Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua

Duo Bulan Sabit Sang Penjelajah Benua
BAB 24 : DEWI KECANTIKAN


__ADS_3

"Pertarungan ini kurang menguntungkan!" ucap Nusa dengan keringat mengucur di tubuh.


"Aku setuju! jadi, apa rencanamu?!" tanya Tara dengan mata menyorot tajam pada musuh.


Semua orang terdiam, mereka saling menatap waspada. Matahari senja perlahan termakan gelapnya malam. Tidak ada apapun di hutan itu kecuali satu kursi yang dipakai anak perdana menteri duduk.


Heningnya hutan membuat suasana mencekam, hanya suara angin hilir mudik meniup dedaunan. Joza memegang pedang besarnya dengan erat, sementara rekannya mengeluarkan sebuah tombak dengan cahaya merah di ujung tombaknya.


Joza berlari ke arah Nusa sambil mengayunkan pedangnya secara vertikal. "Mati kau penyusup!"


Tang...


Suara benturan keras memecah keheningan. Nusa menahan serangan Joza menggunakan ujung topi jerami miliknya. Semua orang terkejut, tidak terkecuali Tara.


"Mustahil! bagaimana mungkin pedang racun barat bisa di tahan oleh topi jelek itu!" pekik rekan Joza tidak percaya.


Joza melompati Nusa dan segera berbalik badan. Dia menebaskan pedangnya lebih kuat dari sebelumnya.


Tang...


Untuk kedua kalinya suara benturan terdengar keras. Udara di sekitar Joza dan Nusa berhembus kencang, tanah tempat Nusa berdiri retak dan amblas beberapa senti.


Nusa sama sekali tidak bergeming, saat menerima serangan kuat dari Joza. Dia menahan serangan Joza tanpa melihat ke arahnya, hanya tangan dan topi jerami miliknya saja yang berhadapan langsung dengan Joza.


Komandan Wina tidak percaya dengan apa yang ia saksikan. "Bagaimana bisa dia memiliki kekuatan sebesar itu."


Joza sangat marah, semua serangan yang ia lakukan tidak berdampak pada musuhnya. Nusa masih berdiri mematung dengan wajah dingin. Situasi ini membuat Joza mengeluarkan botol kecil di sakunya, terlihat di dalamnya ada beberapa pil berwarna hitam.


"Jangan makan pil itu!" teriak rekan Joza dari jauh, dia berusaha menghentikan Joza, tetapi Tara menghalanginya.


"Aaaa!"


Joza menelan semua pil dalam botol itu, tidak lama dia berteriak kencang seperti menahan sakit yang luar biasa. Tubuhnya perlahan membengkak, baju yang dia kenakan tidak sanggup menutupi tubuhnya yang kian membesar.


Joza tersenyum dan berkata dengan sombong. "Ini adalah wujud terkuat yang dimiliki manusia! hanya orang terpilih yang bisa menggunakan wujud manusia super ini. Sekarang kalian semua akan mati di tanganku!"


Joza mengeluarkan tekanan yang luar biasa, tubuhnya di selimuti aura hitam mengerikan. Kuatnya tekanan yang diberikan Joza membuat komandan Wina dan si anak merasakan sesak di dada.


Tara tidak bisa membantu mereka berdua, dia kewalahan menghadapi rekan Joza. Komandan Wina terjatuh ke tanah, tubuhnya sudah di ambang kematian.


Nusa tidak tega melihat anak kecil dan wanita mati di depannya. Dia menjentikkan jarinya, tiba-tiba kubah tembus pandang menyelimuti komandan Wina dan anak perdana menteri itu. Berkat bantuan Nusa, mereka berdua bisa bernapas kembali tanpa merasakan sesak.

__ADS_1


Dengan mata merahnya, Joza menatap komandan Wina peduh kebencian. Joza berlari sangat cepat menghampiri komandan Wina. Dia menghunuskan pedangnya lurus menuju jantung komandan Wina.


Tang...


Tiba-tiba saja Nusa muncul dihadapkan Joza, dia meletakkan topi di perutnya agar pedang Joza tidak mengenal komandan Wina.


Wajah Joza yang terkejut tidak dapat disembunyikan. "Kauuu! berani sekali menghalangiku!"


Nusa menendang Joza sampai terpental jauh, dia melakukan itu agar kedua orang di belakangnya selamat dari pedang Joza. Pedang Joza merupakan artefak berbahaya, artefak itu tidak hentinya mengeluarkan racun yang membuat udara tercemar.


"Tara, sudah waktunya kita selesaikan pertarungan ini!" teriak Nusa dengan nada dingin. Dia menyadari jika artefak itu bisa meracuni seluruh warga di ibukota.


"Okee bos!" balas Tara sambil memberi hormat ala prajurit.


"Kalian tidak bisa menghentikan kami! kami adalah manusia pilihan yang telah melewati batasan sebagai manusia. Kami adalah makhluk terkuat, tidak ada yang bisa mengalahkan kami. Bahkan para dewa sekali pun sanggup kami bunuh!" bentak rekan si Joza penuh kemarahan.


"Ohh," balas Tara singkat.


Tara ingin melihat wujud hebat yang bisa mengalahkan para dewa. Pria itu memakan pil yang sama seperti Joza. Tiba-tiba tubuhnya membesarkan dan mengeluarkan aroma busuk yang menyengat.


Mata si pria berubah hitam sedangkan kulit tangannya perlahan mengelupas. Tidak lama pria itu tertawa dengan mengerikan, matanya menatap setiap bagian tubuhnya dengan bangga.


"Iblis! Kenapa bangsa iblis ada di sini," gumam Tara dalam hati, raut wajahnya berubah serius.


Pria itu memutar tombaknya beberapa putaran, pohon-pohon di sekitar si pria mendadak layu dan mati.


Slash...


Dengan cepat pria itu menyerang titik vital Tara. Jika saja Tara tidak memiliki reflek yang luar biasa, mungkin dia sudah mati terkena tombak yang beracun itu.


Pria itu terus menyerang Tara secara membabi buta, kedua belati milik Tara meleleh terkena efek racun dari tombak si pria.


"Sekarang sudah berakhir! Aku akan melelehkan tubuh mungilmu," ucap pria itu dengan percaya diri.


Pria itu memasang kuda-kuda lalu berlari ke arah Tara dengan cepat. Tara diam sambil tertunduk, kedua tangannya mengepal kuat.


Tombak si pria berhasil menusuk jantung Tara, racun berwarna hitam mengalir dari tombak itu. Si pria memasang wajah yang menjijikkan, dia sangat bangga karena menjadikan Tara monyet percobaan.


Tara mendongakkan kepalanya, senyum jahat sangat jelas tergambar di wajah manisnya. Si pria terkejut luar biasa, dia berusaha mencabut tombaknya dari tubuh Tara. Sayangnya Tara memegang tombak itu dengan kuat lalu mematahkannya menjadi dua.


Pria itu mundur beberapa meter kebelakang, kepercayaan dirinya sedikit demi sedikit menurun.

__ADS_1


"Siapa kalian sebenarnya?! mustahil gadis mungil sepertimu memiliki kekuatan sebesar itu!" Kedua mata si pria terbelalak, dia tidak percaya senjata paling mematikan di dunia dapat di kalahkan semudah itu.


Si pria menyerang Tara dengan kekuatan penuh. Dia memaksa tubuhnya mengeluarkan seluruh kekuatan yang tersimpan. Tubuhnya terus membesarkan, aura hitam menyelimuti si pria.


Kekuatan besar tentu memiliki resiko yang besar juga. Daging si pria perlahan mengelupas, kesadaran pria itu pun semakin menipis. Pria itu mengarahkan tinjunya ke arah Tara.


Sringg...


Langkah si pria terhenti ketika kedua tangannya jatuh ke tanah. Dia memandang pangkal lengannya yang putus, belum sempat menenangkan diri tiba-tiba tubuh Josa terlempar mengenai si pria.


Nasib Joza lebih mengenaskan dibandingkan si pria, kedua kaki tangannya sudah putus. "Oi! Kalian berdua pemain kan?!" ucap Nusa dingin sambil menatap musuhnya dingin.


Si pria kembali terkejut dan berkata. "Kenapa kalian tau kalau kami pemain. Jangan-jangan!"


"Yap, kami juga pemain, sama seperti kalian," ucap Tara sedikit sombong.


Si pria melihat rekannya yang tergeletak, ternyata Joza sudah tewas mengenaskan. Dia kembali menatap ke arah Nusa dan Tara yang berdiri di depannya.


"Tunggu! aku pernah melihat sabit besar itu! Mustahil! i-itu adalah sabit Shinigami. Bagaimana mungkin gadis kecil sepertimu bisa menggunakan salah satu senjata para dewa! Jangan-jangan kalian... "


Si pria tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena kepalanya sudah terpenggal. Tara tidak mau identitasnya terbongkar di depan komandan Wina. Darah yang terkena sabit Tara seketika hilang terserap ke dalam sabit, begitupum dengan racun yang tersebar di udara.


Setelah keadaan aman, komandan Wina menghampiri Nusa dan Tara. Dia berkata penuh pertanyaan. "Kalian berdua hebat banget! aku tidak menyangka topi jelek Nusa bisa menang melawan pedang besar itu."


Komandan Wina sedikit menghela napas, kemudian dia berkata kembali. "Oh iya, ngomong-ngomong kenapa Tara bisa menggunakan sabit Shinigami. Sepengetahuanku sabit Shinigami itu adalah perwujudan dari dewi kecantikan saat memberi hukuman."


"Gimana ini! Bantuin aku dong nus!" ucap Tara pada Nusa lewat telepati.


"Yaa saya ndak tahu! pikir aja sendiri!" ejek Nusa sambil buang muka.


"Oke fine! aku bongkar aja semuanya. Biar semua orang tau kalau dewa kebijaksanaan sering ngemis dipinggir kota," ancam Tara dengan penuh penekanan.


"Jadi gini, sebenarnya Tara itu keturunan salah satu bawahan dewi kecantikan. Kalau tidak salah beliau bernama dewi Atita, sang dewi kesopanan. Oh iya, sabit yang di pakai Tara bukan sabit Shinigami, tapi Serpihannya saja," tutur Nusa mencoba menjelaskan siapa Tara sebenarnya.


Kedua mata komandan Wina bersinar sangat terang, menatap Tara penuh kekaguman. "Hebat! baru pertama kali aku melihat keturunan dari dewi kesopanan."


Tara tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya bisa tersenyum manis dan berkata. "Tolong rahasiakan kalau aku adalah keturunan dewa. kamu tidak perlu memberikan perlakuan istimewa padaku, cukup bersikap seperti biasa, kita kan teman."


Sabit besar milik Tara menghilang, dia kemudian memeluk Wina dengan erat. Mereka bertiga akhirnya bisa membebaskan anak perdana menteri dan menguak sisi lain dari prajurit elit kerajaan.


Komandan Wina menggendong anak perdana menteri, sementara Nusa dan Tara membersihkan sisa-sisa pembantaian.

__ADS_1


__ADS_2