan untuk warga.


Pria itu juga masuk ke dalam istana, dan mencuri harta Kerajaan. Prajurit elit istana kesulitan menghadapi pria itu, di tambah jendral mereka sedang pergi keluar negeri untuk meminta bantuan tenaga kesehatan.


Orang yang sanggup meringkus pria itu adalah komandan pasukan elit Kerajaan yaitu komandan Joza.


Orang-orang saling berbisik cemas menanti keputusan raja. Para petinggi istana saling beradu argumen agar raja mempertimbangkan keputusannya.


Boom...


Asap mengepul memenuhi ruang tahta, para prajurit elit langsung bersiaga penuh. Mereka membuat barisan untuk melindungi raja.


Samar-samar terlihat beberapa sosok di dalam asap, para prajurit tidak menyadari adanya lingkaran sihir teleportasi yang dirapal seseorang.


Tidak lama asap itu lenyap sepenuhnya, dua orang wanita dan satu pria berdiri di tengah ruang tahta. Layaknya bangsawan, mereka memberi salam hormat pada raja.


Awalnya raja ragu dan menganggap ketiga orang itu penyusup. Tapi ketika raja melihat salah satu wanita, dia menyadari bahwa wanita itu merupakan komandan Wina.


Raja mengangkat sebelah tangannya mengisyaratkan para prajurit untuk menurunkan senjata mereka. Para prajurit dan petinggi kebingungan, mereka tidak mengetahui bahwa komandan Wina ada si sana.


Sejauh ini, tidak banyak orang yang mengetahui wajah komandan Wina. Komandan Wina selalu memakai topeng rubah atau helm besi yang menutupi seluruh kepalanya.

__ADS_1


"Yang mulia, kedatangan kami ke sini ingin memberi kabar gembira. Jika yang mulia berkenan, kami akan memberitahukan berita itu," ucap Nusa sambil melepas penutup kepalanya.


Raja tersenyum ramah dan berkata. "Jika itu kabar gembira, maka aku akan senang mendengarnya."


Nusa berjalan mendekati raja lalu berkata. "Saya tahu yang mulia sedang bimbang mengenai penculikan anak perdana menteri. Penculik memberikan 2 pilihan yang tidak menguntungkan bagi Kerajaan. Tetapi yang mulia tidak perlu khawatir, karena kami telah membebaskan anak perdana menteri."


Semua orang di dalam ruang tahta sangat terkejut, mereka tidak percaya anak muda didepannya sanggup membebaskan anak perdana menteri dari tangan penculik. Para prajurit elit istana saja belum bisa melacak keberadaan si penculik.


"Mustahil! bagaimana bisa kalian menemukan persembunyian si penculik dengan waktu cepat. Kami saya para prajurit elit kesulitan mencarinya," ucap seorang pria tidak percaya, dia mengenakan zirah lengkap berwarna merah dan dipersenjatai tombak.


Tara mengarahkan wajahnya pada si pria tombak, dia mentap pria itu dengan tatapan merendahkan. "Mmm... Mungkin prajurit elit istana tidak sehebat yang rakyat kira. Kalian hanya sekumpulan orang tak berguna!"


Pria tombak itu menggertakkan giginya marah, dia mengacungkan tombaknya ke arah Tara. Melihat tingkah sang pria, membuat Tara mengejeknya lebih parah dari sebelumnya.


Si pria tombak tidak sanggup menahan amarahnya, dia keluar dari barisan dan menyerang Tara. Saat ujung tombak hampir mengenai wajah cantik Tara, tiba-tiba komandan Wina sudah ada di depan pria itu lalu menebak tombak si pria dengan belati. Pria itu terdiam syok, tombak kebanggaannya terpotong menjadi 2 bagian.


Kondisi di ruang tahta kurang kondusif. Karena keadaan terus memanas, raja menghentikan pertikaian itu dan memerintahkan semua pihak agar menahan diri.


Setelah keadaan kembali kondusif, Nusa melanjutkan penjelasannya. "Kami akan menyerah anak itu kepada orang tuanya, asalkan kalian memenuhi syarat yang kami berikan."


"Apa saja syarat yang kalian inginkan." Raja menyilangkan kakinya di atas singgasana.


Nusa melirik ke arah Tara dan komandan Wina, mereka berdua mengangguk. Nusa meminta agar raja dapat mengabulkan permintaannya dan juga kedua temannya.


Raja menyetujui syarat Nusa selagi permintaan itu bisa raja lakukan. Nusa, Tara, dan komandan Wina lalu menetukan siapa yang lebih dulu mengatakan permintaannya.


Orang pertama yang mengatakan permintaannya adalah Nusa. Nusa sedikit gugup saat mengatakan permintaannya, bagaimana tidak, dia meminta 1 juta rupe pada raja.


Orang yang mendengar permintaan Nusa dibuat terkejut. Raja tertawa dan mengatakan bahwa Nusa adalah manusia yang tamak dengan harta. Raja menyetujui permintaan Nusa, dia akan. memberikan Nusa uang sebanyak 1 juta rupe.


Orang kedua yang mengatakan permintaannya adalah Tara. Dia meminta agar raja memberikannya sebuah rumah di ibukota yang dipenuhi dengan berbagai jenis senjata.


Walaupun sedikit terkejut tapi raja menyetujui permintaan Tara. "Mohon maaf kalau tidak sopan, setahu saya ras kuyang itu lebih menyukai baju indah atau alat kecantikan," ucap raja sambil menatap Tara penasaran.

__ADS_1


Tara tidak bisa menjawab pertanyaan raja, dia hanya tertawa kecil sambil mengusap kepala bagian belakangnya.


Yang terakhir adalah komandan Wina yang meminta keinginannya. "Sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri. Saya adalah komandan pasukan elit divisi kedua, komandan Wina. Saya ingin mengundurkan diri sebagai komandan pasukan elit Kerajaan Bhayangkara."


__ADS_2