Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua

Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua
BAB 23 : Anak Beban


__ADS_3

Komandan Wina tiba-tiba saja muncul dihadapan Tara, dia menahan serangan si pria menggunakan pedang besar miliknya. Seluruh tubuhnya tertutup zirah putih dengan hiasan kuning yang sangat menawan.


Dia mengayunkan pedangnya ke arah si pria, tiga bilah pedang saling berbenturan. Pertarungan antara komandan Wina dan si pria terus berlanjut, gerakan mereka sangat cepat dan sulit dilihat mata. Nusa bersiul beberapa kali, dia sedikit kagum melihat teknik berpedang komandan Wina.


"Menurutku kemampuannya tidak diragukan, pantas saja dia bisa menjadi komandan pasukan elit. Padahal dia hanya npc, tetapi kemampuannya hampir setara dengan pemain berlevel 1000." Nusa menikmati pertarungan antara komandan Wina dan si pria berpedang.


Tara tidak bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Saat dia hampir jatuh, Nusa sudah ada dibelakangnya lalu menahan tubuh Tara.


Rekan si pria pedang mencoba menyerang komandan Wina secara diam-diam. Dia melempar suriken dan jarum beracun ke arah komandan Wina. Nusa sudah memperhatikan gerak-gerik si pria ninja, dia menjentikkan jarinya. Semua jarum dan suriken yang mengarah pada komandan Wina tiba-tiba menghilang.


"Suriken dan jarumku menghilang! kemana mereka per... " Pria itu jatuh dan tidak sadarkan diri, dia tergeletak tak berdaya, seluruh tubuhnya menjadi ungu.


Jarum dan suriken yang hilang ternyata menancap pada punggung si pria. Bukan hanya itu, rekan pria itu pun mendapat serangan dari jarum yang telah lumuri racun itu.


"Mu-mustahil! kenapa jarum racun tiba-tiba menancap di tubuhku," ucap seorang pria sambil menjatuhkan kedua pedangnya. Dia berjalan menuju komandan Wina dan berusaha menggapainya, tapi sebelum sampai dia jatuh dan tidak sadarkan diri.


Ketiga pria itu tergeletak di tanah, Nusa mengumpulkan mereka jadi satu. "Yois... Kita lanjutkan perjalanan. Kalian bisa pergi lebih dulu, biar aku yang mengurus mayat mereka. Oh iya Tara, penampilanmu sedikit memperihatinkan."


Nusa menjentikkan jarinya, baju Tara yang sobek kembali seperti semula. Racun mematikan di tubuh Tara pun udah hilang. Untuk jaga-jaga Nusa memberikan Tara zirah berwarna merah darah yang menutupi seluruh tubuhnya.


Komandan Wina dan Tara menuju hutan paling dalam. Sementara Nusa memperhatikan ketiga mayat didepannya. "Ini bukan racun biasa, seharusnya Tara memiliki skill pasif yang membuatnya kebal racun. Sepertinya ada yang aneh! kenapa mereka bisa menculik anak perdana menteri dengan mudah. Yang aku tahu anggota kerajaan selalu dikawal pasukan elit."


Nusa melihat jasad pria dengan pakaian ninja, lalu membuka penutup mulut si pria. Dia terkejut karena pria itu merupakan salah satu pasukan elit yang di pimpin komandan Wina. Nusa tidak pernah lupa wajah pria itu, dia lah orang yang berteriak saat Nusa dan partynya akan pergi dari kota Carani.


Pria itu juga yang memukulinya selama di perjalanan dan menyarankan agar Nusa dimasukkan ke dalam sangkar besi.


"Hahaha...., rupanya ini rencana orang dalam untuk menjatuhkan komandan Wina!" ucap Nusa sambil membakar ketiga mayat itu. "Setidaknya sebelum mati kalian tinggalkan barang berharga untukku!"


...****************...


"Emm... mmm... mmm." teriak seorang anak kecil dengan tangan dan kakinya diikat pada kursi kayu. Kedua matanya di tutup kain, begitupun dengan mulutnya.

__ADS_1


"Diam! kalau kau masih melawan, aku potong kaki dan tanganmu!" bentak seorang pria kasar, dia menendang wajah anak itu dengan sepatu besi.


Pria lain menghampiri lalu menenangkannya. "Sabar Joza! jangan kau bunuh anak ini. Aku tau kau menaruh dendam pada orang tuanya. Akan tetapi anak ini masih berguna untuk kita, dia bisa menjadi pemantik keributan di dalam istana. Aku yakin orang-orang di istana sedang kebingungan, mereka diberi 2 pilihan sulit. Membebaskan bos kita atau menyelamatkan anak ini, walaupun keduanya adalah pilihan yang salah."


"Kau benar! setelah bos bebas kita tetap membunuh anak ini." Joza mengambil pedang besar di punggungnya. "Kalau aku potong kaki anak ini mungkin tidak masalah!"


Joza mengangkat pedangnya tinggi, saat dia hendak menebas kaki si anak tiba-tiba.


Slashh...


Sebuah pedang mengarah kepadanya dengan cepat. Jika Joza telat sedikit saja menghindari serangan itu, mungkin pedang itu sudah membelahnya.


"Siapa kalian!" teriak Joza sambil memasang kuda-kuda siaga.


Tara tersenyum tipis dan berkata. "Oh paman! segera lepaskan bocah beban itu!"


Pria di belakang Joza menghampiri si anak, dia menjadikan anak itu sebagai perisai hidup. "Jika kalian maju selangkah saja, maka anak ini akan aku bunuh!"


"Bangs*t!" bentak pria itu sambil menghunuskan pedangnya.


Saat pria itu akan memotong leher si anak, tiba-tiba Nusa muncul dan menendang pria itu menggunakan kedua kakinya.


Pria itu terpental jauh, Joza langsung berlari menuju rekannya. "Bagaimana kalian bisa sampai kesini!" Joza menghunus pedangnya ke arah Nusa dan kawan-kawannya.


"Kami masuk lewat jalan yang kalian sering lewati," ucap Nusa sambil memukul kepala si anak.


"Mustahil! jalan yang kalian lewati seharusnya dijaga ketat oleh anak buah kami." Joza menatap Nusa, Tara dan komandan Wina tajam.


Nusa tersenyum jahat dan berkata dengan nada mengejek. "Oh! maksudmu orang-orang yang memakai baju tidur itu! Sayang sekali, mereka semua cuma tikus yang menghalangi jalan. Jadi kami bunuh deh!"


Nusa menjentikkan jarinya, tidak lama puluhan mayat keluar dari ruang tunggu miliknya. "Baiklah, sekarang kalian jelaskan kenapa menculik anak perdana menteri. Bapak Joza, atau lebih tepatnya Mantan komandan pasukan elit."

__ADS_1


Joza sangat terkejut, darimana Nusa tahu identitasnya. Padahal dia sudah memblokir akses identifikasi sehingga sihir identifikasi tidak bisa digunakan. Joza juga memakai masker dan berpenampilan seperti ninja.


Joza membuka maskernya lalu berkata dengan marah. "Luar biasa! sepertinya aku terlalu meremehkan musuh. Tujuanku adalah menjebak komandan Wina lalu membunuhnya! Gara-gara wanita itu posisiku sebagai komandan digantikan! Dia bersekongkol dengan perdana menteri untuk menjatuhkan harga diriku di depan semua warga."


"Sebagai komandan pasukan, kenapa anda memiliki pemikiran sedangkal itu?!" tanya komandan Wina sedikit menahan amarahnya.


"Diam! orang luar sepertimu tidak akan mengerti," bentak joza marah. "Ketika semua kerja keras dan kesetiaan kau persembahkan untuk kerajaan ini. Tetapi semua usahamu tidak satupun yang mereka hargai! bahkan kau pun di buang kerajaan karena sudah tak berguna."


Joza melihat wanita berzirah putih itu. "Zirah putih dan pedang besar berwarna perak. Jangan-jangan!"


"Benar sekali! dia adalah komandan Wina. Orang yang telah menggulingkanmu dari jabatan komandan. Yah! ternyata komandan Joza lebih bodoh dari wanita ini," ucap Nusa sambil menunjuk komandan Wina dan Joza bergantian.


Tangan Joza mencengkeram pedangnya kuat, dia termakan provokasi Nusa. Jantung komandan Wina berdegup kencang, dia pernah mendengar rumor tentang komandan pasukan elit sebelumnya.


Menurut rumor yang beredar, komandan pasukan sebelumnya sangat kuat. Dia bahkan pernah mengalahkan ratusan monster dengan peringkat cabe rawit.


Joza sekarang dalam mode tempur, tubuhnya mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat. Dalam kedipan mata Joza sudah ada di depan Wina, dia berusaha menebas kepala Wina.


Komandan Wina yang terkejut tidak bisa menahan serangan cepat dari Joza. Ketika pedang besar itu hampir mengenai tubuhnya, tiba-tiba Nusa muncul dan menahan serangan itu.


Tang...


Dalam dua kali serangan, pedang katana milik Nusa patah. Nusa meminta komandan Wina menjaga si anak beban.


"Tara! kamu harus hati-hati. Orang itu memiliki artefak langka berbentuk tombak. Jika kamu terkena serangan tombak itu aku yakin sebelum 1 menit kamu sudah mati!" teriak Nusa mengingatkan Tara.


Nusa dan Tara harus menghadapi 2 artefak langka sekaligus. Artefak langka itu masing-masing memiliki efek racun yang mematikan, racun itu dapat menembus kekebalan Tara akan racun.


Pedang katana Nusa sudah patah, dia hanya memiliki tongkat kayu di pinggangnya. Tara sedikit tegang setelah mendengar efek dari artefak langka yang bisa membunuh kurang dari 1 menit.


Kali ini keadaan musuh sangat menguntungkan, Nusa dan Tara sangat sulit bertarung. Mereka harus melindungi 2 orang sekaligus, karena jika komandan Wina dan anak beban itu terkena sedikit saja racun dari artefak. Maka mereka akan langsung mati.

__ADS_1


__ADS_2